
"Tuan, nona mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Amoy pada Nabil. Ia telah membukakan pintu untuk sang tuan.
"Aku tidak tau"
"Dia pergi dengan menangis, apa tuan tidak kasihan?"
"Terserah dia Amoy untuk apa kamu urus?"
"Tapi dia istri tuan"
"Kamu terlalu cerewet, apa kamu ingin dipecat?"
Amoy langsung menutup mulutnya. Bukan karena takut dipecat tapi karena ia malas berdebat. Ia bukan tipe pemalas yang susah mencari pekerjaan. Banyak lapangan kerja yang bisa diciptakan meskipun tidak bergaji besar.
Nabil menoleh pada arah tatapan Amoy dan ia melihat Laras yang menarik koper dari rumah. Perempuan itu menuju jalan raya. Lagi, hati Nabil berparuh hebat antara menghalangi Laras pergi atau ketempat Airin. Ia menghembuskan nafas menguatkan hati mengabaikan Laras yang pergi. Inilah keputusannya dari pada Laras terluka lebih dalam lebih baik melepaskan gadis itu dengan rasa sakit agar Laras tidak mengenang apapun tentang mereka.
Nabil duduk dikursi mobil pandangannya tidak lepas dari kaca spion mobil melihat Laras yang menyetop angkutan umum. Ia mengusap wajahnya, pikiran kalutnya mulai melanda.
***
PLAK!!
Nabil disambut dengan tamparan oleh Maya setiba dirumah Airin. Maya benar-benar kecewa dan marah pada Nabil karena melihat kondisi Laras pagi ini yang pulang dengan keadaan sedih. Menantunya malah asyik-asyikan dengan sang kakak ipar.
"Maya! hentikan!!"
Riyanto turun tangan menghadapi istrinya sendiri "kamu ini apa-apaan sih? biarkan mereka memilih lagi pula Laras dan Nabil tidak saling cinta, mereka bisa berpisah kapan saja"
"Kamu bicara begini tentang anak kandung kamu sendiri? kamu sadar Riyanto! sadar!"
"Aku bersumpah! jika kalian menyakiti putriku aku akan membuat kalian menyesali ini semua" suara Maya terdengar parau karena tangis. Ia menunjuk semua yang ada disana dengan tangan bergetar hebat karena emosi.
"Aku adar kok ma, apa yang mama katakan! mama tidak menganggap aku sebagai putri mama kan? karena aku dipungut dari panti asuhan, iyakan"
"Airin!"
Riyanto menegur putrinya agar tidak melanjutkan omongan itu. Ia terperangah dari mana Airin tau hal ini apa Maya yang mengasih taunya? ia melihat istrinya curiga, keterlaluan Maya teganya mengasih tau Airin tanpa perasaan padahal sebelumnya mereka telah sepakat kalau mereka akan menganggap Airin seperti putri kandung mereka sendiri tanpa mengucapkan yang sebenarnya pada dunia. Maya tidak mengindahkan peringatannya.
Nabil juga tertegun mendengar hal itu, jadi Airin bukanlah putri kandung mereka?
Sementara itu Airin sudah menangis bombay dibahu nabil. Riyanto murka pada Maya "jangan dengarkan mama kamu, dia kalau lagi emosi suka begitu, kamu ingat? kamu dan Laras pernah dibilang anak pungut dipinggir jalan, ayo Nabil bawa Airin masuk" Riyanto membujuk Airin agar putrinya tidak bersedih.
Maya tertawa miris, disatu sisi ia tidak tega menyakiti Airin karena dirinyalah yang mengasuh Airin sedari bayi tapi disatu sisi ia sudah cukup bersabar menghadapi keegoisan mereka. Sampai saat ini sikap tidak adil Riyanto masih menjadi tanda tanya dikepalanya padahal Laras jelas-jelas putri kandung mereka tapi Riyanto abai pada Laras.
"Ayo Nabil bawa aku pergi dari sini, aku tidak tahan" Airin merengek pada Nabil dengan tangisan. Riyanto mendadak gugup dan segala cara ia melarang putrinya itu pergi.
