
🌹🌹🌹
Masih dini hari tapi isi rumah seisi rumah sudah sibuk. Suara hely diatap, suara derap langkah dilantai serta suara berisik. Semua penghuni rumah sibuk pagi itu mempersiapkan seluruh keperluan.
Semua anak buah Nata sudah siap dengan perlengkapan mereka termasuk Mark.
Tapi pria itu masih mondar-mandir entah apa yang ia tunggu.
"Tuan ayo! sebentar lagi pagi, kita harus tiba di perairan sebelum matahari terbit" akhirnya ada anak buah Nata yang berani bersuara.
Semua perlengkapan sudah siap dan Nata sendiri yang memerintahkan mereka. Tidak mungkin Nata berubah pikiran karena ini adalah ambisi besarnya. Ia sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari.
Nata masih mondar-mandir dengan jaket hitam dan kaca mata hitamnya sampai pintu kamar Laras terbuka dan perempuan itu muncul.
"Kau mau kemana?" tanya Laras. Wajah perempuan itu masih mengantuk pasti ia bangun karena suara berisik.
"Kau tidak ingat, aku harus pergi hari ini" terbesit rasa kecewa diwajah Nata karena Laras tidak mengingatnya padahal ia sudah bilang beberapa hari yang lalu.
"Oh, aku ingat, tapi kamu masih sakit" Laras mengingatkan.
"Aku sudah baik-saja" Lobang hidung Nata seperti terowongan kereta api saking senangnya dicemaskan Laras.
"Punggung mu masih belum sehat, kau yakin?"
"Ada Mark, pokoknya kamu tenang saja aku pasti akan pulang"
Nata bicara ngaco, tentu saja ia akan pulang kerumahnya. Nata tidak lagi menuduh Laras bakal merusak rumahnya kan?
"Kamu harusnya tidak disini, disini sepi kalau kamu mau, kamu kekota saja, kamu bisa jalan-jalan kepusat pembelanjaan"
Laras menggeleng "aku disini saja"
"Kalau begitu aku akan cepat kembali, kamu mau dibawakan apa?"
"Tidak ada"
"Satu saja untuk dia" Nata melirik perut Laras. Semalam ia browsing di internet untuk melihat sebesar apa bayi yang dikandung perempuan dua belas minggu. Ia mengetahui kalau memasuki trisimester dua bayi akan bergerak aktif. Melihat gambar bayi membuat dirinya gemas. Walaupun anak Laras bukan anaknya tapi ia menyayangi mereka berdua.
"Apapun terserah kamu"
"Masa kamu tidak tau, kamukan ibunya"
__ADS_1
Nata berubah lesu, Laras mengetahui hal itu. Nata ingin direpotkan.
"Aku ingin buah yang banyak"
"Baiklah! akan aku bawakan, aku boleh menyapanya?" tanya Nata ingin mengusap perut Laras. Perempuan itu mundur "nanti saja"
"Pelit,..baiklah sampai nanti little baby, aku pasti datang untukmu" Nata berucap pada bayi dalam kandungan Laras.
Nata tidak ubahnya seperti seorang ayah yang akan berpisah dengan buah hatinya. Laras terharu sekaligus malu. Bagaimana seorang pria asing begitu perhatian padanya. Bapak anak ini saja tidak tahu menahu tentang dia.
"Sudah! pergi sana!"
Setelah di usir Laras barulah Nata pergi diikuti oleh para anak buahnya.
"Nata!!"
Nata menoleh.
Laras melambaikan tangan dan pria itu "jaga dirimu!
Nata membalikkan badan untuk tersenyum setelah itu menoleh ke Laras.
Lambaian tangan laras berubah jadi tinju mengacung keudara.
Tawa Nata hampir pecah, dengan langkah sangat ringan ia menuju atap.
Tidak lama kemudian hely itu terbang diatas rimbunya pepohonan hutan. Laras melihat dari jendela sampai hanya lampunya saja yang kelihatan seperti kunang-kunang lalu menghilang dari pandangan.
Rumah itu menjadi sunyi karena sebagian penghuninya sudah pergi. Ketika ia membalikkan badan, semua yang tersisa membungkukkan badan padanya.
