Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
jalan pulang


__ADS_3

Rintik gerimis tidak henti sejak sore. Udara juga sangat dingin membuat orang-orang malas untuk keluar rumah begitu juga dengan penghuni villa dipinggir sungai itu. Biasanya Airin ditinggal disana dengan pengawasan ketat Arga. Jika ia pergi maka pintu dikunci. Meskipun Airin bilang kalau dirinya tidak akan ditinggalkan tapi ia tetap was-was jika Airin pergi dari sana dan kembali ke Nabil.


Pria itu tidak akan pernah siap ditinggakkan Airin.


Sejak sore mereka tidak lagi keluar dari kamar. Mereka menghabiskan waktu bersama. Arga menawarkan kembali pernikahan pada Airin dan gadis itu mau tapi palsu. Sesungguhnya Airin hanya ingin membuat Arga percaya saja bahwa dia kelihatan setia pada satu hati.


Ia tidak ingin disana lagi, dengan Arga kehidupannya tidak menjajikan. Pria ini juga tidak ganteng amat dan juga tidak kaya yang ia andalkan hanya ahli dalam bercinta. Mungkin saja Nabil juga lebih ahli. Selama ini Nabil selalu menjaga diri agar tidak kebablasan tapi sisetan Arga lah yang mendahuluinya.


"Beneran, kita menikah? aku akan bilang pada orang tuaku untuk datang melamar kamu"


"Iya"


"Makasih,..makin cinta deh" bisik Arga.


"Aku juga,..tapi bagaimana dengan Nabil?


"Jika kita saling cinta aku rasa dia bisa mengerti apalagi dia telah menikah dengan adik kamu"


Airin mengangguk, dalam hati ia benar-benar kesal dengan semua ini. Ia bertekad akan mengembalikan semuanya ke awal. Ia harus kembali bersama Nabil karena sekarang ia sadar telah membuang permata demi sebutir pasir. Permatanya pasti masih menunggu. Ia tau dengan sifat pria kalau sudah cinta tidak akan pernah berpaling lagi. Hati Nabil berada digenggamannya dan tidak mungkin lepas begitu saja


"Kamu yakin kan?" tanya Arga minta penegasan.


"Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku bersama kamu? aku mencintai kamu"


Arga sangat bahagia mendengar hal itu dan dia berjanji akan minta maaf pada Nabil dan bertekad akan membahagiakan Airin apapun caranya. Sebagai pria yang mencintai seorang wanita ia tidak ingin wanita yang dicintainya sengasara. Kapan perlu ia akan meninggalkan semua keinginan dan mimpinya lalu mengambil jalan berbeda agar ia layak menjadi suami.


"Tetaplah disisiku apapun yang terjadi, berjanjilah padaku" pinta Arga dengan sangat.


"Kita berjalan sudah cukup jauh, masihkah kamu meragukan aku?"


Arga menggeleng "tidak"


"Makanya jangan ragu" ujar Airin setengah merayu. Dan Arga menjadi luluh, lumer. Pria yang sangat lihai itu dalam hal percintaan kembali beraksi. Mata mereka kembali bertemu.


Mereka benar-benar melukis malam itu dengan penuh kelembutan. Arga karena cinta sedangkan Airin karena ingin pergi.


***

__ADS_1


Rumah dalam keadaan adem. Nabil bersiap dilantai atas dan Laras siap-siap dilantai bawah dan setelah semuanya selesai mereka sama-sama bertemu dimeja makan. Nabil sudah rapi dengan stelan jas warna hitamnya dan Laras sudah selesai dengan dandanannya yang sangat menor.


Laras menyiapkan sarapan dan Nabil memakan dengan banyak komentar.


"Kopinya pait kurang gula, rotinya juga keras"


Perasaan Laras semuanya takarannya pas tapi kenapa sekarang berubah.


"Mulai besok kita bikin sarapan sendiri-sendiri" ujar Laras.


"Mana bisa begitu, kan kamu yang keberatan ada pembantu dirumah ini ya kamu dong yang harus mengerjakan semuanya"


"Memangnya aku digaji? rugi dong akunya!"


