
Nabil terbangun, kepalanya terasa pusing tapi panasnya sudah turun. Ia merasakan tangannya tangannya menggenggam sesuatu. Dan ketika ia bergerak ia merasakan rambut dekat wajahnya.
Semalam Airin datang dan mengusap kepalanya saat sedang sakit. Rasanya nyaman sekali hingga segala beban rindu selama ini yang ia rasakan terobati. Tapi kenapa sekarang yang ada didekatnya adalah Laras. Ia menguakkan tangan gadis itu dengan kasar. Hingga Laras terbangun, gelagapan.
"Geser sana!"
Laras geser kebelakang.
"Kakak udah mendingan?"
Nabil tidak menjawab melainkan bangkit dari tidurnya.
Mbak Yul dan Amoy muncul di pintu. Ia senang sang tuan sudah bisa bangun dari tempat tidur.
"Tuan mau dibuatkan apa?"
"Airin mana?" tanya Nabil lemah.
"Airin?" dahi mbak Yul mengerut karena tidak pernah melihat kehadiran Airin disana. Kenapa Nabil bertanya padanya.
"Tidak tau tuan" jawab mbak Yul menggeleng.
Mata Nabil sayu, itu berarti semalam ia hanya bermimpi.
"Tuan mau makan apa?" tanya mbak Yul.
"Susu sama roti saja" jawab Nabil pendek.
"Biar aku saja mbak Yul" tawar Laras.
"Aku saja nyonya, nyonya sepertinya kelelelahan" mbak Yul tersenyum hormat. Dan itu membuat Laras kesal. Ia tidak mau disebut sebagai nyonya disana. Amoy mengangguk permisi pada tuan dan sang nyonya berwajah muram itu.
"Kita kerumah sakit ya kak?" ajak Laras.
Nabil menggeleng "aku harus pergi"
"Kakak lagi sakit, kakak mau kemana?"
__ADS_1
Lagi, Nabil tidak menjawab ia beranjak dari sana dan pergi kekamar mandi. Tidak lama kemudian pria itu keluar dari sana dengan keadaan segar dan rapi meskipun bibirnya masih pucat tapi pria itu terlalu memaksakan diri.
"Kalau kamu ingin pulang kerumah kamu silahkan!" ujar Nabil pada Laras, dingin.
"Ingin aku juga begitu kak, tapi kata mama aku harus disini dulu sampai kak Airin datang"
Gadis itu sangat jujur. Ia bertahan karena permintaan orang tuanya demi sang kakak.
"Kakak jangan cemas, aku menganggap kakak sebagai kakakku sendiri, kalau kak Airin datang kakak bakal jadi kakak iparku jadi kakak anggap saja aku adikmu"
"Aku tidak ingin punya adik!"
Meskipun Nabil bicara tanpa maksud tapi ucapan Nabil mengingatkan Laras pada Airin yang sering sengit bicara padanya. Apalagi saat Laras menyampaikan pesan dari orang tua mereka.
Mulai dari kecil, Airin suka main tidak tau waktu dan orang tua mereka yang sibuk bekerja menugaskan Laras untuk menjemput kakaknya maka sang kakak akan marah dan bilang bahwa ia punya adik yang begitu merepotkan. Tidak membiarkan dia bernafas dengan bebas.
Beranjak remaja Laras sering menjemput Airin kerumah teman- temannya dan diskotik. Jika ia tidak berhasil membawa sang kakak pulang maka ia akan kena omel oleh mamanya dan jika ia memaksa maka sang kakak tidak segan- segan memukul dan membullynya bersama teman- temannya.
Laras sering menghabiskan waktu menunggui kakaknya didepan bar sampai Airin pulang dan kakaknya punya alasan pada orang tua mereka. Laras tidak berani bilang pada mama dan papa mereka kemana Airin semalam. Kerlingan mata sang kakak jika dilanggar maka ia akan dapat konsekuensi yaitu kemarahan.
Nabil sudah selesai mandi dan ganti pakaian di walk in closet.
"Kakak sebaiknya jangan kerja deh, lebih baik dirumah istirahat agar kondisi kakak pulih kembali"
Nabil melihat ke Laras datar, anak ini tidak tau kalau ia dirumah maka ia akan ingat Airin terus. Dan dia bisa gila apalagi dirumah itu terdapat banyak foto Airin.
