
Nafas Laras terengah-engah seperti orang dikejar setan. Untungnya ada angkutan yang lewat dan berhenti disetop. Ia masih belum lega dan terus melihat kebelakang kalau-kalau Nata mengejarnya.
Tidak jauh didepannya ada persimpangan rumah Nabil. Laras minta berhenti disana. Setelah bus itu berhenti ia bergegas masuk kedalam area rumah itu sambil mengurut dada, Aman.
Mungkin saja ia bisa untuk sementara bersembunyi dirumah itu karena rumah Nabil terdapat banyak penjaga juga.
Ia melewati para penjaga itu tanpa hambatan. Mungkin mereka ingat kalau Laras pernah jadi nyonya disana.
"Mama Vina ada didalam kan?" tanya nya pada penjaga itu.
"Ada, nona silahkan saja kedalam"
Laras melangkahkan kaki penuh harapan.
kemudian harapannya buyar ketika ia disambut oleh Vina dipintu dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Mama!" sapa Laras dengan penuh haru. Mungkin ia akan bercerita panjang pada Vina tentang dirinya dan tentang kandungannya. Ia melebarkan tangan hendak memeluk Vina. Mama Nabil itu memundurkan langkah dan mengangkat tangan agar Laras tidak mendekat. Perempuan cantik itu seperti punya alergi pada Laras.
"Untuk apa kamu kesini?"
"Aku,..." Laras akan buka suara bercerita pada Vina kalau dirinya tidak sengaja turun dari mobil dan singgah disana. Tapi Vina memotong ucapannya dengan berang.
"Untuk mentertawakan kami semua? betapa kalian telah berhasil menghancurkan putra aku? kau,..kau wanita yang tidak bisa diandalkan, kau menghancurkan putra kami!"
Laras tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Vina. Rasanya ia tidak berbuat salah . Sebelum ia diculik, Nabil dan dirinya masih baik-baik saja. Bahkan malam itu ia dan Nabil menginap dihotel yang sama. Hanya saja sebelum pergi Nabil mengasih dirinya kejutan yang tidak terduga demi untuk kembali pada kakaknya tercinta. Tapi kenapa ia yang disalahkan? apa dirinya ditakdirkan untuk selalu salah.
"Aku tidak mengerti ma, apa yang mama bilang" Laras berkata takut-takut. Walaupun Vina cantik tapi kalau marah sangat menakutkan. Kalau bukan karena takut sama Vina maka Laras dan Nabil tidak akan menikah dan bersama.
"Tidak mengerti? waaww! drama sekali perempuan ini! dia menghancurkan hidup kami! lalu datang tanpa dosa, harusnya kamu tidak ada lagi dibumi ini!" suara Vina melengking hebat sambil menunjuk- nunjuk wajah Laras.
Laras terhenyak, mertuanya menghendaki ia mati? tega sekali.
"Lalu kak Nabil mana ma?"
Laras masih nyegel bertanya dimana Nabil. Pria itu harus tau kalau dirinya hamil dan anaknya harus dapat pengakuan dari ayah kandungnya.
"Kau masih punya muka untuk menanyakan dimana putraku? tidak tau malu!! .....pergi kamu dari sini!!!" Vina menunjuk gerbang agar Laras segera angkat kaki dari hadapannya.
"Izinkan aku bertemu kak Nabil kali ini saja ma, sekali saja...." Laras memelas penuh permohonan.
__ADS_1
"Perempuan tak tau diri!!! pergi!!!" Vina malah makin histeris sambil meronta. Penghuni rumah berhamburan kedepan ketempat mereka untuk melihat ada apa.
"Perempuan bajingan! pergi kau!!!"
Laras akhirnya mundur semua orang melihatnya curiga seperti seorang tersangka. Vina juga tidak bisa diajak bicara.
Vina sudah seperti orang yang dijahati dengan amat sangat. Semua orang prihatin dengan Vina. Ia dikelilingi oleh pra pekerja dirumahnya dan oleh suaminya, Hendra. Pria itu melihat Laras hanya sekilas karena ia terlalu sibuk mengurus istrinya yang sudah kejang dihalaman. Marah-marah pada Laras.
"Jangan pernah kau menginjak kan kaki kamu disini lagi!!! pergi kamu, pergi!!! kau menghancurkan hidup kami!!"
"Iya ma, Laras pergi tapi mama jangan seperti itu, mama kedalam gih istirahat! nanti darah tinggi mama kumat dan mama stoke"
"Kamu nyumpahin aku?!!"
Lha siapa yang nyumpahin, Laras cuma mengingatkan. Dari pada kejadian ntar papa mertuanya cari istri lagi lalu hidupnya penuh drama. Percayalah hidup penuh drama itu tidak enak. Sekarang saja air mata Laras sudah tertahan ingin tumpah.
Sekali lagi Laras permisi padahal sejak tadi ia sudah kena usir. Vina dibawa Hendra kedalam dan Laras menumpang istirahat di pos depan rumah itu. Ternyata capek juga menghadapi realita yang sudah diduga ini. Ia masih lemah dalam segala hal walaupun ia telah menguatkan diri dari jauh-jauh hari.
