
Lima tahun kemudian..........
Rumah berpagar putih dekat jalan raya itu terlihat adem dari depan. Ada taman mini dan jalan setapak dari bebatuan bercat putih sama dengan cat pagar. Hal itu menjadikan rumah itu menjadi hidup tampak dari depan. Dipagar itu ada plang bertuliskan 'pelangi cake' dengan papan sederhana.
Mawar pagar berwarna merah merambat dipagar itu menjalar hampir ke rumah kontrakan tetangga yang jauh berbeda dari kondisi rumah bercat biru itu. Padahal pemilik kontrakan itu sama dan dulunya keadaan rumah bercat biru itu juga sama dengan rumah kontrakan lainnya tapi karena penghuni kontrakan rumah yang satu itu suka dengan ketenangan yang terlihat oleh mata maka perlahan rumah itu berubah. Hal itulah yang menjadikan pemilik kontrakan sayang pada penghuni rumah yang satu itu dan ia mengistimewakan. Telat bayar tidak apa. Meskipun diistimewakan pengontrak rumah tidak pernah telat untuk membayar. Ia selalu mengusahakan tepat waktu. penghuni itu semakin membuat senang pemilik kontrakan. Tiap ia kesana selalu seperti bertamu.
Sedari pagi perempuan itu dengan anak laki-lakinya sudah sibuk. Perempuan itu sibuk menyusun cake kedalam kotak. Cake yang sudah jadi dari semalam sedangkan anak laki-lakinya sibuk main air sambil mandi dikamar mandi. Setelah itu Anak laki-laki itu berlama-lama memakai baju yang sudah disiapkan oleh sang ibu. Belum lagi selesai, ia sudah menendang-nendang bola kedinding. Tiap apa yang dikerjakan oleh anak lakilaki itu selalu mengundang teguran dari sang ibu.
"Alan! cepetan makannya, setelah itu baru pakai baju seragam"
Bocah yang duduk dibangku nol besar itu selalu protes apapun yang disuruh ibunya selalu maunya cepat. Ia tidak pernah bosan memainkan mainannya dilantai walaupun sehabis itu ia akan diomeli lagi dan ibunya akan memasukkan mainan itu kedalam dus dan manaruhnya disudut ruangan. Mainan yang paling ia sukai adalah bola, ia akan menendang bola keras-keras kedinding atau melempar-lemparkan sambil makan. Tidak lama kemudian terdengar suara ibunya didapur menegur.
"Sudah ibu bilang, cepat!!" akhirnya perempuan itu turun tangan menyendokkan nasi dan telur dadar. Bocah berambut hitam lurus dan bermata hitam legam itu sangat senang kalau digantikan oleh sang ibunya menyuapkan nasi kemulutnya.
"Sudah kenyang ibu" anak laki-laki yang bermana Alan itu menolak suapan dari ibunya tapi sang ibu tidak menyerah dan membagi nasi yang tersisa itu menjadi beberapa bagian lalu menghitungnya.
"Satuu, dua.. tiga...cuma tinggal enam suap lagi"
"Ibuu" wajah Alan memelas tapi karena bujukan sang ibu bocah itu menurut juga dengan dimingi janji "habiskan, nanti sore kita main bola dibelakang"
"Benar?"
"Hm"
__ADS_1
Bocah laki-laki itu langsung senang dan semangat mengunyah nasi yang masuk kemulutnya.
Perempuan itu menang. Dari pada dinding rumah selalu berisik kena tendangan bola atau dari pada anaknya berlari kejalan raya lebih baik ia sediakan sedikit waktu sorenya untuk menemani main bola dilapangan belakang tidak jauh dari kontrakan.
Selesai makan ia memakaikan seragam biru putih Alan dan memasukkan bekalnya ke tas setelah itu barulah ia antar putranya dengan sepeda menuju sekolahnya yang tidak jauh dari sana. Alan duduk dikursi khusus didepan yang Laras mengayuh sepedanya dalam kondisi jalanan yang macet parah. Meskipun begitu sepeda Laras bisa lewat disela kendaraan lain. Ternyata tidak selamanya miskin itu bencana buktinya ia bisa mengalahkan mobil-mobil mewah yang antri menunggu lampu hijau menyala.
