Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
datang kembali


__ADS_3

***


Setelah matahari bersinar cerah perlahan gelap mulai datang dan bagi memuja matahari mulai gamang. Gelap ini terlalu lama untuknya seolah matahari itu tidak ada lagi ada. Gelap itu merasuki ruang-ruang kehidupannya.


Mataharinya, entah dibarat atau ditimur atau dimanapun di ceruk dibumi ini. Ia tidak tau dimana dia, bahkan dirinya saja tidak tau di titik mana ia saat ini.


Yang pasti ia sudah malu merindukannya dan bermohon untuk lagi menerangi kehidupannya setelah mengabaikan karena saat bersama bahkan menyakitinya.


Permata yang dulu ia puja sekarang sudah berganti sebutir kerikil dimatanya. Tidak berarti apa-apa sedikit rasapun tidak ada yang tertinggal bahkan benci sekalipun. Sekarang ini ia hanya butuh waktu untuk sendiri, tanpa kekasih, tanpa teman dan tanpa siapa-siapa.


Ia memilih menjauh, sejauh mungkin dan tidak mempercayai siapa-siapa bahkan dirinya sendiri. Ia juga memutuskan hubungan dengan siapa saja. Amoy lah yang selalu setia menemani dan mengurusnya walaupun sudah sering ia usir. Kalau bukan ada Amoy rumah itu pasti sudah seeprti sarang hantu tidak diurus.


"Apa suratnya sudah datang?"


Pertanyaan itu hampir setiap waktu keluar, termasuk.


"Apa dia sudah pulang?"


Atau


"Apa rumah itu sudah diisi?"


Jawaban Amoy selalu belum


Setelah itu sunyi. Kadang yang terdengar hanyalah suara benda yang di susun Amoy atau dentingan alat dapur.


Dan jika Amoy bertanya "apa tuan mencintai nona Laras?"


Jawabannya belum


"Mencintai nona Airin?"


"Tidak"


"Apa karena nona Airin selingkuh?"


"Bukan"


Hanya itu yang mereka bicarakan. Amoy yang biasanya tidak kepo dengan urusan Nabil sekarang jadi serba tau. Nabil seperti orang waras tapi selalu murung, kadang melamun dijendela.


"Jika tuan tidak terluka dan juga tidak mencinta kenapa tuan menyendiri?" tanya Amoy.

__ADS_1


"Aku tidak sendirian, aku ada bersama kenangan"


Saat itulah Amoy ingin menenggelamkan diri karena kesal.


Entah kenangan bersama siap yang ia maksud. Amoy tidak bisa menerka isi kepala Nabil.


"Entah kenapa aku rindu sikap dia"


Nabil mengajak Amoy berpikir keras, dia siapa yang dimaksud Nabil. Ia tidak tau,


"Tuan butuh refresing"


"Aku tidak butuh apa-apa" ia beranjak dari sana mengambil gitar dan menyendiri sambil memetik gitar. Nabil adalah seorang pelari tangguh, lari dari kenyataan. Mungkin ia ingin move on tapi dipaksakan.


Suara sumbang itu memenuhi ruangan, Amoy lebih baik mendengar suara kumbang dari pada suara fall milik Nabil. Isi kupingnya hampir berceran diluar.


Pintu didepan diketuk dari luar. Bergegas Amoy pergi membukakan dan ia tertegun melihat siapa yang datang.


Perempuan itu masih punya muka untuk datang kehadapan Nabil dengan wajah sembab bekas tamparan. Ia melewati Amoy dan berlari kedalam dan langsung meraup tubuh yang sedang terpaku dengan gitarnya.


"Arga....dia meninggalkan aku...."


Nabil masih mematung mungkin seolah perempuan itu adalah halusinasinya yang tidak perlu digubris.


Airin menangis sesungukan didepan Nabil minta perhatian dan minta dikasihani. Ia mengguncang tubuh Nabil agar menghiraukannya. Mata pria itu melihatnya kuyu.


Perempuan itu hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa tau bagaimana sakit Nabil karena penghianatannya.


"Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan kamu, lebih baik kamu pergi, pintu terbuka lebar untuk mu" ujar Nabil datar.


