Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
sahabat lama


__ADS_3

Pria bersama Laras membukakan pintu mobil. Mereka tiba di sebuah rumah sakit yang sepertinya baru berdiri. Rumah sakit itu tidak terlalu besar terdiri dari empat tingkat. Dari depan terlihat nyaman karena ada taman dan gaya artsitekturnya beda dari rumah sakit lain. Ada taman hijau dengan air mancur ditengahnya.


"Hanya ini rumah sakit terdekat nona, tapi kabarnya tidak terlalu buruk" jelas pria itu. Sepertinya pria takut salah dengan pilihannya.


"Tidak apa- apa pak yang penting saya bisa diobati"


Pria itu dengan cekatan mengurus keperluan Laras setelah itu ia mengajak Laras untuk keruangan dokter.


"Laras...!"


Laras tertegun melihat seorang perempuan berjas putih melambaikan tangan padanya. Dokter itu baru saja keluar dari kamar pasien bersama dengan seorang suster.


Perempuan itu berkulit coklat dan tampak makin manis. Rambutnya yang dulu panjang sekarang agak dipendekkan dan jalannya pun anggun mirip model.


"Kamu Laras kan?" tanya dokter itu memastikan.


Laras yang masih tertegun karena kagum melihat sahabatnya itu sudah memakai jas putih.


"Mata kamu masih sehat bu dokter"


"Aaaah Laras" Siti merentangkan tangan hendak memeluk Laras tapi kemudian terhenti.


"Astaga Laras!! kamu terluka?" mata Siti terbelalak melihat bahu Laras.


"Luka dikit" kekeh Laras.


"Ini tidak bisa diangap main-main nanti kamu infeksi Laras, ayo!..." Siti prihatin ia menggandeng Laras untuk menemui dokter. Ia menganggukkan kepala ketika suster yang ada bersamanya permisi duluan. Pria yang menemani Laras mengikuti dari belakang.


"Kamu menghilang kemana sih Ras? ngilangnya gak tanggung-tanggung, apa kamu main petak umpet dan sembunyi di lapisan dunia lain"


"Aku gak kemana-mana kok, kamunya saja yang super sibuk,udah jadi dokter ya sekarang"


"Baru Ras, untungnya nih anak mau menerima aku bekerja dirumah sakitnya"


"Anak siapa? masih anak orangkan?"


"Iya..anak manja apapun yang diminta pada orang tuanya kayak sulap, sim salabim langsung criing! jadi"


Tidak tau oleh Laras siapa yang dimaksud Siti. Temannya itu berbicara berapi-api seperti julid pada tuh orang.

__ADS_1


"Dokter! ada pasien gawat darurat dok!" seru Siti, padahal baru tiba dipintu. Siti lebay.


"Aku sedang sibuk Siti" dokter memang sedang sibuk dengan buku dan pulpen didepannya. Ia membenarkan kaca matanya dan mengangkat kepala melihat ke Siti yang belum juga pergi padahal sudah dibilangin.


Dokter itu melongo dan mencopot kaca matanya.


"Laras??"


"Udah seperti orang sibuk saja..uh udah keren sekarang ya? udah pakai jas putih " ujar Laras pada pria itu.


"Eh nggak Ras, ini.... hanya sedang meneliti saja" pria itu gagap, ia tidak menduga kalau pasien itu adalah Laras "ini udah selesai kok"


"Apa aku bawa saja ke dokter Fajri dok?" tanya Siti.


"Apaan sih" wajah Benz berubah tidak lagi jaga imej ia melihat ke Laras dengan senyuman terbaiknya "silahkan duduk Laras"


"Laras terluka dokter Benz, dia butuh perawatan secepatnya bukan acara kangen-kangenan, memangnya dokter jamin kalau Laras bakal sembuh oleh tatapan dokter?" urai Siti. Ia tau Benz tidak fokus pada luka Laras karena tatapan pria itu tertuju pada wajah Laras. Dan benar saja Benz kaget melihat luka Laras. Ia langsung membawa Laras ke ruangan pemeriksaan yang ada dilantai empat.


Rumah sakit itu terdiri dari empat lantai. Lantai satu dan dua adalah tempat pasien gawat darurat dan bagian atas adalah tempat pasien yang tidak terlalu parah. Tapi disini Siti melihat kalau Benz mengajak ke atas untuk membawa Laras ke ruangan vvip agar Laras nyaman. Pria itu masih penuh perhatian pada Laras. Benz mengajak Laras bicara awalnya agak canggung karena pria itu grogi. Baru kali ini Siti menyaksikan Benz demikian padahal ia bareng Benz dari zaman kuliah hingga koas dan akhirnya baru diangkat jadi dokter.


