Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
sedih sendiri


__ADS_3

"Tenang Laras! tenang!!! dia lagi mabuk! dia tidak ingat apa-apa, oke!"


Laras mengambil nafas lalu menghembuskan keluar ia berusaha menenangkan diri sebelum masuk kedalam rumah padahal ia pulang sudah cukup telat karena menyiapkan mental untuk bertemu Nabil kembali. Setelah apa yang terjadi ia merasa malu untuk bertemu dengan pria itu. Ia ingin pulang kerumah, tapi mamanya sang mama mengusirnya, kejam emang!


Ia membuka pintunya pelan dan mengintip kedalam. Tidak ada orang yang tampak. Ia berjinjit untuk langsung pergi kekamarnya.


"Ekhm"


Laras langsung terlonjak kaget. Di atas Nabil didapur melihatnya dengan tajam. Ia sepertinya juga baru pulang. Kemejanya birunya disingsingkan sebatas siku. Bau kopi semerbak memenuhi ruangan. Rupanya ia disana sedang membuat kopi.


"Enak ya! jam segini baru pulang, padahal aku sudah membayar kamu mahal untuk pekerjaan rumah"


Laras tertegun sejenak, Nabil tidak berubah itu berarti pria itu tidak ingat apa-apa. Nabib mu Laras.....


Gadis itu nyengir "he..he kak, aku telat! barusan aku makan bareng teman"


"Oh ya! lupa kamu kan ****** ya!" ujar Nabil ucapan itu membuat hati Laras tersinggung. Biasanya apapun ucapan Nabil ia tidak ambil pusing tapi karena dirinya di nodai pria itu dan dia pula yang mengatainya rasanya sangat luka.


"Ya saya ******" Laras terawa miris karena jalangnya dirinya karena perbuatan Nabil "tapi kakak tenang saja, setelah ini aku memasak kok, aku ganti kekamar dulu"


Laras pergi kekamarnya dan disana keadaan seperti sangat jauh berbeda. Alas tidur yang ia gunakan semalam tidak ada sekarang berganti dengan seprai baru yang di bentangkan acak. Bahkan jejak-jejak semalam juga tidak ada.


Sekarang Laras yang bingung, semalam ia tidak mimpikan? kenapa seprainya berubah? kemana seprai yang kotor itu? ia menepuk kepalanya keluar dari kamar itu sambil mengingat semuanya. Otaknya berubah menjadi error seketika.


"Cepetan!"


Suara Nabil menyentakkannya. Biasanya Laras membalas ucapan bar-bar Nabil tapi sekarang ia hanya diam dan otaknya berputar, apa iya dia bertanya pada Nabil tentang semalam? ah, pasti dia sudah gila.


"Apa?' tanya Nabil dengan suara tinggi. Kelihatan tuh orang sudah sangat lapar makanya bawaan nya emosi mulu. Lagian dia banyak uang kenapa gak makan direstoran saja sih? dasar orang kaya pelit!


Laras memeriksa kulkas yang ada disana hanyalah beberapa butir telur dan sayuran. Ia menggoreng telur tersebut dan mengiris daun bawang lalu mencampurkannya kesana setelah matang ia menaburkan bumbu nasi goreng. Semua itu tidak membutuhkan waktu lama dan makanan itu sudah tersedia didepan Nabil.

__ADS_1


"Cuma nasi goreng?"


"Katanya tadi lapar ya ini masakin paling cepat" balas Laras.


Yang cuma hanya itu tidak membutuhkan waktu lama bagi Nabil untuk menandaskannya. Pria itu mungkin sangat kelaparan, pikir Laras.


Gadis itu sudah mulai cemas berada didekat Nabil. meskipun pria itu tidak mabuk. Pria itu melirik Laras dengan kerenyitan didahi.


"Kamu kenapa? gregetan gitu seperti orang ketahuan maling"


Apa wajah Laras semenyedihkan itu ya?


Mulut Nabil seenaknya bicara.


"Kak, aku rasa apa kata kakak waktu itu benar, kita perlu ART dirumah ini agar kakak tidak kelaparan".. dan tidak berbuat yang melewati batas ujar Laras dalam hati.


