
Laras dan Nabil duduk saling berhadapan, sementara dimeja lain tampak Amoy dan sopir Nabil duduk berdua. Kenapa tadi Laras tidak melihat mereka padahal Amoy duduknya dekat pintu. Sekarang ia terjebak duduk didepan suaminya sendiri disaat ia bersama pria lain. Nabil yang memang memandang Laras rendahan memasang wajah sinis.
Laras lupa caranya untuk menyapa. Lidahnya kelu dengan keringat membanjiri dahinya. Cinta itu ada tapi pada dirinya makanya ia merasa bersalah dengan hal ini. Harusnya ia tidak ikut Benz kesini.
"Benz, aku tidak lapar,..aku duluan ya" Laras bangkit dari sana tapi dengan cepat Benz menarik tangan gadis itu untuk kembali duduk.
"Duluan kemana? he Ras, kamu gak boleh pergi sebelum makan lihat wajah kamu pucet bangat nanti kamu sakit Ras"
"Biasanya kalau cewek kaya gitu ada sesuatu yang disembunyikan" sela Nabil pedas. laras yang meronta melepaskan tangannya dari Benz terdiam.
"Sory, bukan saya ingin ikut campur, kenalkan saya Nabil" Nabil mengulurkan tangan pada Laras. Apa maksudnya ini? pria ini tidak kenal dengan Laras gitu maksudnya?
Laras mencoba menerka-nerka dan dengan bodohnya ia membalas uluran tangan itu dengan gerakan kaku Laras membalas uluran tangan itu. Jari-jari Laras terjepit sejenak diantara tangan Nabil. Wajah pria itu penuh seringai.
"Wajah anda sangat polos nona, anda pastinya perempuan yang baik dan jujur" ujar Nabil seperti seorang peramal jitu tapi aslinya ia menyindir.
"Saya jujur kok...." jawab Laras gugup. Alis Nabil terangkat keatas.
"...saya jujur pada diri saya sendiri" sambung Laras.
"Oke, terserah kamu nona,...saya tidak ada urusannya denganmu, karena kamu bukan siapa-siapa saya"
Mata Laras memerah, gini amat ya punya suami. bahkan bertemu ditempat ramaipun masih menjadi orang asing. Dirinya tidak berharap untuk dicemburui tapi setidaknya jangan begini. Tunjukkan sedikit saja kalau pria itu memilikinya.
"Dia memang bukan siapa-siapa kak Nabil tapi dia adalah teman saya mungkin juga menjadi teman hidup saya kelak" Benz mengedipkan matanya pada Laras. Ia memainkan boneka kodok ditangan Laras tanpa menyadari wajah pria didepannya sudah seperti singa yang siap dengan cakarannya. Posisi Laras makin salah oleh ucapan Benz barusan.
"Apa kita cari kodoknya satu lagi ya satu lagi ya biar couple, ntar kita beli satu lagi ya biar sama"
"Kodok seperti itu banyak di got, kalau tidak percaya bawa pacar kamu kesana dia pasti senang" sela Nabil. Suara pria itu terdengar dingin sedingin wajahnya. Ini bukan cemburu atau apapun namanya ia hanya mengejek gadis itu, tidak lebih.
Laras mengangkat kepalanya memberanikan diri melihat kepria didepannya dengan rasa bersalah. Ia sadar posisi tapi yang memposisikannyalah yang tidak pernah sadar.
__ADS_1
"Tumben makan keluar? dikampus kamu tidak ada makanan enak?" tanya Prawira pada putranya.
"Sekali-kali bawa Laras keluar pa"
Kepala Laras yang tertunduk diam-diam melihat kedepannya dimana Nabil duduk. Pria itu kembali berbincang santai dengan Prawira.
"Bagaimana kabar keluarga kamu Nabil? kabar istri kamu, siapa namanya... aku lupa, dia seorang model kan? siapa namanya?"
"Airin" jawab Nabil pendek.
