
Dalam kurun waktu satu jam, dokter pribadi Nata datang dengan hely kesana. Ia memeriksa keadaan Nata yang masih menelungkup ditempat tidur.
"Cepat kau periksa punggung aku Mark"
Ternyata dokter itu bernama Mark, Laras baru tau. Pria berwajah kalem dan berkaca mata itu memeriksa punggung Nata dengan teliti.
"Dia tidak mencelakakan aku kan?'
Dia, maksud Nata adalah Laras. Pria itu curiga Laras menabur bubuk mesiu atau bon cabe diatas lukanya.
"Sangat baik, jahitannya rapi, apa nona seorang dokter?" tanya Mark pada Laras. Laras menggeleng "bukan, aku masih mahasiswa, maaf! seharusnya aku tidak lancang"
"Menyalahkan kode etik tapi ini dalam gawat darurat, untung ada nona, jika tuan dilarikan ke rumah sakit dia bisa kehabisan banyak darah"
Mark memuji Laras yang sudah membantu Nata. Telinga Nata menjadi panas karena mereka bicara ada tawa-tawanya. Tidak tahukah mereka kalau dirinya sedang sakit? mereka benar-benar tidak berkeprihatinan. Tertawa dekat derita orang yang sedang menderita.
"Cepetaaan!!"
Mark dan Laras kaget karena teriakan Nata. Mereka sama-sama memeriksa punggung Nata, masih utuh.
"Tuan kenapa" tanya Mark cemas takut kena omel.
"Harusnya kamu tidak pulang Mark, harusnya kamu tidak punya istri! wanita hanya merepotkan saja!"
Wajah Mark sangat tertekan oleh ucapan Nata. Pria itu kembali memeriksa luka Nata.
"Maklum dok, dia tidak punya pasangan, dia tidak tau bagaimana kehidupan bahagia" cibir Laras. Mark hanya memperlihatkan giginya tanpa suara karena takut dengan Nata.
"Hey kamu perempuan jelek! memangnya kehidupan kamu bahagia? jangan sok!" suara Nata meninggi, dia yang sakit malah marah-marah pada semua orang.
"Bahagia itu sedehana, melihat kamu seperti ini saja aku bahagia!"
"Kau...???"
"Sudah tuan lebih baik sekarang istirahat saja" lerai Mark.
"Bagaimana aku akan istirahat, kau kira aku bisa tidur dengan nyenyak?"
"Bisa, kamu kembali kehutan dan minta beruang lain untuk menghabisi maka kamu akan tidur nyenyak"
Gemeletuk geraham Nata berderak, rasanya ia ingin melemparkan Laras dari jendela agar kupingnya bebas polusi.
Mark melirik Laras, dari semua manusia hanya Laraslah yang berani menjawab ucapan Nata. Dirinya saja yang sudah bertahun kerja dengan Nata tidak pernah bicara banyak apalagi membantah. Ia bisa berakhir tanpa nisan.
__ADS_1
Para anak buah Nata melamun didepan, ada empat ekor kijang tergeletak didepan mereka. Tidak tau hewan itu harus diapain. Rencana mereka untuk pesta gagal karena keadaan Nata.
Laras menyuruh mereka berpesta dengan alasan Nata lah yang menyuruh. Wajah para pria itu jadi senang dan segera membagi tugas.
Suasana malam itu sangat meriah, semuanya berkumpul dihalaman membakar hewan buruan itu dengan bumbu yang disediakan oleh chef.
Nata marah-marah dikamarnya ditemani Mark. Ia bertanya kenapa para anak buahnya itu pesta?
Laras ikut prihatin pada nasib si kurus itu. Ia meminta Mark untuk membantu meletakkan Nata diatas kursi roda. Meskipun ditubuh pria itu di ukir banyak tato tapi kalau sakit bawaannya seperti orang mau mati. Ia mendorong Nata kehalaman dimana para anak buahnya bersuka ria.
"Kamu lihat, melihat mereka senang maka harusnya kamu juga bahagia, akan membawa aura positif untuk kamu agar kamu jangan cepat tua"
"Aku belum tua, mata kamu saja yang bermasaalah"
"Oh belum ya? tapi kenapa sepertinya udah? kamu seperti kakek-kakek bercucu empat" Laras tertawa renyah. Ia duduk dikursi sebelah kursi roda Nata melihat para pria berbadan kekar memanggang daging. Bau daging campur bumbu menusuk hidung.
