
Meja makan hening tidak ada suara. Mereka sibuk dengan sarapan masing-masing. Pergolakan mental Laras benar-benar diuji. Sekali, dua kali dan sekarang mulai harus terbiasa melupakan apa yang telah terjadi. Sakit yang ia rasa saat Nabil salah sebut nama masih sangat melukai hatinya.
Pria didepannya sarapan sambil main ponsel matanya tidak pernah melihat ke Laras mungkin dia tidak menganggap Laras ada.
"Kak, kalau sarapan itu jangan kayak anak kecil main ponsel dimeja makan" tegur Laras.
Pria itu melihat ke Laras "memangnya kenapa? liat kamu gitu?"
"Kakak terganggu ya aku duduk disini bersama kakak?"
"Dikit"
"Kalau begitu aku pindah" Laras mengambil gelas susu dan rotinya ingin pindah dan Nabil mengejek mengambalikan ucapan laras barusan "kayak anak kecil, digituin aja ngambek"
"Ini bukan anak kecil kak, tapi tau diri aku bukan bebal"
"Kamu kenapa marah-marah?"
"Aku gak marah, nih aku senyum nih" Laras melihatkan seringai kesalnya.
"Jelek kayak gitu, kayak sapi disuruh senyum" Nabil bangkit dari sana meninggalkan meja makan dan pergi kekamarnya dilantai atas.
Hanya sebentar ia diatas lalu ia turun buru-buru dengan pakaian yang sama seperti tadi yaitu kaos dan celana pendek. Nabil seperti mengejar sesuatu. Laras yang sedang membersihkan meja bertanya "kakak kenapa?"
"Airin...dia kembali, dia sudah pulang" sahut Nabil dengan luapan kegembiraan.
Laras tertegun, kakaknya pulang? itu berarti kakaknya sudah berada dirumah dan mereka menghubungi Nabil tapi kenapa Nabil yang tau lebih dulu? tapi apapun alasannya ia bahagia kakaknya pulang ia meninggalkan pekerjaannya dan lari menyongsong Nabil.
"Kakak tunggu! aku ikut!"
Laras membuka pintu mobil dan duduk disebelah Nabil yang sudah menghidupkan mesin mobil.
Untungnya Nabil membiarkan Laras ikut masuk kemobilnya mungkin karena pria itu terlalu gembira Airin sudah pulang.
Laras menepis semua pikiran buruknya bagaimanapun Airin adalah kakaknya dan dia senang akhirnya sang kakak pulang.
Mobil itu meninggalkan pelataran halaman rumah. Tiba dijalan raya mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Laras bertumpu pada dashboard dengan memejamkan mata.
"Pelankan dikit kak ntar kecelakaan"
Nabil tidak menampik, mobilnya terus mengebut entah apa yang ada dalam pikiran pria itu. Apa karena dia mengejar Airin?
"Kita bisa mati kalau kakak begini'
__ADS_1
"Diam!"
Dibentak demikian membuat darah Laras ikut memanas.
"Kalau kakak mau mati ya mati saja! nyesal ikut dengan kakak!"
Nabil memukul setir dengan wajah kesal. Laras heran dengan pria ini. Apa salahnya ngomong, kalau marah ya marah saja, kalau mau ngoceh ya ngoceh saja seperti biasanya gak usah sok kalem.
"Kalau kakak mati duluan ya gak apa-apa tapi bagaimana dengan nasib fans aku kak, bisa dijadikan hari patah hati sedunia, kakak pikirkan juga para pacar aku dong"
"Kayak laku saja" desis Nabil.
"Ya lakulah"..buktinya anda sama dengan saya, desis laras dalam hati.
Setiba dirumah orang tua Laras, Nabil langsung turun dan meninggalkan Laras. Pria itu langsung menerobos masuk kedalam rumah.
Wajah Nabil mengandung kecemasan tapi juga kelegaan. Begitu ia sampai di dalam rumah ia terpaku melihat seorang perempuan berkulit kuning langsat dan berambut kepirangan duduk dimeja makan bersama kedua orang tuanya.
"Nabil!!!"
Perempuan itu menghentikan sarapannya dan bergegas menyongsong Nabil dengan pelukan.
Dari jauh Laras menghentikan langkahnya mengusap dada lalu berusaha agar langkahnya jangan terseok, agar ia terlihat tegar tanpa kesedihan. Ia menguatkan diri melewati Nabil dan Airin yang masih berpelukan.
"Pagi ma! pa!, mama masak apa tadi?"