"Nabil, tolonglah! aku mohon! aku tidak ingin anak ini tanpa ayah"


"Kau adalah ******, mencari seorang ayah untuk anak kamu itu pasti tidak akan sulit"


"Pria yang aku kenal hanya kamu! aku menyesal berhianat padamu! tapi tolong jangan hukum aku!"


"Aku bukan dewa keadilan yang bisa menentukan hukuman"


"Kau berubah..."


"Karema kau bukan siapa- siapa aku!" potong Nabil dengan nada tinggi. Ia beranjak dari sana membiarkan Airin sesungukan dilantai. Pria itu melanjutkan lamunannya dekat jendela.

__ADS_1


"Bukan aku saja yang bersalah, kamu juga!! kamu menganggap aku adalah cinta pertama kamu,...kalau tidak untuk apa kamu mendatangi aku?!!!"


Otak Nabil yang sedang hang menoleh ke Airin.


"Kamu yang berupaya untuk menumbuhkan cinta dengan berbagai cara!! aku dan Arga juga karena kamu!! kalau bukan karena kamu yang tidak peduli pada aku, aku juga tidak akan begini!!'


Nabil tidak tau mau perempuan ini. Baginya semuanya sudah selesai tapi kenapa masih ada salah menyalahkan? dia saja yang dihianati berusaha untuk mengatakan itu semua takdir.


Dari pada ia makin pusing lebih baik ia melamun, dengan lamunan ia bisa menjangkau awan dan nyaman bersama khalayannya. Suara cempreng yang sesuai dengan musim, jika ia bahagia maka senyuman tulus tercipta dari wajahnya. Wajah kesal dan marah.


Amoy merasa ternganggu dengan tangisan Airin ia membujuk perepuan itu untuk diam. Dan seperti biasa, Airin bakal patuh pada siapa saja.


"Tenangkan diri nona dulu" Amoy menyodorkan segelas air pada Airin.


"Terima kasih Amoy, kamu adalah pria yang baik"


Nabil mendengkus, dalam hati ia mengejek. Jangan-jangan perempuan itu langsung kesengsem juga pada Amoy. Secara dia kan wanita murahan.


"Aku kesini bukan untuk baikan, aku tau kamu kecewa pada aku, aku kesini karena tidak tau pada siapa aku mengadu, aku dipecat dari pekerjaan, ditinggal Arga dalam kondisi hamil"


Nabil tidak menghiraukan Airin, tatapan matanya sangat kosong. Untung ia menjaga diri kalau tidak mungkin saja ia sudah dibodohi. Lalu tiba-tiba ia ingat perempuan keras kepala itu, jika ia begituan dengan Laras itu berarti?


Bola mata Nabil langsung bersinar cerah dan menghampiri Airin.


Airin mengira Nabil berubah pikiran dan ia menyambut pula dengan wajah berseri. Nabil pasti memeluknya, minta maaf padanya.


"Laras!! apa dia hamil?"


Airin langsung terhenyak, Nabil menanyakan ini padanya? itu berarti Nabil dan Laras juga.....


"Katakan! mana dia?" mata Nabil berbinar cerah sambil memegang bahu Airin. Perempuan yang dibalut cemburu itu berpikir licik.


"Dia pergi"


"Kamu pasti tau dimana dia? katakan padaku, mana dia?"


"Aku tidak tau!!" Airin menepis tangan Nabil lalu bangkit "aku tidak ada waktu mengurus dia! saudara tiri perebut! aku benci dia!!...." Airin histeris apa yang ia katakan berasal dari hatinya. Ia benar- benar benci pada Laras yang telah masuk kedalam kehidupannya


"kamu tidak punya perasaan, aku begini karena teman kamu! tapi kamu juga bermain api dibelakang aku!! kenapa kamu hanya menyalahkan aku?!!!"


"Aku begitu dengan istri aku!" balas Nabil tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kau!! kau juga penghianat! waktu itu kamu mengaku tidak padaku!!" Airin menunjuk Nabil dengan mata berapi-api.


"Waktu itu aku sangat bodoh dan mau berbohong demi wanita macam kamu, sekarang aku tau mana yang permata dan mana yang sampah"


__ADS_2