"Kamu kenapa bisa terluka Laras?"


Benz memeriksa luka Laras dengan teliti dan lebih hati- hati.


"Sepertinya ini luka bekas tembakan Laras, kamu kenapa bisa begini?" tanya Benz. Siti mendengar itu ikut kaget.


"Kalau itu benar lapor polisi saja Ras, itu tidak bisa dibiarkan" cetus Siti.


Benz menuangkan obat luka ke bahu Laras dan memasang perban.


"Laras, bilang sama aku! kamu baik-baik saja kan?" tanya Benz cemas. Pekerjaannya sudah selesai dan ia mendesak Laras yang masih didepannya untuk bicara.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya mencemaskan anakku?"


"Kamu sudah menikah dan punya anak?" tanya Benz kaget.


"Bukannya kamu udah cere ya Ras? aku pernah bertemu dengannya bersama kakak kamu" Ucapan Siti terhenti karena Benz melihat padanya dengan curiga. Siti tau tentang Laras pernah menikah dan cerai? Bertahun bersama Siti tapi Siti tidak pernah bercerita tentang itu padanya padahal ia hampir tiap hari mencari Laras seperti orang gila.


"Oke, itu akuu..berpikir hal itu tidak penting karena Laras menikah hanya menggantikan kakaknya" Siti meralat ucapannya.

__ADS_1


Banyak tanya yang muncul dalam benak Benz. Kalau Laras hanya menggantikan kenapa bisa punya anak?. Rasanya nyesek tidak tanggung-tanggung.


"Kamu berhenti kuliah karena menikah?" tanya Benz ingin tau.


Bagi Laras sosok Benz masih sama seperti dulu karena Benz itu temannya. Ia jujur apa adanya pada Benz meskipun penyampaiannya bercanda.


"Salah satunya, tapi yang paling fatal adalah aku diculik.."


"Ha diculik?" suara Siti meninggi "waktu aku dan Benz kerumah kamu, kak Airin bilang kalau kamu minggat dari rumah, keterlaluan tuh kakak kamu..kita dibohongi,..tapi kamu tidak punya anak dari pria itu kan?"


"Pria yang mana?" tanya Benz penasaran.


"Itu pria pacar kakaknya" jelas Siti.


Banyak yang ingin ditanyakan Benz, pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita cantik umur setengah abad lebih


mendatangi Laras bersama Airin.


"Laras...."


Laras kaget, ada apa Vina dan Airin datang kesana. Apalagi Vina langsung memeluknya. Ini adalah suatu kejaiban dunia dimana sang mantan mertua mencemaskan dirinya. Ini layak diabadikan dan di pamerin di sosmed biar dunia iri.


"Tante...salah orangkah?" tanya Laras bodoh. Siapa tau mata Vina bermasalah dan menganggap dirinya adalah calon mantunya. Biasanya Vina emang suka rada- rada agak gitu sama calon menantunya meskipun putrany sampai sekarang belum juga laku.


"Kata Nabil kamu terluka, makanya mama langsung kesini"


Laras bengong, dia tidak salah dengarkan? Nabil? mama? kedengarannya sangat asing dan lucu.


Benz dan Siti saling liat-liatan menilai drama didepan mereka. Benz kesal pada Siti karena pasti menyimpan sesuatu tentang Laras. ia juga tidak suka melihat wanita cantik kakak Laras karena wanita itu seperti wanita penyihir berwajah malaikat.


"Apa Nabil berhasil menemukan Alan? dimana putraku?" tanya Laras pada Vina. Ia berkata tanpa embel kakak.


"Nabil dalam perjalanan kesini membawa Alan katanya Alan sangat membutuhkan kamu"


"Alan...apakah anakku terluka?" perasaan Laras mulai tidak enak. Menyusup bayangan yang tidak-tidak dalam pikirannya.


"Dia berhasil selamat Ras tapi dia tiba-tiba pingsan tanpa tau penyebabnya" urai Vina. Ia sudah dapat kabar duluan dari Nabil dan Hendra. Wajah perempuan itu yang biasanya jutek pada Laras sekarang sangat terpukul dengan keadaan.


Dan benar saja, tidak lama kemudian seorang pria masuk menggendong anak kecil dengan wajah pucat karena cemas. Laras kaget dan menyongsong kepintu.

__ADS_1


"Dia..tidak kena-napa kan?..Alan!!"


__ADS_2