Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
nyonya Laras


__ADS_3

"Hayo! mau kemana ha? baru saja nikah mau pisah ranjang" oceh Vina sembari masuk kedalam rumah diikuti suaminya.


"Tapi aku bukan istri kak Nabil tante" ujar Laras pengen nangis.


"No! sebelum Airin kembali kamu tetap istri Nabil, mengerti!!"


"Tapi aku bukan tawanan"


"Mau tawanan kek, mau siapa kek, aku tidak peduli!! yang aku pedulikan anak aku terluka dan keluarga kamu harus bertanggung jawab atas itu, kapan perlu kamu juga harus terluka"


"Tante jahat bangat sih!"


"Mana yang lebih jahat dari pada kakak kamu, ha?"


Air mata Laras akhirnya turun juga apalagi saat Vina menyuruh mbak Yul membawa koper Laras untuk kelantai atas. Dan perempuan itu juga menyuruh Laras untuk kesana. Vina mirip mertua disinetron kumenangis, yang digandrungi mamanya untuk menakut-nakuti sang papa agar jangan selingkuh dan zalim pada istri apalagi di awal bulan saat papanya gajian mamanya akan memutar film itu untuk membawa papanya belanja ke mall.


"Yuli! kamu persiapkan segala kebutuhan dia dan jangan sampai kurang satu apapun jika dia bertingkah telepon aku!!" Vina bicara lantang pada Yuli dan Laras makin gemetaran. Mbak Yul hanya bisa mengangguk dan berkata "nggeh buk"


Sesampai dilantai atas, Laras enggan untuk masuk kesana. Mbak Yul menariknya untuk masuk "ayo nyonya, nyonya tidak usah baca mantra, kamar ini aman kok dari gangguan jin, mbak Yul yang bersihinnya petama kali saat baru selesai dibangun"


"Mbak Yul, jangan paksa Laras!!"


"Huussss nyonya Vina masih dibawah jangan kenceng-kenceng! dia sadis lho! pak Hendra saja yang garang nunduk sama dia!"


"Yuliii kamu bicara apa?"


Suara Vina lantang terdengar didepan pintu.


"Gak ada apa-apa nyonya, ini Laras katanya mau mandi" mbak Yul menutup mulutnya tidak menyangka sang nyonya besar ada disana.


Mbak Yul meninggalkan Laras didalam kamar sendirian dan ia menghampiri Vina dibalkon. Sang nyonya melipat tangan didada melihat ke mbak Yul.


"Kamu dengar ucapan sayakan?"


"Dengar nyonya"


"Jangan biarkan gadis itu lolos, agar keluarganya tidak main-main sama keluarga saya, sekarang mana Nabil?"


"Tuan tadi pergi nyonya"


"Pasti mencari Airin" desah Vina "entah kemana anak itu, tidak mungkin ia berubah begitu saja sebelum menikah, mereka itu saling cinta"


"Memangnya nyonya sudah lapor polisi?'


"Keluaraganya sudah, mereka belum menemukan jejak Airin"


Vina beranjak dari sana dan pergi kelantai bawah. Sebelum pergi ia melongok kekamar Nabil. Laras yang sedang berdiri mematung jadi kaget.

__ADS_1


"Awas kamu ya! kalau macam-macam" ancam Vina sebelum pergi.


"Macam-macam gimana maksudnya, apa aku berminat sama kak Nabil gitu?" balas Laras pelan. Ia ingin membalas Vina tapi tidak berani. Nyonya galak itu mungkin mengira Laras berminat pada Nabil dan mengapa- apain pria itu.


Laras berjalan pelan kekamar mandi sambil celingak-celinguk. Kamar mandi Nabil sangat luas ada bathubnya juga dan juga ada walk in closetnya . Ia memeriksa lemari yang ada disana ternyata isinya banyak pakaian wanita. Ada lingieri warna-warni dan sejenisnya. Ia bergidik dan menutup lemari itu kembali.


Dengan senang hati ia memakai semua peralatan mandi yang ada disana. Mulai dari shampo, sabun, luluran, dan lain sebagainya. Setiap bagian ada pembersih khususnya dan harganya tidaklah murah. Alat kosmetik impor semua. Ia tau semua itu dipersiapkan untuk Airin. Tidak apa- apa dia memakai sedikit karena dirumah Airin sangat pelit. Apapun barangnya tidak boleh disentuh oleh Laras.


Selesai mandi ia tiduran disofa kamar Nabil dan tidak keluar lagi bahkan ketika mbak Yul datang menyuruhnya makan ia sudah tidak sanggup lagi beranjak dari tempat tidur.


Ia benar-benar kelelahan.


***


Hoaaaaammmm!


