Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
rencana yang berantakan


__ADS_3

"Ibu!!!"


Alan berlari menyambut kedatangan Laras dan berpelukan.


"Ibu tau, anak perempuan yang bertas pink itu menagis tadi"


Alan menunjuk seorang anak perempuan yang sedang duduk sendirian dibangku depan sekolah menunggu orang tuanya. Anak perempuan itu sangat cantik, rambutnya hitam legam sebahu, pipinya chuby dan bibirnya merah jambu.


"Kenapa? bukan karena kamu kan?"


Alan menggeleng "bukan, dia menangis karena aku sebut dia gendut"


" Katanya bukan karena kamu, gak baik begitu sama teman, dia manis..siapa namanya?"


"Gendut"


"Tidak boleh memanggil teman dengan ejekan, panggil dia dengan namanya, memangnya Alan mau kalau dipanggilin nama yang jelek"


"Mereka tidak akan berani"


"Tidak baik bertengkar dengan teman, minta maaf sama dia"


"Tidak mau"


"Dia kan temannya Alan juga disekolah"


"Aku tidak mau temenan sama dia, dia itu cengeng"


Laras menarik Alan untuk mendekati anak perempuan cantik itu. Tapi begitu melihat Alan anak perempuan itu bangkit dan menjulurkan lidah pada Alan lalu kabur masuk kembali kekelas.


"Ibu lihatkan? dia memang suka begitu, sekali panggil gendut dia akan menangis"


Laras dan Alan kembali putar langkah dan naik kesepeda untuk pulang.


"Nanti sore kita jadi main bola kan bu?" tanya Alan memastikan.


"Jadi, tapi biarkan ibu tenang setelah ini ya, kamu tunggu dirumah ibu akan kesupermaket"


Bocah itu mengangguk. Ia terbiasa ditinggal dirumah sendirian dengan segudang peraturan demi keamanannya.


Setiba dirumah, Laras mengurus Alan dan pekerjaan rumah setelah itu ia memeriksa ponselnya. Ada pesanan dari beberapa orang pelanggan. Tapi yang paling menarik adalah dari seorang pria yang berpakaian security. Ia memohon pada Laras untuk membuatkan kue malam itu juga. Katanya untuk ulang tahun istrinya yang lagi sakit. Hati Laras tersentuh dan ia mengiyakan permintaan tersebut.


"Alan, ibu minta maaf! sepertinya sore ini kita tidak jadi untuk main bola"


"Yaah" wajah Alan langsung keruh "kan ...gak jadi lagi"


"Sebagai gantinya, besok Minggu kita pergi pagi sekali"

__ADS_1


"Ibuuu"


Alan ngambek sambil memeluk bolanya. Laras terus membujuknya hingga anak itu akhirnya luluh.


"Ya sudah bagaimana kalau Alan ibu ajak ikut"


Barulah wajah bocah itu agak berbinar dan ia mengangguk.


Masih ada sedikit bahan didapur dan Laras menggunakan itu. Rencananya sepulang dari tempat pelanggan itu Laras baru akan singgah disupermaket untuk membeli bahan.


Membuat sebuah cake tidak membutuhkan waktu lama bagi Laras. Ia ingin pria security itu dan istrinya bahagia. Lalu Ia mengirim pesan pada pelanggan itu dan mengatakan kalau dirinya akan berangkat.


Tolong antarkan ke restoran ini ya mbak......


Pelanggan itu mengirim sebuah alamat padanya.


***


Vina mengeluarkan jurusnya yaitu ngambek agar Nabil merasa bersalah. Malamnya Nabil mengganti acara tersebut disebuah restorant.


Dan mamanya masih belum kehilangan akal untuk menyerah. Vina mengasih tau Cleo dan mengundangnya kesana.


Nabil bingung, ini acaranya atau untuk orang tuanya? kenapa mamanya ngotot ingin segera punya menantu. Nabil mau saja, tapi tunggu sebentar lagi. Ia akan mengabulkan permintaan mamanya.


Cleo duduk anggun disebelah Nabil dengan gaun warna gold. Rambut pirangnya di blonde cantik dengan poni terurai dikeningnya.


Vina mengasih isyarat pada anaknya agar bicara pada Cleo. Ia telah menyiapkan semua keperluan Nabil termasuk cincin untuk mereka.


Namun putranya tidak kunjung mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Kehadiran Cleo tidak merubah apapun pada Nabil seolah Cleo adalah manequin yang terpajang disampingnya. Sikap Nabil makin membuat Vina eneg.


Nabil terus menoleh kepintu seperti menunggu seseorang yang sangat berarti baginya. Mungkin saja cincin yang disediakan mamanya akan tersemat manis dijarinya.


"Aku kesana dulu" Nabil beranjak tapi mamanya kembali menarik dirinya untuk duduk "mama tidak izinkan kamu pergi sebelum hal ini kelar"


"Ma!" Nabil ingin menyanggah tanpa membuat luka siapapun. Kenapa mamanya tidak mengerti?