Laras selalu melihat sisi lain di hidupnya agar tidak mudah mengeluh dan putus asa. Semua itu ia lakukan demi putranya. Ia akan melakukan apa saja agar Alan sama dengan anak- anak lainnya.
Sebelumnya Laras tinggal didesa dirumah almarhum neneknya dan bekerja serabutan sama dengan perempuan desa lainnya. Kadang ia bekerja dan kadang tidak. Laras memutar otak agar kehidupan mereka lebih baik kedepannya dan Alan bisa sekolah di sekolah favorit.
Menjadi single parents itu tidak enak. Harus kuat fisik dan mental. Apalagi suaminya tidak begitu dikenal banyak orang. Kadang mereka menuduh Laras hamil diluar nikah dan memandang rendah pada Laras. Bagi Laras selagi mereka tidak melukai fisik maka biarkan saja. Karena telinganya cuma dua dan mulut orang banyak maka a tidak akan mampu menutup mulut orang. Lebih baik telinganya saja yang jaga. Saring apa yang didengarkan. Jika bermamfaat diambil kalau tidak dibuang.
Laras tiba disekolah Alan lima belas menit kemudian. Ia mengantarkan putranya kedalam sampai pada ibu gurunya.
"Ingat ya jangan kemana-mana sebelum ibu jemput" Laras mengingatkan. Alan mengangguk, dan Laras mencium pipi putranya sebelum pergi.
Karena sudah terbiasa mengendarai sepeda Laras sangat lincah selip sana- sini dijalan raya apalagi jika ada pelanggan yang meminta pesanannya diantar cepat.
Angin pagi bercampur asap knalpot membelai wajahnya. Setiba dirumah ia menyusun cake kedalam box dan mulai mengantarnya.
"Kue yang kemaren habis diborong oleh pemilik mini market, ia meninggalkan nomornya untuk kamu Ras, katanya kamu disuruh untuk menelepon" ujar pemilik warung sembari mengasihkan secarik kertas pada Laras.
"Terima kasih bu, saya akan usahakan"
__ADS_1
"Sudah saatnya kamu cari karyawan Ras, usaha kamu sudah makin berkembang"
"Akan saya pikirkan dulu bu, masih mengingat biaya" senyum Laras. Apa yang dikatakan Laras dipahami oleh pemilik warung karena tempat Laras juga kecil dan peralatannya masih seadanya.
"Semangat terus Ras, semoga usaha kue kamu berkembang"
"Aamiin"
Laras mengucapkan terima kasih pada pemilik warung. Sekarang ia tinggal mengantarkan pesanan seorang pelanggan yang minta dibuatkan cake istimewa untuk merayakan hari jadi. Dan Laras mengerahkan sekuat tenaga agar pelanggan itu tidak kecewa.
Ia mencari alamat pelanggan tersebut dan ternyata mengarah pada sebuah gedung.
"Maaf mbak, apa mbak kenal dengan yang namanya Cleo?" tanya Laras pada resepsionist gedung tersebut.
"Nona Cleo? oh ya..dia ada dilantai dua puluh"
" Terima kasih mbak" Laras bergegas kesana lewat lift membawa cakenya dengan hati-hati agar sampai kealamat dengan selamat. Selain menghargai pelanggan, uang yang didapat juga mengandung harapan.
Keluar dari lift, kaki Laras tersandung ditepian. Kue ditangan Laras terlepas dan berhamburan diudara. Ia memejamkan mata tidak sanggup melihat kue yang ia buat dengan banyak waktu dan tenaga hancur didepannya. sakit dilututnya dan malunya tidak seberapa dibandingkan dengan rugi yang ia dapat.
"Kamu tidak apa-apa,..."
Terdengar suara perempuan didepannya. Laras mengira perempuan itu bertanya padanya dan mulutnya sudah terbuka akan menjawab, tapi...
__ADS_1
"Tidak apa-apa Cleo" balas pria yang ujung sepatunya tidak jauh dari hidung Laras, dan Laras mendongak.
"Kak Nabil!"