
"Apa maksud kamu? bajingan!" Nabil meraih kerah baju Nata dan menghadiahi sebuah tinju dirahangnya.
Nata hanya terdorong sedikit kebelakang. Pria itu tertawa mengejek pukulan Nabil. Akhirnya ia bertemu dengan Nabil kembali. Kata Laras, Nabil bersama dengan kakak nya. Mungkin saja perempuan yang bergaun gold itu kakaknya Laras. Ia tidak tau. Tapi siapapun itu, Nabil tidak berhak untuk dekat dengan Laras lagi. Waktu Laras hamil Nabil tidak ada untuknya. Nata tau persis itu.
"Nabil! kamu apa-apa an sih?" Cleo dan Vina heboh. Dalam waktu singkat mereka dikelilingi oleh banyak ajudan mereka masing-masing. Mereka siaga menjaga tuannya. Pemilik restorant tidak bisa mengamankan karena mereka adalah pria yang berpengaruh. Sedangkan direstorant itu hanya ada beberapa orang security.
Tangan Nata melayang ringan membalas pukulan Nabil dan detik berikutnya dua pria itu adu jotos saling memperlihatkan kelihaian mereka dalam bela diri.
"Aku bisa saja membunuh kamu, kau lupa siapa aku?" ancam Nata.
"Aku tidak lupa, dan kau seharusnya juga tidak lupa tentang aku, aku bisa saja menghancurkan kamu dengan mudah"
"Aku memang bajingan tapi tidak sebajingan kamu! jangan lagi kau sentuh dia!" Nata memperingatkan
"Kau yang bajingan seenaknya ingin memeluknya"
Vina histeris melihat putranya berkelahi. Meskipun perkelahian mereka imbang tapi Vina tidak rela anaknya kena pukul sedikitpun. Jiwa singa seorang ibu mengamuk pada orang yang berani menyakiti anaknya. Sepatunya sudah terbang diudara menghantam kepala Nata.
Laras jadi bahan perhatian pengunjung lainnya. Perempuan sederhana itu menjadi rebutan padahal ada perempuan yang jauh lebih cantik dan menarik disana. Dua pria itu bermata minus dan perlu kedokter mata.
"Nabil!!"
Cleo tidak mengerti dengan jalan pikiran Nabil. Untuk apa Nabil ikut campur dengan masalah tukang kue itu. Kenapa Nabil cemburu pada pria yang bernama Nata ini.
Nabil dan Laras baru bertemu dan itu hanya baru dua kali. Apa Nabil punya masa lalu dengan Laras? satu tahun bersama, Nabil tidak pernah menyebut nama perempuan manapun padanya.
Vina akan menarik anaknya dari depan sana tapi Hendra dengan cepat mencegah istrinya "jangan ikut campur urusan anak muda, ingat kita sudah tua!"
"Papaaa!! anak kita bisa mati olehnya"
"Ada penjaganya, kalau mereka gagal pecat mereka"
"Perempuan itu kembali menghancurkan anak kita"
"Bukan salah Laras, Nabil saja yang masih cinta"
"Pokoknya tidak boleh, sudah cukup Nabil pergi dari kita, dia tidak boleh bersama anak-anak Maya lagi"
"Terserah Nabil, kalau dia laki dia akan berusaha"
"Pokoknya menantu mama cuma Cleo"
__ADS_1
Vina misuh-misuh sambil mengomel untuk melepaskan tarikan tangan Hendra yang menariknya kemobil. Tadinya Vina penuh harap kalau bocah itu putranya Nabil, terlalu berharap ternyata bisa menimbulkan kekecewaan berlebihan.
Sementara itu didalam restorant sudah terjadi kerusuhan. Anak buah Nabil dan Nata baku hantam di didalam ruangan itu.
Laras menutup telinga Alan dan menunduk untuk pergi dari sana. Nabil dengan cepat mengejar Laras dan menarik pergelangan tangannya. Nata melihat tajam pada Nabil sedangkan Cleo menjadi murka karena Nabil menyentuh perempuan itu.
"Tunggu Ras, aku ingin bicara" sorot mata teduh Nabil merasuk ke kalbu. Hampir Laras tenggelam didalamnya.
"Apa yang harus dibicarakan? saya dan anda baru bertemu, apa ada masalah diantara kita?"
Saya dan anda? terdengar sangat kasar ditelinga seperti orang yang tidak pernah kenal sebelumnya. Sekarang Nabil merasakan bagaimana rasanya pura-pura tidak kenal dikeramaian. Ia pernah begitukan Laras waktu Laras bersama teman prianya direstorant dulunya. Tapi waktu itu ia cemburu pada teman pria Laras. Kalau Laras apa alasannya menjadi seperti ini? apa mungkin Laras cemburu juga pada ia dan Cleo. Nabil rasa tidak, Laras hanya ingin menjauh darinya.
