
***
Maya ikut dengan Laras karena ingin berjumpa dengan Airin. Turun dari mobil Maya melihat anaknya itu sedang duduk bermenung di halaman depan sendirian.
"Airin!"
Wanita itu mendongak. Matanya berkaca- kaca melihat mamanya datang menghampirinya. Semua rindu, dosa dan kesalahannya mencuat tatkala mamanya mendekat.
"Bagaimana kabar kamu nak?"
Air matanya tumpah dan ia menyongsong Maya dengan pelukan.
"Maafkan Airin ma, ......Airin masih anak mama kan?"
"Tentu saja, memangnya kapan kamu berhenti jadi anak mama..mama sayang sama kamu, kamu itu si sulung mama yang selalu mama banggakan" Maya mengusap bahu Airin.
Airin makin terisak. Kasih sayang mamanya tidak pernah berubah meskipun dia telah banyak melakukan kesalahan dalam keluarganya. Ia memang punya mama yang melahirkannya kedunia tapi yang membesarkannya penuh kasih sayang sedari ia kecil adalah mama tirinya. Bagi Airin, tidak semua mama tiri itu jahat dan juga tidak semuanya pula mama kandung itu baik.
"Kata Laras, mama punya cucu cantik, mana dia?"
"Dia sedang bermain didalam ma"
Airin membawa mamanya kedalam untuk bertemu dengan Kirana. Anak perempuan itu sedang bermain di kamar dengan boneka-bonekanya.
"Kira...sini nak, ada nenek"
Kirana mengentikan mainnya dan menoleh kepintu. Airin melambaikan tangan padanya, memanggil.
"Nenek?" tanya Kirana tidak percaya. Ia iri sama Alan yang punya banyak nenek dan kakek. Ternyata ia juga punya.
"Kira punya nenek?"
"Ya ini nenek Kirana" Maya menggendong Kirana "nenek Kirana, mamanya mama Kirana...ternyata cucu nenek sudah gede, cantik kayak mamanya"
Airin tersenyum melihat mamanya dengan Kirana, mamanya pasti sudah tau kalau Kirana lahir tanpa ayah. Tapi mamanya tidak mau mengungkit hal itu dan menerima yang sudah terjadi dengan lapang dada.
__ADS_1
"Alan!! lihat aku juga punya nenek!" Kirana memanggil Alan yang sedang minum jus diruang tengah dengan bangganya.
Bocah laki-laki itu tersenyum "kenapa? itu juga nenek Alan kok"
"Ih, gak boleh ngaku-ngaku ini neneknya Kira..." Kirana tidak terima Alan juga mengakui neneknya juga nenek Alan.
Maya membawa Kirana duduk dekat Alan dan mendekatkan kedua bocah itu kepadanya. Dua bocah itu saling pandang dalam dekapan Maya.
"Kirana dan Alan itu,..keduany cucu nenek, kan mama Alan sama mamanya Kirana adek kakak ....Alan dan Kirana itu juga adik kakak sama seperti mamanya,..jadi Alan dan Kirana itu harus saling akur, gak boleh berantem"
Kirana dan Alan melihat ke Airin. Wanita itu salah tingkah karena selama ini ia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Ia tidak pernah dekat dengan Alan begitu juga dengan Kirana, ia juga tidak pernah bilang secara langsung pada Kirana kalau dia dan Alan adalah sepupu. Mamanya menunjukkan banyak hal padanya.
"Airin, kamu sudah jadi orang tua nak, kamu harus menjadi panutan untuk anak-anak kamu, sepahit apapaun jalan kehidupan kamu, kamu tetap harus kuat dan mencontohkan yang terbaik untuk Kirana"
"Ya ma, Airin ngerti"
"Sudah pada ngumpul ya? ayo kita makan siang" Laras datang dengan wajah berseri karena senang keluarganya berkumpul. Ia membawa Kirana dan Alan bersamanya.
Rumah itu terasa hangat, ruang makan yang dulunya hanya di isi Nabil sendirian sekarang sangat lengkap. Ada keluarga kecilnya dan juga keluarga besarnya.
"Yang banyak dong Ras" Nabil minta diambilkan nasi dengan Laras seraya menyodorkan piring kedepan Laras.
Melihat sikap anaknya terhadap Nabil membuat Maya angkat bicara.
"Laras...." tegur Maya "tak baik begitu pada suami sendiri"
"Tuh dengar mama, pada suami itu yang manis Ras" sindir Nabil.
