Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
pertemuan hambar


__ADS_3

Sudah seminggu Laras bersama Nata, dan Laras ingin pulang tapi Nata menahannya dan akhirnya terjadilah perdebatan panjang. Nata menahan Laras agar tetap tinggal.


Bujukan Nata tidak mempan hingga akhirnya Nata bilang,


"Rumah itu sudah aku beli Ras, berarti aku juga boleh tinggal disana"


Wajah Laras langsung merah dan telinganya menyemburkan asap panas.


"Nata!!! kau mau cari perkara dengan aku? ayo sini berantem" Laras menghampiri Nata dan mencak-mencak didepan pria itu " semua barang-barang aku kamu kemanain?"


"Aku kasihkan pada siapa yang mau"


Mata Laras mendelik hebat. Nata melelang barang rongsokannya dengan cuma-cuma. Pria itu tidak tau kalau dirinya jungkir balik mencari uang untuk beli barang-barang itu.


"Menyesal aku ikut kamu!!! kau mengorbankan kehidupan kami,..kau tau anak aku harus sekolah dan aku juga harus mencari uang tapi kamu dengan seenaknya merampas kehidupan aku"


"Alan akan diantar sekolah dari sini dan kamu juga boleh melakukan apa yang kamu suka, aku tidak melarangnya, dan semua barang-barang kamu akan aku ganti"


"Kamu kira semuanya bisa diganti dengan uang?" Laras marah-marah. Tapi Nata bicaranya tetap kalem dan senyum. Disitulah Laras merasa kalau dirinya tidak ditakuti. Energinya habis untuk marah tapi percuma.


"Tidak, aku mengorban apa yang aku punya untuk kamu dan itu tidak akan berhasil, aku melakukan itu hanyalah bentuk dari sedikit pengorbanan, kamu tau? yang paling besar itu adalah perasaan aku ke kamu, tidak ternilai oleh apapun"


Nata berkata jujur, Laras mengubah hidupnya yang dulunya gelap menjadi berwarna. Ia yang tidak percaya dengan cinta dan mempunyai hati sekeras batu sekarang berubah mempunyai hati semanis gulali. Laras tidak bisa apa-apa dibuatnya. Perempuan itu tidak tau harus kemana, karena harus memulai dari awal lagi. Mencari tempat tinggal yang aman bagi dirinya dan Alan tidaklah mudah. Selain itu kehidupannya akan terus diganggu Nata. Pria itu tidak akan melepaskan Laras begitu saja.


"Katakan, apa yang kamu mau? aku akan kabulkan untukmu"


"Aku tidak mau apa-apa, aku lelah" Laras mengusap kepalanya yang sudah puyeng.

__ADS_1


Alan yang sedang asyik bermain keluar dari kamarnya untuk mencari Laras. Nata menyambut bocah itu dengan sapaan heboh.


"Alan, my son! sini!! kau harus menyapa aku juga!"


"Oh ya... siang om" ujar Alan kemudian.


"Kamu tidak bermain lagi?" tanya Laras pada Alan karena bocah itu tumbenan mencarinya. Biasanya Alan hanya bermain sampai lupa segalanya. Semenjak tinggal dirumah Nata bocah itu tidak lagi mengambek karena dilarang bermain oleh Laras. Apa saja yang disukai Alan akan dikabulkan Nata termasuk main bola dalam kamar atau dihalaman.


"Aku sudah bosan"


"Bagaimana kalau kita pergi keluar?" tawar Nata. Alan mengangguk senang.


"Ayo Ras kita keluar agar kamu juga tidak bosan"


Laras menggeleng. Nata menggunakan Alan untuk mengajak Laras. Kalau Nata yang merengek Laras tidak akan tega.


Mereka bertiga pergi ketempat yang dimau Alan. Mungkin karena Alan terbiasa hidup sedehana maka hal itu adalah hal yang menyenangkan bagi dia. Kepala Laras makin pusing dibuatnya. Sasaran kemarahannya adalah Nata karena memanjakan anaknya. Seperti biasa kalau Laras marah maka Nata akan senang karena merasa diperhatikan.


