
Tepisan tangan Nata hanya Laras dan Nata yang tau. Sedangkan Nabil dan Airin mengartikan itu adalah sikap pencemburu dan sensitif.
Hal itu membuat Nabil gerah. Ia melihat tajam ketangan Nata ingin rasanya ia mematahkan tangan Nata saat itu juga.
"Kau masih ingat denganku nona?" tanya Nata tidak menyerah meskipun setelah ini Laras akan memarahinya.
Airin menggeleng dengan dahi berkerut tujuh.
"Coba anda pikirkan lagi, atau tanya sama kekasih anda...atau suami anda itu nona" Nata memaksa Airin untuk berpikir. Kalau bukan karena Nabil yang menghajarnya duluan maka ia tidak akan nyaris membunuh Laras dan itu semua konon katanya demi perempuan yang bernama Airin. Perempuan yang sekarang berdiri dihadapannya.
"Aku tidak kenal kamu, memangnya kamu siapa?" tanya Airin memastikan bahwa ia tidak kenal Nata.
"Lucu sekali" Nata tertawa mengandung seringaian melihat ke Nabil.
"Tidak ada yang lucu, aku ingat! tapi jangan harap aku minta maaf!" ujar Nabil "sampai kapanpun tidak, cam kan itu! kalau kamu merasa tidak senang, ayo selesaikan!"
"Aku juga tidak berharap kata maaf karena kata itu tidak ada dalam kamusku kecuali untuk satu orang, Laras" balas Nata "aku tidak peduli pada perempuan manapun tapi asal kau tau, aku tidak akan terima perempuanku disakiti, meskipun oleh siapapun itu"
"Apaan sih! stop!" Laras berdiri ditengah Nata dan Nabil. Kedua pria ini maunya apa sih? mau berantem gitu?
"Minggir Ras, menjauh darinya" peringat Nabil ia menarik tangan Laras untuk tidak mendekat pada Nata.
"Lepaskan apa-apaan sih? kamu siapa?" tanya Laras marah. Enak saja menarik dirinya begitu saja. Memangnya dia akan menuruti kata Nabil begitu saja. Tidak, ia bukan perempuan bodoh yang tertipu untuk kedua kalinya.
Nabil gregetan, Laras bertanya padanya siapa dirinya? haruskah ia katakan kalau dirinya adalah pria yang tersesat karena seorang gadis belia yang manis dan setelah dewasa ia mencari gadis itu kembali tapi ia salah orang.
Nata tertawa penuh kemenangan karena Laras marah pada Nabil "rasakan! kamu kira wanitaku adalah wanita rendahan"
Nata merangkul Laras ke dekapannya. Untung saja tangan itu tidak kena gigitan Laras. Meskipun begitu reaksi Nata membuahkan hasil. ia berhasil menghalau lalat didepannya.
Nabil menggendong Kirana pergi dari sana duluan diikuti Airin.
"Kak kita perlu bicara!" teriak Laras.
Airin tidak menyahut menolehpun tidak. Perempuan itu melangkah buru-buru mengimbangi langkah kaki Nabil yang panjang. Airin sengaja menghindar dari Laras.
__ADS_1
Laras melihat sang kakak dan Nabil sampai menghilang dikeramaian. Ada rasa kecewa yang teramat sangat pada Nabil dan Airin meskipun begitu ia tidak bisa benci pada kakaknya.
"Nabil ternyata sudah bahagia dengan kakak kamu ya, kakak yang bernama Airin itu" Nata menekankan nama Airin seperti seorang target locket yang siap dengan sasarannya.
"Jangan pernah kau berpikir macam-macam!' ancam Laras.
"Tergantung, kalau dia macam-macam akan aku habisi"
"Coba saja, maka aku akan bersumpah akan merenggut nyawa kamu juga"
"Kakak seperti itu ngapain di bela akan bikin kamu susah"
"Aku mikir, kalau kamu itu ke aku hanyalah main-main"
Laras marah lagi. Nata jadi salah tingkah ia begitu karena sayang sama Laras.
"Bukan begitu Ras, eh!" Nata mengejar Laras sambil menggendong Alan. Laras tidak peduli. Ia benar-benar kesal pada Nata.
"LARAS AKU MINTA MAAF!!!"