"Oh ya Airin, dia sangat cantik! pak Nabil bahagia mendapatkan istri cantik pantas akhir-akhir ini pak Nabil jarang makan keluar biasanya kita sering ketemu di restorant dekat sini karena selera kita hampir sama"
Telinga Laras mendengar baik-baik antara baper dan sakit hati. Istri Nabil itu kan dia bukan Airin kenapa Nabil tidak mau mengakui. Apa dia sedemikian norak hingga tidak diakui didepan umum. Dan baiknya, ternyata Nabil sering makan diluar dan akhir-akhir ini ia jarang keluar. Ada kebaperan dikit yang dirasakan oleh Laras karena dia yang memasak untuk Nabil.
"Bukan begitu pak, saya memiliki seorang pembantu yang sudah dibayar mahal agar makanan dirumah terjaga tapi rupanya pekerjaannya tidak becus tadi pagi pembantu saya menghilang begitu saja tanpa melakukan tanggung jawabnya"
Asli, Laras tersindir sekali dengan ucapan Nabil karena tadi pagi ia tidak sempat memasak karena telat bangun. pria itu juga telah pergi duluan.
"Apa yang dibilang Benz betul, sekali-kali kita pria masakin perempuan dia pasti senang sekali, kita yang sekali-kali membantunya memasak dibilangnya cinta apalagi dia yang memasak tiap hari untuk kita, cintanya sangat luar biasa" cetus pria teman Prawira.
Wajah Nabil berubah, ia berdehem sebelum akhirnya ia menangkis ucapan itu "kalau aku mencintai seorang peempuan, dia tidak akan aku buat untuk capek dengan hal yang begituan"
"Kak nabil sweet juga, tapi itukan beda cara untuk mengambil hati perempuan" balas Benz.
Seorang uda-uda mengantar makanan kesana dengan susunan piring ditangannya. Dengan cekatan ia menata beragam jenis sambal dimeja. Benz mengambil makanan untuk Laras kepiring. Ia juga minta teh manis pada uda pelayan tersebut.
Nabil meletakkan sejumlah uang dimeja lalu permisi "maaf pak Prawira, saya ada urusan lain kali kita bertemu"
"Lho Nabil kamu tidak makan dulu"
"Tidak pak Prawira,..oh ya Benz kalau kalian menikah jangan lupa undang aku, aku akan turut bahagia kalau kalian menikah" mata Nabil melihat tajam pada Laras.
__ADS_1
"Tentu kak Nabil, kak Nabil tenang saja" balas Benz dengan tawa karena telah menggoda Laras dan wajah gadis itu bersemu merah.
Nabil menghentak jalan dari sana. Tidak lama kemudian Laras juga permisi. Ia mengejar Nabil sampai kemobil.
"Kak Nabil! tunggu!" ia menghadang langkah Nabil yang hendak masuk kedalam mobil.
"Aku dan dia hanya teman"
"Kamu kira aku peduli?"
"Aku hanya mengasih tau"
"Dan aku tidak mau tau apapun tentang dirimu, minggir!"
"Tidak! aku tidak akan minggir! aku ingin bertanya, apakah kakak marah?"
"Saya marah? marah kenapa? karena kamu bersama pria lain? kamu dengar! kamu tidak ada dihatiku jadi apapun menyangkut masalah kamu bukan urusan aku" Suara Nabil terdengar dingin dan geraham mengeras
"Aku tidak peduli kakak marah atau benci, aku minta maaf karena aku menghargai kamu kak"
"Menghargai sebagai apa?"
"Suami aku"
"Suami? itu hanya sematan sementara jadi jangan terlalu diambil pusint karena kamu sebagai istriku juga demikian, maaf tidak ada tempat untukmu di hati aku"
Nabil berlalu melewati Laras yang membeku.
Amoy membukakan pintu untuk Nabil dan sebelum pergi pria itu melihat ke Laras. Ingin menyapa gadis itu, Laras adalah gadis yang baik tapi kemudian ia sadar posisi.
Mobil itu berlalu meninggalkan pelataran restorant. Ingin rasanya Laras mengejar pria itu dan minta dikembalikan hati yang telah ia curi dan semua hal yang sudah direnggut oleh pria itu.
__ADS_1