Nabil mengeluarkan uang didompetnya dan menyodorkan pada Laras "itu gaji kamu"


"Cuma segini? dikit amat! lebih baik aku minta sama pacar aku pasti dikasih lebih padahal modal senyuman doang apalagi yang lainnya"


"Kamu nguras aku ya?"


"Ya terserah! aku cuma mengajukan penawaran, kalau gak mau ya sudah, kakak kerjain saja semuanya sendiri"


Dengan tidak tau dirinya Laras mengambil kartu itu dengan cepat dengan senyuman lebarnya "makasih! kakak baik deh! aku bisa happy bersama pacar aku"


Wuih, Nabil makin malas untuk lama-lama disana dan kopi buatan Laras makin seret dikerongkongan. Gadis ini benar-benar matre, seperti air tenang menghanyutkan. Tampang polos kelakuan kayak syetan penggoda. Ia benci orang munafik, kalau kurang ajar, kurang ajar saja tidak usah bersembunyi dari balik wajah lugu seperti ini.


Dengan senyuman lebar Laras mengemaskan meja makan dan setelah itu ia mengambil buku-bukunya dikamar.


"Makasih ya kartunya! semoga kakak tidak menyesal bangkrut karena saya"


"Kamu tau bukan itu yang aku sesalkan"


"Menikah denganku?"


"Itu kamu tau jawabannya, mungkin keluarga aku menduga bakal tumbuh cinta dalam waktu sesingkat itu, padahal mereka tau aku tidak suka barang sisa"


Barang sisa maksud Nabil adalah Laras yang banyak pacar dan baru saja mengggugurkan kandungan. Gadis itu makin hari makin menor seperti perempuan yang suka mangkal. Jangan-jangan jadi mahasiswa hanya kedok semata dan mangsanya adalah anak-anak kampus.

__ADS_1


"cinta itu berasal dari hati kak, aku banyak pacar juga mencari mana yang pas dihati aku, dan kakak juga kan? meskipun bidadari suci yang disodorkan pada kakak ya kalau tidak cinta ya mau bagaimana"


"Aku benci dengan perempuan yang jual diri"


"Biasa saja kak, lagian aku tidak jual diri! kita melakukannya dengan suka sama suka, buat senang-senang saja"


"Kamu perempuan memualkan"


"Itu kan bagi kakak, bagi mereka aku menyenangkan"


Nabil bergidik membayangkan yang aneh-aneh tentang gadis itu. Banyak pria? iih...


"Kenapa? kakak pasti belum pernah ya? padahal kakak cukup tampan dan pasti banyak cewek yang suka" Laras melap tangannya yang basah dengan tisu dimeja. Nabil memperhatikan gadis itu. Lipstik yang dipakainya sekarang berwarna gelap dengan alis seperti sabit.


"Ayo ngaku" Laras mencolek dagu Nabil dan pria itu menghapus jejak tangan Laras dengan bergidik seolah itu adalah bekas kotoran najis.


"Jangan pernah sentuh aku, aku tidak suka" Nabil menegaskan.


"Kakak malu-malu,...padahal yang nyuci kain dalaman kakak aku lho, aku tau.....ukurannya"


Wajah Nabil bersemu merah seperti kepiting rebus "mulai sekarang! kamu jangan sentuh apapun milik aku" ujar Nabil marah sambil menggebrak meja.


"Ya mau gimana lagi? memangnya kakak bisa nyuci sendiri? tidak kan?"


"Aku bisa! pokoknya kamu jangan sentuh lagi pakaian aku" dengan hentakan yang kuat Nabil mengambil ponselnya dimeja lalu pergi ngoloyor pergi.


"Aku tidak bercanda lho kak, kalau kakak butuh aku! aku siap kok! kakak minta saja!!" mata Laras berkedip manja


"Tidak bakalan!" balas Nabil jijik . Pria itu berlalu, lebih baik ia pergi kekantornya.


Tidak lama kemudian terdengar suara deru mobil.


Laras berjingkrak-jingkrak sambil mengepalkan tangan keudara.


Ia berhasil membuat pria itu menjauh darinya dan yang paling penting lagi pekerjaannya berkurang, mencuci pakaian Nabil.


"Yes! yes!!!"

__ADS_1


GUBRAK!!


Laras tersandung kaki kursi dan terjatuh. Gadis itu melenguh tempurung lututnya serasa mau pecah.


__ADS_2