Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
kehilangan


__ADS_3

Hujan tidak hentinya turun mengguyur bumi, sedari siang matahari ditutupi awan kelabu. Cuaca menambah kesediahan mendalam bagi orang yang baru saja kehilangan.


Nata dimakamkan secara tertutup di belakang rumah keluarganya. Hal itu dilakukan agar kelicikan keluarga itu tidak tercium oleh aparat dan orang banyak.


Setelah pemakaman rahasia itu keluarga Nata kembali dengan rombongan mereka lalu tinggallah Laras, Nabil, Alan dan anak buah yang ditugaskan Nata untuk menjaga Laras.


Laras masih berdiri tanpa suara didepan makam Nata. Walaupun Nata adalah penjahat kelas kakap tapi bagi Laras, Nata adalah pahlawan. Nata pernah berjasa padanya untuk mempertahankan Alan agar tetap ada disaat ia sudah patah.


Nata membuat dirinya percaya diri lagi setelah disakiti Nabil. Nata juga yang membuat dirinya dan Alan kembali merasakan kehangatan. Semua tentang Nata tidak akan bisa ia lupakan dengan mudah.


"Ras, ayo!" ajak Nabil ia mengamit tangan Laras untuk ikut dengannya dan Alan. Laras menolak ia ingin disini menemani Nata mengingat kembali tentang mereka.


"Nanti kamu sakit Ras, pikirkan Alan juga! Alan bisa sakit"


Nabil membujuk Laras agar pergi meninggalkan makam Nata. Padahal didalam hati Nabil tidak kalah remuknya dari apa yang dirasakan Laras karena Laras menangisi kepergian seseorang didepannya.


Laras melihat ke Alan yang sudah basah kuyup. Anaknya berada didalam gendongan Nabil membujuknya untuk pergi. Dengan langkah gontai tanpa tenaga ia mengikuti langkah Nabil kemobilnya. Meninggalkan para anak buah Nata disana.


Laras naik kemobil Nabil dengan tubuh mengigil kedinginan.


"Antar aku pulang kerumah Nata" pinta Laras ke Nabil.


"Orang tua Nata menutup semua tentang Nata, kamu tidak bisa kesana Ras, bisa saja orang tua Nata mengorbankan kamu demi nama baik keluarga mereka, kamu lihatkan? pemakaman Nata saja mereka tutupi sedemikian rapatnya"


"Kalau begitu turunkan kami disini saja" pinta Laras padahal mobil baru jalan.


"Kamu jangan ngelawak deh Ras, kamu akan membawa Alan kemana dalam kondisi cuaca seperti ini?"


"Terserah aku akan membawa anakku kemana" Laras menjawab pelan.

__ADS_1


"Aku peduli pada kamu dan putra kamu Ras, hujan sangat lebat jangan jadikan aku seperti orang yang tidak punya hati"


Laras lelah, kepergian Nata mengguncangnya. Jika saja ia tau kalau Nata akan celaka maka ia pastikan Nata tidak akan pergi malam itu.


Mobil Nabil melaju di jalanan licin. Malam mulai menyapa. Angin menerpa titik hujan. Tempiasannya masuk melalui kaca jendela mobil. Laras berpikir kemana ia akan pergi. Ia gamang ketika tempat bernaungnya tidak ada lagi. Hidupnya kembali ketitik nol.


Mungkin esok ia akan merangkak kembali untuk membenahi kehidupannya yang morat -marit. Malam itu Laras berdiam dirumah Nabil karena pria itu memaksanya. Wajah Vina dan Airin menyambut kedatangan Laras dengan masam apalagi Nabil memprioritaskan Laras dan Alan. Semua keperluan Laras dan Alan dipersiapkan Nabil tanpa campur tangan siapapun.


Nabil menggendong Alan kekamar mandi, memandikan bocah itu dengan air hangat dan memakaikan pakaian yang terbaik. Setelah ia gendong kembali keluar. Vina mencibir tidak terima putranya memanjakan anak Laras dan Nata.


"Alan tidur dimana? dikamar sendiri atau dekat om?" tanya Nabil.


"Itu anak orang kenapa kamu manjain bangat sih? mana di bawa kesini lagi" ujar Vina tidak terima.