Laras bersembunyi di balik tembok. Berbicara pada penjaga rumah itu. Bertanya dimana Nabil. Katanya, Nabil sudah tidak terlihat sejak beberapa bulan lalu.
Hal itu menjadi pertanyaan untuk Laras diperjalanan ketika ia diantar mantan sopirnya dulu untuk pulang. Mantan sopirnya itu juga tidak tau kemana Nabil dan jawabannya sama seperti penjaga rumah kalau Nabil sudah lama tidak terlihat. Pria itu seperti ditelan bumi.
Laras tidak bertanya lagi air matanya sudah berlinang dan satu persatu berjatuhan dipipinya hingga akhirnya menganak sungai. Nabil benar-benar tega padanya. Ia tidak berharap Nabil ada untuknya tapi setidaknya Nabil tidak begini. Pergi begitu saja sebelum masalah mereka selesai.
"Ma!!!" Laras memanggil mamanya dipintu ia ingin memeluk mamanya saat itu juga untuk mengurangi kesedihan.
Tidak ada sahutan dari dalam. Laras mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci.
"Mama!! papa!!"
Masih tidak ada jawaban. Laras memeriksa semua ruangan mencari penghuni rumah. Tidak ada ditemukan seorangpun baik orang tuanya maupun kakaknya Airin. Rumah dalam kondisi berantakan dan berdebu. Biasanya sang mama tidak pernah membiarkan rumah dalam keadaan seperti itu.
Kemana mereka?
Ia pergi kedapur, tidak ada tanda-tanda ada makanan maupun bekas ada masakan. Kemana semua penghuni rumah? Laras menghenyakkan diri di sofa yang sudah mulai kotor sambil berpikir kemana keluarganya. Apa mama dan papanya pindah dan Airin pergi bersama,...Pikiran Laras kembali kusut. Mereka berdua bahagia diatas penderitaannya.
Tidak lama kemudian terdengar suara motor didepan. Laras bergegas untuk melihat. Ada papanya yang pulang dengan wajah lesu.
Riyanto tersenyum hambar pada putrinya.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang?"
"Iya pa, Laras akhirnya berhasil kabur" Laras ingin cerita tentang dirinya yang diculik oleh seorang pria. Tapi papanya tidak tertarik selain itu wajah sang papa sepertinya jauh menanggung beban berat.
"Mama dan kak Airin mana pa?"
Dan lagi, wajah papanya seperti tertekan hebat. Lama baru dijawab oleh Riyanto.
"Airin, dia pergi"
"Pergi kemana?'
"Papa tidak tau"
Laras sudah menebak dan ia tau jawabannya.
"Dan mama?"
"Papa juga tidak tau dimana mama kamu"
"Masa papa tidak tau dimana mama?"
Riyanto kembali terdiam lalu berkata lamat "papa dan mama sudah pisah"
Laras terlonjak dari duduknya, ucapan papanya bagai petir disiang bolong.
"Apa papa dan mama berpisah karena Laras?" air mata Laras luruh kepipinya. Sebelumnya kedua orang tuanya sering bertengkar karena dirinya dan Airin.
"Bukan" jawab Riyanto pelan.
"Lalu karena apa? jangan bilang karena tidak cinta lagi pa, itu tidak lucu! mama dan papa bersama sudah puluhan tahun!"
Riyanto diam sejenak lalu menceritakan kisah seorang pria sudah lama menyimpan rahasia dalam rumah tangganya. Pria pernah bermain api dengan seorang wanita sebelum mereka dikaruniai anak dan ia menghasilkan seorang anak dari selingkuhannya.
Anak itu dititipkan kepanti asuhan karena ibunya anak itu tidak mau mengasuhnya. Dan setelah itu perempuan itu bunuh diri karena pria tidak mau tanggung jawab dan memilih keluarga utuhnya.
Anak itu akhirnya ia ambil dari sana dengan alasan adopsi. Ia menyayangi anak itu melebihi apapun karena rasa bersalah yang teramat sangat. Belakangan istrinya tau asal-usul anak itu dan selalu menimbulkan percek cokan.
Sebelum Riyanto menyelesaikan ceritanya Laras sudah tegang duluan. Sekarang ia tau penyebab kedua orang tuanya berpisah dan penyebab papanya memanjakan Airin dengan teramat sangat.
__ADS_1
Dan mamanya pasti sangat terluka karena perselingkuhan itu padahal mamanya sangat menyayangi Airin sama seperti anak kandung. Tidak disangka anak itu adalah anak hasil dari perselingkuhan suaminya sendiri.
Wajah papanya sangat menyesal tapi tidak tidak akan ada seorangpun yang bisa merubah itu semua. Laras sendiri yang baru mengetahui hal itu juga terpukul hebat. Papanya yang ia banggakan dan kakaknya yang ia sayangi ternyata mereka sama- sama melukai.