Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
pertemuan yang tidak disengaja


__ADS_3

Harusnya Laras dan Benz sudah jadian atau mungkin menikah saja karena tidak ada Prita lagi yang menganggu kedekatan mereka. Tapi ini malah sebaliknya. Laras makin menjauh.


Ia menjauhi Benz dan bahkan jarang bicara dengan Siti. Apalagi hari ini ia kekampus dengan mata bengkak seperti habis menangis dan ia juga lebih banyak bengong. Benz mengajak Laras bicara tapi hanya ha, oh saja. Akhirnya ia bertanya pada Siti kenapa sahabatnya itu.


"Mungkin dia memikirkan suatu hal yang luar biasa, seperti menciptakan hati palsu yang baru"


"aku bertanya serius Siti Juleha, kamu temannya bukan sih?"


"Namaku Siti apriyani bukan Siti Juleha"


"Serah nama kamulah, yang aku tanya kenapa Laras kayak gitu?"


"Mana aku tau maria benz mersedes, kamu tanya tuh sama dia"


"Dia gak mau jawab, dia nya malah bengong, kamu tidak tau rasanya melihat seseorang yang kamu cinta seperti itu" suara Benz agak melengkung kedalam apa yang ia katakan membuat Siti sedikit terharu.


"Aku gak pernah jatuh cinta Benz, makanya aku gak tau, pernah sih sekali jatuh cinta waktu SD dulu tapi akhirnya dipatahkan oleh kenyataan"


"Aku tidak tertarik dengan curhatan kamu, aku hanya ingin tau tentang Laras" potong Benz.


Mulut Siti memanjang disertai dengan seringai sinis. Giliran tuh anak curhat dia dengarkan tapi ia bicara dikit langsung dipatahkan.


"Iya deh iya, serah tuan raden Benz! udah tau Laras sedih, ya di bujuk kek di apain kek bukan malah pusing gitu"


"Percuma bicara sama kamu, gak ada solusi"


"Siapa suruh kamu bicara sama aku buambang! ganteng doang tapi gak bisa rayuin cewek"


"Kamu bilang aku ganteng? makasih ya! tapi jangan pernah jatuh hati pada aku, aku cintanya sahabat kamu, bye!!"


Ingin rasanya Siti melempar Benz dengan sandal saking kesalnya. Lagian siapa juga yang suka sama dia? cowok gak peka kayak gitu, lebih baik Siti menjomblo seumur hidup, hidup jomblo!


Setelah menganggu Siti, Benz memikirkan sesuatu yang bisa membuat mood cewek menjadi bangkit. Tapi apa ya? dia berpikir sejenak dan akhirnya ia ingat mbah gugel. Mungkin dengan bertanya pada si embah yang serba tau ia mendapatkan solusi.


***


Laras duduk di undakan tangga halaman kampus dengan pikiran kosong. Padahal disebelahnya sangat ramai oleh para mahasiswa yang lalu lalang.


Ia sudah lelah dengan kesedihannya yang ia tumpahkan semalam pada bantal sekarang kepalanya terasa nyut-nyutan. Ia seperti robot hidup hari ini. Tidak ingin apa-apa bahkan untuk mengisi perutnya sekalipun.


"Hay,,kenalkan nama saya Tubi! kakak cantik namanya siapa?.."


Sebuah boneka kodok hijau menari-nari didepan wajah Laras. Digerakkan oleh jari-jari putih dan suara bass nya ditekan menghasilkan suara cempreng.


"Memangnya kakak mikirin apa? mikirin aku ya?"


Laras melihat kesampingnya, Benz tersenyum amat manis. Semanis gulali. Kumis tipisnya yang mulai tumbuh di wajah glowingnya tertarik keatas.


Mata Laras yang kuyu bikin Benz sangat khawatir. Ia mencoba mencairkan suasana agar Laras tidak sedih lagi.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Aku gak apa-apa" ujar laras bergetar.


