
Nabil memperhatikan perempuan yang duduk di jok sebelahnya. Laras sudah tertidur nyenyak, mungkin karena sudah larut malam atau mungkin menghindari pembicaraan mereka.
Wajah Laras sangat damai dan nafasnya juga teratur. Nabil tidak tega untuk membangunkannya. Ia menurunkan sandaran kursi dan menurunkan suhu ac mobil agar tidur Laras agak enakan lalu ia menghidupkan bluetooh mobil mendengarkan lagu westlife, beautiful in white.
Rasanya pikiran Nabil sangat damai dan tenang. Semua yang diinginkan hatinya terasa lengkap dan ia tidak ingin apaapa lagi kalau saja tidak teringat dengan sebuah nama yang menjadi cinta pertamanya. Seorang anak perempuan yang menolongnya waktu di bar. Anak kecil yang berusaha mengelabui penjaganya agar bisa masuk kesana. Jika teringat dengan hal itu maka semua yang datang akan lewat. Betapa manisnya gadis kecil itu dengan segala perhatiannya. Cinta pertama yang membuat ia nyaris gila. Dan lebih gila lagi kalau Airin adalah anak pungut dikeluarga itu. Ia bertekad akan membahagiakan Airin dan berjanji tidak akan membiarkan air matanya jatuh.
Hari semakin larut tidak mungkin Nabil mengantarkan Laras kerumah pasti Airin bertanya padanya macam- macam. Airin taunya tadi ia pulang bukan mengejar Laras dijalanan. Jika Airin tau ia bersama Laras gadis itu pasti terluka.
Dan jika membiarkan Laras sendirian ia juga tidak tega.
Ia ingin menjaga perasaan keduanya.Apa yang dikatakan Laras dikamar tadi benar, ia tidak paham mana yang istrinya dan mana yang bukan.
Perempuan ini sangat lucu, cemburunya elegan sekali. Tapi anehnya masih ingin bertahan.
"Selamat, kamu berhasil mencuri lima puluhnya" bisik Nabil. Hembusan nafasnya menggoyangkan poni Laras. Ia menatap wajah itu dengan jarak dekat. Kulit Laras memang sedikit gelap, tidak pernah skinkeran tapi manis hampir saja didalam sana bangun dan berontak dengan cepat ia tarik kembali wajahnya.
***
Laras mendapati dirinya tidur sendirian dalam sebuah kamar serba putih dan bau aromatherapy memenuhi ruangan.
Ia mencoba mengingat kapan dirinya kesana tapi yang tau kalau tadi malam masuk kemobil Nabil dan tertidur. Apa mungkin Nabil yang membawanya kesana tapi mana pria itu? Tidak ada hidung Nabil nongol disana, jejaknya pun tidak ada.
Ia mencuci wajahnya kekamar hotel dan merapikan pakaiannya setelah itu ia keluar berniat untuk pulang saja.
"Seseorang menunggu nona di restorant lantai satu" beritahu seorang petugas hotel yang berpapasan dengannya di dekat lift.
Laras penasaran siapa yang menunggunya. Apa pangeran Brunai? khayalannya terlalu tinggi. Tapi siapa taukan pangeran itu dapat ilham tentang keberadaannya dan sang pangeran langsung mencarinya dengan kuda putih.
Ia menuju lantai satu, disana agak lengang hanya beberapa meja yang diisi. Tidak ada yang menarik disana selain seorang pria yang duduk disalah satu meja dan ia menghampirinya.
"Kakak juga menginap disini?"
"Tidak, aku tidurnya disalah satu kamar"
Mulut Laras memanjang dan ia mencomot kentang goreng Nabil tanpa permisi.
"Mau pesan apa?"
"Roti sama teh saja"
Nabil memesankan untuk Laras. Wajah perempuan itu tampak tenang ia mengetuk pinggiran meja seenaknya dengan mata tidak lepas dari wajah Nabil.
"Apaan sih liatnya gitu amat" ujar Nabil risih.
__ADS_1
"Cuma meyakinkan saja kakau aku pernah menikah dengan seorang pria yang tampan"
"Aku memang tampan tidak usah dibahas....kenapa kamu ingin bertahan dalam pernikahan kita?" tanya Nabil ingin tau.
