Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
pergi...


__ADS_3

***


Embun baru mulai menyapa bumi. Udara dingin mulai menyapa makhluk yang masih terjaga dijam segitu.


Nata mondar-mandir dari tengah malam diruang tengah. Ia tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Hingga waktu itu tiba dan Detik waktu terus berlanjut. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Ini adalah misi terakhirnya setelah ini ia ingin berhenti dan menjalani kehidupan bersama Laras dan Alan. Semua yang ia punya cukup untuk kehidupan mereka kelak.


Ia menghampiri kamar Laras. Perempuan itu sedang tidur nyenyak. ia pandangi wajah Laras. Rasa was-was merasuk begitu saja.


Ia menguatkan diri, ini adalah yang terakhir. ia mencuri ci*man singkat. Laras terbangun dan kaget dengan mata membola.


"Kau?"


Nata tersenyum "aku mau pergi"


"Pergi kemana?" tanya Laras tidak jadi marah karena kasus pencurian barusan.


"Pergi untuk sementara waktu setelah itu mari kita menikah...aku tidak mau mendengar penolakan, kamu bersiap" Nata memegang bahu Laras dan memeluknya dengan jantung berdegub kencang.


"Aku menunggumu, kamu cepat pulang" ujar Laras


"Tentu saja, aku pasti merindukanmu" bisik Nata.


"Hati-hati"


"Terima kasih, my love" Nata melepaskan pelukannya dengan berat dan melangkah kekamar Alan. Laras mengikuti langkah Nata. Setiba disana Nata mengusap kepala bocah itu.


"Aku mencintainya Ras, sama seperti putraku sendiri, aku akan sanggup menutup rapat rahasia tentang dirinya...jaga dirimu baik-baik, aku sudah siapkan beberapa penjaga untuk menjaga kamu selama aku pergi" ujar Nata.


"Harusnya tidak perlu"


"Demi aku, aku tidak akan tenang kalau tidak ada yang menjaga kamu dan Alan"


Sejumlah anak buah berpakaian hitam sudah siap untuk berangkat. Laras mengantar Nata dengan tatapan sampai menghilang di balik pintu. Sekali lagi nata melirik ke Laras dengan senyuman berat. Pria itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Hatinya terasa sangat berat untuk pergi.

__ADS_1


Kali ini mereka pergi dengan mobil menuju bandara dan melakukan operasi tidak jauh dari daratan.


Baru beberapa jam mobil mereka melaju dalam kegelapan terlihat ada beberapa mobil lain menghadang didepan disertai tembakan beruntun.


"Waspada!" Nata mengasih intruksi anak buahnya untuk mengeluarkan senjata. Mereka putar arah tapi ternyata dari belakang juga ada banyak mobil. Mereka terkepung. Bunyi auman sirine polisi memecah malam. Suara tembakan saling bersahutan.


Nata melepaskan beberapa buah tembakan lalu turun dari mobil mencari perlindungan ke dalam hutan sebelah jalan.


Jumlah polisi terus bertambah. Rupanya operasi itu sudah direncakan. Anak buah Nata kewalahan beberapa diantaranya tergeletak tak berdaya kena timah p*nas.


Salah seorang anak buahnya yang masih hidup menjulurkan tangan minta pertolongan. Nata tidak tega melihatnya. ia berbalik namun p*luru panas menghujaninya.


Mata Nata langsung buram dan telinganya berdeging hebat. Dadanya koyak oleh temb*kan beruntun. Pria itu terhuyung dan mencoba mengimbangi tubuhnya. ia tidak berhasil. Bajunya sudah mandi darah.


Disaat seperti itu ia ingat janjinya pada Laras kalau dia akan pulang dengan baik-baik saja. Laras pasti menunggunya dirumah. Tawa Alan, senyuman Laras membayang dalam pikiran Nata. Masa-masa mereka bersama mulai dari mereka bertemu sampai dimana ia jatuh cinta.


Ia merindukan wanita itu, ia ingin pulang untuk memeluk Laras, memeluk Alan. Dan bersama mereka selamanya.


Pria itu mencoba untuk bangkit tapi untuk bergerakpun ia tidak mampu.


