Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
mengulang kembali


__ADS_3

Laras kembali mencoba yang dulu tidak akan lagi ingin diulanginya dengan Nabil yaitu memperbaiki pernikahannya secara sederhana. Tapi meskipun begitu Nabil tidak hentinya tersenyum. Bisikan terima kasih tidak hentinya mengalir sedari tadi ketelinga Laras.


"Sedari tadi Nabil tidak sabar, dia ingin mencium Laras terus, baiknya kita pergi saja Benz, pengantin baru lagi pengen" goda Siti.


Pria yang datang dengan kemeja kotak itu hanya tersenyum masam. Mereka berdua diundang Laras kesana katanya hanya buat makan-makan. Rupanya Laras mengadakan acara untuk memperbaiki pernikahannya.


"Istri aku kok Siti, diapa-apain juga tidak apa-apa kok" balas Nabil.


"Tunggu kita pulang dulu, tidak harus pamer didepan jomlo"


"Oh ya, jomlo ya?? sama kayak dokter disamping kamu, jomlo sama jomlo"maksud Nabil adalah Benz yang duduk dekat Siti.


"Hallo om dan tante dokter" sapa Alan, anak itu muncul habis keliling- keliling dengan Vina. Bocah itu sangat hiperaktif.


Siti dan Benz memperebutkan Alan untuk diajak bicara. Alan yang sangat cerewet membuat mereka terpingkal-pingkal. Apalagi saat mengenalkan Nabil sebagai om nya. Sicantik Kirana juga tidak ketinggalan ia selalu bermanja-manja dengan Nabil. Tapi itu semua atas suruhan Airin. Misinya untuk menghancurkan rumah tangga Laras belum usai.


"Ras, dia anak Nabil bukan sih? kalau bukan dia jadi anak aku saja Ras, aku adopsi" ujar Benz sekalian menggoda suami Laras yang sangat cemburu padanya.


"Silahkan saja, kau akan tinggal nama" jawab Nabil duluan.


"Aku yang produksi dia, eh nak panggil papa bukan om" Nabil hampir putus asa menyuruh anaknya untuk memanggil papa padanya. Bocah itu hanya ngangguk dan minta maaf "maaf om eh papa, Alan belum terbiasa"


Benz yang tidak suka Nabil kasihan juga melihat pria itu. Untung mereka baikan kalau tidak Nabil akan lebih bersedih dari pada ini. Putranya belum tentu kenal dengannya sebagai seorang anak.


"Makanya, lain kali jadi pria itu yang benar om,...kalau kamu tidak sanggup aku bisa kok menggantikan posisi itu" goda Benz biar Nabil makin ngamuk sekalian lempar piring ketamu. Asyik juga menggoda suami Laras yang sedari tadi memegangi Laras terus. Seperti takut dibawa lari. Mungkin Benz suka pada Laras tapi ia masih waras. Tidak mungkinlah dia merebut Laras dari Nabil. Melihat Laras bahagia ia juga bahagia.


"Dia juga anak papa?" tunjuk Alan pada Kirana karena dari tadi Kirana selalu menempel pada Nabil. Airin tersenyum mendengar ucapan Alan. Siapa tau udara memanas dalam ruangan itu.


"Bukan nak, dia ini sepupu kamu"


"Dia cengeng, mirip gendut temanku" cibir Alan.


"Aku tidak cengeng" bantah Kirana tidak terima.


"Kau mengambil papaku dengan wajah polosmu"


"Astaga nak, kamu ini tidak baik bicara seperti itu" lerai Laras menasehati Alan.


"Apa yang dia bilang benar Ras, ...dan Nabil, kalau kamu tidak ingat apa yang kamu pertahankan akan hancur kembali, jangan bermain dengan api atau kamu akan terbakar"

__ADS_1


"Ma, nanti kita bicarakan" Nabil memperendah suaranya. Kalau tidak Laras akan mengamuk karena merasa memusuhi kakaknya.


Wajah Vina masam melihat ke Airin. Gelagat wanita itu tidak pernah baik. Airin tidak pernah sadar dengan situasi dan kondisi.


Airin tersudut oleh pandangan orang-orang yang membela Laras dan menganggap dirinya jahat.


Setelah acara sederhana itu selesai, Benz dan Siti pamit. Mereka cipikia-cipiki tapi giliran Benz, Nabil menarik Laras.


"Kalau mau pulang, pulang saja" ujar Nabil.


"Ini juga mau pulang, aku dan Siti pergi dulu ya Ras, ada pasien dirumah sakit, lain kali kami kesini lagi jenguk Alan" Benz mengajak Laras bicara dan mengabaikan suaminya yang sudah mode angry birds.


"Tentu saja boleh, kalau tidak aku yang datang menganggu kalian" jawab Laras.


"Asyik tuh Ras, diwaktu luang kita bisa nonton..suami kamu bolehinkan?" tanya Siti.


"Boleh tapi ada akunya juga"


Benz menahan tawa, biarlah Nabil begini berarti Laras akan dijaga dengan lebih baik. Ia menepuk bahu Laras pelan minta izin pulang.


