Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
orang-orang penuh cinta


__ADS_3

"Makanan sudah siap...!"


Alan dan Nabil sudah rapi, Laras membuka celemeknya dan mengambilkan mereka sarapan. Ada nasi, lauk, sayuran, buah pencuci mulut dan cake ala Laras. Semua itu Laras yang memasak dibantu pelayan yang menyiapkan bumbu.


"Banyak bangat Ras, kalau begini harus diimbangi dengan olah raga yang cukup juga" Nabil mengedipkan matanya pada Laras mengasih isyarat olahraga apa yang ia maksud. Hal itu dilihat Alan.


"Kenapa papa mengedipkan mata pada mama?"


"Oh itu,..hm ini namanya jurus melumpuhkan perempuan"


Bocah itu melihat lurus ke Laras tidak mengerti "jurus papa tidak ampuh, mama baik-baik saja, papa payah"


"Papa kamu memang sangat payah" jelas Laras "padahal tiap hari hidangan banyak diatas meja, semua itu hanyalah alasan"


"Ini masakan kamu enak Ras, semua yang ada dikamu enak, kalau berat badan aku nambah kamu jangan ilffil ya, jangan pula melirik pria lain"


"Selera saja yang kegedean" cibir Laras.


Nabil tertawa tidak menampik.


Selesai makan Nabil dan Alan berangkat dengan ciuman terlama seperti tidak akan berjumpa dalam jangka waktu yang lama.


"Hati-hati dirumah sayang, nanti papa call" Nabil melambaikan tangannya pada Laras. Bocah dalam gendongannya kembali bicara "kata gendut kalau aku punya papa aku juga bakal punya adik, boleh aku pesan? tolong belikan adik laki-laki untuk ku"


Bocah itu ngoceh ketika mobil sudah jalan dan Nabil sendiri yang membawanya.


"Kenapa harus laki-laki, adik perempuan juga manis"


"Adik perempuan ribet, seperti gendut dan Kirana...mereka tidak bisa diajak main bola"


"Bagaimana kalau dia seperti mama kamu?"


"Wow!" Alan terlonjak dari duduknya "berarti dia suka cerewet? habis aku" ia menepuk jidatnya. Nabil tertawa melihat reaksi anaknya.


"Adik cewek atau cowok sama saja, kamu kan kakaknya..seru kali punya adik, apalagi banyak"


Mata Alan kembali melotot membayangkan dikeliling adik kecil. Nabil makin deras tertawa. Anak laki-lakinya yang satu ini emang asyik dibawa seru-seruan.


"Pinjam ponsel papa, aku akan pesan sama mama, pulang sekolah aku ingin adik itu sudah ada"


Alan meraih ponsel Nabil didashboard lalu mengasih tau mamanya. Setelah ini Nabil bersiap akan dimarahi Laras habis-habisan. Terdengar dari seberang sana Laras ngamuk dan menanyakan dirinya pada Alan.


Setiba disekolah Nabil mengantarkan Alan sampai kedepan pintu. Bocah itu menolak untuk dicium katanya ia bukan anak kecil lagi. Aslinya dia tidak mau diledek oleh anak perempuan cantik yang selalu melihat Alan dengan tatapan julid. Bocah yang dijuki gendut oleh Alan. Karena anak perempuan itu pula Alan tidak mau dijaga oleh siapapun. Meskipun begitu Nabil menjaga anaknya dari jarak yang tidak diketahui.


"Tunggu papa! jangan kemana-mana sebelum papa datang"


"Siap papa"


Nabil menyempatkan diri untuk antar jemput Alan. Masa anak-anak itu sangat singkat. Setelah anaknya remaja akan disibukkan oleh dunia luar dengan teman-temannya Hanya sewaktu kecil inilah ia bisa memperhatikan anaknya apalagi ia bertemu Alan setelah anak-anak.


Sekarang saja Alan sudah mengaku dirinya sudah gede apalagi memasuki beberapa tahun mendatang.


Ponselnya berbunyi. Dari Laras.


"Ya Ras, ada apa? hm kangen? iya kangen...sama aku juga"

__ADS_1


"Siapa yang kangen? ada berkas yang ketinggalan dimeja kamar" Laras mematikan ponselnya begitu saja. Beberapa hari ini mood Laras tidak stabil. Kadang marah, kadang manis dan kadang perhatian berlebihan.


"Oke deh otewe"


Nabil memutar mobilnya untuk pulang kembali.


"Sayang! ini papa pulang"


"Apaan sih teriak-teriak!" Laras muncul dari dapur dengan wajah jutek.


"Ambilkan berkasnya dong"


"Ambil sendiri" meskipun begitu Laras pergi kekamar diikuti Nabil dari belakang.


"Tadi bilang apa sama Alan?" tanya Laras.


"Dia minta adik yang banyak"


"Hobi bangat sih meracuni pikiran anak kecil"


"Itu bukan racun sayang, kita hanya bisa mengikuti keinginannya"


"Bilang saja keinginan sendiri"


"Iya sih! Laras tau saja, makin cinta"


"Ih jangan dekat-dekat,.... ngapain ikutan katanya tadi suruh ngambilin"


Nabil tersenyum ,mesum. Laras menangkap hal itu dan mundur kebelakang. Pantas saja Nabil mengkutinya kekamar.


