
Laras duduk di pinggir atap tempat landasan hely Nata berwarna biru dan ditengahnya ada huruf H. Lapangan itu lumayan luas, seluas rumah.
Ia menjuntaikan kaki melihat kesekitar. Ia bagai berada ditengah hamparan permadani hujau bercorak kuning keemasan karena matahari sore memandikan pucuk dedaunan dan dirinya berada diketinggian sama tingginya dengan pepohonan yang mungkin saja sudah berumur puluhan atau bahkan ratusan tahun. Suara jangkrik dan suara binatang hutan sahut-sahutan disekitarnya menjadi musik yang membuat kelopak mata menjadi berat apalagi didukung oleh angin sepoi-sepoi.
Pikirannya jauh melayang akhir-akhir ini. Mungkin karena sunyi tidak ada teman untuk bergai cerita dan keluh kesah. Yang ia lakukan hanya berdiam dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melamun di sana dengan pikiran kosong tidak menentu.
Apa yang dialaminya bagai dialam mimpi dan dia nyaman disana hingga enggan untuk bangun dan menghadapi kehidupan sebelumnya.
Laras mengusap perutnya, tiba-tiba saja bocil didalam sana bergerak untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kalinya pula Laras histeris sendirian karena gembira. Tapi tidak tau harus berbagi pada siapa.
Sekarang Laras punya tujuan hidup. Menatap masa depan kembali. Ia akan melahirkan anak ini dengan sehat, setelah itu bekerja sambil melanjutkan pendidikannya kembali agar anaknya punya masa depan dan kehidupan yang layak.
Dia sudah punya kekuatan kembali, alasan untuk bertahan. Laras yang ingin mati sudah dua kali hidup dengan semangat berlipat ganda. Ingin sekali ia punya kekuatan super agar waktu cepat berputar dan mereka berada dimasa depan terbaik. Dimana mereka, ia dan buah hatinya hidup bahagia.
Matahari sudah tenggelam dan mulai membayang gelap. Laras turun dari sana melewai tangga menuju kehalaman depan setelah itu barulah masuk kedalam rumah.
Ia melihat pelayan membawa ponsel ditangannya. Ia ingat dengan keluarganya dan temannya juga pria yang telah menciptakan luka padanya. Ia ingin berbagi kabar bahagia. Mulut Laras sudah terbuka ingin meminjam ponsel pria itu tapi diurungkannya. Rasa rendah diri menghampirinya tiba-tiba. Ia berpikir, mereka belum tau mencari atau mengingat dirinya. Semua orang bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing. Mereka tidak membutuhkan dirinya. Hal itu sebenarnya ditujukan pada Nabil.
Berada di rumah dalam hutan itu dunia Laras terasa datar dan pendek dan mononton yang membedakan hanyalah siang dan malam. Tidak capek, tidak ada tantangan dan semua yang ia butuhkan tersedia.
Sudah sepuluh hari Nata pergi tanpa disadari. Malamnya hely mendarat diatap rumah dan derap langkah kembali riuh.
Laras ogah keluar dari kamarnya. Lagipula tidak ada perlunya yang pulang itu bukan siapa-siapanya. Ia duduk bersandar kepinggiran tempat tidur malas untuk bergerak.
Pintu kamar yang ditepati Laras diketuk dari luar. Perempuan itu masih malas untuk beranjak.
"Buka saja gak dikunci"
Daun pintu di dorong dari luar. Nata muncul dengan wajah lesu.
"Kamu sudah datang?" tanya Laras basa-basi. Nata tidak menjawab melainkan duduk di pinggiran tempat tidur Laras.
"Kamu tidak dengar aku pulang? kamu masih berdiam disini"
"Aku tau kamu pulang terus aku harus apa?"
__ADS_1
"Aku langsung kesini tidak pulang dulu kerumah aku, kamu tanya untuk apa? aku sudah bawa pesanan kamu dan anak,..."
Laras membelalakkan mata kalau tidak Nata pasti bilang anak kita.
"Bagimana keadaannya?"
"Keadaan apa?"
"Little baby kita"
Roma Laras merinding, Nata suka ngaku-ngaku.