Maya, sang mama tau kondisi hati putri bungsunya. Ia melihat ada titik embun disana. Perempuan itu tersenyum.
"Mama menyiapkan sandwich dan kopi"
"Kesukaan kak Airin, memangnya kapan kak Airin pulang?"
"Belum lama" jawab Maya.
Belum lama tapi sang mama sudah menyiapkan kesukaan Airin, Berbeda dengan dirinya yang hanya mendapatkan makanannya yang ia suka hanya saat sakit.
Dua orang yang sedang di mabuk rindu, pasangan yang katanya saling cinta itu masih belum datang ke meja makan. Laras mendengar kakanya terisak dalam pelukan Nabil. Airin bilang bahwa ia diculik dan disekap.
Apa iya orang yang diculik dan disekap bebas dengan tampilan cantik seperti itu, memakai bedak berlais-lapis dan juga lipstik tebal. Kalau iya ingin rasanya Laras juga diculik saja saat ini dan hidup damai bersama penculiknya dari pada begini, menanggung cemburu pada kakaknya sendiri.
"Nabil,...Airin! mari sarapan" ajak Maya pada kedua orang yang sedang berbicara itu.
"Sebentar ma! aku bicara dulu dengan Nabil" jawab Airin.
__ADS_1
Laras mengusir rasa gelisah dihatinya. Apa yang mereka bicarakan? tentang cinta mereka? ataukah rindu mereka yang sudah sekian lama tidak bertemu.
"Makanannya keburu dingin, nanti saja mengobrolnya"
"Ya ma!"
Airin menarik Nabil kemeja makan dengan tawa manjanya dan duduk disebelah Riyanto sambil menganggu papanya dengan candaan. Sedangkan Nabil duduk didekat Maya bersebelahan dengan Laras.
Keluarga itu sangat serasi. Laras mirip mamanya dan hidungnya mirip papanya sedangkan Airin, hanya mirip papanya.
Airin yang manja menghidupkan suasana rumah. Bukan karena apa, tapi karena Airin lebih suka menyebut tentang dirinya dan tentang pencapaiannya. Sikap Airin jauh beda dengan Laras yang lebih suka menyimpan segala sesuatunya sendiri.
"Ketika Airin pergi, Laras yang menggantikan kamu menikah dengan Nabil" beritahu Maya.
"Aku sudah tau kok ma, nabil yang menjelaskan barusan" jawab Airin santai.
"Itu berarti kamu dan Nabil sekarang adalah sebatas ipar"
"Maksud mama?" tanya Airin balik. Semua melihat ke Maya kecuali Laras yang terus memakan rotinya lamat-lamat.
"Maksud mama, sudahi semua ini! biarkan Nabil dan Laras menjalani kehidupannya"
Tumben mamanya berpihak pada Laras biasanya jika dihadapkan antara Laras dan Airin maka Laraslah yang harus mundur dan mengalah.
"Ma...maksud mama apasih? aku dan nabil saling mencintai dan aku meninggalkan Nabil juga bukan karena keinginan aku, aku diculik ma! di culik! jangan gak adil sama aku dong"
suara Airin meninggi pada mamanya dan air matanya sudah mulai keluar. Laras tidak mengerti mengapa kakaknya seperti ini. Dia yang keras, dia yang menjahati tapi kenapa dia yang menangis? seolah dia yang paling tersakiti.
"Sudah sayang! sudah..jangan nangis!" Riyanto menenangkan Airin menepuk pundak putrinya. tatapannya lurus ke Maya seperti seorang yang mengasih secara tidak langsung mandat. Sudah dipastikan Riyanto membela Airin, putri kesayangannya yang bergelimang kecantikan dan prestasi serta pujian. Putri yang selalu membuat dirinya bangga.
"Ini tidak bisa dibiarkan mas, jangan seenaknya! keluarga itu bukan mainan"
"Pa.. ini gimana?" tanya Airin minta dibela.
"Kita selesaikan masalah ini baik-baik, kita cari jalan keluarnya"
Laras yang sedari tadi hanya diam menyaksikan drama didepannya akhirnya angkat bicara "penyelesaian apa pa? semuanya sudah selesai"
"Maksud kamu apa Laras? menikah itu bukan main-main" sentak Maya.
Laras melihat ke Nabil, pria itu juga melihat Laras dengan tajam. Mau tidak mau dan suka atau tidak suka inilah akhirnya.
Keputusannya sudah bulat.
__ADS_1
"Maksud aku, kak Airin dan kak Nabil sudah selesai! jadi drama ini tidak akan berkelanjutan dan tamat sampai disini"