Apa yang salah? kenapa mereka seperti itu? Laras.mengusap matanya memastikan itu semua. Semua penghuni rumah itu masih membungkuk didepannya.
"Kalian kenapa?" tanya Laras heran.
"Tuan meminta kami untuk menjaga nona sebaik-baiknya"
Laras terkekeh, lucu! kenapa dirinya diistimewakan? apa mungkin kepala Nata terserang virus hewan buas yang menghajar tempo hari hingga berubah menjadi baik. Seperti hewan yang patuh pada pawangnya.
"Aku bukan siapa-siapa jangan begini"
"Tuan bisa marah besar pada kami kalau kami tidak mengurus nona dengan baik, kata tuan nona harus banyak istirahat dan tidak boleh stres"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja" Laras menolak saat mereka semua menggiringnya kedapur untuk sarapan.
"Nona harus sarapan yang bergizi supaya bayi nona sehat dan susu itu tuan sendiri yang belajar membikinnya" chef menunjuk segelas susu didepan Laras.
"Apa iya?"
"Betul nona"
Laras penasaran dan mencicipi di ujung lidah. Rasa vanila coklat, susu khusus ibu hamil. Ia hampir tidak percaya Nata membuat kejutan untuknya.
"Silahkan sarapan nona"
Laras bagai cinderella yang berhasil merubah nasib dalam satu malam. Bedanya ia datang bukan dengan sepatu kaca tapi tanpa sandal karena anak buah Nata menculiknya begitu saja.
Jadi perempuan senang itu bukanlah impian Laras. Ia hanya ingin bahagia. Sekarang kehidupannya tidak lagi nyaman ia diperlakukan seperti nyonya besar. Bangun tidur dan akan tidur ia diharuskan minum susu, makan sehat dan teratur.
Semua keperluannya juga disiapkan seperti nyonya meener jaman now. Pakai destar kembang-kembang seperti taman untung saja tidak ada yang usil menyiramnya agar kembangnya tetap hidup. Ia juga diwajibkan spa dan perawatan. Karena itulah Laras makin menyadari dirinya jelek dan kurang menarik sampai pelayan Nata mempermak kulitnya agar glowing dan kinclong. Laras kasihan saja pada kulitnya yang sudah malu-malu kena sinar matahari.
"Kamu tau Nata itu siapa?" tanya Laras pada pria yang menyiapkan air mandinya di bathup. bau wewangian dan spa menusuk hidung.
"Nata itu adalah tuan kami"
Jawabannya terlalu jujur. laras ingin tahu latar belakang Nata tapi jawabannya sangat sederhana.
"Maksud aku, dari mana ia berasal? siapa keluarganya dan kenapa ia menghuni hutan? apa dia tidak punya rumah yang lain?"
Pria itu melihat ke atas, ke lampu kamera yang berkedip. Semua percakapan mereka akan terdengar oleh Nata begitu juga apa yang mereka lakukan. Satu-satunya yang aman dari pantauannya adalah tempat privacy Laras. Semua pelayan yang ada disana tau hal itu tapi tidak berani bilang pada Laras.
Laras menikmati setiap apa yang didapatnya. Mungkin ini adalah keberuntungan dibalik musibah. Disaat ia sudah pasrah tapi semua itu belum takdirnya. Ia tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi padanya yang penting terus melangkah untuk meninggalkan masa lalu.
Kemaren-kemaren ia tidak terlalu memikirkan kandungannya. baginya biasa saja. Tidak gembira dan juga tidak menolak. Tapi ketika Nata mengistimewakannya karena ia hamil barulah ia sadar. Dan semakin ia sadar semakin ia sedih. Pria yang peduli padahal bukan ayah dari anaknya tapi pria lain yang belum lama ia kenali.
Ia mengusap perutnya. Sebuah rasa muncul dari relung hatinya. Semakin lama makin aneh dan rasanya begitu dekat. Rasa luka yang membuatnya kecewa menjadi sirna.
Nabil mungkin sudah bahagia bersama Airin dan mungkin saja mereka sudah menikah lalu pindah keluar negri sesuai impian mereka.
Laras tersenyum getir, Nabil pasti tidak ingat dengannya lagi. Pria itu hanya sekedar singgah.
Lampu kamera kecil di loteng berkedip, merekam semua aktivitas Laras.
***
__ADS_1