Dari pintu terlihat seorang perempuan celingak-celinguk mencari seseorang. Tangannya mengamit bocah laki- laki memakai topi. Kelihatannya bocah tersebut tidak mau dilepas Laras.


Darah Nabil mendesir beku memastikan penglihatannya. Terutama pada bocah itu. Rasanya tidak asing. Ia seperti kenal dekat tapi tidak pernah bertemu.


Laras bertanya pada pelayan restorant sembari memperlihatkan foto diponselnya. Perempuan itu adalah Laras mencari pria security yang tadi memesan kue untuk ulang tahun istrinya.


Pandangan Laras menjelajah ruangan dan berhenti disebuah meja yang tidak jauh darinya. Terlihat jelas perubahan diwajah perempuan itu tapi hanya sesaat.


"Hey! kamu!!" teriak Cleo pada Laras.


Laras menoleh dengan senyumannya "kakak manggil saya?"

__ADS_1


Vina terkesiap seketika melihat Laras ada disana dan ia juga tidak kalah kagetnya melihat Laras membawa bocah. Laras, wanita itu pernah membuat putranya patah hati dan pergi meninggalkannya. Sekarang Nabil sudah bersama perempuan yang tepat dan Laras seperti itu-itu saja. Untung mereka pisah. Sekarang Laras pasti sudah menikah dengan pria miskin dan memiliki anak. Untuk mencukupi kebutuhannya Laras terpaksa jualan kue.


"Kamu perempuan ceroboh tadikan?"


"Mata kakak masih sehat" puji Laras tapi tidak ayal membuat Cleo tersinggung.


"Maaf! aku tidak bermaksud menganggu, aku kesini mencari seorang pria"


Mata Nabil meneliti wajah bocah didepannya yang tertutup topi manusia laba- laba. Bocah itu tampak terganggu dan ia menyembunyikan wajahnya dibelakang Laras.


"Pak Sakur security, dia minta kuenya ditaruh disini" ujar Nabil. Matanya menatap teduh pada Laras. Akhirnya dia berhasil menyeret Laras untuk datang kesana dengan memakai nama dan foto security kantornya. Tapi ia tidak menyangka Laras sudah punya bocah.


Ia membantu Laras meletakkan kue dimeja. Matanya tidak lepas dari sosok Laras. Ia ingin merengkuh, mendekap untuk menenangkan buncahan didadanya.


"Oh,..aku ingin bertemu dengan orangnya" ujar Laras ingin melihat sosok pria penyayang istri tersebut.


"Nabil bilang taruh disini, kamu pasti takut tidak dibayar ya?" tanya Cleo.


"Cleo!" Nabil menegur perempuan disebelahnya agar tidak bicara kasar pada Laras.


"Tentu saja kakak, uang sangat berharga bagi orang miskin seperti saya" ujar Laras pada Cleo. Dari pada Laras direndahkan lebih baik ia merendah terlebih dahulu sampai seorangpun tidak bisa merendahkannya.


"Malam tante,...malam om!" sapa Laras pada Vina dan Hendra. tadinya ia akan manggil mama dan papa, masalahnya tidak enak lagi.


Hendra mengajak Laras untuk duduk dan Vina membalas sapaan Laras dengan sunggingan malas. Kedua orang tua itu melihat ke Alan lalu kemudian saling pandang. Hati Vina sedikit luluh ketika melihat wajah Alan.


"Ini uang kamu dan silahkan pergi" Cleo mengasihkan lembaran uang yang cukup banyak pada Laras.


"Aku saja yang bayarnya Cle, simpan uang kamu" ujar Nabil.


"Biarkan saja Nabil, acara kita jadi terganggu, lagian siapa sih Sakur, sakur itu? kenapa menyuruh antar kue ketempat kita?" tanya Cleo heran. Ia tidak kenal dengan yang namanya Sakur.


Cleo benci basa-basi Nabil ia memaksa Laras mengambil uangnya "ini uang kamu dan pergi! kamu menganggu acara ini"


"Jangan dibayar kak, tidak apa! lagipula pak sakur memesan untuk istrinya yang lagi sakit"


"Jangan sombong jadi orang! aku tau kamu orang susah, ambil dan pergi sana! bawa anak kamu"


Nabil meradang marah, Cleo tidak bisa dibilangin. Ia membawa Laras kesana bukan untuk direndahkan melainkan untuk kembali diperkenalkan pada orang tuanya meskipun semuanya berantakan.


"Simpan recehanmu nona, dia bukan wanita rendahan seperti anda yang bisa anda permalukan seenaknya!" seorang pria entah dari mana datangnya mendorong uang dari Cleo hingga uang itu berhamburan dilantai.


"Kamu???"


Senyuman pria itu tersungging diwajahnya. Ia memegang bahu Laras dan merengkuh kearahnya tapi dengan cepat Nabil menguakkan tangan pria itu "singkirkan tangan kamu darinya"


"Urus saja wanita mu bung, hey! apa dia putra kita Ras?"

__ADS_1


__ADS_2