
***
Nata berdumel ditempat tidur karena tidak bisa telentang. Sepanjang malam ia hanya menelungkup. Matanya tidak bisa terpejam dan sendinya terasa pegal. Seluruh isi rumah repot olehnya apalagi Mark. Dokter itu setiap waktu kena omelan olehnya.
Istirahat Laras juga terganggu oleh pria itu. Ia mendatangi kamar Nata.
"Kamu bisa diam tidak? suara kamu itu menganggu seluruh isi planet"
"Kau tidak tau ini sangat menjengkelkan, obat Mark tidak manjur harusnya dia beralih saja jadi tukang cilok"
"Yang menjengkelkan itu kamu,..karena kamu semua orang tidak bisa tidur"
"Yang jadi bos itu aku! kalau aku saja tidak bisa tidur apalagi mereka"
"Berisik!"
Tidak tahan kemudian Nata duduk meluruskan punggungnya tanpa bisa bersandar. Ia pindah ke lantai dan menyandarkan dagunya disofa. Rasanya ia rela menukarkan seluruh isi kekayaannya agar bisa tidur nyenyak. Jarang ia bisa tidur dengan aman karena perjalanan dan pekerjaan.
"Dasar hewan sialan!..."
"Dari tadi mengumpat terus, itu derita kamu dan itu belum seberapa dengan apa yang telah kamu lakukan, tangan kamu mandi darah tapi kamu tidak menyadarinya"
"Kau yang harusnya diam atau kau akan menyusul mereka!"
"Jangan kau takuti orang yang juga ingin mati, percuma!!" balas Laras.
Nata sering mendengar ini tiap kali ia mengegertak perempuan itu. Apa iya Laras semenyerah itu pada hidupnya? berarti dibalik kehidupan Laras tersimpan hal yang menyakitkan.
"Kau tau, setiap aku ingin mati aku selalu membunuh, dan setiap aku ingin hidup panjang aku kumpulkan semua harta dan itu bermamafaat untuk aku"
"Psycho"
"Aku tidak mengakui aku psikopat karena aku membunuh langsung tidak pernah menganiaya mereka"
"Berarti kamu sudah gila"
"Sedikit lagi, aku ingin gila beneran! agar semua mati ditangan aku dan aku membunuh tanpa beban"
"Masih menyisakan sedikit nurani?" cibir Laras.
"Entahlah" Dagu Nata tertempel di kasur.
"Kau kaya, bisa apa saja, tidak ada orang yang bisa menginjak kamu, kalau saja matahari dan bulan bisa dibeli dan digerakkan mesin pasti kau sudah lama memiliki itu"
Wajah kusut Nata sedikit berseri, Laras orangnya nyambung diajak bicara. Perempuan itu hobi melambungkan dan membanting lawan bicaranya. Seseorang akan melayang sekaligus terbawa emosi.
"Kalau kamu sendiri kenapa ingin mati? pasti karena pria" tebak Nata.
"Pengen mati saja, sudah bosan hidup"
"Aku pernah melihat beberapa perempuan hamil, mereka semuanya bahagia, tapi kenapa kamu biasa saja"
"Terus aku harus bagaimana? pargoy? undang penghuni hutan kesini? atau minta kamu bawakan sesuatu untuk aku?"
__ADS_1
"Ya aku mau saja kalau kamu minta apa saja, sebutkan saja"
Laras tidak menduga Nata bilang begitu.
Hatinya sedikit tersentuh.
"Tidak usah, memangnya kamu siapa aku?"
"Minta itu tidak harus jadi siapa-siapa dulu kan?"
"Aku tidak ingin apa-apa, begini saja sudah cukup"
"Sesederhana itu?"
Laras mengangguk.
"Aku kenal Nabil, dia pria cengeng dan manja"
"Dia pria yang baik" potong Laras "tapi bukan terbaik untuk aku"
"Aku heran kenapa kamu bisa menikah dengannya?"
"Menggantikan kakak aku, setelah kakak aku datang dan aku harus sadar posisi kembali"
"Pria bodoh, seandainya itu aku, aku pasti akan mempertahankan rumah tangga aku bagaimanapun caranya"
"Memangnya kamu berniat untuk menikah?"
"Tidak, tapi seandainya itu aku"
Nata tersenyum pahit, jangankan untuk menikah, jatuh cinta saja tidak ada dalam kamusnya karena cinta itu melemahkan. Ia bisa menjadi pria melow dan penakut.