"Maya!!! minta maaf pada Airin"
"Mas sadar apa yang mas bilang? kamu minta aku minta maaf pada dia?"
__ADS_1
"Cepat!!"
Maya terpaksa minta maaf pada Airin, dari arah rumah balik jendela ada sepasang mata yang mengintai dari sana. Hatinya terluka tapi lebih terluka lagi melihat sang mama tidak ada harganya.
***
"****!!!!"
Arga melemparkan dan membuang apa saja yang tersentuh tangannya. Kamar itu tidak lagi berbentuk. Kaca lemari pecah berhamburan karena tinjunya, lampu berhamburan dan semuanya berserakan dilantai.
"Berani kamu pergi dari aku? kau akan terima akibatnya Airin!!!! kau akan bertekuk lutut dibawahku! aku bersumpah! hanya aku yang bisa menyentuh kamu! tak akan aku biarkan kamu bersamanya! aku akan bunuh dia!!"
Arga kalap penuh emosi, teriakannya bergema hebat dalam ruangan itu. Jika sekelas alien mungkin mulutnya sudah robek sampai telinga.
Menyesal ia terbuai dengan mulut manis Airin beberapa hari yang lalu hingga ia melonggarkan semua aturan yang ia buat untuk perempuan itu. Ketika ia lengah sedikit saja Airin langsung kabur.
Sial, perempuan itu tidak punya prinsip sedikitpun. Mudah goyah dan terombang-ambing, tapi karena keplin-planan itulah dirinya beruntung mendapatkan Airin pertama kali. ia akan mendapatkan sicantik itu kembali meskipun hanya untuk pelampiasan. Ia tidak akan pernah percaya pada perempuan itu lagi. Baginya hanya kecantikan Airin, tidak lebih. Rugi kalau mengasihkan cinta pada perempuan seperti itu. Dirinya akan sakit hati.
Yang sekarang bersarang adalah dendam yang membara. Ia sudah terlanjur sakit hati oleh Airin.
Beberapa jam sesudah Airin kabur ia langsung dapat kabar dari Nabil kalau perempuan itu telah kembali. Bahagia di Nabil, derita baginya. Kenapa Nabil tidak fokus saja pada istrinya. Mengapa masih ingin bersama Airin.
Sedari dulu Nabil selalu unggul darinya, nabil selalu dinomorsatukan dimanapun. dendam Arga pada Nabil dalam perkara wanita sudah membludak. Cewek manapun yang ia taksir pasti ujung-ujungnya para cewek memilih Nabil.
Dia juga tampan tidak kalah tampannya dari Nabil, dan dia juga pria mandiri yang tidak ingin tergantung dengan orang tua. Memang, ia dibuang dari keluarga karena keinginannya itu tapi harta milik keluarganya masih harta dia dan bisa diandalkan.
***
Mbak yul heran melihat kamar sang tuan rapi dan bersih padahal tidak ada siapa-siapa disana. Apa tuan Nabil memelihara jin agar hemat uang. Tapi tuan kan orang kaya, duitnya tidak akan habis tujuh turunan.
Setaunya Nabil itu adalah tuan yang manja, baju saja meski dikenakan oleh para pelayan. Tumben sang tuan sekarang jauh berubah. tepatnya setelah ia pulang dari kampung. Tuannya jarang teriak dan minta tolong. Ia memeriksa semua isi lemari kalau- kalau ada tongkat sihir disana. Ia menemukan sebuah kotak disudut paling bawah. Mbak Yul membuka kotak itu. Dalam kotak yang seindah itu ia hanya menemukan selembar sapu tangan berwarna merah muda bertuliskan nama Airin yang dirajut dengan benant emas.
Cepat- cepat mbak Yul memasukkan benda itu kembali dengan racauan dan dumelan karena sang tuan menyimpan barang Airin didalam lemarinya.
Ia tidak suka dengan perempuan yang bernama Airin itu. Gayanya selangit dan sombongnya berbukit- bukit.
