Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
kesadaran dalam ketidaksadaran


__ADS_3

"****!"


Nabil meninju meja dengan keras. Amoy yang duduk didepannya terlonjak kaget. Entah apa yang ada dipikiran sang tuan tiba-tiba saja mengamuk padahal tidak ada angin dan tidak hujan sedari tadi marah-marah melulu.


"Sudah sangat malam tuan, tuan tidak pulang istirahat?" tanya Amoy karena Nabil masih duduk menonton para gadis berpakaian minim tanpa memikirkan sang nona yang sendirian dirumah.


Sedari tadi Nabil kerjanya hanya mengumpat dan memukul kepalanya seolah ia tersiksa memiliki kepala. Kadang menarik-narik dasinya sendiri seperti orang kegerahan.


"Apa tuan ingin salah seorang dari mereka? sepertinya tuan sudah sangat tersiksa" Amoy bertanya pada sang tuan jika iya maka dia akan membawa salah seorang perempuan itu untuk tuannya agar tuannya berhenti seperti orang gila.


Para perempuan itu pasti tidak akan menolak jika Nabil ingin. Sebaliknya Nabillah yang tidak mau didekati.


Entah apa yang ada di dalam pikiran sang tuannya. Sedari tadi sangat memendam emosi entah pada siapa setaunya dari tadi keadaan aman terkendali tidak ada musuh yang menyerang apalagi orang minta hutang. Jika ada maka dirinyalah yang akan maju terlebih dahulu.


sang tuan berubah arogan setelah beberapa hari ini seperti orang ling lung. Kehidupan Nabil bagai gelombang kadang tenang, kadang mengamuk tiba-tiba dan semua orang kena imbasnya.


Amoy meminum air teh kemasan yang tadia ia beli di warung. Pria itu tidak suka alkohol. Baginya alkohol itu menghancurkan. Ia pernah mabuk saat remaja dan tidak sengaja melukai seorang ibu- ibu. Semenjak itu ia kapok minum dan tidak pernah ingin menyesapi alkohol lagi.


Sementara itu Nabil ingin memecahkan isi kepalanya saja karena semua ini sudah tidak singkron lagi mungkin dia sudah gila. Semakin ia melawan kegilaannya semakin ia tersiksa sendiri.


Tidak bisakah salah seorang dari para perempuan itu mengalihkan isi pikirannya yang kotor. Kalau ada maka ia akan sengat senang sekali tapi sayangnya hanya tubuh itu yang memenuhi isi otaknya tidak ada yang lain yang menari bahkan semua yang ada didepannya tidak ada membuat dirinya terbakar gairah sedikitpun.


Fantasinya sungguh sangat memuakkan. Ia benci dengan isi pikirannya sendiri.


Apa karena dia yang pertama tempatnya berbagi maka semuanya terekam indah dalam otaknya dan ia ingin lagi.


Apakah ia sudah mendapatkan candu itu?.


Atau dirinya mendapatkan kutukan menginginkan tanpa mencinta.

__ADS_1


Apapun namanya ia tidak peduli yang penting gilanya terwujud tanpa menjatuhkan harga dirinya.


Sekarang ia menuruti jalan pikiran liciknya. Dengan begini maka semuanya akan aman. Ia memutar gelas yang sedari tadi ada ditangannya. Ia tidak tertarik untuk minum dan belum menyicipnya sama sekali. Setelah pikirannya terbuka ia menghabiskan minuman digelas itu dan menyiramkan sisanya kewajahnya. Alkhol itu ikut membasahi sebagian pakaiannya.


Setelah itu Nabil bangkit dari sana dan menyambar kunci yang ada di sopir yang sedari tadi setia menunggu dekat mobil. Nabil masuk kesana dan meninggalkan Amoy dan sopirnya.


Amoy dan sang sopir saling pandang. Mereka bisa apa? terpaksa mereka pulang naik kendaraan umum sedangkan Nabil pergi entah kemana. Jalan pikiran tuan mereka memang sangat sulit ditebak.


***


Sedari sore Laras menunggu Nabil namun pria itu tidak kunjung kembali. Ingin rasanya ia menelpon Nabil dan bertanya dimana pria itu sekarang tapi jangankan menelepon, nomornya saja Laras tidak punya. Mereka tidak pernah bertukar nomor apalagi membahas ponsel.


Salahkah dia ingin sebuah kehidupan normal setelah apa yang telah terjadi diantaranya dengan Nabil meskipun itu mungkin sebuah kecelakaan bahkan Nabil saja tidak ingat.


Bisakah ia dan Nabil saja tanpa ada orang lain sebegai penyela dalam hubungan mereka meskipun itu adalah kakaknya sendiri.


