
"Kamu kenapa kasar pada kak Airin? dia pasti sangat sedih" Laras tidak terima Nabil menyindir kakaknya.
Dari tadi Laras sangat kesal pada pria itu. Nabil mendekatinya dan meraup bahunya tidak peduli wanita itu marah-marah.
"Aku harus bagaimana? melembutkannya? apa itu yang kamu mau? nanti Larasku cemburu dan marah lagi pada aku, sekarang saja aku tidak bisa mengendalikan keadaan untuk seperti Larasku yang dulu, Laras yang manis memanggil aku dengan sebutan manis pula, dia sering menggoda aku dengan tingkahnya yang ajaib, sekarang Larasku sangat jauh berubah"
"Tapi tidak dengan berkata seperti itu, dia dulu pernah kamu cintai"
"Itu dulu, tapi sekarang ada kamu,,,hanya kamu, masalah kita akan makin rumit jika mencampur adukkan masa lalu dengan kehidupan kita, makanya kita permudah, lupakan itu semua dan mari kita melangkah kedepan,...aku dan Airin hanyalah sebatas ipar, tidak mungkin aku melanggar itu lagi Ras, aku pernah brengsek dimasa lalu tapi tidak untuk kedepannya, aku adalah seorang ayah, aku tidak ingin anak kita mencontoh sifat buruk aku nantinya"
"Apa kamu sanggup melupakan hal yang pernah kalian lalui?" Laras ingat dengan foto-foto yang disimpan Airin dilaci kamarnya serta benda yang tidak sengaja diinjaknya.
"Sanggup, yang tidak aku sanggup adalah melupakan kamu, kamu memberikan pengajaran yang berharga dan juga mengasihkan hal yang berharga untuk aku, jika ada kesalahan aku dan Airin itu adalah kesalahan masa lalu"
Pria itu mendekap Laras erat. Di lantai dua terlihat seorang wanita meneteskan air mata. Hati wanita itu terombang-ambing tidak karuan. nafsu membawanya jauh dari apa yang ia inginkan. ternyata pria tidak selamanya takluk pada yang namanya kecantikan. Kalaupun Laras adalah wanita yang pernah ada di hidup Nabil tapi jika dia menjalin hubungan tanpa penghianatan mereka pasti bisa bersama dan cerita antara Laras dan Nabil akan hilang begitu saja. Pasti ceritanya akan happy ending sekarang dan ia bahagia bersama Nabil. Ia kalah oleh nafsu yang ditawarkan Arga bukan cinta yang dipersembahkan oleh Nabil. Cerita itu sudah lama usai hanya saja dirinya yang tidak ingin melepaskan Nabil untuk Laras. Ia ingin Laras tetap menjadi adik yang penurut dan berada dibawah kekuasaannya.
"Terima kasih telah merubah hidup aku, kamu adalah cintaku, perempuan pertama yang mencuri hatiku"
Drama didepan mata Airin mengalahkan drama film romantis berjilid. Ia memundurkan langkah tidak sanggup melihat itu semua.
"Kamu ngaco, cinta kamu bukannya kak Airin?"
"Waktu aku masih SMA dulu ada seorang gadis kecil yang sangat bijaksana menasehati aku dengan ucapannya sok bijaknya, dia mengikat luka aku dengan sapu tangannya warna merah jambu, gara-gara sapu tangan itu ia dimarahi oleh kakaknya karena tidak menjaga dengan baik padahal itu adalah hadiah dari almarhum neneknya"
Mata Nabil melihat lurus ke Laras, wanita itu salah tingkah. Laras pasti ingat karena periatiwa itu ia dimarahi kakaknya habis-habisan.
"Apaan sih aku tidak mengerti" elak Laras.
"Aku sudah mengembalikan sapu tangan itu ke Airin" beritahu Nabil.
"Ya baguslah,...untuk apa dibahas! lebih baik kamu kembali bekerja atau kemana" nada Laras memang jutek tapi wajahnya tidak seperti tadi. Sekarang Laras agak melemah.
"Ngusir?"
"Maunya iya tapi ini bukan rumah aku"
"Manisnya....makin cinta deh"
__ADS_1
Laras merinding apalagi Nabil nyosor begitu saja.
"Kita perbaiki lagi ya Ras, pernikahan kita, oke!!"