"Sekali saja, janji.."


Keinginan Nabil tidak bisa ditolak apapun alasannya ia menangkap bahu Laras. Dengan wajah baby face nya disertai dengan rengekan membuat Laras akhirnya nyerah.


"Kok kakak bau?"


"Baru saja selesai mandi masa bau lagi" Nabil mencium bau badannya, bau parfumnya masih semerbak.


Tidak tahan dengan bau Nabil, Laras berlari kekamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya disana. Nabil juga cemas, apa sebau itu ya dirinya?


"Kamu kenapa Ras?" tanyanya cemas.


"Gak tau, mungkin masuk angin, jangan dekat-dekat!" Laras menyetop Nabil yang hendak memijit tengkuknya.


"Iya deh iya...habis ini aku pijit ya"


"Gak usah, kakak pergi saja kekantor"


"Mana bisa aku meninggalkan kamu dengan keadaan seperti ini"


"Dikasih minyak kayu putih ntar juga baikan"


Wajah Laras memucat ia menghapus wajahnya dengan handuk. Nabil melihatnya khawatir "kita kerumah sakit ya"


"Tidak usah"

__ADS_1


"Lemas seperti itu, tidak bisa dibiarkan..."


Pintu kamar diketuk dari luar dibarengi suara seorang pelayan.


"Ada tamu tuan, tuan Danil serta papa tuan"


"Ya bilang sebentar lagi" sahut Nabil.


"Kakak turun saja duluan ntar aku nyusul" ujar Laras "tidak enak membiarkan mereka lama nunggu"


"Biarkan saja dulu, aku pijit ya"


Laras menggeleng. Kepalanya sangat pusing dan isi perutnya bergejolak. Ia mengusapkan minyak kayu putih ke tengkuknya. Bau minyak kayu putih itu juga berkonspirasi membuat ia kembali lari ke wastafel.


Nabil makin cemas melihat Laras. Ia memaksa Laras dan membopongnya untuk pergi kerumah sakit.


"Turunkan kak, malu diliat sama mama, papa" Laras meronta minta dilepaskan "aku bisa jalan sendiri"


"Gak apa-apa, ngapain malu..."


"Ih.."


Laras meronta dan ketika ia turun ternyata sudah ada diruang tengah. Ada mama papa Nabil, orang tuanya dan juga orang tua Nata sedang berkumpul bersama melihat pada ia dan Nabil.


"Kita menunggu orang yang sedang ngerjain trip, pantasan lama" sindir Danil. Hal itu iyakan Vina dan Rose membuat wajah Laras merona merah.


"Laras keliatan nya pucat, kamu forsir terus ya Bil?" tanya Vina "kasihan Laras tuh.."


"Laras masuk angin, dari tadi mual mulu"


"Jadi Laras sakit? kenapa gak dibawa kerumah sakit?" tanya Maya cemas ia menghampiri anaknya itu.


"Gak apa-apa ma, ini kecil ntar juga baikan sendiri, kak Nabil saja yang berlebihan" balas Laras ketika mamanya memeriksa keningnya.


"Laras mual? jangan-jangan?" mata Vina terbelalak "Laras hamil"


Semua yang ada disana terlonjak.


"Apa iya?" tanya Nabil hampir tidak percaya. Ia melihat ke Laras. Ini bukan yang pertama bagi Laras tapi bagi Nabil ini hal yang baru ia alami. Waktu dengan Alan ia tidak tau apapun.


Pria itu langsung memeluk Laras saking bahagianya tapi kemudian ia mental didorong Laras yang mual karena bau parfum Nabil.


"Tunggu bentar, aku ganti pakaian dulu" Nabil buru-buru kekamar untuk mengganti pakaiannya.


"Harus periksa kerumah sakit Ras" ucapan Danil langsung diiyakan Hendra, Rose dan Vina "papi akan antarkan kamu"


"Biar aku saja" Nabil sudah kembali dengan waktu kilat. Pakaiannya sudah berganti semuanya tanpa parfum.


"Siapkan mobil! pak Hari" perintah Nabil pada sopirnya yang sudah jarang dipakainya tapi masih stanby disana. Katanya untuk bepergian oleh Laras tapi nyatanya Laras hampir tidak pernah keluar rumah.


"Tidak usah, Laras sama papa saja" cegah Hendra begitu juga dengan Danil yang ingin Laras dengan mobilnya kerumah sakit.


"Dia harus dengan mobil yang tidak banyak guncangan dan terbaik, aku tidak ingin cucu aku kenapa-napa, ..." Vina maju dan mengamit Laras untuk ikut dengannya.


Setelah ini Laras akan hidup dengan banyak perintah dan larangan apalagi ia dikelilingi oleh para orang tua yang menyayanginya. Ditambah lagi dengan keposesifan Nabil yang berlebihan. Katanya kali ini ia akan menjaga Laras sebaik-baiknya bukan karena imbas dari kesalahannya tapi karena katanya dia cinta.

__ADS_1


Nabil sedih saja ketika mengingat video Laras waktu hamil Alan. Laras disekap diruang bawah tanah dihadapkan dengan ketakutan-ketakutan. Ia berjanji akan menjaga Laras sebaik mungkin hingga ia lupa dengan hal yang itu.


__ADS_2