Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
tarik ulur


__ADS_3

Alan capek sebelum acara itu selesai. Nabil membawa anaknya kesebuah kamar dan menidurkannya disana. Alan tidak terbiasa dengan Nabil dan terpaksa Laras turun tangan. Kamar itu masih belum lengkap karena dipermak Nabil dalam waktu sehari. Ia kalah dibandingkan Nata yang menyiapkan kamar Alan dengan sempurna. Waktu ia mencari Laras kesana tidak sengaja ia melihat kamar Alan di rumah itu.


Ia berjanji akan memperbaiki kamar itu pada keesokan harinya padahal menurut Laras kamar itu sudah cukup bagus lagipula Alan tidak akan selamanya tidur disana.


Bocah itu tidur dengan nyenyak. Nabil masih duduk menunggui mereka.


"Terima kasih, sudah dua kali mengasih kami tumpangan" ujar Laras pada pria itu setelah menyelimuti Alan yang tidur nyenyak.


"Terus saja Ras, seolah aku ini asing bagimu"


"Kita memang asingkan? hanya saja karena kebetulan ada dia makanya begini, dia yang kau hadirkan dengan cara licik"


"Tidak, aku secara sadar melakukannya,...waktu itu egoku terlalu tinggi untuk mengakui kalau aku pengen tapi tidak berani hingga aku harus pura-pura mabuk dulu" Nabil bicara pelan karena ia mengusap kepala Alan dan menciuminya. Bocah ini sangat lucu dan bijak kadang cerewetnya melebihi Laras. Pria itu tidak menduga kalau dia garcep juga. Hasilnya sangat nyata didepan matanya.


"Dua kali ya Ras? langsung ada hasil apalagi kalau sering?" Nabil mengingat hal itu dengan jelas. ia tersenyum pada Laras, senyum mesum.


Laras melihat kearah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang semerah kepiting rebus.


"Kenapa kamu yakin dia anak kamu bisa saja kan dia anak orang lain"


"Karena aku punya buktinya, lagipula namanya Alan, kenapa aku tidak kepikiran dari awal ya, kalau Alan itu adalah,..anak Laras dan Nabil"


Nabil merebahkan diri dekat Laras dan membawa tangan Laras kekepalanya. Minta di usap. Rasanya sangat tenang dengan keadaan begini meskipun tangan Laras kerasnya minta ampun seperti ingin menonjoknya. Wanita ini sudah pasti merasa terpaksa.


"Terima kasih ya telah melahirkannya kedunia ini"


"Aku hampir menyerah, tapi untung ada dia" maksud Laras adalah Nata.


"Aku pernah melihat seorang pria mencintaimu begitu dalam dan aku benci itu, aku berharap hanya aku yang mencintai kamu setelah ini tidak boleh laki-laki manapun untuk mendekati kamu, aku cemburu"


Hampir saja pertahanan yang dibuat Laras runtuh apalagi tatapan Nabil sangat menghipnotis. Mata birunya membuat Laras hampir tidak berdaya.


"Aku mencintai kamu Ras" Nabil mengangkat kepalanya dan menarik tengkuk Laras, wajah mereka hampir berdekatan.


"Om.."


Kirana nyelonong masuk kesana memanggil pria itu. Bocah polos itu tidak tau situasi. Laras tidak sengaja mendorong kepala Nabil tidak kalah kencangnya seperti terciduk. pria itu meringis.


"Om ada disini? ayo dong om kekamar Kirana"


"Om lagi sibuk Kira,..Kira sama mamanya saja"

__ADS_1


"Gak mau, Kira maunya sama om"


"Kira...." Nabil tidak bisa berbuat banyak karena itu adalah anak kecil dan dia tidak tega untuk marah apalagi membentak. Ia mengikuti tangannya yang ditarik Kirana kekamarnya.


"Sebentar ya Ras, aku antar anak ini kekamarnya dulu"


"Pergi saja!"


Pria itu sudah dituntun oleh Kirana kekamarnya.


Lama Nabil tidak muncul kembali Laras menutup pintu dan ketika ia melongok keluar ia melihat sebuah kamar terbuka paling ujung. Ia penasaran siapa yang belum tidur. Laras mendekati kamar itu dan ia melihat jelas dua manusia disana sedang bergumul hebat di atas ranjang. Mungkin mereka buru-buru sehingga lupa menutup pintu.