Misi yang membawanya pergi dari Laras.


Sementara itu di tempat kejadian sudah terdengar kalang kabut. Derap langkah riuh lalau lalang didekatnya. Mata Nata terkatup dan tidak ingat apalagi.


***


"Apa kamu sudah tau kalau dini hari tadi terjadi penangkapan para mafia di jalan menuju bandara?"


Hendra menelepon Nabil untuk memberi tahu. Itu berarti perusahaan mereka aman karena penyeludupan barang tidak terjadi dari luar.


"Aku tidak tau, coba aku cek" Nabil mencari berita terbaru pagi itu lewat google dan benar saja baru terjadi baku hantam antara petugas dengan mereka.


"Kepala mafia itu melarikan diri, tapi aku yakin tidak akan jauh dari Dinar"

__ADS_1


Mendengar nama Dinar, Nabil langsung teringat dengan Laras. Nabil mematikan sambungan dan bergegas untuk pergi.


Tujuannya adalah keluarga Dinar yang tidak jauh dari pusat kota. Dari depan rumah itu tampak lengang tanpa penghuni hanya ada beberapa penjaga yang berdiri didepan.


Nabil menerobos masuk untuk bertanya dimana Nata. Ia ingin melihat keadaan Laras dan Alan. Mereka pasti sedih dengan kejadian itu.


Tidak seorangpun yang mau mengasih tau Nabil karena semua orang sedang sibuk berlarian dalam keadaan panik. Itu berarti kondisi Nata parah. Tidak lama kemudian terdengar suara meja beroda didorong dari dalam keluar. Keluarga Nata mengikuti meja itu.


"Berhenti!" papa Nabil menyuruh semua anak buah Dinar bersiap karena ada Nabil disana.


"Bersihkan dia, jangan sampai dia mengasih tau tentang ini pada banyak orang" perintah papa Nata pada anak buahnya.


Nabil yang hanya datang sendirian sudah siap dengan hal ini. Keluarga Nata memang sensitif pada siapapun. Seolah orang luar adalah ancaman.


"Aku dan Nata ada urusan, kami dekat masalah pekerjaan makanya aku kesini, kalau tidak percaya nanti tanya sama Nata, sekarang aku hanya ingin melihat kondisinya, kalau tidak percaya ini" Nabil memperlihatkan foto yang di cut melalui cctv rumahnya. Disana ada Nata dengan dirinya.


Mata Nabil menjelajah untuk mencari Laras. Tidak ada Laras maupun Alan disana.


"Pergi! kalau kamu membocorkan hal ini kau akan tau akibatnya" ancam papa Nata.


"Tidak akan mister, percaya aku kali ini saja, nyawa saya jadi taruhannya"


Nabil membiarkan meja Nata lewat. Tidak lama kemudian Nata menggeliat kesakitan. Dua orang dokter keluarga bergegas mendekati. Mata Nata terbuka lebar untuk mencari sesuatu. Tidak ada Laras disana, tatapan itu terlihat sangat sedih. Ia sepertinya tidak akan selamat kali ini. Di detik-detik terakhirnya ia ingin melihat perempuan itu lagi.


Mana dia?


Ia bermohon dalam hati agar Tuhan mengabulkan doanya kali ini. Dalam kesakitan yang teramat sangat mungkin saja nyawa itu akan melayang pergi.


Mengapa hanya ada Nabil disana mencemaskannya. Memintanya untuk bertahan agar Alan tidak kehilangan dirinya.


Tiba-tiba saja Nata ingin bercerita banyak pada Nabil tentang Laras. Tentang dendam, cinta dan lukanya tapi sayang tenaganya tidak ada lagi. Mulutnya terkatup rapat.


rasa dingin itu tidak tertahankan. Ujung-ujung jarinya mulai mendingin lalu perlaham naik ke jantung. Nafasnya tersengal hebat. Tiap ia bernafas darah segar mengucur di dadanya.

__ADS_1


Keinginan terakhirnya tidak terkabul. Nata pergi dengan kenangannya.


Semua yang ada diruangan itu menjadi panik. Termasuk para dokter yang merasa gagal dengan tugas mereka.


__ADS_2