
Paginya Laras terbangun tanpa Alan disisinya. Ia beranjak turun dari tempat tidur untuk mencari putranya. Ia mendapti Alan sedang duduk dimeja makan bersama Airin, Kirana dan Vina. Mama Nabil sejak kemaren tidak jadi pulang- pulang karena mencemaskan putranya apalagi sejak Laras datang. Nabil berubah penjadi babu dirumahnya sendiri.
Pria itu memakai baju kantoran dan Alan memakai pakaian warkaholic ala bocil. Semua yang dipakai Alans serba baru ada tas, sepatu dan baju. Semunya baru buka kertas.
Dari bangun tidur Nabil mengurus bocah laki-laki itu dan membuat seisi rumah heboh. Anak Laras emang kurus tapi nakalnya sangat luar biasa apalagi ketika habis mandi ia main bola diruang tengah. Sejumlah pelayan kerepotan membersihkan sisa-sisa puing keramik yang kena tendangan bolanya.
Sehari anak Laras disana sudah bikin kacau apalagi selama seminggu rumah itu akan tinggal kerangka saja.
Vina meradang marah dan hampir storoke pagi ini. Rasanya ia ingin menggantung bocah itu hidup-hidup. Tapi anaknya selalu membela dengan alasan kasihan pada Alan karena Alan baru saja kehilangan papanya yaitu Nata.
Nabil membiarkan bocah itu semaunya bahkan ia tertawa katika jidatnya disinggahi bola.
Kasihan sih kasihan tapi tidak membiarkan bocah itu semaunya.
"Ibu!!!" Alan menyambut Laras dengan riang "kata om, Alan harus sekolah hari ini, tidak apa kan bu?"
Semua mata melihat ke Laras, perempuan itu seperti nona saja. Bangun telat dan semua keperluannya di siapkan Nabil. Baru kali ini ada orang menumpang seperti ratu.
"Besok saja" ujar Laras pada Alan. Dirinya tidak punya apa-apa untuk sekarang. Masih banyak yang harus ia pikirkan.
"Aku akan antar Alan kesekolah setelah ini" beritahu Nabil.
"Tidak usah, merepotkan"
"Sudah tau merepotkan, makanya jadi orang itu yang tau diri" sindir Vina, ia ingin marah dengan teriakan kencang. Untung sudah agak tua jadi tenaganya sudah agak berkurang. Kalau kelewatan marah maka kerutan diwajahnya akan bertambah.
Airin senang melihat adegan dimana Vina membenci Laras. Ia berharap Laras secepatnya pergi hari ini juga. Ia tidak ingin melihat wajah Laras sedikitpun. Meskipun Nabil tidak akan pernah memaafkannya tapi dengan keyakinan kuat ia akan berhasil seperti dulu lagi.
Laras cuek, ia terbiasa dikasari Vina. Wajar Vina seperti itu karena dia adalah orang tua, dirinya saja yang masih punya anak bocil sudah sering darah tinggi apalagi kalau sudah setua Vina nantinya. Lagi pula ia hanya berbasa-basi. Kalau Nabil ingin mengantarkan Alan kesekolah ya biarkan saja. Ia tidak melarang, terserah dia. Masa orang yang berubat baik di larang. Itu sama saja menghangi orang masuk syurga.
"Kamu ingin sesuatu Ras, atau ingin kesuatu tempat atau apa saja?" tanya Nabil.
"Belum tau, aku berpikir dulu" Laras memperbaiki rambut Alan. Putranya sudah wangi. Ia juga mencolek pipi Kirana yang sedang makan roti. Bocah kecil itu tersenyum padanya.
__ADS_1
"Dia kayak gendut, suka nangis" ujar Alan pada Laras. Maksudnya adalah Kirana.
"Hey, kamu jangan sembarang bicara tentang anak saya ya" Airin langsung memarahi Alan.
"Sudahlah kak namanya juga anak kecil" tukas Laras.
