Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
korban salah paham


__ADS_3

Laras melirik meja tempat Nabil barusan disana ada sebuah map coklat tua. Ia membuka map itu setelah membacanya ia memasukkan map itu ke balik jaketnya. Setelah itu ia berjalan gontai keluar.


Matahari mulai tinggi, orang-orang yang menginap di hotel itu juga sudah pada bergerak dan kendaraan diparkiran juga sudah mulai bergerak. Laras menunggu ojol didepan sambil main ponsel.


Beberapa pesan dari Benz dan Siti menanyakan keberadaannya yang tidak masuk kampus dan dia mengirim foto kalau dirinya belum pulang kerumah. Benz langsung banyak bertanya mengapa Laras bisa ada disana.


"Aku jemput ya Ras" tawar Benz mengirim pesan melalui WA


"Tidak usah, ntar lagi jemputan datang kok"


"Kamu lagi sama siapa?"


"Sendiri"


"Syukurlah"


"Syukur kenapa?"


"Syukur saja, kata Siti kamu bersama suami kamu, tuh anak mengahayalnya kebangetan, dia yang pengen nikah malah kamu yang dituduh"


Laras hanya bisa menanggapi dengan senyuman miris. Ingin mengasih tau Benz tapi tidak menemukan waktu yang tepat.


"Ojolnya sudah sampai, bye" Laras mematikan sambungan ketika seorang tukang ojol berhenti didekatnya dan mengasihkan helm.


Laras naik kemotor, tidak jauh darinya sebuah mobil suv hitam menunggu ojol itu bergerak menjauh dan mengikuti dari belakang. Ketika tiba ditempat lengang mobil itu memotong dengan cepat dan berhenti beberapa meter dari didepan motor itu.


Tukang ojol itu kaget dan rem mendadak. Laras pun tidak kalah kagetnya apalagi saat tiga orang preman turun dari mobil itu dan menyeret Laras. Perempuan itu berontak dan melawan sekuat tenaga. Ia menendang betis pria yang menariknya dan mengigit tangannya. Laras berhasil lepas tapi hanya sebentar karena salah seorang pria itu membopong Laras untuk masuk kemobil. Tukang ojol hanya bisa pasrah tidak sanggup menyelamatkan Laras ia pun ditendang dari motornya oleh salah seorang pria itu.


Laras di di dorong ke mobil dengan kasar setelah itu mobil itu melaju kencang.


"Lepaskan!!!!"

__ADS_1


Laras berontak melawan para pria itu. Seorang pria melemparkan tali dari depan ketemannya untuk mengikat kaki dan tangan Laras dan mulutnya disumpal lakban.


Laras menggeliat seperti pocong yang diikat hanya bisa bergerak tanpa bisa beranjak.


Wajah para pria itu seram-seram seperti anak buah Nabil yang ada dirumah sang mertuanya. Untng Airin menikah mengajukan syarat untuk pisah rumah dan hidup ditempat yang adem tanpa bertemu dengan para pria macam ini.


Para pria ini tidak mungkin suruhan Nabilkan? ingin melenyapkannya karena nyinyir terus. Siapa tau mereka melemparkan dirinya kekandang buaya atau jadi umpan hiu dilautan.


Mobil itu bergerak menjauh dari kota dan memasuki hutan. Laras bisa melihat dari balik kaca mobil yang hitam itu. Apa ia akan dibuang kehutan?


Kemanapun ia membuang Laras tidak akan berpengaruh dibandingkan patah hati Laras pagi ini. Sejak kemaren malam ia ingin mati tapi ada orang yang rela menolongnya.


Mobil itu berhenti dan para pria bertubuh kekar itu turun dari mobil menyeret Laras ikut turun. Ternyata dihutan itu ada sebuah rumah besar berpagar terali dan dikelilingi oleh hutan lebat. Dipelataran ada beberapa buah mobil disana.


Laras didorong untuk masuk kedalam. Beberapa kali ia terjatuh dan ditarik untuk bangkit karena kakinya diikat lutut Laras rasanya sangat sakit dan mungkin saja sudah berdarah.


