Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
belenggu


__ADS_3

Bangun tidur Nabil melihat barang-barang Laras tidak ada ditempatnya. Ia mengira gadis itu sudah pulang atau kemanalah yang penting tempat itu sudah kosong dan dia juga bisa pergi dengan dalih, Laras sudah minggat!


Tapi ternyata kebahagiaannya sementara. Setelah mandi dan rapi ia pergi ke lantai bawah. Disana ada Laras sedang sarapan pagi dengan roti dan segelas susu. Dandanan gadis itu sangat parah karena hanya pakai kaos ketat dan celana jeans serta bibirnya dipoles lipstrik merah.


"Kamu kuliah atau pergi jual diri sih?" tanya Nabil.


"Dua-duanya" jawab Laras acuh.


Nabil menyentak tangan gadis itu dengan kasar dan memutar tubuhnya hingga mata mereka bertemu.


Jantung Laras mendadak berdetak kencang dan wajahnya bersemu merah. Aliran darahnya menjadi sangat panas. Nabil juga merasakan betapa gugupnya gadis itu.


"Aku benci melihat wanita murahan, kau adalah takdir terburuk aku!" mata Nabil seperti laser dengan geraman yang juga mengandung kebencian.


"Kakak tidak tau saja, wanita murahan ini penyelamat wajah kakak" Laras mencubit dagu Nabil otomatis pria itu melepaskan Laras dan gadis itu terjungkal kelantai.


Gadis genit itu bangkit dan tersenyum, aslinya dia gemetaran sekali dan jantungnya pengen copot.


Pria itu meraih kopinya dimeja dan meminumnya. Sial, kopi itu sangat panas dilidah. Diminum salah, dimuntahkan juga kelihatan bangat gugupnya karena ulah gadis itu barusan. Bagaimana pun juga ia laki- laki normal, meskipun ia tidak suka Laras tapi naluri tidak bisa dipungkiri apalagi hanya mereka berdua yang ada disana.


Dan ia memakan roti panggang didepannya, rasanya juga beda, dua-duanya pas dilidah.


"Mana mbak Yul?"


"Pulang kampung, ada keluarganya yang sakit" jawab Laras dengan suara yang direndahkan, asli roma Nabil, makin merinding


Jadi ini roti dan susunya buatan gadis itu, batin Nabil. Ia yang tadi terlanjur memuji dalam hati sekarang jadi biasa saja tidak ada yang istimewa.


"Kok aku tidak tau?"


"Gimana kakak tau, tidurnya kayak kebo"

__ADS_1


Laras mencibir saat Nabil melototkan mata padanya padahal didalam hati ia udah ketar-ketir. Bagaimanapun juga ia adalah gadis yang lemah dalam segala hal dan untuk melindungi dirinya ia mencoba membangun benteng yang kokoh meskipun aslinya didalam lumer bangat kayak es krim coklat.


"Aku akan cari ART sementara" Nabil mengangkat ponselnya bermaksud untuk meminta mamanya mencarikan pengganti mbak Yul. Tapi gadis didepannya menarik ponselnya "tidak usah, dia tidur dimana? kamar mbak Yul aku yang isi, takutnya kalau sama kakak,..ya itu deh"


"Terserah kamu tidur dimana yang penting ada yang mengurusi rumah"


"Sementara doang, lagian udah gede juga masa mengurus diri sendiri gak bisa"


Nabil yang aslinya manja dari kecil memang tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Ia pecicilan dan butuh bantuan orang lain bahkan mungkin tiap detik dihidupnya. Tapi karena gengsi dihadapan Laras makanya dia sok an bisa mandiri.


Laras membersihkan meja makan dan membawa gelas dan piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Nabil melihat dengan sudut matanya. Sekilas gadis itu tidak ada yang berubah dari Laras dihari pertama ia kenal. Tapi kenapa mendadak gadis itu jadi genit?


Setelah itu Nabil terpaksa mengambil semua perlengkapannya sendiri dan berulang kali ia naik turun tangga. Setelah semuanya siap ia keluar hampir barengan dengan Laras yang juga baru dari kamar mbak Yul dibawah tangga. Mereka saling diam dan mengurus diri mereka masing-masing. Laras berusaha sekali agar jangan terlalu dekat dengan Nabil. Dari kejuahan saja jantungnya sudah jungkir balik apalagi bau parfumnya tercium sampai kehidungnya. Laras berpikir hal ini karena ia tidak terbiasa terlalu dekat dengan pria manapun makanya rada gugup dan deg- degan.


Ia bergegas kemobilnya yang disopiri pak Andi.