Semua orang dekat mereka menoleh pada mereka
***
"Apa anak laki-laki itu adalah anak Laras dan pria itu?" tanya Airin ketika mereka agak jauh dari Laras. Mereka turun kelantai bawah mall dan menyusuri gerai makanan. Dulu Airin suka sekali belanja makanan dan Nabil akan mengikuti apa yang ia mau. Sekarang ia ingin seperti dulu tapi tidak tau caranya bagaimana karena Nabil menutup akses pendekatan yang ia tawarkan.
"Laras adik kamu kenapa tanya sama aku?" balas Nabil.
"Aku dan Laras baru sebentar ketemu, aku tidak tau"
"Memangnya aku tau?" suara Nabil meninggi.
"Siapa tau , tidak usah marah juga kalii"
Nabil diam tapi tidak merubah apapun. Sebaliknya Airin yang kehilangan cara. Ia terus mengikuti langkah Nabil yang mengarah ke parkiran dan sesampai disana pria itu masuk kemobilnya lalu pulang.
__ADS_1
Airin duduk disebelah Nabil bersama Kirana
"Aku rasa sebaiknya orang tua Arga tau tentang Kirana, dia akan lebih aman disana" Nabil mengasih saran pada Airin ketika mobil sudah jalan dijalan raya.
"Menyerahkan kekeluarga Arga? tidak! aku yang berjuang sendirian melahirkan Kira dan membesarkannya, kamu kira aku mau...kalau kamu merasa tebebani tidak begini juga caranya Bil, aku lebih percaya kamu dari pada mereka"
"Ya sudah terserah kamu, aku rasa tanggung jawab aku selesai, putri kamu sudah sembuh"
"Kamu tega? Kirana hampir celaka oleh para preman itu"
"Makanya jadi orang yang baik, jaga sikap! kamu seorang ibu, seorang perempuan! sebelum berbuat sesuatu kamu pikirkan anak kamu dulu" mulut Nabil nyrocos tidak singkron ke otaknya yang lagi panas dan membara. Mau dirinya hanyalah marah-marah dan banting sesuatu saat ini.
"Astaga Bil, kamu kenapa jauh berubah sih? kamu sama seperti mereka! menyakiti aku! kalau bukan karena keluarga mereka mama aku tidak akan meninggal"
"Kamu melihat keluarga kamu dari sisi mana sih? kamu tidak ingat kalau kamu itu adalah perempuan yang tidak baik, mama kamu, papa kamu dan Laras semuanya memprioritaskan kamu, kamu saja yang tidak tau diri"
"STOP!!!"
Airin berteriak kencang dan Nabil menghentikan mobilnya seketika. Ia hafal Airin, kalau bertengkar langsung minta turun.
"Ayo Kira kita turun" Airin menarik anaknya dengan kasar. Karena kaget dan kesakitan gadis kecil itu langsung menangis minta pertolongan pada Nabil.
Nabil menghembuskan nafas mensatabilkan emosi yang sudah di ubun-ubun. Ia tidak tega mendengar tangisan gadis kecil itu, ia meraih Kirana dari Airin.
"Sudah! kamu jangan paksa dia, masuk!!" suara Nabil menggelegar.
"Kamu bukan siapa-siapa aku!"
"Memang bukan! apa yang kamu harapkan dari aku? untuk seperti dulu lagi? kau tidak ingat kau selingkuh dengan teman aku sendiri? kau harusnya sadar! kalau kau wanita normal kau pasti malu menunjukkan wajahmu didepan aku! aku mengorban segalanya untuk kamu, tapi apa basalan kamu?"
"Kau munafik, kau bohong!! kau hanya terobsesi pada cinta pertama kamu!" balas Airin sengit "kau lihat cinta mu itu? dia telah bahagia dengan pria lain, kau saja yang bodoh tidak bisa move on!"
Nabil terhenyak dalam hati karena ucapan Airin. Harusnya ia dan Airin tidak membahas masa lalu mereka karena tidak guna. Hatinya pun sudah menjauh. Harusnya ia memaafkan masa lalunya bersama Airin karena tidak semua mantan berakhir buruk. Mungkin dengan pelan mereka akan sama-sama melepaskan ingatan itu.
Air mata Airin sudah merembes dipipinya. Rasanya sakit ketika Nabil mengasarinya seperti ini. Tanpa pikir panjang ia berlari ketengah jalanan yang sedang ramai kendaraan.
__ADS_1
"Airin!!!"
Suara Nabil hilang ditenggorokan.