Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
sebuah pilihan


__ADS_3

"Putramu dalam pengawasan kami, dia akan aman kalau kamu bekerja dengan baik"


Laras melihat video yang dikirim padanya lewat PC. Terlihat Alan sedang bermain dikolam renang. Didepan Laras ada sejumlah pria memakai kaos hitam mengelilinginya menyaksikan reaksi Laras. Sudah semalaman ia dan Alan dipisahkan. Laras selalu dipindahkan dalam jangka beberapa waktu. Seperti menghindari pengejaran.


"Kau tau nona? dia bisa saja tenggelam disini dan mengapung pada keesokan hari, dia akan menjadi bocah malang, berita-berita akan menyalahkan anda karena lalai menjaga seorang bocah"


Suara pria tanpa wajah itu mengoceh dan mendekatkan kamera pada Alan dan menyapanya. Putranya terlihat sangat riang apalagi orang itu mengatakan kalau Laras pergi berlibur untuk sementara waktu. Bocah itu manut dalam pikirannya sang ibu pergi bersenang-senang jadi ia tidak usah sedih. Apalagi pria itu mengasih mainan yang banyak pada Alan.


"Aku tidak mengerti mengapa kau menyuruh aku? bukankah kalian punya kekuasaan?" tanya Laras geram. Seandainya orang itu ada dihapannya maka ia bersumpah akan menyumpal mulutnya dengan sandal.


"Jangan marah nona, aku hanya butuh sedikit bantuanmu, laksanakan tugasmu dan tanda tangani surat yang ada dimeja itu"


Laras melirik surat yang ada didekatnya. Ada aset atas nama dirinya. Laras heran sejak kapan ia kaya? Laras memeriksa bagian paling atas tumupukan kertas itu. Tertera nama Nata yang mengasihkan semua kekayaan untuknya. Laras mengambil pulpen yang ada didekatnya dengan ragu. Semua ini tidak mungkin secara cuma-cuma.


"Disini cuma tentang harta bukan untuk menggantikannya menjadi mafia" Laras memastikan penghilahatannya.


"Memang benar nona, tapi kami tidak rela kalau kau hanya dapat harta tanpa perjuangan"


"Aku tidak ingin apapun! kembalikan anakku!!"


"Tidak bisa, yang punya punya permainan adalah saya dan kau adalah bidaknya, kau hanya bisa memilih mundur tanpa putramu atau kau jalani itu"


"Apa kau pria pengecut? kau ingin aku menggantikan Nata?" kau jangan bercanda!!!" Laras menggebrak meja dengan emosi. Orang itu ingin main-main dengannya "Aku bukan orang yang kau maksud? aku hanyalah seorang perempuan ibu rumah tangga, kau gila!!"


"Justru karena itu aku suka padamu nona, kau pasti bisa! aku yakin itu, sekali tepuk maka banyak lalat akan mati ditanganmu"


Laras mematikan PC didepannya dengan geram. Pria itu pasti pria tidak waras, ada banyak tapi tidak lama kemudian terdengar suar pekikan Alan yang dikirim lewat kabel telepon didekatnya. Laras menahan emosinya. Alan adalah segalanya baginya. Demi Alan ia akan melakukan apa saja termasuk menghabisi pria itu.


"Apa mau anda???!!!'


Pria itu tertawa ia berada diatas angin.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kau tandatangani yang ada didepanmu dan dapatkan apa yang aku maksud"


"Mengapa tidak kau saja??? ambil semua yang kau mau!!"


Pria itu tertawa keras, Laras mencabut gagang telepon itu sampai putus.


"Kalian tau siapa pria itu?" tanya Laras pada para pria didepannya. Semuanya menggeleng. Tapi wajah mereka mencurigakan. Para pria itu pasti bohong. Tubuh mereka kekar dan juga terlatih tapi sepertinya mereka masih berada di bawah kekuasaan seseorang.


***


Rumah bercat putih dekat persimpangan jalan dekat kota berdiri kokoh menghadap ke Timur. Halamannya sangat luas dan tertata rapi layaknya sebuah rumah hunian. Tapi didalamnya tidak ada yang menyangka kalau isinya hanyalah segerombolan manusia yang sedang menyusun rencana. Tidak ada bawang mewah didalamnya dan tidak ada pula yang berharga selain layar komputer untuk mencuri data.


