Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
sebuah perjalanan hidup


__ADS_3

***


Bangun tidur hal yang pertama dijumpai Laras adalah setangkai mawar tergeletak dimeja lalu segelas susu dan didekatnya ada memo bertuliskan 'i love you'


Sebelumnya ia tidak suka romantis-romantisan. Hal itu sangat menggelikan baginya. Tapi pria itu berhasil membuat dia kembali ke kodratnya sebagai wanita seutuhnya. Tak urung senyumannya mengembang dan mencium kelopak mawar itu.


"I love too" bisik Laras sepenuh hati hingga ruang dihatinya tidak ada lagi selain warna merah muda dengan satu nama. Sepasang tangan melingkar di pinggangnya lembut dan membawa tubuh Laras kedada bidangnya. Bau mint segar tercium disertai bisikan "thangks, i love you more, more...my sun"


Laras mendongak, wajah mereka bertemu. Mata Nabil meredup dengan kilatan yang dalam. Wajahnya mendekat dan hidung mereka beradu.


...…...


"Morning mom!"


Terdengar suara riuh dipintu disertai dengan munculnya Alan disana. Laras dengan cepat mendorong Nabil, spontan karena kaget. Hampir saja Nabil terpelanting dilantai.


"Duh Ras, nanti aku imponten" ringis Nabil berlebihan.


"Alan sudah bangun?" tanya Laras menyambut anaknya panik takutnya bocah tersebut melihat Nabil dengannya lalu pertanyaan demi pertanyaan tidak akan henti-hentinya dilontarkan Alan.


Bocah itu mengangguk "papa kenapa?" tanya nya ketika melihat Nabil meringis.


"Oh papa barusan,...mimpi buruk" sahut Laras.


"Oh,..baca doa sebelum tidur pa" Alan mengingatkan dengan santai lalu menghampiri Laras dan bertanya "bagimana keadaan mom dan dedek ?"


"Baik' jawab Laras. Ini ulah semua orang yang memanjakan dirinya lalu Alan menjadi terbiasa bertanya begitu.


"Kamu tidak sekolah? ayo mandi"


"Sekolah mom, selesai sekolah aku diajak opa Danil dan opa main golf" beritahunya.


"Bukankah kamu suka bola?"


"Aku hanya menemani mom, setelah itu giliran opa menemani aku main bola"


"Sama dengan papa saja" ajak Nabil.


"Tidak pa, papa jagain mama"


"Siapa yang bilang papa harus jagain mama terus?" tanya Laras.


"Ada nenek, kakek, opa Danil, oma Rose, oma dan opa " sahutnya polos.


"Kamu harus mandi, sini papa mandikan" ajak Nabil dengan kedua tangan terarah hendak menggendongnya kekamar mandi.


"No! aku sudah gede, aku bisa sendiri!" Alan surut dan berlari keluar kamar.


Nabil tersenyum "anak aku tuh Ras, merasa udah gede terus, dikit lagi udah tau cewek tuh"


"Jangan deh, aku gak suka dia niru papanya,.....bucin! tiap hari ngegodain kak Airin mulu kerumah"


Nabil hanya bisa mengusap kepalanya sambil menyembunyikan wajah merah merona. Dulu dia memang suka bucin pada Airin dan mesra-mesraan meskipun ada Laras disana. Tapi ia kan tidak tau kalau Laras bakal jodohnya.

__ADS_1


"Kalau aku tau rahasia Tuhan aku pasti manjain kamu lah,..sekarang kan aku cintanya sama kamu"


"Gombal recehan"


"Mau yang maut?"


"Gak! gak!" elak Laras karena sudah pasti setelah ini ia akan keluar kamar siang hari. Nabil tertawa dan memeluk Laras dari belakang.


"Belum mandi, bau" ujar Laras.


"Aku bantu ya"


"Gak mau, bisa sendiri"


"Udah gede" gumam Nabil.


"Iya sudah gede,..aku bisa sendiri"


"Bukan gede sama kayak Alan tapi ini...semua ini " tangan Nabil mengusap bagian tertentu ditubuh Laras dengan gemas " karya aku" ujarnya bangga.


"Ih geli, dasar mesum!"


***


Semua hal berubah karena berawal dari hati lalu kemudian karena terbiasa. Airin kembali memasuki dunia modeling dan namanya lumayan populer. Kepopuleran tanpa keluarga itu adalah mustahil. Setenar apapun dirinya tanpa keluarganya maka apa yang didapatkannya tidak akan berarti. Apa yang didapat dan apa yang menurutnya berharga maka ia jaga sebaik mungkin. Masa lalu ia jadikan pelajaran apalagi ia adalah seorang perempuan. Ia harus menjadi contoh untuk putrinya sama seperti saran Nabil untuknya.