Mata Laras masih terkatup dan ia menguap lebar-lebar, tubuhnya sangat kaku dan ia menggeser tubuhnya dikit tapi kemudian.


BRUKK


AWWH!!!!


Ia meringis, berdebum kelantai keras.


"Maamaaa!!!"


Laras berteriak memanggil mamanya. Biasanya sang mama akan datang kekamarnya sambil bertanya dia kenapa.


Ia membuka mata gak ada mama papanya dan kamarnya pun asing. Ia berpikir sejenak dan barulah ingat dengan kejadian kemaren.


Ia melihat sepasang kaki berbulu lebat ada didepannya. Mau dibilang itu kaki gorila kakinya putih banget, lebih putih dari kaki Laras. Seperti tidak pernah menginjak tai ayam.


Laras mendongak, wajah Nabil yang baru sudah mandi melihat padanya.


"Kak Nabil ngagetin saja, bantu Laras kek"


"Bisa berdiri sendirikan? udah gede juga"


"Kak Nabil gak peka dikit juga, semalaman Laras tidur disofa"


"Siapa yang suruh tidur disana"


"Gak ada, pokoknya kita gantian ya, ntar malam kakak yang tidur disofa"


"Baru bangun udah ngomongin tidur lagi"


"Kak Nabil kelewatan, masa tega sama Laras" gadis itu berdiri sendiri sambil meringis kesakitan. Nabil galak banget sama dirinya mentang- mentang dirinya bukan Airin.

__ADS_1


"Laras mau kuliah, udah jam berapa sekarang"


Laras melihat kedinding dan bola matanya hampir copot "haa udah pukul sebelas? kenapa gak ada yang bangunin aku?"


Laras rasanya pengen nangis tidak masuk kuliah. Ia tidak bertemu dengan seseorang hari ini.


Sementara itu Nabil sudah siap ganti pakaian di walk in closet. Pria itu tampak berpakaian biasa saja, tidak memakai pakaian kantoran yang maching seperti yang biasa ia lihat saat singgah dirumahnya pagi hari bertemu dengan Airin.


Pria itu tampak lebih muda dari umurnya karena ia memakai kaos dan jaket kulit warna hitam.


"Kakak mau kemana?"


"Mencari Airin"


Nabil keluar dari sana dengan langkah panjangnya. Laras mengikuti Nabil kelantai bawah. Ternyata di lantai bawah ada sekitar sepuluh orang pria berbadan kekar memakai kaos hitam menunggu Nabil termasuk seorang asisten berusia dua puluh lima tahun dan seorang sopir yang tingal di rumah sebelah. Begitu Nabil tiba dilantai bawah para pria itu mengikuti langkah Nabil.


Laras menemukan mbak Yul sedang membersihkan jendela dengan gaya nyentrik. Pake bando warna -warni.


"Mbak Yul!!"


Wanita itu tidak mendengar panggilannya. Laras menepuk bahu mbak Yul dan perempuan itu kaget.


"Astaga nyonya, nyonya ngagetin saja" mbak Yul mencopot headset ditelinganya.


"Ada apa nyonya? oh ya,,lupa! nyonyakan belum sarapan, ayo nyonya duduk dulu, mbak Yul akan buatkan sarapan untuk nyonya"


"Mbak Yul apaan sih, pake embel-embel nyonya segala"


"Karena Laras nyonya mbak Yul"


"Panggil saja Laras mbak Yul, aku bukan nyonya mbak Yul" Laras menegaskan.


"Baiklah, mbak Yul tanya sama nyonya Vina dulu"


"Kok tanya sama tante Vina sih? dia kan galak'


Mbak Yul membuatkan segelas susu didapur dan membawakan untuk Laras "nyonya minum ini dulu ya, setelah itu makan, mbak Yul sudah masak"


"Yang tadi siapa sih mbak? banyak bangat"


"Itu anak buahnya tuan Nabil, kenapa? kaget ya? tuan Nabil pindah kesini atas keinginan nona Airin, kata nona Airin ia terganggu kalau banyak orang apalagi para pria makanya tuan pindah kesini, kerumah kecil sesuai dengan keinginan Airin"


Lara ikut terenyuh mendengar hal itu.


"Kak Nabil udah makan?"


"Lha diakan baru pulang dan trus pergi lagi, kayaknya dia bad mood gak biasanya ia seperti itu, jadi kasihan deh sama tuan Nabil ia pasti sedih bangat ditinggal Airin dan terus mencarinya, mbak Yul jadi khawatir kalau tuan Nabil makin frustasi"

__ADS_1


Jadi Nabil semalaman tidak pulang dan setelah itu pergi lagi untuk mencari keberadaan Airin.


Kak Airin, kenapa kakak seperti itu! kakak menyia- nyiakan cinta seorang pria.


__ADS_2