Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
dendam yang terselubung


__ADS_3

Bocah lima tahun itu meringkuk ketakutan. Dihadapannya tiga orang dewasa sedang beradu mulut menggunakan kekeras*n.


Seorang pria tua di tekan habis-habisan oleh seorang perempuan setengah baya dan pria muda di depannya. Kedua manusia beda umur itu terlibat persekongkolan. Pria muda itu adalah mantan sopirnya sedangkan perempuan setengah baya itu adalah wanita simpanannya, wanita yang pernah ia tolong ketika wanita itu mencoba bunuh diri karena selingkuhannya.


Pria tua itu melihat ke Alan, menyusup rasa kasihan di dalam hatinya. Putranya sangat menyukai bocah itu terkait iya atau tidaknya dia adalah putra Nata. Tapi seluruh perhatian dan kasih sayang putranya tertuang pada bocah itu. Ia tidak tau apa yang telah dua manusia ini pada bovah itu. Terakhir wanita yang bermana Nesa ini meminta dirinya dengan lemah lembut untuk segera menjemput bocah itu karena berkemungkinan Alan adalah cucunya. Dia menghasut agar merebut Alan dari Laras dan dirinya mengikuti kemauan wanita itu.


"Ayo cepat!!" pria muda itu mendorong tangan pria tua itu kasar untuk segera menandatangani apa yang ia inginkan. Pria tua itu menyesal pernah menyayangi dan mendidik serta menganggapnya seperti keluarga begitu juga dengan wanita setengah baya yang ada bersamanya. Semua kebaikannya dibalas dengan kejahatan.


Si perempuan itu menghirup kreteknya dalam -dalam dan menghembuskan pada pria tua itu sehingga pria itu terbatuk.


"Aku suka yang begini Gio, aku bisa hidup nyaman setelah ini, akan aku hancurkan mereka satu persatu" mata wanita bertubuh sedang itu menerawang. Setelah ini ia akan memperlihatkan semuanya pada mereka yang telah membuat hidupnya sengsara terutama pada pria terkutuk yang memilih istrinya dari pada dirinya padahal dia rela apa saja demi dia.


"Cepetaan!!!!"


Pria tua itu terlonjak dan wanita itu tertawa menyaksikannya "rupanya kau sudah jantungan sayang, lama kelamaan kau juga bakal koid, coba kau pikirkan kemana semua ini akan kau kasihkan? istrimu juga sudah tua dan anakmu telah mati"


"Kalian!!! kurang aj*r" nafas pria tua itu tersengal karena emosi. Ia dipermainkan oleh mereka. Tangannya bergetar mengambil pulpen tapi kemudian sudut matanya melihat Alan yang menggigil ketakutan.


"Akan aku turuti, tapi kasihkan dia pada ibunya"


"Tidak bisa Danil, disini kamilah yang memegang kendali, bocah itu akan seperti putramu kelak, menyenangkan hidup kami dan ibunya akan menjadi gila" tawa nesa membahana memenuhi ruangan. Apa yang dikatakan Nesa tidaklah salah. Putranya menjalani kehidupan penuh kekerasan. Pria tua itu tidak tega melihat Alan ia menguakkan tangan Nesa dan Gio tapi sebuah temb*kan mengentikannya.

__ADS_1


"Kamu kira kami main-main?" Gio sipria tiga puluhan itu mendorong pelatuk kekening Danil.


Emosi Danil juga sudah membuncah, beraninya bekas sopirnya itu menggertaknya. Tenaganya mungkin sudah jauh berkurang tapi emosinya makin hari makin bertambah.


"Anak tidak tau diri, kau hanyalah anak seorang babu! kau tidak pantas untuk kaya, garis takdirmu sudah ada, sampai matipun aku tidak akan menyerahkannya pada kau dan kau!" Danil menunjuk Nesa dan Gio.