Nabil sampai dirumah itu dan mengepung. Setelah lebih dari sehari semalam akhirnya pengejarannya berhasil. Ia yakin Laras dan Alan disekap disana.


Para anak buah Nabil menghajar semua penjaga rumah itu. Pria itu menyusup kedalam untuk mencari Laras dan Alan.


Ia menghajar siapa saja yang menghalanginya.


Seorang wanita berambut pendek memakai jaket kulit turun ditangga dan ia mengarahkan pistol ke Nabil. Wanita itu tampak cantik dan angkuh. Seringainya pun sangat menakutkan sekaligus bikin penasaran.


Langkah Nabil terhenti ia kaget karena perempuan itu adalah Laras.


"Ras, kamu gak apa-apa kan?" Nabil menyamperi Laras tapi perempuan itu geram ia melepaskan tembakan ke lantai dekat kaki Nabil.


"Sudah aku bilang berhenti, apa kau tuli?"


Nabil memejamkan mata dan menghembuskan nafas. Drama apalagi ini? mengapa Laras berubah dalam jangka tidak sampai dua hari?


Nabil melihat ada banyak cctv tersembunyi dekat mereka. Berarti mereka diawasi. Apalagi ada earpehone di telinga Laras. Bukan tidak mungkin Laras tidak dikendalikan untuk membersihkan nama mereka.


"Kau datang tepat waktu, jadi aku tidak perlu lagi bersusah payah mencari mu" Laras berkata angkuh ia memutar pistol ditangannya. Nabil memperhatikan itu. Laras cepat belajar dan ia lumayan pintar untuk menguasai hal ini.

__ADS_1


"Untuk apa kamu mencari aku, kangen?"


"Iya, aku kangen untuk menghabisimu!" balas Laras sinis.


"Kau suka aku?"


"Apa maksudmu?!!!" tanya Laras tidak terima dibilang suka pada Nabil. Dirinya menyembunyikan kepanikannya.


"Kamu jangan tersinggung, katamu kamu ingin menghabiskan aku, suka dong berarti ya! kamu boleh menghabisi aku dengan syarat kamu yang gigit" Nabil sengaja bermain-main, ia mencari celah untuk melepaskan Laras dan mencari dimana Alan.


Laras menekan telinganya, dengungan suara di seberang sana menggaung hebat ditelinganya. Di seberang sana pria itu seperti suporter yang menginginkan pemainnya gol secepatnya. Laras tidak mengerti mengapa Nabil tidak pergi sana padahal nyawanya sedang terancam.


"Aku tidak suka kau, pergi! "usir Laras.


lagi, telinga Laras berdengung kali ini bersamaan dengan teriakan Alan yang memanggilnya.


"Kamu cantik Ras, kamu seperti super woman"


Tidak bisakah Nabil menjaga ucapannya disaat genting seperti ini. Jantung Laras makin tidak tenang dibuatnya. Bagimana caranya bagi Laras untuk menyelamatkan mereka secara bersamaan. Laras tidak punya daya sama sekali.


"Kamu itu pria macam apa? pria pengecut yang hanya bisa bikin orang lain sakit hati, harusnya kamu mati" Laras melepaskan tembakan ke salah seorang pria anak buah Nabil. Dalam hati Nabil ia memuji Laras yang tepat sasaran tapi perempuan itu masih punya nurani. Ia hanya melukai sedikit tanpa berniat untuk melumpuhkan. Jika Laras berada di arena maka akan sangat berbahaya. Bisa saja keselamatan Laras terancam.


Tidak ada waktumu untuk bercanda nona, habisi dia sekarang juga!


Tangan Laras gemetar untuk mengangkat senjata. Ia tidak tau ada masalah apa antara Nabil dengan orang ini karena Nabil adalah salah satu targetnya.


"Aku tau Ras, kamu tidak menyukai aku, aku banyak salah pada kamu, tapi tidak harus begini ras, aku mohon jatuhkan senjata ditanganmu"


Pekikan Alan menyayat hati, Laras tidak tau apa yang dilalukan mereka pada Alan.


"Maaf!!"

__ADS_1


Laras menarik pelatuk sebuah tembakan menggelegar ditempat itu.


__ADS_2