"Laras sedang berduka ma, Alan juga baru kehilangan ayahnya, kasihan"


"Anak orang kok dikasihani, kasihan pada mak nya atau anak nya? kayak tidak ada wanita lain saja"


Nabil tidak mengubris ia mengabaikan semua yang ada disana termasuk Kirana. Ia membawa Alan ke kamar Laras.


Nabil terpaku melihat Laras bersandar ke dinding ditempat tidur. Tatapan Laras kosong dengan air mata mengalir dipipinya. Sedalam itukah luka Laras pasca dittinggal Nata?


Nabil sadar, tentu saja. Laras dan Nata mempunyai buah hati yang ada didalam gendongannya sekarang. Itu berarti Laras sangat, sangat mencintai Nata.


Diri Nabil benar-benar sudah jauh ketinggalan. Sesalnya tidak ada arti lagi. Hati Laras sudah banyak persinggahan. Tapi ia berharap ia mendapatkan tempat yang penghabisan.


Ia akan sabar menunggu titik itu. Titik dimana hati laras singgah untuknya. Tidak apa rapuh asal Laras menyisakan sedikit rasa, sedikit saja.


Nabil mengurus Alan dengan baik dan telaten ia mengasih makan setelah itu menidurkan dikamar Laras. Perempuan itu masih duduk ditempatnya tidak beranjak bahkan ketika Nabil menyuruhnya makan Laras pun tidak bergeming.

__ADS_1


Beginilah rasanya ketika melihat seorang perempuan dimasa lalunya sedih karena orang lain. Karma itu ternyata memang ada. Satu persatu berbalik padanya.


"Aku tau Ras bagaimana rasanya kehilangan, kamu boleh sedih tapi ingat Ras, kalau kamu sedih seperti ini putra kamu juga akan ikutan down"


Barulah Laras melirik ke Nabil.Yang pasti bukan karena nasehat sok bijaknya tapi karena Nabil selalu bilang kalau Alan itu adalah putranya seorang diri.


"Jangan repot-repot mengurus anak aku, besok kami juga akan pergi" barulah Laras bersuara.


"Aku tidak repot Ras, aku suka anak kecil apalagi Alan adalah anak yang lucu, dia bisa dekat dengan aku"


Laras ingin balas memaki, anak monyetpun bakal bisa dekat dengan Nabil karena pria itu kan serba lekat. Tapi sekarang mulut Laras hanya terkatup dengan pikiran buntunya.


"Biasanya kamu suka cerewet apa sekarang sudah berubah ya Ras? atau kamu hanya memaki dalam hati, kelihatan tuh matanya kedap-kedip pasti dalam hati sudah kesal bangat"


Pria itu harusnya jadi paranormal saja. Jual obat dilampu merah.


"Kamu kenal Nata dari kapan sih? kok aku gak tau, waktu itu yang dekat dengan kamu kan anak kuliahan itu"


"Tidak semua tentang hidup aku harus kakak tau"


"Nadanya jutek bangat Ras, kan aku cuma nanya...kalau aku sih, ketika kamu pergi aku juga pergi Ras, aku nyari-nyari kamu gak ketemu"


"Ngapain nyari aku, nagih hutang?"


Nabil tersenyum "bukan, aku nyari kamu untuk minta maaf"


"Untuk apa membahas masa lalu? aku sudah memaafkan semua itu, karena kita bersama bukan dari cinta, sudahlah kak!" Laras ingin stop semuanya.


Nabil tidak melanjutkan ucapannya mungkin saja Laras butuh waktu untuk masuk ke cerita masa lalu lagi. Mengurainya agar kusut itu tidak ada lagi.

__ADS_1


Alan sudah tertidur disebelah Laras. Bocah itu mungkin sudah kelelahan habis kehujanan. Laras merebahkan diri dekat Alan dan Nabil terpaksa undur dari sana meskipun ia ingin berlama-lama. Jika ia tetap disana Laras pasti marah padanya dan menganggap dirinya pria yang tidak baik. Walaupun aslinya memang tidak.


Malam itu Nabil gelisah sendiri. Sebantar-sebentar ia melongok kekamar Laras dan Alan. Sebentar-sebentar tersenyum lalu tidur meletakan kepala diatas lipatan tangan. Matanya tidak mau terpejam.


__ADS_2