Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
aku ayahnya


__ADS_3

Nabil memeluk Laras ditangga, tangannya bersimbah darah untungnya ia dengan cepat menguakkan pist*l ditangan Laras. Bahu perempuan itu terluka. Bau harum rambut Laras tercium olehnya. Sejenak ia enggan untuk melepaskan moment ini. Jantungnya masih berdegub kencang penuh ketakutan.


Sementara itu anak para pria yang didapuk sebagai anak buah Laras tidak berkutik dibawah tekanan anak buah Nabil. Mereka mendesak untuk mengatakan dimana pemimpin mereka berada.


Tadi Laras mencoba mengarahkan senjata itu kekepalanya sendiri dan Nabil berusaha untuk menggagalkan. Untungnya ia berhasil. Tidak terbayangkan oleh Nabil jika hal konyol itu merenggut nyawa Laras.


Pria itu menghabisi semua cctv ditumah itu dengan tembak*n dan memindahkan earphone ditangan Laras ketelinganya tanpa melepaskan pelukannya.


Ras,...apakah mau berhasil?


Nabil mendekatkan earphone ke telinga Laras menyuruhnya untuk menjawab.


Laras, jawab aku! semua cctv rusak, dan kau bagaimana??


"Ya aku berhasil" jawab Laras menyembunyikan ringisannya. Bahunya sobek oleh p*luru. Untungnya hanya kulitnya yang tergores. ia berterima kasih pada pria yang ada dalam pelukannya.


Cepat pergi dari sana!


"Aku butuh putraku" ujar Laras.


Dia akan baik- baik saja selagi kau bekerja dengan baik


"Kau menipuku? kau....


Nabil mengepalkan tangan, geram. Orang itu seenaknya mempermainkan dirinya dan Laras. Pastinya mereka tahu tentang Alan makanya demikian. Bodohnya Laras tidak jujur padanya dari awal.


Nabil mencopot earphone ditelinga Laras dan menginjak kelantai dengan emosi. Ia bersumpah akan membuat orang yang membuat permainan ini juga bernasib demikian.


"Hey! apa yang kau lakukan?!" Laras mendorong Nabil marah. Hampir saja Nabil terjatuh dari tangga dimana mereka berpijak. Benda itu satu-satunya yang bisa menghubungkannya dengan Alan tapi Nabil malah merusaknya.


"Anakku bisa saja celaka ditangan mereka, kau sangat keterlaluan!!"


"Aku akan mencarinya sampai keneraka sekalipun, kamu jangan cemaskan Alan sekarang kamu harus secepatnya kerumah sakit Ras, luka kamu harus diobati" Nabil memeriksa luka Laras. Laras mendorong Nabil kembali sebegai balasannya.

__ADS_1


"Aku tidak peduli diriku sendiri, aku hanya ingin putraku! kau tidak tau bagaimana rasanya mendengar seorang anak berteriak memanggil untuk minta tolong, kau tidak akan tau itu! kau datang malah membuat keadaan semakin terpuruk! putraku dalam bahaya!!!"


"Alan bukan saja putramu Ras tapi adalah putraku juga, aku bersumpah akan menemukan Alan bagaimanapun caranya!"


Laras menyembunyikan keterkejutannya. Dari mana Nabil tau hal ini karena hanya dirinya dan Natalah yang tau tentang Alan.


"Kau jangan mengada-ada! mengaku sebagai ayah! aku yang melahirkannya! kau tidak punya hak untuk itu!" telunjuk Laras runcing ke wajah Nabil dengan emosi dan air mata. Nabil mengerti, pantas Laras marah padanya karena dulu ia tidak mau mengakui apapun dengan Laras.


"Aku tau aku salah Ras tapi sebaiknya kamu bilang sama aku maka hal ini tidak akan terjadi, apa salahnya kamu jujur sama aku, sesalah apapun aku sama kamu tidak akan mengubah kenyataan kalau aku adalah ayah Alan " Nabil berkata pelan menyesali semua sikap Laras dan sikap dirinya sendiri. Harusnya ia sadar dari awal kalau Alan itu mirip dengannya. Harusnya pula ia menuruti kata hatinya bukan perkataan orang lain.


"Aku tidak ingin mendengar apapun tentang kamu! kau dengar itu! ku bukanlah siapa-siapa kami, kalau bukan karenamu aku tidak begini! kau hanyalah pria yang tidak sengaja aku nikahi! semua tentang aku dan kamu sudah aku hapus dalam hidup aku!"