Tidak ada yang harus dikerjakan dari kamar itu, mbak Yul turun kembali kelantai bawah merenung disana teringat olehnya dengan Laras. Bagaimana kabar anak itu sekarang?
Hari itu mbak Yul tidak ingin ngapa-ngapain ia banyak melamun kalau tidak ingat dengan sang tuan yang akan pulang mungkin ia akan didalam kamar saja seharian.
Sore menjelang malan terdengar tawa renyah dari depan rumah, suara laki-laki dan perempuan. Pintu rumah terbuka lebar dan pasangan yang tengah berbahagia itu masuk.
Wajah mbak Yul langsung berubah melihat perempuan yang bersama Nabil. Istrinya entah dimana sang tuan malah asyik bersama mantan, mantankan namanya kalau sudah jadi masalalu?.
"Aku keatas dulu, mandi ganti baju" Nabil minta izin pada Airin dengan mesra. Tidak ada lagi hari bagi mereka selain mesra-mesraan kayaknya.
"Cepetan ya, ntar aku kangen"
"Mau ikut?"
__ADS_1
"Boleh"
"Eh jangan, tahan dulu okey"
"Ih mana tahan"
HOEEK! ingin rasanya mbak Yul mencari kantong kresek untuk tampungan muntahnya.
Nabil kelantai atas dan Airin duduk santai disofa menunggu nabil sambil main ponsel. Kuku merahnya mencengkeram ponsel kayak kuku habis mencakar pikir mbak Yul.
"Ngapain kamu lihat aku kayak gitu?" tanya Airin dengan dahi berkerut pada mbak Yul.
"Eh tidak apa-apa nona" balas mbak Yul.
"Mata kamu kayak menjudge saja, sana kerjakan kerja kamu sebentar lagi Nabil makan malam, persiapkan!"
"Iya nona"
Dengan patuh mbak Yul melakukan apa yang disuruh Airin tapi dalam hati mendongkol habis.
Perempuan cantik itu titisan mbak lampir yang hadir kembali setelah operasi plastik dan menggaet suami adiknya sendiri. Mbak Yul memaki dalam hati.
Tuan Nabil sangat patuh pada Airin mungkin mandinya mandi kilat dan kebawah dengan pakaian yang sangat formal. Lucu saja dimata mbak Yul, selama didepan Laras sang tuan sangat jauh berbeda seperti menjadi dirinya sendiri.
Wajah pria itu sangat datar tanpa ekspresi. Airin menyambut Nabil dengan senyuman manisnya.
"Jalan sekarang?"
"Kamu tidak makan dulu? mbak Yul sudah menyiapkan makan malam"
"Aku tidak lapar, aku temani kamu saja ya"
Nabil yang akhir-akhir ini biasa makan dirumah tidak sempat untuk singgah dijalan. Dari kantor langsung pulang dan menu kantor juga tidak lagi mengenyangkan baginya. Ia lebih suka nasi dan sambal ahir-akhir ini.
Tadi Airin menyamperinya kekantor mengajak jalan. Ia tidak menolak meski persoalannya dengan Laras belum selesai. Ia menilai masalahnya dengan Laras tidaklah begitu besar.
Pria itu duduk dimeja makan dan wajah datarnya makin kentara. Ia menggeleng mengusir bayangan perempuan nakal dan kadang bawel yang tiba-tiba hadir dalam otaknya. Ruangan yang biasanya bergema heboh sekarang terasa sunyi.
"Silahkan tuan" suara mbak Yul membuyarkan segalanya.
Mbak Yul mengambilkan nasi dan sayuran untuk nabil kepiring dan Airin menamaninya disamping pria itu.
baru saja nasi itu masuk kemulutnya mendadak selera makannya menjadi hilang dan perutnya kenyang tiba-tiba.
"Ayo kita pergi" ajaknya pada Airin.
"Lho tuan kok gak jadi makan apa masakan mbak Yul gak enak?"
"Aku gak jadi lapar" ujar nabil seenaknya tidak peduli wajah mbak Yul lagi sedih karena suasana hatinya tiba-tiba memburuk.
__ADS_1