Laras memundurkan langkahnya dan pergi kekamar Alan kembali. Ia berusaha untuk memejamkan mata tapi rasanya sangat sulit. Nabil yang katanya akan kesana kembali tidak kunjung datang. Bukan Laras berharap tapi ia hanya melihat sejauh mana ucapan basi yang sering terlontar padanya.


Paginya, kamar itu heboh oleh kedatangan Vina menjemput Alan kesana dan Nabil yang juga nyelonong masuk. Wajah pria itu tidak berubah masih hangat seperti biasanya menyapa Laras dan memperebutkan Alan dengan mamanya. Hanya saja Laras makin tidak percaya pada pria itu apalagi melihat wajah polosnya sepertinya hal semalam adalah hal yang biasa ia lakukan.


"Alan sama aku saja ma, aku juga baru ngumpul dengan dia"


"Tidak bisa! Alan sama mama, kamu urus saja Laras"


"Laras sudah pasti ma"


"Makanya bikin satu lagi, atau tiga juga gak apa-apa..ajak Laras"


"Kalau pernah cerai rujuk lagi, itu saja kok repot"


Masalahnya bukan repot atau tidaknya tapi masalah hati yang tidak akan kunjung selesai. Laras merasa dipermainkan. Benar kata Airin, dirinya tidak akan pernah jadi satu-satunya dalam hidup Nabil.


"Ibu kapan kita pulang?" tanya Alan.


"Pulang kemana? ini rumah Alan" ujar Vina.


"Bukan, ini bukan rumah Alan...kata ibu tidak baik tidak sopan dirumah orang lain, kalau dirumah Alan, Alan bisa main bola"


"Alan bisa main bola kok, dimana saja yang Alan suka ..atau Alan pengen oma temani main bola di halaman belakang?"


"Mau oma tapi oma tidak nyulik Alan kan?"


"Lho kenapa oma mau nyulik Alan, kan Alan cucu oma"


"Ibu...apa iya ini rumah Alan?" tanya bocah polos itu pada ibunya. Laras tidak tau harus menjawab apa. Disatu sisi ia tidak ingin disana apalagi melepaskan Alan untuk mereka.

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan, sekarang kita baru bangun tidur" elak Laras.


"Alan ikut oma kebawah ya, kita mandi dan sarapan"


bujuk Vina. Ia menggendong bocah itu meskipun Alan tidak mau lagi untuk digendong. katanya, dia sudah gede.


"Baru lima tahun udah bilang gede...bikin oma gemes deh, anak siapa sih?"


"Anak ibulah oma, ibu bilang...Alan itu udah gede, tidak baik merepotkan"


"Bukan merepotkan sayang, oma sayang Alan"


Anak yang baik, Laras sangat mendidik Alan dengan


Vina dan Alan pergi kelantai bawah. Tinggallah Laras yang sedang membersihkan tempat tidur ditunggui Nabil.


"Maaf semalam aku ketiduran makanya tidak jadi kesini"


Apa harus Nabil memperjelas semuanya.


"Untuk apa kesini, aku tidak open BO situ" balas Laras.


Pria itu tertawa "kalau mau aku siap saja"


Tidak ada yang lucu bagi Laras karena Nabil memang mirip pria open BO dimatanya. Suka berpindah kepelukan dari satu perempuan keperempuan lain.


"Apa kamu suka mengintilin tamu dirumah kamu?" sindir Laras karena Nabil masih belum beranjak disana.


"Tidak"


"Terus sekarang apa namanya? kamu masih disini"


"Kamu bukan tamu"


"Ya bukan tapi janda kamu" Laras bicara blak-blakan.


"Kalau kamu janda aku, mana surat cerai yang aku kasihkan dulu?"


Laras mengingat dimana surat itu ia taruh, kalau tidak salah...surat itu sudah terlantar dan jadi sampah dirumah hutan Nata. Menyesal ia tidak menyelamatkan surat-surat itu.


"Secara agama sudah sah cerainya untuk apa kamu nanyain itu"

__ADS_1


"Aku tidak pernah menceraikan kamu secara lisan, jadi secara apapun kita ini masih suami istri, kalau kamu merasa pernikahan kita harus diperbaiki ayo kita perbaiki"


__ADS_2