"Kalau gak apa-apa senyum dong, smile!" Benz menujukkan deretan gigi putihnya agar Laras menirunya. Ia mengasihkan boneka kodok yang dikasih nama tubi itu ke Laras dan gadis itu meraihnya dengan wajah masih sama, sedih.


"Kamu kenapa? plis! jangan bilang gak kenapa-napa, aku tau kamu lagi sedih, cerita sama aku Ras"


Gadis yang di ajak bicara masih belum berubah bahkan boneka ditangannya tidak begitu menarik baginya.


Mungkin Laras belum siap untuk cerita padanya. Benz juga tidak mau memaksa.


"Jika sangat berat menceritakannya sama aku, tak apa! tapi jangan sedih dong, kalau kamu sedih hari ini bakal mendung"


Laras melihat ke atas, matahari bersinar cukup terik dan langit sangat cerah "gak mendung kok, panas malah"


"Itu bagi dunia, tapi kalau bagi ku kamulah mataharinya"


Pikiran laras gak jalan, terserah apa yang dibilang Benz tidak akan masuk kedalam otaknya.


"Kamu pucat bangat" Benz menyentuh kening Laras dan tidak panas. ia melihat ke wajah gadis itu "jangan-jangan kamu belum makan lagi"


Bibir Laras pucat dan kering. Benz tersadar kalau dimana-mana tuh makan nomor satu. Ini malah bawa anak orang bicara dengan perut kosong pantas saja setinggi langit pun ia menggombal tidak akan mempan.


Untung cintanya masih ada logika, masih waras dan ingat makan. Coba kalau cintanya angin doang bisa berakhir dirumah sakit.


Benz mengambil tangan Laras.Untungnya gadis itu ngikut mungkin karena tidak ada tenaga untuk menolak. Ia membawa gadis itu kemotornya yang ada diparkiran lalu menuntunnya untuk naik.


"Kita mau kemana Benz?"


Karena Benz bilang bakal balik lagi maka Laras tidak menolak saat ia dibawa Benz keluar dari area kampus.


"Pegangan yang kuat Ras" Benz mengambil tangan Laras dan melingkarkan kepinggangnya agar gadis itu tidak jatuh dan dia juga diuntungkan dalam hal itu.


Tangan Laras sangat lemah dan dia mengikuti kemauan Benz. pria itu mengintip di kaca spion lalu tersenyum. Rasanya menyenangkan kalau begini, berdua bersama Laras.


Motor sport Benz membelah jalan raya yang cukup ramai karena bertepatan dengan jam makan siang orang kantoran. dan pulangnya anak sekolahan. Para kurir dan gojek lalu lalang mengantar makanan, para pegawai atau orang yang sedang mencari makan siang serta kendaraan yang menjemput anak-anak mereka pulang sekolah.


"Kamu maunya makan apa? nasi atau makanan lainnya?"


"Aku gak pengen makan"


"Jangan gini Ras, kamu harus makan agar kamu kuat, masa lemes kayak gini, apa kamu ingin makan sesuatu?"


Laras menggeleng.


"Atau kita kerumah aku saja, aku akan memasak untuk kamu"


Lagi, Laras menolak. Benz menepikan motornya dan mengajak gadis itu bicara.


"Ayolah Ras, kamu harus makan, apapun masalah yang kamu hadapi, kamu jangan lemah karena kamu adalah Laras, Laras yang aku kenal meskipun masalahnya segudang ia akan tetap menghadapi dengan senyuman, ia tidak pernah menyerah dengan keadaan, dia selalu bertahan dengan kekuatan dirinya sendiri"


Laras termenung, Benz ada benarnya juga. Memangnya siapa yang akan membantunya menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Jika ia menceritakan masalahnya, maka orang akan tertawa cekikikan karena mereka menganggap itu lucu tanpa tau apa yang ia rasakan. Yang harus menghadapi semua ini ialah dirinya sendiri. Apa yang hilang didirinya juga tidak akan kembali.