"Gak mau"
"Aku sudah daftarkan lagi tapi kata pensehat pernikahan, pernikahan kita masih sah dan kalau mau adakan lagi resepsinya sekalian doa bersama, mama juga sedang mengurus itu kok"
"Bukannya mama kamu...." Laras lihat kiri kanan takutnya Vina dengar lagi ia bilang mama kamu atau tante dan dia didamprat ".....lagi lihat papa pulang"
Nabil tertawa "untuk apa liat papa terus? papa nginapnya disini semalam, kita ngobrol sampai larut, baru tadi pagi papa pergi"
Lagi-lagi bayangan semalam merasuk keingatan Laras.
Ia harus percaya nabil atau penglihatannya.
"Kamu sangat aneh!"
"Sini deh, kamu periksa bagian yang mana di aku yang aneh"
"Yang aneh itu isi kepalanya"
"Oh tau saja Laras kalau isinya lagi pengen, Laras memang pengertian, hanya tinggal tinggal tindakan sebagai penolongan , mau sekarang Ras?"
"Apaan sih viktor"
"Gimana gak viktor, udah lama"
"Jangan samakan aku dengan para perempuan kamu ya, dikurung untuk melayani kebejatan kamu" Laras meninggalkan Nabil karena pusing bicara dengan pria itu. Sebenarnya bukan karena sikap Nabil tapi karena penilaiannya yang kurang percaya dan juga ingin percaya tapi sulit.
"Kamu gak dikurung, kamu boleh kok kemanapun pergi asal dengan aku, kalau aku tidak ikut nanti kamu tinggalin lagi"
"Kamu juga punya pacar seksi..siapa namanya? Cleo"
"Dia udah pergi,.mungkin sudah mendapatkan pengganti aku"
"Kenapa? pasti karena kemesuman kamu"
__ADS_1
"Kau gak pernah macam- macam selain cium*n, aku kasihan pada dia...kalau aku teruskan dia akan terluka karena aku tidak mencintainya, jika dia tidak denganku pasti dia akan mendapatkan pria yang tepat untuknya"
Nabil mengikuti Laras yang ngacir kehalaman belakang sambil ngoceh kayak penjual obat yang ingin dagangannya laku.
"Kenapa ikutin aku?? sana bekerja"
"Aku gak konsentrasi, kepikiran kamu terus, pengennya pelukan terus Ras sampai Alan pulang sekolah"
"Apaan sih? ganggu saja" Laras menjaga jarak dengan Nabil dengan tangan diayun-ayunkan agar pria itu tidak mendekat. Laras itu mirip abege labil, diluarnya keras didalamnya rapuh. Dia kasar karena membentengi diri agar tidak dilukai.
"Awas Ras!!"
BYURR!!
Nabil terlambat memperingatkan Laras. Kaki laras tergelincir dan tercebur ke kolam renang.
"Tolong!!" Laras menggapaikan tangannya padahal airnya tidak terlalu dalam. Melihat hal itu tanpa pikir panjang Nabil langsung terjun kesana. Begitu melihat pria itu tercebur dan basah Laras muncul kepermukaan.
"Basah juga kan?" tanyanya penuh kemenangan karena Nabil terjun dengan sepatu.
"Jadi kamu mengerjai aku ya?" Nabil mengusap wajahnya yang dialiri oleh air dari rambutnya.
"Dikit" Laras berenang keluar. Kakinya ditarik oleh Nabil "kata siapa kamu boleh keluar dari sini Ras, kamu sudah bikin aku basah"
"Lepaskan"
Nabil memutar tubuhnya kedasar dan menarik pinggang Laras. Sebelah tangan Nabil menarik tengkuknya dan menempelkan mulutnya ke mulut Laras. Beberapa detik mereka disana dan Nabil membawa Laras berdiri perlahan tanpa mau melepaskan cium*nnya sampai mereka tiba dipermukaan dan Laras mendorongnya. Laras hampir kehilangan oksigen.
Baru saja Laras agak mendingan Nabil kembali menguncinya dan melanjutkan kembali apa yang tadi ia mulai. Laras yang keras hampir takluk dibawah kekuasaannya. Air itu terasa bergejolak dan panas dan Laras kewalahan. Hampir saja yang harusnya terjadi tidak terjadi karena sadar mereka berada ditempat yang bisa saja dilihat oleh orang lain. Mungkin karena inilah Nabil ingin hidup tanpa siapa-siapa dirumahnya dan bebas bercint*
dimana saja.
"Sudah! lepaskan!!'
Mata Nabil sayu penuh gairah yang tidak terbendung. Suaranyapun serak.
"Aku ingin, ingin sekali" Nabil menjatuhkan diri dibahu Laras dengan nafas kasar susah untuk dikendalikan.
__ADS_1