Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
mengasih tau


__ADS_3

"AAAAH!!"


Laras memekik ketika pis*u itu hampir mengenai lehernya. Kakinya refleks menendang Nata pas di area kelemahannya. Pria itu terdorong kebelakang dengan lenguhan. Tendangan Laras rasanya tidak main- main.


Para anak buah Nata bersiap ingin menolong tapi masalahnya Nata berhadapan dengan seorang perempuan.


"Pria jelek, kubunuh kau!!" Laras menancapkan pis*u ditangannya ke Nata. Pria itu menyambutnya dan berteriak "kalian!!! apa saja kerja kalian!!"


Nata meringis kesal pada mereka, ia sudah kepayahan tapi mereka masih mematung menontonnya. Percuma ia bayar banyak kalau begini ceritanya.


Barulah para anak buahnya maju menarik Laras kebelakang. Perempuan itu tampak emosi dalam pegangan mereka "lepaskan aku!! ku bunuh tuan kalian!!"


"Sudah nona! sudah!" pisau ditangan Laras direbut pria itu.


"Dia sudah kurang ajar!! lepaskan aku!!" Laras berteriak kalap. Ia mengacungkan tinju pada Nata mirip orang mau tawuran. Anehnya tidak ada yang peduli pada Nata semua anak buahnya membujuk Laras agar tenang padahal tadi ia memerintahkan untuk memonopoli perempuan itu ramai-ramai. Apa mungkin mereka juga tidak berselera pada Laras??


"Keluar!!!"


Nata akhirnya mengusir mereka semua karena percuma ada disana. Para anak buahnya serentak keluar. Tinggallah ia meringis didepan wanita sinis.


"Makanya kau banyak makan agar tidak kurang gizi" ejek Laras.


Nata melihat Laras tajam, tidak tahukah perempuan ini betapa sakitnya senjata andalannya di tendang sedemikian rupa. Apa ingin membuat dirinya imponten?


"Kenapa kau masih disini? keluar!!!" Nata menunjuk pintu mengusir Laras.


"Aku hanya kasihan padamu, kau sendirian disini, siapa tau kau mati tidak ada yang tau! aku dengan senang hati melihat kau mati!"


"Wanita jelek! aku tidak akan mati didapan kamu!!"


"Oh ya! benarkah?"


Nyawa Nata sudah kumpul, ia jengkel dengan perempuan yang banyak bicara seperti Laras. Ia lupa dengan tujuan awalnya. Otaknya kusut seperti benang yang sulit diurai. Ia mendorong Laras keluar dari sana dan menutup pintu.


Bagaimana bisa sigila Nabil punya istri macam itu. Mana ia dituduh lagi.


Nata kembali ke kursinya. Lama ia duduk menenangkan diri sebelum ia membuka laptop dan mempelajari peta yang akan dilewati jalur perairan untuk menyeludupkan barang menuju ke negri tetangga.


Ia bisa meraup untung milyaran rupiah setiap bergerak dan ini adalah bisnis yang menjanjikan. Ia bisa membangun mart di luar negri dan menambah asetnya.

__ADS_1


tok! tok! tok! tok!


Nata melirik kepintu, siapa yang usil mengetuk sedemikian rupa? tidak mungkin anak buahnya. Sebelum ia mempersilahkan masuk, dan benar saja si perempuan jelek itu muncul dengan cengiran bahagia seolah lupa kalau dirinya disana siapa.


"Tuan, bisakah aku menginap disalah satu kamar? dua hari anak buahmu menyiksa aku, kamu harus menebus kelasahan mereka sama aku"


Nata menyadari jika berhadapan dengan perempuan ini semua kemampuan adu mulutnya harus bekerja ekstra.


"Memangnya kamu siapa disini sehingga kamu di sambut dengan layak? kau itu umpan hewan peliharaan aku!!"


"Tidak bisakah kau tidak teriak-teriak? apa pita suara kamu tidak akan rusak karenanya? tolong kondisikan suara kamu dengan tubuh kamu yang....."


"Kau mengejek aku kurus lagi?"


"Aku hanya berkata jujur! kejujuran itu sangat mahal"


"Tidur dikandang hewan dilantai bawah" ujar Nata berang. Yang diberanginya hanya berwajah datar mirip orang yang tidak berdosa.