"Boleh, itu berarti kamu pindah lagi kelantai atas" balas Nabil. Sontak wajah Laras berubah dan menggeleng "bukan, maksud aku, kenapa kakak tidak menyewa rumah yang lebih luas agar banyak para pekerja yang muat"


"Iya, eh maksud aku..agar kakak lebih mudah saja"


"Aku tidak apa-apa lagi pula mereka selalu ready"


Laras melihat ke dinding, foto Airin masih bertengger disana. Apa karena itu Nabil enggan pindah?


Ini malapetaka bagi Laras. Keringat dingin menetes didahi Laras. Apalagi alasannya agar rumah ini banyak orang dan kejadian semalam tidak terulang lagi. Otak Laras buntu tidak mampu berpikir.


Nabil melipat tangannya melihat ke Laras meneliti gadis itu dan Laras seperti seorang terdakwa dihadapan Nabil. Nyali gadis itu hilang entah kemana.


"Kamu kenapa? biasanya centil pamer pacar, kenapa sekarang malah diam? kamu tidak kangen memegang dagu aku?"


"Tidak!" jawab Laras cepat sambil menggeleng. Nabil tertawa "dasar cewek aneh, murahan ya murahan saja jangan banyak gaya"

__ADS_1


"Pokoknya aku ingin dirumah yang banyak orangnya" tukas Laras.


'Ya sudah, kamu pindah kerumah mama"


Lagi Laras menggeleng,


"Mau kamu apa sih? ngelunjak ya? sana gak mau, sini gak mau ya terserah kamu mau kamu dimana, aku tidak melarang silahkan!"


"Sudah sering dibahas, aku tidak mau dengan kakak kalau tidak terpaksa"


"Ya sudah! aku juga terpaksa" ujar Nabil dengan suara meninggi "aku terpaksa menikah dengan kamu, kamu! perempuan antah barantah yang tidak aku cintai, kamu pikir aku begini menerima kamu dengan baik-baik aku tidak tersiksa? dengar ya! aku baik sama kamu karena,......... kamu...... adalah,...adik Airin"


Hati Laras bagai ditusuk-tusuk, rasanya sakit banget. Nabil baik padanya hanya karena ia adik Airin bukan karena ia adalah istri meskipun hanya istri yang tak dianggap setidaknya Nabil tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggungnya. Apa ini karena tingkah dan ucapannya beberapahari belakangan dan sekarang ucapannya itu dibayar kontan oleh yang maha kuasa.


Ia benar- benar jadi ****** yang direndahkan oleh suaminya sendiri.


Entah mengapa hari ini air mata Laras sangat mudah sekali turun. Dikit-dikit nangis, ia sangat cengeng hari ini.


"Aku sangat terharu dengan kebaikan hati kakak, kakak sangat baik sama aku" Laras menghapus air matanya dan mulutnya dipaksakan untuk tersenyum. Hatinya sangat pedih, sebelum-sebelumnya ia masuh tahan tapi sekarang semua pertahanan rapuhnya mulai roboh.


Lagi pula mana ada tangisan haru seperih ini.


"Iya dong, baik beralasan, lalu bagaimana dengan kamu? apakah kamu baik padaku juga karena aku adalah kekasih kakak kamu?"


"Iya"


"Jadi kita sama kan? kita sama-sama baik karena seseorang"


Laras mengangguk membenarkan tapi ia tidak sanggup dengan semua ini tanpa membersihkan meja makan ia pergi dari sana dan pergi kekamarnya.. Disana ia menumpahkan semua rasa dihatinya dengan tangisan.


Mungkin tanpa disadari ia sudah mencintai Nabil dan menyenangi apa yang dilakukan untuk pria itu. Seandainya menganggap dirinya istri sedikit saja maka hatinya tidak seperih ini. Ia akan bahagia dengan apa yang mereka lakukan bersama. Mungkin saja rumah tangga mereka seperti impian Laras. Bahagia bersama orang yang dicintai dan mencintai.

__ADS_1


__ADS_2