"Memangnya kamu siapa memerintah saya?"
Laras diam, ia tidak memerintah tapi hanya mengasih saran tapi sang tuan itu merasa tersinggung.
Laras mengambil buku- bukunya dan permisi.
Nabil tidak merespon, mau kemanapun gadis itu terserah bukan urusan dia.
Laras berjalan dengan gontai menuruni tangga. Mbak Yul dan Amoy menyapa sang nyonya dengan mengucapkan selamat pagi.
"Selamat pagi juga kak Amoy, mbak Yul"
__ADS_1
"Ayo sarapan dulu nyonya"
"Terima kasih mbak Yul, ayo mabk kita sarapsn bareng, kak Amoy juga"
"Kita udah sarapan nyonya, kebetulan Amoy membeli goreng pisang didepan, lumayan mengingatkan mbak Yul dengan kampung halaman, kalau nyonya mau ada kok buat nyonya" mbak Yul menyodorkan sepiring pisang goreng pada Laras.
"Makasih mbak"
"nyonya pergi saja kuliah ya? selamat belajar nona! belajar yang rajin" ujar mbak Yul.
"Aku anak yang rajin kok, rajin nabung diwarung, rajin minta duit sama rajin minta tolong"
Mbak Yul dan Amoy tertawa.
"Nyonya bisa aja"
Nabil mulai kelantai bawah. Cepat- cepat Laras menghabiskan sarapannya dan buru- buru pergi. Beberapa kali Laras berada dimeja makan dan Nabil tidak mau bergabung dengannya. Pria itu menunggu Laras selesai makan setelah itu barulah ia duduk disana.
"Aku pergi dulu ya kak Amoy, mbak yul"
Diluar ada seorang dua seorang sopir standby disana. Satu untuk mengantar laras dan satu lagi sopir pribadi Nabil.
Seandainya Airin tidak berhianat inilah gambaran kehidupan sang kakak. Cukup bahagia. Nabil rela melakukan apa saja demi dia.
"Ayo neng"
Pak Andi, sopir pribadi Laras membiarkan lamunan Laras. Ia membukakan pintu mobil. Laras masuk kesana dan mengucapkan terima kasih. Ia sangat sopan pada para pekerja dirumah Nabil karena ia tidak terbiasa dilayani sedemikian rupa dirumahnya. Keluarganya memang tidak pernah kekurangan tapi juga tidak berlebihan. Ia terbiasa mandiri sejak kecil.
Dua puluh menit kemudian mobil itu tiba diarea kampus. Pak Andi bergegas membukakan pintu. Dan Laras yang terbiasa kekampus dengan motor menjadi bahan perhatian.
Anak-anak yang hobi membully pada memperhatikan Laras. Setau mereka keluarga Laras biasa-biasa saja tidak kaya dan juga tidak miskin. Tidak mungkin tiba-tiba Laras menjadi orang tajir melintir tiba-tiba diantar oleh mobil mewah kekampus.
Rombongan pembully itu adalah anak-anak kaya yang biasa menguasai kampus dengan kecantikan dan kekayaan. Mereka yang merasa punya saingan baru tidak terima.
Tiga orang cewek itu adalah Prita, Sabila dan Andrea. Yang paling tidak suka adalah Prita, cewek cantik yang suka memakai pakaian mahal kek artis dan berasal dari keluarga kaya raya. Prita makin tidak suka karena seorang pria yang baru saja datang menegur Laras dengan senyuman.
Laras dan pria itu memang akrab akhir-akhir ini. Pria itu adalah Benz, anak jurusan kedokteran yang sama dengan Laras. Benz sangat tampan dan juga dari kalangan berada. Para cewek rela apa saja untuk merebut perhatiannya termasuk Prita, Sabila dan Andrea. Tapi sayang, pria itu lebih akrab dengan Laras anak orang biasa yang juga mempunyai wajah biasa-biasa saja. Entah apa kelebihan seorang Laras yang membuat seorang Benz bisa tertawa berada didekatnya padahal wajah Laras sama sekali tidak lucu.
__ADS_1