Minggu itu Laras dan Nabil datang kerestorant Maya. Disana ada Airin yang sedang belajar memasak bersama Kirana. Mereka memakai celemek dan topi ala chef. Ia sangat cantik seperti ratu yang tersesat diantara wajan.


Airin menyambut mereka dengan senyuman "kalian harus mencoba masakan aku, kemaren aku coba kata mama enak"


"Makanan saja nomor satu" cibir Laras pada Nabil "kak Airin perlu dibantu tanyanya pada Airin.


"Gak, ini spesial ala aku, kamu duduk saja disana"


"Sekali-kali bolehlah kita jadi istimewa, ayo duduk, jangan kelamaan berdiri ntar kram" Nabil menarikkan sebuah kursi untuk Laras. Mereka duduk di meja memperhatikan Airin dan Kirana memasak.


Si bocah Alan tidak senang hati duduk begitu saja. Ia menganggu Kirana dan melongok ke meja dimana Kirana sedang belajar memplating.


"Kamu salah, bukan begitu caranya"


"Pasti ingin ikutan kan? gak boleh!" tegas Kirana.


"Pelit"


"Kamu juga sering ngeledek aku gak bisa main bola"


"Karena emang gak bisa, kalau menabur seperti itu aku bisa kok...itu masalah kecil"


"Biarin"


"Pasti itu tidak enak"


"Siapa bilang? ini enak kok"

__ADS_1


"Emang kamu udah nyicip?"


"Belum" Kirana berkata jujur.


"Coba dulu siapa tau tidak enak"


Nabil dan Laras sejak tadi memperhatikan mereka. Alan pasti ingin mengerjai Kirana lagi.


"Jangan ganggu Kirana" Nabil mengangkat tubuh Alan dari sana. Bocah itu teriak "lepaskan papa! turunkan aku!.."


Nabil meletakkan Alan dikursi. Bocah itu langsung menyempunyikan wajahnya dilipatan tangan "papa bikin malu aku, masa gendong aku didepan perempuan, aku bukan anak kecil papa"


Airin, Nabil dan Laras langsung tertawa melihat tingkah anak itu.


"Alan kenapa?" Maya muncul dengan wajah heran melihat salah seorang cucunya menyembunyian wajah dimeja.


"Biasa ma, dia barusan diangkat kak Nabil' beritahu Laras.


"Ooo cucu gede nenek ngambek? masa udah gede ngambek?"


Barulah kepala Alan terangkat ke atas "memangnya iya aku sudah gede?"


"Hm m" angguk Maya menahan tawa.


"Aku tidak ngembek nenek, aku hanya malu saja"


"Cucu mama yang satu itu memang amazing" tawa Airin. Ia membawa hasil masakannya ke meja. Ia mengusap kepala Alan dengan gemas "Alan memang udah gede, ganteng lagi"


"Ayo dicoba masakan tante" Airin meletakkan sepiring spageti di depan Alan


Semuanya menyicip masakan Airin, memang tidak seenak masakan Laras tapi lumayan setidaknya Airin terus berusaha.


"Tumben rajin memasak, romannya Laras bakal punya kakak ipar nih" ledek Nabil.


Wajah Airin merona merah "gak tau sih, aku hanya belajar saja dulu"


"Arga kemaren datang lagi" beritahu Maya. Hal itu membuat Nabil berhenti mengunyah. Laras melihat ke Nabil, ekspresi Nabil terlihat tidak enak.


"Kenapa? masih ada dendam?" tanya Laras


Nabil menggeleng "gak lah yang,....aku hanya tau tentang siapa dirinya" tampik Nabil "aku dan Arga kan temenan dulunya"


"kamu yakin sama dia?" tanya Nabil pada Airin.


"Mau bagaimana lagi, dia gencar ngajak balikan"


"Trus istrinya?"


"Katanya sudah pisah"


"lebih baik berpikir lagi Rin, masih banyak pria baik diluar sana, aku peduli karena aku adik ipar kamu, kalau kamu sedih otomatis Laras akan ikutan sedih dan akunya yang bakal rugi" urai Nabil


"Nabil benar Rin, kamu harus berpikir ulang karena Arga itu pengecut dan juga suka main perempuan, lebih baik kamu menangis sekarang dari pada anak-anak kamu ikutan menangis dikemudian hari" Maya ikut menambahkan.

__ADS_1


"Iya deh ma, aku akan pikir ulang..." Airin melihat ke Kirana, semua ini demi dia. Tapi kata mamanya ada benarnya juga, lebih baik ia memikirkan masak-masak dari pada anaknya ikut hancur nantinya.


__ADS_2