"Aku ingin meluruskan suatu hal"
"Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan, memangnya siapa saya dan anda?...lepaskan tangan saya! anda bisa membuat putra saya trauma!"
Sorot mata Nabil beralih pada bocah di sebelah Laras yang juga menyorotnya dengan tajam seolah tidak mau ibunya diganggu "Apa benar dia putra kamu?" tangan Nabil jadi lemas tanpa disadari tangan Laras terlepas begitu saja.
Lima tahun berpisah dari Laras, Perempuan itu sudah benar-benar melupakannya dan menikah lagi lalu punya anak. Hatinya benar-benar patah dan remuk tak berbentuk.
"Iya, anak saya, ada yang salah?" tanya Laras tajam. Nabil menggeleng "aku hanya tidak menyangka"
Tidak menyangka apanya? tidak menyangka kalau perbuatannya jadi begitu?
Nabil berbalik langkah tanpa tenaga melewati Nata yang tersenyum sinis padanya. Dia yang menyuruh Laras pergi tapi dia yang melangkah duluan.
Laras melirik punggung pria yang meninggalkannya. Hanya itu? dia tidak ingin tau lebih jauh tentang Alan. Malang sekali nasib putranya punya ayah seperti dia.
Nabil menarik Cleo untuk pergi keluar dari restorant itu dengannya. Sebelum pergi ia membayar semua tagihan yang telah diperbuat oleh para anak buahnya dan ia juga meninggalkan sejumlah uang untuk Laras.
"Bayaran untuk dua buah kue kamu"
"Terima kasih" Laras tidak menolak karena ia tidak mau rugi dan juga tidak mau mengambil uang berlebih.
Laras melambaikan tangan pada Cleo dengan senyuman hambar dan Cleo membalas seperti orang alergi.
"Sudah?" Nata meraih Alan dan menggendongnya.
"Sudah apanya? kamu kenapa ada disini?"
"Lima tahun, tapi masih belum berubah masih jutek"
__ADS_1
"Lima tahun lagi berubah kok"
"Oh ya..."
"Iya, berubah jadi tua,..kamunya"
"Dia sudah gede, siapa nama mu jagoan?"
Alan tidak menjawab karena masih shock dengan rentetan kejadian barusan. Laras mengambil Alan dari Nata dan meletakkan diatas sepeda.
"Aku antar kamu pulang"
"Tidak usah"
Laras mengayuh sepedanya yang jalan ditempat. Nata menarik belakang sepeda Laras.
"Lepaskan!!"
"Aku antar kamu pulang"
"Aku bisa pulang sendiri!"
"Jangan pelit"
"Aku orang miskin, apa yang harus aku bagi dengan kamu?"
"Kasih aku sedikit hati"
"Di jalanan banyak noh, hati-hati bertebaran!"
Nata malah tertawa, Laras kalau marah bukannya bikin sakit hati malah bikin mood bosternya naik. Lima tahun tidak bertemu dengan Laras membuat hatinya hambar. Ia pernah menyerah dan melepaskan Laras dari balik jendela rumah sakit menyaksikan perempuan itu lari darinya. Waktu itu sebuah peluru nyaris melayang mengenai Laras kalau ia tidak ingat sedang memegang hasil USG ditangannya. Ia hampir melakukan hal yang konyol karena tidak tahan untuk disakiti. Andai Laras tau, pria yang berhati iblis ini pernah meneteskan air mata karenanya dan mengurung diri berbulan-bulan didalam kamar seperti orang sakit menular.
"Lepaskan! putraku sudah ketakutan"
"Apa iya? hey jagoan, kamu tidak apa- apa kan?" dalam gelap memang terlihat kalau bocah itu memang sudah shok. Ia mengusap kepala Alan " baiklah, hati- hati"
Nata melepaskan pegangannya pada sepeda Laras dan pergi kemobilnya. Jangan kira ia akan melepaskan Laras begitu saja.
Setelah Laras pergi mobil Nata menguntit dari belakang.
Perempuan itu mengayuh sepedanya menyusuri jalan raya. Mengajak Alan singgah di supermaket tidak jauh dari kontrakannya. Laras tidak sempat untuk melihat kelain arah karena ia menyangka semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Tidak jauh darinya ada sebuah mobil yang terus mengikutinya dan dibelakang itu ada sebuah sepeda motor. Malam itu Laras tidur dengan nyenyak bersama Alan. Ia tidak tau kalau rumahnya jadi buronan.