"Makanya anak kamu diajarkan yang sopan ras"
"Di ajarin kok kak, jangankan anak kecil, orang dewasa saja suka salah"
"Di sebutin malah ngeyel"
"Kalian bisa diam gak sih? apa harus aku salahkan orang tua kalian juga karena telah mendidik kalian sedemikian rupa?" ujar Vina " kamu lebih baik mencari istri Bil, aku bisa gila melihat kamu begini, itu anak orang Bil bukan anak kamu,.. waktu itu mama menginginkan cucu kamu malah biasa saja tapi sekarang kamu malah repot oleh anak orang"
"Iya sabar ma, aku pasti akan menikah, mama sabar saja, tapi tidak sekarang'
"Keburu tua Bil, dan ngapain kamu bawa dua perempuan ini kesini? rumah kamu sudah seperti panti sosial"
Nabil tidak menghiraukan kemarahan mamanya ia sibuk dengan dua anak kecil yang mendekatinya barengan. Alan minta diantarkan kesekolah menagih janji Nabil sedangkan Kirana minta dibelikan sesuatu. Nabil memang baik sama anak kecil mungkin efek sudah kadaluarsa belum juga punya anak.
"Om, coklat yang banyak ya" pinta Kirana pada Nabil sebelum Nabil berangkat bareng Alan.
"Baiklah cantik, tunggu om ya! om pasti pulang cepat demi Kira" balas Nabil tapi matanya mengarah ke meja makan dimana Airin, Vina dan Laras berada. Laras menerka Nabil pasti ngasih kode ke Airin.
Pria itu menggendong Alan untuk pergi. Bocah itu melambaikan tangan pada Laras.
"Kamu istirahat saja Ras, masalah Alan biar aku yang urus" ujar Nabil sebelum berlalu.
"Tuh anak kasihan atau berniat jadi papa tiri sih?" Vina hampir membanting piring didepannya.
"Dua-duanya mungkin tante" Laras keceplosan mungkin karena terbiasa begitu. Tidak bisa menahan apa yang ia rasa.
Vina dan Airin sontak melihat ke Laras seperti ingin menguliti Laras hidup-hidup.
__ADS_1
"Maksud aku, kak Nabil kan emang sayang ke anak kecil siapa tau kak Nabil dan kak Airin rujuk demi Kirana" Laras memaksakan nyengir dan meralat ucapannya.
"Setelah ini lebih baik kamu pergi dari sini" usir Vina pada Laras. Ia tidak suka pada kedua wanita anak Riyanto ini. tapi Airin masih mendingan tidak suka bicara berlebihan dan menyela pembicaraan orang. Berbeda dengan Laras yang bisa berpotensi membuat dirinya menderita hipertensi akut.
"Iya tante, aku rencanya juga akan pergi kok, gak enak numpang lama-lama"
"Bagus lah......"
"Makasih tante, baru kali ini tante muji saya, saya cukup terharu" potong Laras. saat itu juga Vina langsung mendelik hebat. Siapa yang mau memuji?
Laras permisi pada Vina, Airin dan mengecup Kirana sebelum pergi. Ia jalan kaki ke sekolah Alan. Sekalian bertanya pada pemilik kontrakan tentang rumahnya yang lama. Dan benar saja rumah itu sudah dibeli oleh seorang pria dengan harga yang sangat tinggi. Pria itu sudah pasti adalah Nata.
Laras akan kembali menepati rumah itu, kembali ke kehidupan sebelumnya. Jadi penjual kue untuk keberlangsungan hidupnya dan Alan. Setelah melihat kondisi rumah itu Laras kesekolah Alan dan mengajak anaknya pulang jalan kaki dibawah terik matahari.
Bocah itu kepanasan tapi untungnya tidak mengeluh. Laras meneduhkan kepala Alan dengan tas sekolah. Tas baru yang dikasih Nabil.
Sebuah mobil berhenti dekat Laras. Laras mengira kalau itu Vina lagi karena mantan mertuanya itu suka berhenti didekatnya tiba-tiba untuk ceramah singkat.
Ternyata Laras salah, yang turun dari mobil itu adalah seorang pria tua, papa Nata bersama tiga orang pria berbadan kekar.
"Kemaren kita tidak sempat bicara, sekarang kau harus ikut aku" ujar papa Nata.
"Maaf, kemana tuan?"
"Tidak usah aku kasih tau, karena kau tidak punya hak untuk itu"
Laras ingin protes tapi tidak berani.
"Maaf tuan, aku tidak bisa ikut anda" tolak Laras.
"Masuk! atau anda suka kekerasan, nona?"
Laras ingat dengan ucapan Nabil kemaren. Bisa saja papa Nata memamfaatkan Laras untuk menutupi semua kejahatannya. Laras waspada dam menggendong Alan setelah itu ia memundurkan langkah lalu ambil langkah seribu.
__ADS_1
Sebuah peluru berdesing didekat kaki Laras. Perempuan itu kaget dan otomatis ia berhenti ditempat dengan gigil ketakutan. Ia mendekatkan Alan kebahunya.