Setalah mobil berjalan Laras mengeluarkan tisu dari tasnya dan melap lipstik di bibirnya dan memakai kemeja untuk menutupi bahunya. Pak Andi melihat sikap sang nona di kaca pengintai. Sang nona akhir-akhir ini memang suka berdandan berlebihan. Sang sopir menduga kalau nonanya berdandan untuk mengambil perhatian sang tuan. Pak Andi tidak tau kalau tuannya benci dengan dandanan berlebihan.


Benz berdiri dekat gerbang dengan pandangan yang tidak sabar melihat kearah darimana datangnya Laras. Beberapa hari ini ia menghindari Laras karena merasa dibohongi gadis itu. Ia sudah melawan orang tuanya mati-matian demi untuk bersama Laras tapi ternyata gadis itu sudah menikah. Bagaimana tidak akan patah hati tingkat dewa. Pantas saja Laras tiba-tiba berubah dari biasanya. Yang biasa kekampus dengan motor matic sekarang dengan mobil diantar sopir. Ternyata suami Laras lumayan kaya.


Setelah Siti mengasih taunya bagaimana pernikahan laras sesungguhnya maka semangat untuk mendekati gadis itu kembali menggebu.


Begitu Laras datang diantar sopirnya maka Benz menghampiri gadis itu.


"hay" sapa Laras dengan wajah ceria seperti biasanya "kenapa?" tanya gadis itu heran karena beberapa hari ini Benz menjauh darinya.


"Tidak apa-apa, memangnya tidak boleh aku menjadi ajudan kamu? aku sudah menyambut kedatangan kamu lho makanya angkat aku jadi ajudan setia kamu"


"Bayar pake daun mau?"


"Bayar pake setia juga boleh"

__ADS_1


Biasanya wajah Laras bakal bersemu merah jika digombalin Benz tapi sekarang kok biasa-biasa saja tidak ada gregetnya malah ia ingat bahwa ia telah menikah. Apa ia terperangkap sendiri didalam pernikahan semunya. Ia menepis hal itu, mungkin ini hanya terbawa ke prinsip saja bahwa perempuan yang sudah menikah tidak boleh ganjen ke pria lain.


Benz juga tidak mengungkit bahwa Laras sudah menikah ia memperlakukan Laras sama seperti hari-hari sebelumnya. Mereka tertawa dan bercanda seperti biasa, jalan bareng menuju fakultas mereka.


"Kamu dan Prita gimana?" tanya Laras karena sejak beberapa hari lalu Laras tidak pernah lagi melihat Prita.


"Ya gitu, sejak malam itu aku memutuskan untuk tidak dan dia pindah kuliah ke Australia"


"Dia cinta bangat sama kamu sampai segitunya"


" Aku tidak mencintainya, takutnya malah nanti dia terluka karena perlakuan orang cinta dan tidak cinta itu beda walaupun berusaha untuk mengerti tapi segala sesuatunya berasal dari hati" Benz mendekap dadanya sebelah kiri.


"Dia berhak dicintai, suatu hari nanti akan ada yang mencintainya dengan tulus"


Ucapan Benz ada benarnya juga. Laras teringat akan Nabil yang mencintai Airin dan dirinya yang membangun benteng agar tidak terjebak kedalam kehidupan semu. Sekarang rasanya rantai tidak kasat mata membayangi langkahnya.


"Kamu pernah pacaran?" tanya Laras.


"Pernah sekali, cinta monyet, dekat karena di cie-cie in dan putus karena cemburu gak jelas" Benz menjelaskan dengan tertawa dan Laras yang mendengarkan juga ikut tertawa karena penjelasan Benz itu lucu.


Benz berpikir, apa harus ia ngegas mengejar Laras atau slow saja karena takutnya Laras malah menjauh dipepet terus. Pagi ini Benz merasakan matahari bersinar cerah kembali dan mungkin saja ada garis smile dan matanya yang mengerjap seperti gambar anak kecil.


"Yang cemburu kamu atau dia" tanya Laras. Hanya sekedar bertanya biasa bukan maksud untuk ingin lebih tau tentang Benz.


"Dia lah, aku waktu itu suka bermain ditanah lapang panas-panasan tidak ada sedikitpun terbesit diotakku selain main bersama teman-teman"


"Trus cemburunya sama siapa?"


"Sama teman-teman akulah, karena aku tidak ada waktu untuknya malah lupa kalau aku dan dia pacaran" Benz kembali tertawa renyah menceritakan masa-masa lucunya waktu jadi remaja tanggung.


"Kita ketemuan cuma sebentar dan itupun hanya diam dan senyum-senyum gak jelas, gak pernah berani jalan berdua dan kalau ketemu bareng teman suka malu-malu,....berbeda kalau jatuh cinta beneran"

__ADS_1


__ADS_2