"Menikah sana, kamu sudah halusinasi tingkat tinggi"
"Kamu ngasih kode?"
"Jangan ngaco" Laras mendelik.
"Aku kesini untuk membawa kamu kerumah sakit, kata Mark harus diperiksa"
"Kamu tau betapa paniknya aku setelah aku tau kalau perempuan hamil itu harus rajin minum obat dan cek kandungan, ini salahnya Mark dia bilang belakangan, misi aku hampir gagal karena ocehan anak itu, ingin rasanya aku menjadikan Mark umpan hiu saat itu juga"
"Jangan suka ngegombel"
"Udah, udah kayak gembel, belum sempat istirahat kepikiran kamu terus" Nata mengusap wajahnya lalu menoleh ke Laras.
"Kita pergi malam ini juga, besok pagi sekali aku akan mengantar kamu periksa kedokter"
"Lain kali saja"
"Sekarang" Nata tidak mau kalah dan menyuruh Laras untuk bangkit dari duduknya untuk segera pergi. Laras menolak, Nata tetap memaksanya.
"Ayolah! hely sudah siap menunggu di atas"
"Lain kali saja"
__ADS_1
"Kau keras kepala, jika terjadi sesuatu pada anak itu apa kamu tidak akan menyesalinya?"
"Aku tau dia baik-baik saja"
Nata tidak terima penolakan, jika anak buahnya yang membantah maka akan dipastikan orang itu tidak akan selamat saat itu juga. Sekarang mereka adu kekeraskepalaan, mana yang lebih kuat diantara mereka.
Laras masih enak duduk sambil selonjoran dan Nata nyinyir untuk terus membawa perempuan itu kerumah sakit. Akhirnya Nata malas untuk bicara dan mengahampiri perempuan itu dan mengangkatnya.
"Kamu mau apa? lepaskan!" Laras memukul dada Nata minta untuk diturunkan "aku bisa sendiri, kamu lepaskan aku!!"
Nata tidak menghiraukan teriakan dan pukulan Laras. Ia berjalan santai menggendong Laras melewati anak buahnya yang sedang sibuk memasukkan kulkas ke dalam kamar Laras bersama dengan buah-buahan serta cemilan.
"Nata!!!!"
Pria itu memasuki lift tanpa menurunkan Laras. Pada akhirnya tangan Laraslah yang sakit karena memukul dan tenggorokannya juga kering. Orang yang dipukul tubuhnya tulang semua. Ia memperhatikan wajah Nata, dari dekat dia tidak jelek. dagunya kebiruan habis cukuran dan kulit wajahnya juga bersih dan kuning langsat.
"Ngapa liat aku seperti itu? jangan bilang kamu pengen selingkuh dengan aku"
"Enak saja, turunkan aku"
"Ternyata kamu tidak berat, tapi mengapa kamu mengejek aku dengan sebutan sikurus?"
"Emang kurus"
"Berat tubuh aku ideal, jangan-jangan selera kamu pria bertubuh tambun berperut buncit"
Laras mengangkat bahu, tidak ada dalam pikirannya seperti itu. Ia memikirkan kenapa Nata berubah makin hangat. Padahal ia tidak memperlakukan dengan istimewa apalagi pakai pelet umpan ikan.
Mereka keluar dari lift dan disambut hely dilandasan. Angin dari baling-baling meniup rambut mereka.
"Pakai ini dan pasang sabuk pengamannya" Nata mendudukkan Laras di kursi co. pilot dan mengasihkan jas hitam pada Laras. Laras memakainya dan barulah menyadari kalau dirinya hanya mengenakkan daster kembang-kembang.
Nata menyuruh pilot didepan untuk pindah kebelakang.
"Kau sudah siap?" Nata duduk di belakang kokpit dan mulai mengoperasikan tombol-tombol yang ada didepannya. Tidak lama kemudian hely itu naik dan berputar. Laras melihat kebawah semuanya pekat. Setelah beberapa menit kemudian barulah ia melihat lampu-lampu dari kejauan seperti titik-titik api kecil. Makin lama makin jelas. Perasaan Laras tidak menentu. Sudah berbulan ia tidak melihat keramaian sekarang ia akan berada di hiruk pikuk itu lagi.
__ADS_1