
"Apa yang kamu tuntut dari aku? ha! katakan?" Nabil mengguncang bahu Laras dengan kasar. Tatapan pria itu sangat mengerikan sama seperti waktu ia panik kehilangan Airin.
Pertengkaran mereka terus berlanjut sampai dirumah setelah pulang dari rumah orang tua Laras. Bahkan demi bertengkar masing-masing tidak pergi. nabil tidak pergi kekantor dan Laras tidak kekampus.
"Aku tidak minta apa-apa sama kamu kak dan juga tidak ingin apa-apa selain mencoba bertahan" balas Laras dengan ringisan, sumpah! bahunya rasanya sakit bangat oleh cekalan tangan Nabil.
"Kamu licik, tidak ingin melihat orang lain bahagia"
"Sudah cukup penghinaannya kak, kenapa aku yang terus kakak salahkan? apakah kakak tidak sadar apa itu pernikahan?....apalagi kakak,....sudah tidur dengan aku" Laras memelankan suaranya, ia malu mengungkapkan tapi mau bagaimana lagi.
"Oh jadi kamu bertahan hanya ingin itu, karena aku meniduri kamu?"
"Bukan karena itu, aku bertahan untuk rumah tangga kita,... tapi kakak sudah ingat waktu.malam itu, bukan malam itu saja..tapi....?" tanya Laras gregetan penuh harap, berharap Nabil ingat dengan perbuatannya waktu mabuk jadi ia tidak malu sendiri.
"Untuk apa aku mengingat sesuatu yang tidak ingin aku lakukan" Nabil melepaskan cekalannya dari tangan Laras. Perempuan itu lega, ia mengusap bahunya tulang belulangnya yang hampir saja rontok.
"Kakak kira aku juga ikhlas?" balas Laras tidak mau kalah.
"Aku tidak mau dan kamu juga tidak, jadi untuk apa dibahas?..anggap saja itu tidak pernah terjadi"
Seenaknya Nabil bilang melupakan. Bagi dia mungkin bisa karena dirinya tidak dirugikan sedangkan Laras, apa yang akan dibanggakan Laras setelah ini? ia akan jadi janda muda gak ada harganya.
"Jangan-jangan memori kakak hanya berkapasitas sedikit, mudah melupakan dan membuang apa yang sudah dilewati"
"Kamu tidak usah berada dalam pikiran aku, tidak ada tempat"
"Dikit saja, ngontrak juga tidak apa"
Wajah Nabil sangat tegang, ia pergi dengan langkah panjang menuju kamarnya dilantai atas. Dan Laras terhenyak, melamun di sofa.
Ia ingat dengan sang mama jika bertengkar dengan papanya maka mamanya akan mengalah dan membiarkan emosinya stabil. Jika sama -sama emosi maka akan terjadi pertangkaran hebat. Seperti api dan bensin, pasti mereka akan sama-sama terbakar. Tapi sekarang ia bukan meniru sifat bijaksana sang mama melainkan karena lelah terus bertengkar. Bertengkar itu membuat otot syaraf jadi tegang dan bisa memicu sakit jantung dan storoke. Tidak lucu jika dirinya mati muda.
"Hello i am home!!!"
Suara cempreng itu menyentakkan Laras ia buru-buru menghapus air matanya. Mbak Yul muncul dipintu menggeret koper, ia memakai baju warna-warni dan juga bando berwarna heboh kayak taman penuh bunga.
"Nona Laras!!" perempuan itu meninggalkan kopernya dan menuju Laras untuk memeluk sang nona "mbak Yul merindukan nona, terbayang oleh mbak Yul bagaimana nona dan tuan makan? pasti repot kalau tidak ada mbak Yul"
__ADS_1
"Iya repot, untung mbak Yul cepat kembali" ujar Laras dengan senyuman yang dipaksakan. Bukan karena tidak suka mbak Yul kembali tapi disaat ia sedih memang sulit untuk tersenyum sempurna.
"Bagaimana keluarga mbak Yul?"
"Sudah lumayan baikan, makanya mbak Yul kembali untuk melayani nona dan tuan sepenuh hati....oh ya mbak Yul bawakan nona dan tuan oleh-oleh, buah segar baru dipetik dari kebun" mbak Yul mengambil kopernya dan membuka. ia mengeluarkan manggis, rambutan dan duku dari sana. Disaat itu Nabil turun tangga dan mbak Yul memanggilnya riang.