Tiba dipintu pria itu membiarkan Laras begitu saja dan mereka berbaris memanjang dikiri kanan. Seorang pria bertubuh kurus tinggi dam bertato naga dilehernya muncul. Wajahnya sangat asing dan Laras baru pertama kali bertemu dengannya.


"Buka mulutnya" perintah pria itu.


Seorang anak buahnya membuka lakban mulut Laras dan pria itu berdiri menjulang didepannya.


"Oh jadi ini dia perempuan itu" si pria itu mengangkat dagu Laras dengan ujung sepatunya. Kepala Laras mendongak melihat pria itu. Laras balik menatap mata pria setajam silet beraninya pria ini merendahkannya coba saja kaki dan tangannya dilepaskan maka Laras bersumpah akan memukul pria kurang ajar ini.


"Perempuan menjijikkan! cuihhh!" pria itu meludah kelantai.


Laras masih diam melihat reaksi pria itu.


"Perempuan hina! jangankan memperk*sa menyentuhpun aku tidak sudi! kau lebih pantas dengan babu murahan" pria itu sedikit mendorong dagu Laras sebelum ia menarik kakinya kembali.


"Cukup anda menghina saya! anda kira saya juga sudi dengan anda? lebih baik saya pelukan sama pohon dari pada sama kamu!!" sembur Laras pedas. Enak saja menuduh dirinya.

__ADS_1


"Oh ya! itu pantas untuk kamu, kamu adalah perempuan menjijikkan'


"Stop!! apada salah saya pada anda? meskipun saya menjijikkan saya tidak pernah menganggu kehidupan anda"


"Perempuan bermuka dua! kamu begini pasti karena ingin perhatin dari para lelaki kan? kamu ngaca!"


Pikiran Laras yang tadinya kosong dan pasrah sekarang emosinya mulai bangkit dan terjaga. meskipun pria didepannya kaya dan punya seluruh dunia ia tidak takut meskipun dirinya rendah tapi pantang untuk direndahkan. Pria kurus begini, ia sanggup untuk melawannya.


"Lepaskan ikatan kaki saya! anda bukan banci kan? melawan seorang wanita dengan kaki dan tangan diikat"


Pria itu mengangkat dagunya memerintah pada anak buahnya untuk melepaskan ikatan Laras. Begitu kaki dan tangan Laras bebas, perempuan itu langsung berdiri.


PLAK!!


"Itu untuk balasan anda barusan" ujar Laras. Pukulan itu telak dipipi si pria tersebut. Wajah pria itu memerah karena amarah tapi Laras tidak peduli karena dirinya juga lebih marah


"Dan ini untuk tuduhan anda" Laras kembali mengangkat tangannya ingin memukul tapi hanya sampai diudara karena pria itu menangkap tangannya dengan kasar.


"Perempuan jahana*, kau akan menyesali hal ini" pria itu menyentakkan tangan Laras dengan keras dan Laras terhempas kelantai.


"Bawa perempuan itu keruang bawah!" perintah sipria itu.


"Pria bajingan, apa salah aku sama kamu?!!!" teriak Laras. Pria itu tidak mendengar ia melenggang pergi. Laras tidak menyerah membuka sepatunya dan melemparkannya. Sepatu itu tepat mengenai kepala sipiria itu.


Langkah pria itu berhenti tanpa menoleh dan memberi perintah untuk mengeksekusi.


Anak buahnya mengangguk patuh dan menyeret Laras masuk kelift. Rumah tengan hutan itu ternyata sangat modern sama seperti rumah sultan meskipun bukan rumah hunian.


"Apa salah aku?? kalian ini para bandit banci, beraninya hanya keroyokan, lepaskan!" Laras meronta marah. Cekalan dibahu Laras makin mengeras rasanya tulang belukang Laras ingin remuk.


Beberapa menit kemudian lift itu berhenti dan Laras didorong keluar. Ia jatuh terjerembab disambut di gelap tanpa cahaya sedikitpun. Entah seluas apa ruangan itu karena yang tampak hanya hitam.

__ADS_1


__ADS_2