"Kurang aj*r!" Gio kembali mengarkah pelatuk tapi Nesa dengan cepat mencegahnya "tahan Gio"


Wanita dengan segala kepercayaan dirinya menghampiri Danil dan meraih pipi pria itu untuk mengecupnya. Setelah itu dengan tidak tau malunya dia menanggalkan satu persatu yang ia punya. Dulu Danil akan menyambut baik hal itu tidak peduli dimanapun tempatnya tapi sekarang ia sangat jijik memperhatikan itu semua. Danil tidak mempedulikan Nesa ia meraih Alan dan mendekapnya untuk mengurangi ketakutan anak itu.


"Hey Danil!!!" harga diri Nesa bagai di lecehkan ia meraih bahu Danil dengan kasar hampir saja Alan terjatuh dari dekapan pria itu.


"Tubuh tua kau tidak lagi menarik nesa, kau hanya mengulur waktu" ejek Gio. Perempuan yang bernama nesa itu tersinggung karena ucapan pria itu barusan.


DOR!!!!


Lari Danil langsung terhenti dan Alan terlepas dari gendongannya. Bocah itu langsung menangis kejang sedangkan Danil langsung terduduk dilantai menahan ringisan. Ia berusaha menjangkau Alan untuk melindungi bocah itu dari serangan Gio.


"Jangan takut nak, jangan takut!!"


"Bagaimana pak tua, itu baru percobaan, kau tandatangani atau,...kau akan melihat bocah itu menderita didepanmu" Gio dan Nesa mendekat mereka sekarang tau kelemahan Danil ada pada anak kecil itu. Mata Danil terbelalak, menyesal ia menunjukkan kepeduliannya terhadap Alan jika akhirnya akan membuat bocah itu menjadi celaka. Ia tau pikiran licik Nesa dan Gio, meskipun dia menyerahkan semua yang ia punya, belum tau mereka akan melepaskan Alan.

__ADS_1


Danil tidak tau caranya untuk menyelamatkan Alan dari cengkeraman dua iblis ini. Bocah itu menjerit ketakutan melihat pis*u penuh d*rah didepannya. Ia berdoa dalam hati semoga ada pertolongan untuk bocah itu. Belum pernah ia berdoa seperti ini untuk memohon pada Tuhan sampai Air matanya sampai menetes. Semoga ada keajaiban untuk mereka.


Pintu terbuka secara paksa. Danil tidak banyak berharap dengan itu karena semua anak buahnya sudah dikuasai oleh Gio dan Nesa. Pria tua itu lemah tidak berdaya. Lantai mulai merah menganak sungai berasal dari kakinya.


Suara Alan menghilang, wajahnya pucat pasi. Di dekatnya terdengar suara tembak*n sahut-sahutan. Dari dalam ruangan juga keluar sejumlah pengawal Danil yang sekarang menjadi anak buah Gio dan Nesa. Para pria terlatih itu dikerahkan untuk melawan orang asing barusan.


"Cari tau siapa mereka! cepat!!!"


"Berhenti kalian!!" teriak Danil pada mereka semua. Sejumlah pria plin-plan antara patuh pada Danil atau Gio.


"Aku bersumpah! kalau kalian menyentuh anak itu aku akan bun*h kalian dengan tanganku sendiri"


Gio mengasih isyarat pada para anak buahnya itu untuk mengabaikan ucapan Danil. Baru saja mereka beranjak terdengar suara tembakan beruntun dari luar ruangan. Gio memeriksa cctv dengan cepat untuk mencari tau dari mana datangnya seranga itu.


"Danil!! mana kau? Danil!! keluar kau!"


Danil meringis berusaha menjawab sekeras mungkin "aku disini!"


Hendra dan Nabil muncul dengan sen*pan ditangannya.Dua pria itu menduga Danillah biang dari semua ini karena selama ini Danil terkenal dengan kekejamannya. Nesa meraih Alan untuk membawa bocah itu kabur tapi dengan cepat Danil merebut bocah itu.


Nesa dengan mudah mendorong Danil dan pria itu tersungkur dilantai. Nabil berlari mengejar Nesa sepanjang lorong untuk merebut putranya. Nabil rasanya pernah melihat perempuan itu tapi entah dimana. Wajah wanita itu familiar di ingatannya dan ia deja vu.

__ADS_1


"Anda percuma untuk lari, tempat ini sudah dikepung polisi!!!"


__ADS_2