Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
menarik langkah


__ADS_3

Laras menjauhkan tangannya dari tangan Nabil ketika pria itu mencoba menarik tangannya untuk meninggalkan ruangan acara. Laras enggan untuk beranjak dari sana apalagi mengikuti Nabil yang entah akan membawanya kemana.


Acara yang diadakan Vina adalah makan bersama dengan teman saudaranya sekaligus mengenalkan Alan pada mereka. Wanita itu sibuk kesana-sini dengan Alan beramah tamah. Sesekali bocah itu melirik ke Laras dan Laras tersenyum padanya sembari melambaikan tangan.


Nabil juga beberapa kali ketengah ruangan untuk membawa Alan padanya tapi tidak berkesempatan sedikitpun untuk mendekati karena Vina selalu menang untuk bersama Alan. Ia ayah yang baru saja bertemu anaknya sangat ingin sekali bersama dengan putranya.


"Sebenarnya mama sudah menyiapkan baju untuk kalian" ujar Vina. Ia tidak mau lagi memaksa takutnya Laras pergi lagi dari sana "kalau kalian mau, bajunya mama taruh dikamar Nabil.


"Iya ma nanti saja" jawab Nabil. Ia kembali setia duduk dimanapun Laras berada. Semua jenis makanan ia tawarkan pada perempuan itu tapi tidak satupun yang dicicipi Laras. Pria itu asyik senyum-senyum tidak jelas dari tadi. Aura wajahnya sangat gembira. Sesekali ia melihat ke Laras dengan mata berbinar.


Sedangkan Laras masih tidak ikhlas menjalani semua ini. Ia malas berada disana apalagi berada di sebuah pesta meskipun hanya pesta kecil-kecilan. Wajahnya tidak enak untuk dilihat.


"Kamu harus makan dikit saja" Nabil nyinyir padanya padahal ia selalu menolak.


Laras menggeleng. Bagi Nabil lebih baik Laras cerewet dari pada diam. Diam Laras itu membawa kebingungan baginya.


Kemudian pria itu kemudian asyik dengan ponselnya mengabaikan Laras yang ada disebelahnya dengan senyuman yang tidak pernah luntur.


Bukan hanya Vina dan Alan yang sibuk. Airin juga ia juga sibuk beramah tamah dengan para tamu. Wanita itu menghampiri Nabil dengan langkah anggunnya. Airin masih bersinar. Ia masih seperti Airin yang dulu. Airin yang penuh pesona.


"Kamu belum siap-siap Nabil" tegur Airin pada pria itu.


"Belum" jawab Nabil pendek. Kirana yang sedang bermain dengan teman-temannya juga menghampiri Nabil dengan heboh.


"Om tidak ikut bermain?...ayo om kita main! pasti seru" ajak Kirana pada Nabil sambil menarik tangan pria itu.


"Kirana main sama mamanya ya, om ada kerjaan" tolak Nabil. Sudut matanya melihat ke Laras untuk mencari kecemburuan dimata perempuan itu. Tapi tidak ditemukannya. Wajah Laras datar tanpa ekspresi bahkan tidak peduli padanya.


Harga diri Nabil melayang jatuh. Sikap Laras bagai bencana. dimana dirinya tidak lagi dipedulikan seperti dulu. Salahnya juga ketika ada titik bara dulunya dia mengabaikan dan sekarang semuanya telah dingin.


"Aku kesana dulu ya Ras"


"Pergi saja"


Untuk apa Nabil mau pergi bilang pada Laras? terserah pria itu mau pergi kemana ia tidak peduli.


Setelah Nabil pergi. Airin mendekati Laras.


"Lebih baik kamu minggir dulu Ras, baju kamu tidak pernah diganti pasti bau"

__ADS_1


Kakaknya terbiasa seperti ini dari dulu. Tapi sekarang Laras tersinggung oleh ucapan kakaknya itu.


"Biarkan saja kak, aku sudah terbiasa bau"


"Aku hanya mengingatkan, pria mana yang tertarik dengan perempuan dekil"


"Tidak ada, jadi kakak jangan cemas" potong Laras.


"Untuk apa aku cemas? posisi aku tidak akan pernah tergeser, kamu tau sendirikan? aku adalah pemilik semua yang ada pada dirinya, meskipun aku pernah menghianatinya tapi dia berbesar hati menerima aku kembali, apa itu namanya kalau bukan cinta"


"Ya itu namanya cinta, jaga pria kakak itu agar cinta kalian tetap utuh, kalau tidak...bisa jadi aku yang dekil ini naik posisi" Laras tersenyum penuh kemenangan.


