
Nabil kembali menyamperi Airin kerumah mertuanya. Hanya Riyanto yang ada disana dan ia mempersilahkan Nabil masuk.
Ia menjumpai Airin sedang menangis didalam kamar. Entah mengapa Nabil canggung masuk kesana. Langkahnya maju mundur akhirnya ia berdiri dipintu.
"Rin, ini aku!"
Begitu mendengar suara Nabil, Airin langsung bangkit dari tidurnya. Mata perempuan itu sembab karena menangis terus menerus.
"Nabil!"
Airin berlari kepintu dimana Nabil berada dan memeluknya erat.
"Aku kira kamu tidak akan kembali lagi ke sisi aku"
Nabil tersenyum pahit.
"Aku takut, kamu meninggalkan aku! jika kamu pergi dari aku, aku lebih baik mati bunuh diri"
"Ssst" Nabil menenangkan Airin yang bersandar didadanya "tolong, jangan bicara hal ini dulu"
"Kenapa? apa kamu membuang aku?"
Nabil menggeleng.
"Kita tuntaskan dulu siapa yang menyekap kamu, kasih tau aku dimana cirinya daerahnya" Nabil melepaskan pelukan Airin dengan lembut kalau tidak pasti perempuan itu tersinggung "aku bersumpah akan mematahkan leher orang itu" urat leher Nabil menegang, gara-gara itu hidupnya berantakan terjebak antara adik dan kakak.
"Aku tidak tau itu dimana, mereka menyekap aku disebuah gudang,...dijaga banyak preman, ah aku tidak tau apa itu preman atau bukan tapi mereka memanggil dengan sebutan bos"
"Apa kamu melihat orangnya?"
"Tidak, mata aku selalu ditutupi kain" Airin mengingat film penculikan dan menyebutkannya "orang itu.....dia,....melecehkan aku.....aku takut " Airin membenamkan wajahnya di dada Nabil.
Darah nabil langsung bergejolak hebat, beraninya tangan kotor jahanam itu menyentuh Airin. Tak akan ia ampuni, ia bersumpah akan membuat laki-laki itu menyesal. Nabil mengenggam tinjunya erat sampai buku tangannya memutih.
"Coba kamu ingat, gudang itu arah kemana? kamu pasti ingat sebelum kamu lari dari sana"
"Dari sana" Airin menunjuk arah ke Barat, asal.
__ADS_1
Tidak sabar Nabil ingin menghancurkan tempat itu seketika dan membawa bajingan itu keneraka. Ia mengusap rambut Airin.
"Ya sudah kamu istirahatlah kembali, aku.."
"Tidak Nabil, kita baru saja ketemu, aku tidak akan melepaskan kamu, aku rindu...disini dulu ya? atau aku akan kerumah kita" potong Airin sambil memegang tangan Nabil erat.
"Posisinya sangat sulit,..."
"Laras pasti ngerti, dia adalah anak yang baik, dia pasti akan mendukung kita, please! kita mulai dari awal lagi ya?" Airin merengek manja. Inilah yang paling tidak tahan bagi Nabil menolak apa saja yang Airin mau. Tapi bagaimana dengan Laras?
"Aku bilang papa, papa membela cinta kita, aku berjanji akan menjadi istri yang baik buat kamu" Airin penuh harap pada Nabil.
"Aku tidak ingin membicarakan ini dulu Rin, aku ingin membalas orang yang telah membuat kamu menderita, aku akan cari orang itu sampai neraka sekalipun, kamu istirahat dulu ya" Nabil membujuk gadis itu lembut.
Airin patuh dan mengangguk "setelah itu kamu kesini lagi kan?"
Nabil tidak bergeming.
"Jawab!" air mata Airin kembali tercurah dan membuat Nabil lemah. Pria itu mengangguk.
"Ya aku janji"
Dengan berat hati Airin melepaskan Nabil pergi kembali. Ia mengantar Nabil sampai kemobil dan kembali berpelukan erat. Bagi mereka ini dulunya biasa tapi sekarang ada penghalang tapi sekarang mereka lupa penghalang itu. Mereka melupakan ada seseorang diantara mereka.
Amoy yang melihat hal itu kembali menggelengkan kepala. Sang tuan sudah keterlaluan. Nona Laras sangat baik dan juga cantik sebagai suami tidak harusnya sang tuan menyakiti nona Laras. Dibanding Airin, Laras jauh lebih cantik dan baik. Tapi itu hanyalah penilaian Amoy saja. Kenyataannya Amoy tidak berani bersuara.