"Karena kakaklah yang pertama dan aku ingin hanya kakak saja"
"Sama, aku juga tidak ingin melepaskan cinta pertama aku"
"Jika kakak menyerah tolong jangan didepan aku, aku tersakiti oleh sikap kakak mungkin saja aku harus butuh waktu untuk itu semua"
"Aku akan bawa Airin pergi"
Laras tercenung sesaaat.
"Kakak yakin?"
Nabil tidak menjawab hatinya bagai dilautan ombak lepas terombang-ambing dengan dua biduk berlainan arah.
"Kakak tidak punya komitmen, aku kira hubungan kakak akan menjadi masa lalu tapi ternyata masih masa depan, aku tau kak kakak mencintai kak Airin tapi setidaknya kakak melihat keaku sedikit saja, pernahkah kakak berpikir kalau aku tersakiti karena kakak?"
"Aku tau makanya kamu jangan bodoh" balas Nabil asal.
"Aku bodoh? apa mempertahankan rumah tangga itu bagi perempuan adalah hal yang bodoh? sudahlah kak, aku capek berdebat terus sarapan belum sudah terbawa emosi, aku tau pasti apa yang kakak inginkan, aku hanya bisa pasrah menerima nasib jadi janda, bentar lagi aku jadi jablay dipulau gebang" Laras meminum tehnya yang barusan diantar pelayan. Masih panas tapi tidak terasa ditenggorokannya yang sudah serak.
"Aku sudah mencari tau dia adalah istri Nabil" lapor pria tersebut. Pria bertubuh kurus diseberang sana menggeram marah melihat laras dan Nabil. Perempuan sejelek itu sampai dirinya dituduh menculik dan memerk*sa, benar-benar bajing*n. Harusnya Nabil sadar kalau wanitanya tidak cantik. Siapa yang mau wanita seperti itu?
"Bawa wanita itu kehadapan aku"
"Baik boss"
Pria itu mematikan sambungan dan menghubungi teman-temannya.
Sementara itu Nabil masih menguji batas kesanggupan Laras dan juga dirinya.
"Kamu juga punya kekasihkan? yang waktu itu, siapa namanya'
"Gak ada"
"Benz"
"Mana ada orang yang bersuami pacaran dengan pria lain, dekat bukan berarti spesial aku dan Benz teman, dia orang baik sering membantu aku"
"Kalau bukan menikah pasti kamu dan dia jadian"
__ADS_1
Laras tertawa tidak menampik "mungkin saja tapi takdir berkata lain, aku tidak ingin mencari masalah baru"
Laras begitu kukuh dan hatinya sempurna. Diri Nabil saja yang bodoh dengan semua ini. Ia tidak boleh memiliki keduanya. Laras dan Airin itu adik kakak meskipun kabarnya Airin itu bukanlah kakak kandung Laras.
"Kakak mengantar aku pulangkan?"
"Aku harus kekantor, mungkin tidak bisa"
"Oke, gak apa-apa, tapi tolong bayar semua tagihannya ya kak, aku tidak mau wajah aku nanti viral"
"Sudah kamu tenang saja"
"Oh kalau begitu silahkan pergi"
"Tidak kamu usirpun aku juga akan pergi"
"Aku gak ngusir kak, kakak saja yang ingin pergi" balas Laras simbolik.
Nabil mengusai puncak kepala Laras dan perempuan itu tertawa "sudah sana nanti jatuh cinta, calon kakak ipar"
"Jangan mencintai aku, kamu akan terluka"
Setelah itu Nabil pergi dan Laras memanggilnya kembali.
"Kak"
"Apalagi?"
"Kakak pernah tidak punya rasa sama aku"
Nabil mengangkat bahu.
"Sedikit saja"
Pria itu menggeleng.
"Ya sudah, kakak pergilah aku juga tidak ingin melihat wajah kakak"
"Habiskan makanan kamu baru pergi"
"Bukan karena pelitkan?"
"Bukan, supaya kamu tetap sehat karena aku airmata kamu sudah banyak yang jatuh"
__ADS_1