"Mata anda bermasalah tuan, anda tidak bisa membedakan mana yang manusia dengan hewan, memanusiakan manusia itu adalah kebaikan tapi memanusiakan hewan itulah yang tidak aku mengerti, kenapa anda bisa menjadikan hewan teman anda, apa anda kehabisan teman didunia ini, jika iya alangkah kasihannya hidup anda"


Jiwa kriminal Nata meronta tapi sekaligus ia penasaran dengan perempuan ini, kenapa ia setegar ini? sejauh ia bergelimang jadi mafia tidak seorangpun yang berani padanya. Semua patuh dan tunduk sesuai perintah. Tapi perempuan ini bisa-bisanya seperti ini padanya. Laras menghidupkan kembali kenangannya sebelum masuk kedunia hitam.


"Kurang kasih sayang" potong Laras.


"Aku tidak seperti kamu yang mengadu pada suami kamu dan membuat cerita dusta"


"Aku bukanlah kekasih kak Nabil, aku adalah calon adik iparnya"


"Jangan suka bohong"


"Aku tidak suka bohong, aku sukanya travelling, makan-makan..."


"Tidak ada yang bertanya"


"Aku kasih tau"


"Tidak tertarik"


"Ya sudah, aku cuma mengasih berita" Laras duduk di lantai didepan Nata yang duduk dikursi. Tangannya dilipat dimeja. Pria itumerasa terganggu oleh Laras. Ia mengentikan aktivitasnya yang sedari tadi memang sudah tidak konsentrasi lagi.

__ADS_1


Pria itu melihat ke Laras tajam "apa yang akan kamu kasih tau?"


"Nama kakak aku adalah Airin, di adalah kekasih kak Nabil, dia menghilang sebelum pernikahan, aku baru tau kalau kamu yang dituduhnya"


"Bohong lagi?"


"Aku tidak bohong"


"Terus kamu siapanya Nabil? istrinyakan?"


"Memang iya sementara, setelah kakak aku kembali aku harus minggir"


"Apakah itu pria yang baik? menghamili adiknya dan menikahi kakaknya"


"Maksud kamu?"


Mata Nata menyipit, kepalanya dicondongkan melihat ke Laras dan berkata "perempuan bodoh! jika memang apa yang kamu katakan adalah benar untuk apa kamu tidur dengan pria itu"


Mata Laras membola dan mulutnya ditutup dengan telapak tangan saking kagetnya 'astaga! kamu tau? kenapa bisa?"


"Ekspresi kamu berlebihan, kalau tidak kenapa kamu bisa hamil, wanita bodoh"


"Ha? hamil?!!"


"Kamu menuduh aku hamil?"


Menyesal Nata bicara serius dengan Laras kalau akhirnya ia melihat tingkah lebay didepannya. Laras mondar-mandir didepannya sambil mengusap perutnya memeriksa dengan mulut terbengong-bengong sambil menghitung . Entah apa yang dihitungnya. Bingungnya Laras menular pada Nata. Ia ikutan bingung melihat anak itu. Ingin mengusir susah dan jika ia pergi maka Laras akan menang.


Setelah lelah mondar-mandir, Laras duduk termenung dilantai dengan wajah murung. Wanita itu mungkin menyesali kebodohannya.


"Lebih baik kamu pergi sana, untuk apa kamu didepan aku? kamu merusak mood aku" usir Nata jujur.


"Aku juga maunya begitu, aku lelah dan mengantuk, ....kau sangat pelit dan jahat"


"Kau disini adalah tawanan"


"Aku sudah jujur pada kamu lagipula siapa yang akan menebus aku, aku itu seperti lukisan ditepi pantai, hanya sebentar bertahan, datang ombak tidak akan ada yang mengenang aku"


"Memangnya siapa yang akan peduli pada kamu?"

__ADS_1


"Tidak ada, makanya aku tidak takut mati, rasanya kalau aku mati dunia tetap tidak akan berubah dan tetap baik- baik saja, aku tidak dibutuhkan oleh siapa- siapa" nada suara Laras sangat rendah. Nata paham sekarang, Laras bersikap tengil karena ia sedih atau mungkin karena bawaan bayinya? kata dokter perempuan hamil tingkahnya sangat aneh- aneh. Para pria harus sabar menghadapinya. Nata mana paham dengan hal seperti itu karena dia tidak berminat untuk menikah apalagi mengh*mili perempuan karena ia selalu berkubang dengan kegelapan.


__ADS_2