Setelah mereka berdua pergi, rumah mulai lengang dan acara itu berakhir. Vina, Hendra dan Alan seru-seruan diruang tengah. Semua yang diminta Alan terkabul saat itu juga. Laras cemas anaknya akan jadi arogan nantinya. Setiap ia berkomentar selalu ada pembelaan untuknya.


Hal itu membuat Laras pusing.


"Tuan ada tamu" beritahu pelayan pada mereka. Seorang pria tua memakai tongkat karena pincang ditemani oleh istrinya yang juga sudah tidak muda lagi.


"Hey jagoan!"


Panggilan itu membuat Laras tersentak karena itu sering dipanggilkan Nata untuk Alan tapi kemudian ia menormalkan diri.


"Kamu rupanya Danil" ujar Hendra. Ia mengira siapa yang datang ternyata pria tua itu.


Alan tersenyum pada Danil.


"Kau ada didunia nyata opa?"


Alan masih menganggap apa yang terjadi padanya adalah mimpi.


"Iya, aku ada didunia nyata karena menyayangi kamu bocah cilik"

__ADS_1


Danil mensejajarkan dirinya dengan Alan mengajak bocah itu bicara. Sementara itu mata istrinya sudah berkaca-kaca melihat Alan. Pasti teringat dengan putranya yang pernah sangat mendambakan sebuah keluarga.


"Oh, terima kasih telah menyayangi aku opa, aku punya banyak opa sekarang"


"Yah tentu saja, kau anak yang pintar" Danil mengusap kepala Alan.


"Silahkan duduk nyonya Rose, Danil.." Vina mempersilahkan mereka untuk duduk. Sepasang suami istri itu bergabung dengan mereka. Nabil merangkul Laras untuk dekat dengannya. Wanita risih kalau bukan didepan para orang tua didepannya ia sudah pasti menggigit tangan Nabil.


"Aku kesini ingin minta maaf pada Laras dan kalian semua, dengan sikap aku waktu itu dan yang sudah-sudah" Danil memulai percakapannya.


"Tidak apa-apa tuan, aku maklum dalam situasi seperti itu wajar saja" ujar Laras tulus.


"Syukurlah, kau memaafkan aku dengan sikap aku pada kamu,..sekarang aku ingin lebih baik lagi dengan sisa umurku yang belum tentu lama lagi, sebenarnya aku tidak ingin kamu memanggil aku tuan tapi sebutan papi, karena aku tidak punya anak lagi"


"Iya Ras, hari tua kami suram tanpa siapa-siapa... harta tidak membuat kami bahagia, harapan kami satu-satunya adalah Nata tapi dia pergi duluan dari pada kami, banyak sesal dihari tua ini untuk kami" timpal Rose.


Laras kasihan pada sepasang suami istri itu, ia bisa merasakan bagaimana perasaan mereka. Ia beranjak untuk memeluk Rose dengan sayang dan juga Danil.


"Tentu saja aku bersedia jadi anak mami dan papi, aku senang punya banyak orang tua, biar aku dimanja"


Danil dan Rose terharu, ia mengusap kepala Laras dengan menangis "terima kasih,..anakku" Rose memeluk Laras.


Hendra dan Vina tidak menyangka Rose dan Danil yang dulunya jahat dan kejam sekarang menjadi seperti ini. Mungkin karena faktor umur atau waktu yang mengajarkan mereka dan sekarang mereka sadar. Belum terlambat untuk berubah. Mereka berhasil merebut hati orang yang pernah tersakiti dulunya.


"Kau jangan lupakan aku juga tuan Danil dan nyonya Rose, aku adalah suaminya..kalau kalian tidak menyayangi aku juga aku tidak akan membiarkan istriku untuk kalian" sindir Nabil. Ia mungkin pernah marah dan cemburu pada Nata tapi tidak memusuhi orang tuanya juga. Apalagi Nata sudah tenang di alam sana.


Rose dan Danil yang sedang bersedih menghapus air mata mereka dan tersenyum "tentu saja, aku harus baik padamu, ada Alan dan Laras bersama kamu"


Suasana sangat adem. Danil menyerahkan surat-surat yang pernah ditandatangani Laras dimeja "itu hak kamu dan Alan, kami tidak mungkin melanggar amanat Nata"


"Tidak usah tuan Danil, dia punya banyak" tolak Nabil.


"Ini bukan untuk kamu tapi untuk Laras dan Alan, Nata tidak akan tenang di alam sana kalau ini tidak dijalankan, terima Ras, jika Nabil menyia-nyiakan kamu lagi kamu bisa pindah kesana"


"Mana mungkin tuan Danil, dia adalah istri aku" sanggah Nabil cepat.


Danil tertawa "aku hanya bercanda, kau terlalu emosi" Danil melihat sekeliling "kalau tidak salah tadi aku melihat Airin"


"Airin? anda kenal dia?" tanya Hendra.

__ADS_1


"Sangat kenal, dia kan putri Nesa"


__ADS_2