Airin melambaikan tangan melepaskan kepergian Nabil. Setelah mobil pria itu jauh ia menghapus air matanya. Senyumannya merekah sempurna. Ternyata meyakinkan Nabil itu sangat mudah dan pria itu masih sangat mencintainya. Ini adalah hal yang bagus untuk dirinya sendiri. Bosan ia disini, ia ingin pergi dari rumah itu setelah mengetahui siapa dirinya.
Sementara itu Nabil memerintahkan Amoy untuk mencari data apa yang diucapkan Airin tadi.
"Selidiki kelompok yang bertempat dibagian Barat"
"Barat?" dahi Amoy mengerut. Selidiki saja tidaklah cukup, harus ada bukti yang mengarah kesana. Amoy yang sangat patuh langsung melaksanakan perintah Nabil.
Tiba-tiba Nabil ingat sesuatu. Disana adalah tempat musuh perusahaannya, apa orang itu yang membuat ulah dan menculik Airin. Memang kejadiannya sudah lama, sekitar tiga tahun lalu tapi siapa dendam itu masih ada.
Dengan cepat ia menelpon papanya untuk bertanya sekaligus mengasih uraian.
__ADS_1
"Papa ingat dengan Dinar coprotion?"
"Ya, terus ada apa?" tanya Hendra dari seberang sana.
"Aku ingin menyelidikinya"
"Kenapa? masalah kita dengan mereka sudah beres jangan diungkit lagi'
"Kita memang sudah pa, tapi mereka? berkemungkinan besar merekalah yang menculik Airin karena Airin bilang ia disekap di sebuah gudang dari arah sana, aku tidak akan tinggal diam jika itu mereka , aku pasti akan balas dendam"
"Jangan gegabah, Dinar itu sangat kuat, dia terlibat dalam penyeludupan ilegal, kamu tau artinyakan? mereka tidak ubahnya seperti bandit"
"Seberapa kuat mereka dengan para anak buah kita"
"Mungkin sama bedanya mereka tidak punya hati"
"Aku butuh anak buah dua kali lipat dari mereka"
Nabil memutuskan panggilan. Awalnya ia akan menyelidiki dulu tapi emosinya tidak bisa berkompromi, teringat olehnya cerita Airin dan emosinya menjadi tidak terkendali.
"Aku rasa bukan Dinar coprotion tuan, mereka tidak akan melanggar apa yang mereka buat, mereka memang jahat tapi mereka menghormati leluhur, mereka tidak akan melangar sumpah seseorang yang sudah meninggal" cetus Amoy setelah menganalisa permasalahan perusahaan Nabil dengan Dinar dan juga mempelajari watak perusahaan tersebut. Dua tahun lalu pemimpin Dinar coprotion yaitu almarhum Tedja, pemilik perusahaan itu menandatangai surat perjanjian dengan hendra dan Nabil agar kedua belah pihak tidak lagi saling memusuhi dan serang menyerang dalam kepolitikan perusahaan. Setahun kemudian Tedja meninggal dan digantikan oleh putranya. Dalam adat dan budaya leluhur keluarga itu pantang bagi mereka melanggar janji.
Nabil terlalu keras kepala. Ia tidak menerima ucapan bodoh Amoy. Malam itu juga ia langsung membawa sejumlah anak buah kegedung utama perusahaan Dinar dan mengobrak-abrik itu sebagai pemancing agar pemilik perusahaan itu menampakkan wajah.
Amoy menanyakan semua karyawan disana dengan galak. Pria itu tidak segan-segan menciderai bagi siapa saja yang melawan.
"Mana pemilik perusahaan kalian? katakan!!!" tanya Amoy dengan nada tinggi. Amoy yang pendiam dan kalem jika sudah berada dalam tugas sikapnya berubah menjadi mengerikan.
"Kenapa anda mencari dia?"
Seorang pria seumuran Amoy datang kesana dengan langkah santai dengan tangan dimasukkan kedalam saku.
"Kami ada urusan dengan mereka!!"
"Orang tuaku pergi ke Cina tahun lalu dan belum kembali, katakan saja pada saya" ujar pria itu tenang.
"Jadi anda orangnya? tuan saya ingin bertemu anda"
__ADS_1