Salahkan ia menjadi perebut meskipun yang ia rebut adalah hati suaminya tapi bagaimana caranya jika dirinya saja bagai remahan rempeyek dimata Nabil.


Laras tercenung melihat pria didepannya. Bau alkohol menguar memenuhi pernafasannya.


"Kakak mabuk lagi?"


Tidak ada jawaban selain tatapan berkabut tanpa bisa ditebak Laras. Pria itu sempoyongan dan menjatuhkan diri pada Laras. Dengan cepat Laras menangkap tubuh itu.


Nabil mencoba berdiri tegak dan menarik kerah baju Laras hingga wajah mereka.menjadi dekat dan nafas mereka beradu.Apakah Laras harus senang dengan keadaan Nabil yang begini. Jika nabil mabuk maka pria itu pasti mendekatinya tanpa ucapan pedas ataupun tatapan tidak suka.


"Ah, kau siapa? kau pasti orang perempuan gila,..gila" Nabil memukul kepalanya sendiri.


"Hentikan kak, kepala kakak bisa sakit" Laras memangkap tangan Nabil lalu mengusapnya dengan lembut" dah ya..kakak jangan gini lagi, ayo aku antar kakak ke atas"

__ADS_1


Dengan sabar Laras memapah Nabil untuk mengantarkan kekamarnya dilantai atas.


Laras memberanikan diri mengusap rambut Nabil menyisirnya kebelakang dengan penuh kasih sayang "kakak harusnya tidak minum-minum, alkohol itu tidak sehat kak" tertatih Laras membawa Nabil menaiki anak tangga dengan hati-hati.


Terdengar kekehan Nabil, kekehan khas orang mabuk. Laras menepuk wajah Nabil lembut agar pria itu tetap tersadar.


Setiba di kamar pria itu langsung menelungkup menjatuhkan diri ketempat tidur.


"Kak jangan tidur dulu, baju kakak basah"


Pria itu tidak mendengarkan ia membawa ikut serta sepatunya ke atas kasur. Laras mengambil air panas membersihkan wajah pria itu. Setelah itu ia melepaskan sepatu itu dari kaki Nabil dan melapnya juga.


tangan lentik itu menjulur membuka kemeja yang basah oleh alkohol.


Perlahan jari jemari itu membuka kancing kemeja yang basah itu diringi degub jantung yang sangat kencang.


Dalam pikiran Laras, orang minum itu sudah pasti mabuk dan orang orang mabuk itu sudah pasti tidak sadarkan diri buktinya Nabil tidak ingat dengan apa yang mereka perbuat waktu itu. Jadi apa yang ia lakukan sekarang tidak akan diingat Nabil esoknya. Makanya ia memberanikan diri mendekati pria itu.


Jantung Laras tidak beraturan saat sepasang tangan kekar itu menangkap kedua belah tangannya dan menariknya kasar hingga ia terjatuh keatas dada bidang itu.


Mata mereka bertemu dan perlahan wajah mereka saling mendekat dan entah siapa yang memulai hingga menyesap satu sama lain hingga membangkitkan kobaran yang maha dahsyat. Ruangan itu berubah menjadi panas dan mereka saling mencari, menunjukkan keahlian yang belum pernah mereka tunjukan.


Mereka senada dan seirama meliuk gemulai dengan mata bertemu dan gejolak menyatu. Laras menumpahkan segala rasa yang ia punya dengan sangat tulus. Ia membalas semuanya dengan segenap rasa.


Setelah menjadi musafir yang berkelana menjelajah ke segala penjuru penuh dahaga hingga akhirnya mereka tiba di puncak perhentian dan termulai lemah berbaring bersisian.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Nabil dengan mata berkabut disertai kekehan khas orang mabuk sambil melihat kesampingnya dimana Laras berada.


"Aku...." mulut Laras terbuka ingin mengatakan ya tapi Nabil menutup mulutnya dengan telunjuk "ssst..untuk apa aku bertanya " Nabil menutup mulut Laras dengan telunjuknya lalu mengusap pipi gadis itu " ..tentu saja kamu mencintai aku, iyakan?" mata Nabil terkatup dan suaranya memelan dengan mata yang mulai terkatup "aku tau kau mungkin saja menyukai aku,...iyakan......Airin"

__ADS_1


Dada laras bagai tertusuk jarum yang sangat hebat. Jadi Nabil menganggap dirinya Airin? air mata mengalir dari sudut pipinya begitu terdengar dengkuran halus Nabil ia berjingkat memungut pakaian dan meninggalkan kamar itu.


__ADS_2