"Aku jadi ingat teman aku, seorang pria yang hobi memasak, jika dia ada disini pasti akan senang" laras bercerita tentang Benz. Nata melirik ke Laras "tidak tanya" katanya.
"Bisa tidak kamu jangan memotong dulu?"
"Aku ingin kopi, dingin"
Laras melihat para chef sedang membuat kopi di dekat api unggun. Laras minta satu gelas untuk Nata.
"Biar aku saja, tidak apa-apa" Laras membawakan kopi itu untuk Nata. Pria itu tidak mengambil cangkir dari tangan Laras.
"Kamu tidak lihat aku lagi sakit?"
"Yang sakit punggung kamu bukan tangan"
"Sakit digerakkan"
"Aku bukan pelayan kamu"
Kelihatannya tangan sikurus memang sakit, ia hanya diam dan Laras mengalah ia membantu menyendokkan kopi ke mulut nya. Tidak peduli panas atau apa yang penting Nata tidak komplain. Siapa suruh minta tolong padanya. Hatinya sedang tidak ikhlas dan tidak ingin membantu siapa-siapa.
Malam lumayan cerah, bintang bertaburan diatas langit pekat. Suara tawa memenuhi tempat itu. Mark melirik Nata dan Laras. Sang tuan sepertinya menikmati suapan dari Laras.
Daging sudah matang. Pria juru masak mengiris daging dan membagikan untuk Nata. Lagi, pria itu berkata tidak bisa menyuap sendiri.
"Kau menyusahkan saja" Laras mendekatkan suapan daging ke mulut Nata ketika pria itu membuka mulut, Laras memasukan daging itu kemulutnya sendiri.
Wajah Nata sumpek, ingin balas dendam. Laras malah tertawa senang melihatnya.
__ADS_1
"Wajah kamu makin jelek kayak gitu, kayak buntut"
"Memangnya kamu cantik?"
"Cantiklah!"
"Muji diri sendiri"
"Siapa lagi yang diharapkan selain diri sendiri" balas Laras ia menyuapi daging kemulut Nata. Begitu sendok didekatkan kemulutnya kembali Nata meraih tangan Laras dengan tawa kemenangan. Tapi kemudian ia sadar, ia telah memegang tangan seseorang. Perlahan tawanya memudar dan melepaskan tangan Laras pelan. Wajah Laras juga terlihat memerah tapi bukan salting melainkan marah. Nata mengerjainya dengan alasan tangannya sakit digerakkan. Dari tadi ia sudah jadi babu untuk menyuapi pria itu.
"Ini suap sendiri" Laras mendorong piring kepangkuan Nata dan pergi masuk kedalam rumah.
"Dia kenapa? aku di nyinyirin gak marah giliran dia langsung ngambek...hey perempuan jelek!! tunggu!"
Nata memanggil Laras tapi sepertinya Laras tidak mengindahkan. Mark bergegas membantu Nata, takutnya sang tuan terjatuh.
"Dia perempuan aneh, masa dia marah sama aku? memangnya aku siapa dia? beraninya marah-marah, ..awh!!" Nata meringis karena gerakan tubuhnya menyebabkan urat punggungnya aktif.
"Tuan mau ketempat nona Laras?"
"Bukan! ngapain aku ketempat dia?"
"Kenapa tuan mengarah kesana?"
"Berisik! terserah aku!!"
Sang tuan selalu maha benar, apapun yang ia bilang tidak salah meskipun kursi rodanya menuju ke dalam rumah menyusul Laras ia tidak ingin dikatakan menyusul. Ia hanya masuk rumah setelah Laras dan marah- marah didepan pintu kamar Laras seolah dirinya tersakiti.
"Aku tidak bermaksud mengerjai kamu!" teriak Nata didepan pintu kamar Laras yang tertutup.
Tidak ada sahutan dari dalam. Nata kembali teriak,
"Hey! buka !! atau pintunya aku copot!!"
"Mungkin nona sedang istirahat tuan" ujar Mark.
"Diam!!"
Disuruh diam, Mark menutup mulutnya rapat dan membiarkan Nata teriak dan bicara.
"Apaan sih berisik"
Laras muncul dari arah dapur mengunyah sesuatu dan membawa anggur ditangannya. Nata melongo, ia kira Laras didalam. Dia sudah capek teriak dari tadi.
__ADS_1
"Telinga aku kena polusi udara, dari tadi berisik mulu" Laras menyumpalkan sebuah anggur kedalam mulut Nata yang masih menganga.