Airin kesal ia tidak.mau wajah cantiknya luntur malam ini d depan para tamu karena beradu argumen dengan Laras. Ia melenggok kembali bergabung dengan Vina. Dan dua wanita itu terlibat percakapan seru. Sesekali mereka tersenyum dan Airin melihat ke Laras seolah mengejek. Kalau dia dekat dengan Vina sedangkan Laras?


Laras melihat tidak ada Alan disana. Mana anaknya itu.


Matanya menjelajahi sekeliling ruangan untuk mencari anaknya.


Tidak lama kemudian Nabil mendatangi Laras.


"Alan mencari kamu Ras"


Nabil menunjuk ke lantai atas.


"Kok aku tidak lihat dia dibawa kesana" gumam Laras karena dia memang tidak melihat anaknya melewati tangga padahal dia duduk tidak jauh dari sana.


"Lebih baik kamu samperin saja Ras"


Laras menyamperi Alan diikuti oleh Nabil menuju lantai atas. Lantai itu lengang tidak ada seorangpun yang terlihat karena sebagian besar pelayannya ada dibawah.


"Mana dia?" tanya Laras.


Nabil menunjuk sebuah kamar dan Laras melongok dan akhirnya masuk kesana sambil memanggil anaknya dan memeriksa, tidak ada seorangpun didalam ruangan itu.


"Mana Alan? tidak ada disini!"


"Hm dia ada di bawah Ras bersama mama dan papa, kamu jangan cemas


"Kamu membohongi aku?" sergah Laras.

__ADS_1


"Dikit"


"Kamu?!!!" suara Laras meninggi. Pria itu tersenyum jahil "habisnya kamu susah diajak bicara"


"Bicara sana, sama tembok"


"Udah sering, kalau dia punya mulut pasti dia bakal mentertawakan aku'


"Gila sih" Laras keluar kembali dari ruangan itu dan Nabil bergegas mencegahnya.


"Aku memang gila dan aku bisa lebih gila lagi, tidak mudah untuk menemukan kamu dan berada seperti ini didepan aku, jadi untuk apa aku melepaskan kamu"


Jarak mereka menyingkat, Laras mendorong Nabil agar minggir. Tapi ia seperti menggeser batu besar tidak bergeming sedikitpun. Perempuan itu panik ketika Nabil memupus jarak diantara mereka.


"Minggir!"


Nabil meraih punggung Laras membawa kepelukannya. Dari tadi bahkan dari bertemu dengan Laras inilah yang ingin ia lakukan tapi tidak berkesempatan.


"Aku rindu kamu Ras, rindu sekali.."


Laras mengadakan perlawanan tapi lengan kokoh itu sangat sulit untuk dilepaskan.


"Lepaskan! kau pria plin-plan untuk apa kau memungut sesuatu yang sudah kau buang!!" laras merasa dipermainkan kembali. Ia sudah berusaha untuk kuat tapi Nabil selalu menggoyahkannya.


"Aku tidak pernah membuang kamu" Nabil memegang kedua bahu Laras menatap mata wanita itu untuk memastikan bahwa ia tidak bohong "setelah kamu pergi aku sadar kalau aku hanya mencintai kamu"


"Bulshit..."


"Maafkan aku, aku tidak tau kalau kamu diculik oleh Nata dan mengira kamu benci aku, aku waktu itu patah hati sekali dan memilih pergi, kalau saja mama bilang kamu datang kembali, aku pasti pulang, aku tidak akan berdiam memendam kesedihan dan penyesalan sendirian"


"Aku harus percaya begitu? dulu! ....aku pernah memohon padamu untuk mempertahankan pernikahan kita meskipun tidak ada cinta didalamnya tapi apa yang kamu katakan?...waktu itu kamu bilang pernikahan kita salah dan tidak seharusnya...sekarang kamu membahas itu lagi? kamu seperti menarik kapal yang telah karam ditengah lautan untuk dibawa kembali berlayar......aku mengasih kamu kesempatan untuk mendekati Alan bukan berarti aku menyerahkan diri pada kamu"


Nabil tersentak didalam sudah panas dingin. Laras sangat keras sangat jauh dari apa yang ia bayangkan.


"Sekeras itukah hati kamu? hingga maaf aku tidak bisa diterima lagi?" suara Nabil melemah seperti kehabisan daya dan upaya.


"Memaafkan bukan harus menjadi bodoh, tidak ada yang mau terluka ditempat yang sama"


"Kamu tau, bertahun aku frustasi karena kamu, aku tidak bisa mencintai siapapun lagi selain dirimu tapi sekarang kamu menolak, maka jangan salahkan aku"

__ADS_1


__ADS_2