"Alan jangan lari-lari nanti jatuh" Laras memperingatkan Alan. Mungkin karena Alan terlalu gembira ia tidak mengindahkan ucapan Laras. Dan baru saja Laras bicara apa yang diingatkan terjadi. Alan menabrak seorang bocah perempuan yang hampir seumuran dengannya.


"Huaaaa mama!!!" Bocah perempuan itu menangis kencang.


Seorang wanita dan pria berlari menghampiri bocah perempuan tersebut begitu juga dengan Nata dan Laras. Alan hanya bengong melihat anak perempuan itu.


"Kirana tidak apa-apa?" tanya pria dan wanita itu bersamaan. Sang pria langsung mengangkat bocah perempuan itu agar tangisnya diam.


Nata juga mengangkat Alan dari lantai dan menggendongnya dengan pujian "kamu hebat jagoan, tidak menangis"

__ADS_1


"Hey kau...!" marah pria itu terhenti ketika mengetahui siapa dihadapan mereka.


Ke dua pasangan itu kemudian sama-sama diam ditempat. Ada Nabil, Airin, Laras dan Nata.


Laras melihat Airin dan Nabil bergantian termasuk anak perempuan dalam gendongan Nabil. Ternyata Nabil balikan sama mantannya dan sudah punya anak. Waktu itu untuk apa Nabil sok-sok an mengejarnya, ternyata Nabil sudah punya mereka. Dasar pria!


Nabil juga melihat ke Laras. Tiba-tiba Nabil menderita penyakit komplikasi hati, jantung, paru, serta asma akut karena melihat Laras bersama Nata. Apalagi Nata menggendong bocah lucu itu. Bocah yang di klaim Nata sebagai putranya.


"Kak Airin" gumam Laras menyapa kakaknya duluan karena Airin juga membeku bertemu dengan Laras.


Airin seperti ingin menghindar tapi tidak enak pada Nabil. Ia hanya mengangguk pelan dengan senyuman patah.


"Kalian bisa tidak menjaga anak?" ujar Nabil gregetan karena Nata dan Alan terlihat sangat dekat.


"Kau tidak lihat, betapa aku sangat bisa menjadi seorang ayah" balas Nata dengan cibiran. Ia memamerkan Alan pada nabil.


"Tadi saja Alan hampir celaka, ayah macam apa yang seperti itu"


"Ayah yang baik, kau saja yang tidak bisa menjaga anak kamu" balas Nata tidak mau kalah.


"Sudah, kayak anak kecil" Laras menoel bahu Nata agar diam. Laras ingin bicara dengan Airin karena kakaknya itu sudah lama menghilang dan ketika bertemu kembali ia ditemukan bersama Nabil.


"Kakak kemana saja sih?" tanya Laras ingin tau. Meskipun Airin tidak suka padanya tapi Airin adalah satu-satunya saudara yang Laras punya. Sebenci apapun Airin padanya, Airin tetaplah kakaknya karena mereka lahir dari ayah yang sama.


"Aku tidak kemana-mana" jawab Airin, nadanya terdengar tidak suka ditanya-tanya Laras.


"Tapi kakak menghilang begitu saja"

__ADS_1


"Menghilang kemana? tidak mungkin lah aku bersama kamu terus" jawab Airin malas. Airin berpendapat kalau dia punya kehidupan sendiri dan tidak mau dekat-dekat dengan Laras apalagi saat seperti ini bertemu Laras kembali membuat dirinya benci setengah mati. Airin bukan tidak tau kalau seluruh perhatian Nabil tertuju pada Laras dan anak laki-laki itu. Yang celakanya anak laki- laki itu mirip dengan Nabil.


"Apa dia kakak kamu Airin, kenalkan aku..." Nata mengulurkan tangan pada Airin dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. Laras menepis tangan Nata dengan sorot mata tajam penuh pelawanan. Laras tau kalau Nata sangat marah pada Airin. Bukan tidak mungkin setelah ini kakaknya akan jadi mayat tanpa identitas.


__ADS_2