"Minggu ini aku akan ke perairan Atlantik menjemput barang yang akan datang dari daratan Eropa, tiga hari aku tidak akan kesini, apa kamu mau pergi?"
Laras menggeleng "untuk sesaat bolehkah aku menumpang disini?"
"Boleh" jawab Nata cepat "maksud aku, terserah kamu! kamu boleh disini sampai kapanpun"
Mereka mengobrol sampai lupa waktu dan tanpa disadari mereka tertidur. Nata terbangun hampir pagi, punggungnya terasa sakit saat ia menggeliat. Begitu ia membuka mata ia menyadari ada seorang perempuan yang rela merasakan hal yang sama dengannya. Laras tidur sambil duduk didepannya. Sama persis dengan apa yang ia lalukan.
Wajah perempuan itu sangat damai, kelopak matanya tertutup rapat dihiasi bulu matanya yang lentik. Semua yang terukir di wajahnya alami tanpa ada perubahan dari ciptaan Tuhan.
Ia mengangkat Laras pelan agar ia tidak terbangun. Sambil menahan sakit punggungnya. Dan ia menidurkan ditempat tidurnya setelah itu ia pergi keluar.
"Panggilkan Mark" perintah Nata pada seseorang.
"Baik tuan"
Nata masuk kedapur, para chef langsung menyediakan sarapan untuknya.
Tidak lama kemudian Mark datang kesana dan bergabung dengan Nata. Pria itu sepertinya baru bangun tidur. Wajahnya masih lembab bekas baru di cuci.
"Bagimana keadaan kamu?" tanya Mark pelan dan bersiap kena semprot.
__ADS_1
"Agak mendingan"
Nafas Mark yang sempat terhenti sekarang lancar kembali.
"Kau ikut dengan ku minggu ini"
"Baiklah"
Mark tidak pernah tidak patuh pada Nata dan itu bukanlah yang pertama kalinya ia ikut dengan pria itu. Ia sering berada di situasi genting untuk menyelamatkan diri dari hantaman timah panas. Ia mengetahui sedikit perjalanan Nata menghadapi para bandits dan juga patroli resmi melalui beberapa penjagaan negara. Mark juga terlatih menghadapi serangan mendadak sama seperti anak buah Nata yang lainnya.
"Apa saja yang dikeluhkan perempuan yang sedang hamil?"
Mark menekan kekagetannya mendengar pertanyaan Nata.
"Emosinya tidak stabil"
"Kalau itu aku tau"
"Sering makan asam"
"Itu juga aku tau, aku sering melihatnya"
"Maaf kalau kamu tau kenapa kamu bertanya?"
"Aku bertanya karena kau adalah seorang dokter"
Sabar! Mark mengurut dada dari pada ia storoke ringan dibuat oleh Nata.
"Kira-kira anak yang dikandung Laras, laki-laki atau perempuan?"
"Aku tidak tau"
"Kau kan dokter!"
"Laras hamil baru memasuki trimester pertama, harusnya dia banyak istirahat dan tidak stres"
"Mengapa kau tidak bilang!" suara Nata meninggi pada Mark. Wajah Nata terlihat agak menyesal. Mark yang selalu salah makin serba salah.
"Kalau terjadi apa-apa dengan Laras kau harus bertanggung jawab Mark'
Nasib Mark dobel sial, setelah ini ia perlu perawatan dirumah sakit jiwa. Kapan ia tidak akan salah dimata Nata?
Begitu melihat Laras tiba didapur, wajah Nata melunak. Ia minum kopinya. Mark tau, Nata bahagia melihat kehadiran Laras. Ia berdoa dalam hati semoga saja Nata jatuh cinta pada Laras agar Nata punya pawang. Laras cocok untuk Nata.
Laras melihat ke tong sampah kalau-kalau ada makanan yang dibuang lagi disana. Ternyata kosong itu berarti nata sedari tadi bangunnya.
"Kau mau makan apa?" tanya Nata pada Laras.
Laras melirik makanan didepan Nata dan pria itu langsung peka ketika ada barbeque disana. Terakhir ia mengerjai Laras karena mencomot dagingnya "itu dari daging sapi pilihan, makan saja"
"Entahlah, aku ingin jus buah"
Nata memanggil chef dan menyuruh membuatkan apa yang diinginkan Laras.
__ADS_1
Didepan Nata, Mark sudah bersorak dalam hati. Semoga saja Nata jatuh cinta! semoga!