"Apa kamu juga bisa menghapus tetang Alan? kamu tidak akan bisa Ras, aku adalah ayahnya!"


"Aku juga akan hapus semua tentang itu!" teriak Laras.


"Tidak akan aku biarkan!" balas Nabil sengit. Sebajing*an apapun dirinya tidak mungkin Nabil mengabaikan putranya sendiri apalagi dia lahir dari seorang wanita yang menjadi perputaran dunianya.


Sabar Nabil, sabar! menghadapi wanita marah bukan dengan emosi. Nabil menghembuskan nafas agar dadanya lapang.


Laras buru-buru berlalu untuk mencari dimana orang yang telah mengambil Alan darinya. Nabil bergegas menyusul dan menarik tangannya "kamu kerumah sakit, tidak ada bantahan"


"Kau!!......" Laras ingin marah dan memaki.


"Marahlah! lampiaskan semuanya pada aku, aku tau aku salah, aku tidak akan minta maaf dengan ucapan, tapi aku akan menebusnya dengan semampu yang aku bisa" Nabil memeluk Laras tidak peduli ia di pukuli oleh Laras.


"Lepaskan!..."


"Kamu tidak usah panik, sebentar saja"


"Aku benci kau!!"


Laras menyikut dan Nabil meringis dan mempererat pelukannya sembari berbisik "sekarang kamu sudah jadi pembangkang ya Ras, tapi tidak apa aku tetap cinta,...."

__ADS_1


Nabil memaksa Laras untuk membuka jaketnya dan ia memeriksa luka Laras. Perempuan itu menepis tangan Nabil.


Lengan baju Laras sobek dan bahunya mengelupas mengeluarkan darah. Nabil merobek bahu kaos Laras agar tidak masuk kedalam lukanya. Nabil menelan ludah saat melihat tali produk dalam negri menyebul. Hal itu ketahuan oleh Laras yang mempunyai tingkat kewaspadaan yang tinggi pada Nabil.


Dan benar saja kecurigaan Laras terbukti, Nabil mendekatkan wajahnya ke leher Laras.


"Lepaskan! ku b*nuh kau!!" Laras menghadiahi Nabil sebuah terjangan. Pria itu meringis dari tadi Laras ingin melumpuhkannya tapi tidak apa, ia menang banyak.


"Kamu tidak akan tega Ras, ......tadi saja kamu memilih melukai diri kamu sendiri, lain kali jangan begitu, aku tidak apa-apa terluka ditangan kamu tapi ternyata kamunya juga lebih cinta pada aku, makasih sayang! love you!"


Tubuh Laras menegang. Apalagi ketika kecupan singkat itu mendarat di pipinya. Wajah Laras terasa panas dan kupu-kupu berterbangan diperutnya. Laras bahkan lupa caranya untuk bernafas.


"Ehm! sudah selesai?"


Wajah Laras makin bersemu merah tapi kali ini karena malu. Hendra muncul dibelakangnya.


Putranya yang main sosor, Laras yang malu sendiri.


"Laras bersikeras untuk ikut Pa" adu Nabil pada papanya.


"Itu tugas dia, serahkan pada Nabil kamu jangan cemas, kalau dia gagal membawa cucuku dengan selamat, aku yang akan mengeksekusi dia, kembalilah! kamu hanya cocok untuk menjadi menantu aku bukan seperti ini, ini bukan dunia kamu Ras, dunia yang akan kamu jalani tidak punya hati, hanya dua pilihan disana, di habisi atau menghabisi"


"Luka aku tidak apa-apa om, ini hanyalah luka kecil" bantah Laras.


"Jangan ngeyel, ini adalah urusan pria" Hendra memanggil salah seorang pria untuk mengantar Laras kerumah sakit dan memaksa Laras untuk masuk kemobil dan pergi.


Nabil tidak tahu malunya kembali memeluk Laras ketika hendak masuk kemobil dan menc*umnya padahal ada Hendra disana. Ingin rasanya Laras mempunyai jurus menghilang agar bisa lenyap didepan mata Hendra.


"Aku berjanji membawa Alan dalam keadaan selamat"


Dalam hati Laras memaki, Nabil selamat karena ada papanya disana. Kalau tidak, Laras memastikan pria itu akan mendapatkan hadiah manis darinya karena tadi nyosor mulu. Paling tidak sepatu Laras akan terbang indah.


"Jangan cemaskan apapun, percayakan sama papa dan Nabil" Hendra mengusap kepala Laras setelah itu ia menutup pintu mobil, menyuruh sopir untuk membawa Laras secepatnya kerumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2