"Mama gak tau saja dia.."
"Itu suami kamu, gak baik pakai dia, panggil dengan sebutan sopan"
Nabil tertawa melihat wajah Laras yang kesusahan sedari tadi diomelin mamanya.
"Kakak senangkan?"
__ADS_1
Nabil mengusap dadanya lega, Laras memanggilnya kakak "belum,... panggil mas atau papa"
"Gak mau"
"Nyenengin suami itu apa salahnya Ras, jadi wanita itu menurut sama suami tidak baik keras kepala"
"Iya deh, ma...." Laras melihat ke Nabil yang ada disebelahnya "papa sayanggg, mau makan apa?" tanyanya dengan terpaksa. Hal itu membuat Nabil ngakak.
"Istri pinter, makin sayang deh" Nabil mengusap kepala Laras menunggu amukan wanita itu.
Dada Airin yang biasanya sempit sekarang terasa plong apalagi melihat kebahagiaan Laras dan Nabil, memang seharusnya dia tidak ada ditengah mereka. Mereka sudah punya jalan masing-masing. Semua yang terjadi dimasa lalu tidak ada yang bisa untuk dikenang. Ia tidak ingin masuk ke masa itu lagi. Sekarang pria yang dulu suka membawakan coklat dan bunga untuknya telah mencurahkan semua cinta pada perempuan lain. Perempuan itu adalah upik abu yang bernasib baik bertemu dengan pangeran berkuda putih.
"Oh ya,...mm Nabil...Laras,..aku berencana tinggal sama mama" Airin membuka pembicaraannya.
"Kenapa tinggal sama mama, apa kakak yakin mau tinggal didesa?" tanya Laras meyakinkan Airin.
"Mama akan ambil kontrakan dekat pasar, rencananya untuk buka warung makan" Maya mengasih penjelasan. hal ini sudah dibicarakannya dengan Airin tadi.
"Mengapa harus ngontrak ma, aku akan ambilkan satu untuk mama kalau mama mau,.. tapi menurut aku untuk apa mama capek-capek ada kita" ujar Nabil serius. Ia punya uang lebih dari cukup untuk hidup mereka bersama.
"Mama sudah terbiasa bekerja, tanpa kesibukan akan mudah bosan"
"Dan Airin, kamu punya skill, kenapa tidak kamu gunakan saja skill kamu saja" tanya Nabil.
"Aku rasa, aku akan kesulitan untuk seperti dulu lagi"
"Asah kembali bakat kamu, aku akan bantu"
Wajah Airin cerah ia mengucapkan terima kasih pada Nabil. Makan siang itu terasa nikmat. Nabil tidak menjauhi Airin dan juga tidak membencinya lagi. Ia membantu atas nama keluarga. Tujuannya tetap fokus kedepan bersama dengan ibu dari anak-anaknya menghabiskan sisa waktu bersama.
Laras juga tidak takut dengan kedekatan Nabil dan Airin. Ia mengasih kepercayaan pada Nabil sepenuhnya.
Semuanya mulai berjalan dengan apa yang diinginkan Maya dan Airin. Nabil mendapatkan tempat yang cocok untuk Maya jualan. Ia juga membantu memenuhi semua kebutuhan untuk jualan termasuk mencarikan karyawan untuk membantu.
Dan Airin, dia mulai kembali aktif jadi model. Ia membeli sebuah apartemen dan berdiam disana dengan Kirana. Ia juga sering menitipkan anaknya pada Laras dan Maya. Riyanto juga sering muncul direstorant itu kadang ia datang hanya untuk berkumpul dengan Alan dan Kirana. Pria itu juga akur dengan Maya tapi tidak dengan urusan rumah tangga. Kesalahannya pada Maya tidak akan bisa terhapus begitu saja apalagi saat mengetahui selingkuhannya ada dipenjara.
__ADS_1
Semuanya telah terlambat bagi Riyanto. Hal itulah yang menjadi patokan Nabil. Ia juga takut seperti itu kelak. Dimana hari tuanya di selimuti penyesalan yang tidak bisa diperbaiki lagi. Semua tingkah yang ditanam dulu akan dipetik dimasa tua. Kadang ia kasihan melihat mertuanya bersedih seorang diri.
Memang benar, hukuman yang paling berat itu adalah memaafkan tanpa bisa dikasih kesempatan untuk kedua kali. Hanya bisa melihat tanpa bisa menjangkau. Dan sakitnya pasti tidak terkira, Nabil pernah diposisi itu.