"Tuan, tuan Nabil!!"
Orang yang dipanggil menampilkan wajah yang tidak kalah datarnya.
"Mbak Yul bawah oleh-oleh,....." ucapan mak Yul terhenti karena wajah sang tua yang tidak enak untuk dilihat. Apalagi sang tuan mengabaikan mbak Yul.
"Mungkin dia capek mbak" ujar Laras, kasihan mbak Yul dicuekin begitu "lebih baik mbak Yul istirahat dulu kekamar ya"
"Ya nona, mbak Yul mengantar koper mbak dulu kekamar,....permisi tuan" mbak Yul menyapa sang tuan dengan penuh hormat setelah itu bergegas kekamarnya.
Laras menyamperi Nabil yang sudah sangat wangi bersiap untuk pergi.
"Kakak kenapa begitu sama mbak Yul sih?" tanya Laras.
"Astaga! kakak! kita ini sesama manusia kak, harga-menghargai itu perlu, jangan mentang orang lain bawahan dan kita tidak menghargai mereka, mereka banyak membantu..."
"Urus saja diri kamu sendiri!!!" potong Nabil tajam.
"Iya aku akan mengurus diri aku sendiri, biasanya juga gitu! kakak saja yang gak bisa mandiri, dikit-dikit galau, dikit-dikit marah"
Lama-lama Nabil kesal juga pada Laras, sifat perempuan itu sangat sukar untuk dinilai. Kadang galak, kadang humoris, kadang ngambek an dan kadang bikin darah tinggi. berbeda dengan Airin yang hanya punya satu sifat yaitu manja. Perempuan manja sangat membutuhkan pria strong kayak dirinya.
"Kakak mau kemana?"
"serah aku"
"Aku nanya, siapa tau ada orang yang nyariin kakak trus aku harus jawab apa?"
"Bilang saja tidak tau"
"Dimata orang kakak adalah suami aku"
__ADS_1
"Cerewet bangat sih" balas Nabil, heran sama anak ini. Makin lama makin bawel. Ia menelpon Amoy untuk segera pergi. Tidak lama kemudian Amoy muncul didepan pintu menunggu nabil.
"Dah kak, hati-hati dijalan" Laras melambaikan tangan dengan senyuman tidak peduli Nabil kesal setengah mati.
"Kakak mau dimasakin apa? aku akan masakin buat kakak"
Tidak ada jawaban, senyuman laras pudar dengan sendirinya. Perempuan itu menghela nafas sangat berat.
Dari arah kamar terdengar suara mbak Yul mencari Laras, menyadarkan perempuan itu.
"Nona...aduh maaf nona, mbak Yul datang terlambat, maaf" wajah mbak Yul sangat sedih ia mencium tangan Laras seperti menyesal.
"Mbak Yul gak telat kok, biasa saja mbak Yul, mbak Yul gak usah minta maaf" Laras menarik tangannya, tangis mbak Yul makin pecah.
"Trus bagaimana nasib mbak Yul, kemana lagi mbak Yul harus pergi?"
"Mbak Yul tetap disini kok" Laras heran dengan mbak Yul kenapa mbak Yul lebay sekali.
"Bener?"
"Iya"
"Makasih nona, nona baik sekali,..tapi nona, mbak Yul gak mau sekamar dengan dia"
"Sekamar dengan dia siapa?"
"Itu yang menghuni kamar mbak Yul"
Oh jadi karena itu mbak Yul histeris, karena kamarnya terisi dan ia mengira ada pembantu baru dirumah itu. Laras menjelaskan bahwa ia yang menginap disana karena pusing turun naik tangga.
"Aku beberapa hari ini kurang enak badan makanya aku nginap disana" sambung Laras.
"Kenapa gak minta tolong sama tuan Nabil untuk gendong keatas?"
"Dia encok Mbak, kasihan dia" ujar Laras asal.
Jiwa kepo mbak Yul meronta. Diwajahnya tersirat banyak pertanyaan tapi apalah daya, mereka adalah majikan dan pembantu jadi tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga sang nona. Apalagi jika sang tuan tau kalau ia suka usil, bisa tamat riwayatnya. Tapi mbak Yul adalah perempuan dewasa, ia mencium ketidak beresen rumah tangga sang majikan.
__ADS_1