__ADS_1


"Mau ya...kita makan" bujuk Benz.


Laras mengangguk dan pria itu tersenyum "gitu dong, akunya jadi semangat kembali apalagi senyum dikit"


Motor benz kembali melaju dijalan raya dan mood Laras sedikit membaik dan menyadari kalau Tubi sejak tadi berada digenggamannya. Ia melihat boneka hijau daun itu dan ternyata boneka itu cukup lucu. Sayang kalau dikasihkan kembali pada Benz.


Benz menghentikan motornya didepan sebuah restorant Padang yang cukup ramai. Dan ia mengajak Laras untuk masuk kesana.


"Kita disini saja ya, gak apa-apa kan?"


Laras menggeleng.


"Dari tadi geleng mulu, aku curiga jangan-jangan kepala kamu ada per nya, coba aku periksa"


"Enak saja, meskipun kamu jadi dokter kamu tidak akan bisa"


"Nah, ini baru bicara....dapat energi dari mana? padahal tadi aku udah cemas bangat kamu itu mode hemat energinya sangat parah"


Mereka berdua memasuki restorant itu dan mencari meja yang kosong. Mata Benz dan Laras sama-sama menangkap sebuah meja yang diisi oleh tiga orang yang sepertinya baru datang kesana. Laras ingat salah seorang dari mereka adalah pria yang waktu itu melihatnya dengan sangat tajam pada acara pertunangan Benz dan Prita yang gagal. Dia adalah papa Benz.


Dan yang paling membuat tubuh Laras panas dingin adalah pria yang memakai stelan warna hitam didepan papa Benz. Pria itu melihat ke Laras lalu tersenyum sinis sambil membuang mukanya ke arah lain.


"Benz! sini saja!" panggil papanya.


"Itu dia papa aku ras, kita gabung dengan mereka saja ya"


"Benz...aku,..." ucapan Laras tidak didengar Benz karena pria itu jalan duluan menghampiri meja itu.


Tidak bisakah di meja lain? atau ditempat lain saja? sungguh Laras tidak ingin melihat wajah itu hari ini. Kaki Laras seperti diseret mengikuti langkah Benz.


"Papa juga makan siang disini?" tanyanya pada sang papa.


"Iya, kebetulan papa ada janji dengan Nabil"


"Oh, rekan bisnis papa?"


"Iya"


Benz melihat ke Nabil. Ia ingat Nabil waktu itu ia bertemu dengan Nabil di rumah Prita.


"Nabil, kamu masih ingatkan? ini dia putra saya yang keras kepala waktu itu" papa benz mengenalkan Benz pada Nabil.


"Oh ya om, saya ingat" balas Nabil dengan senyuman tipis.


Mata Prawira, papa Benz menyorot Laras. Ia ingat karena gadis ini Benz dan Prita gagal tunangan. Ternyata anaknya masih bersama dia. Kejadian itu sudah berlalu mungkin ada baiknya ia mendukung gadis pilihan Benz.


"Kamu tidak mengajak pacar kamu untuk duduk?" tanya Prawira pada Benz.


Hal itu membuat wajah Laras bersemu merah karena pria itu bicara didepan suaminya sendiri. Ia melihat ke Nabil khawatir jika pria itu marah tapi kecemasannya sama sekali tidak beralasan. untuk apa Nabil marah? memangnya dia siapanya Laras? hati Laras bagai diremas.


Lain lagi dengan bersemu merahnya wajah Benz. Ia digituin oleh papanya sendiri itu berarti sinyalnya sudah tampak jelas.

__ADS_1


"Ayo ras silahkan duduk" Benz menarikkan sebuah kursi untuk Laras dan sialnya kursi itu adalah kursi yang berhadapan dengan Nabil.


__ADS_2