
"Tadi aku bilang bahwa kamu punya rumah yang baguskan? ini rumah kamu" Nata mengenalkan rumahnya pada Alan yang berada digendongannya dari mobil ke rumah.
Bocah itu bengong, tidak percaya. Mana mungkin rumahnya seperti istana. Ada banyak orang juga disana menyambutnya.
"Kamu bilang apaan sih?" Laras tidak suka kalau Nata membuat Alan berpikir ketinggian.
"Aku bilang yang sebenarnya, dia kan putra aku"
"Mulai lagi??"
"Boleh, mari kita mulai! mulai dari mana?"
"Kamu jangan alihkan pembicaraan!!"
Nata tertawa lepas, Laras kalau marah membuat dunia penuh warna-warni. Semakin Laras marah maka ia makin senang. Kemarahan Laras seperti vitamin baginya. Dengan begitu moodnya jungkir balik.
Nata menurunkan Alan dari gendongannya dan memerintahkan pelayan untuk mengurus Alan.
"Dia adalah tuan muda kalian, turuti apa yang ia mau!!"
Pelayan itu mengangguk dan mengajak Alan untuk ikut dengannya. Bocah itu melihat ke Laras dan Nata mengangkat tangan Laras untuk melambaikan tangan pada Alan.
"Kamu ingin putraku menjadi egois dengan semua ini?"
"Apa yang salah, ini semua milik dia"
"Kau jangan mengada-ada"
"Aku tidak mengada-ada Ras, aku menyayangi kamu dan Alan"
"Dia putranya Nabil, bukan kamu"
"Aku tau, tapi apakah Nabil percaya kalau Alan adalah putranya? aku rasa itu sangat sulit, dia akan sulit menerima Alan sebagai anaknya, ia sudah bahagia dengan wanitanya dan kamu? kamu juga harus bahagia Ras, kamu butuh sosok pria untuk jadi ayahnya Alan, aku siap untuk itu aku menyayangi Alan sama dengan aku menyayangi kamu"
Nata merangkul bahu Laras jalan diruang tengah rumahnya. Laras berkelit untuk melepaskan rangkulan itu.
"Jauhkan tangan kamu dari aku"
"Oke, ini aku jauhkan" Nata membelenggu tangannya kebelakang dan wajahnya dicondongkan ke Laras. Sebuah jitakan mampir dikeningnya.
"Kamu mengajak aku kesini untuk apa sih?"
__ADS_1
"Untuk pulang, aku adalah rumah kamu, tempat kamu pulang dan kembali jadi jangan pergi-pergi lagi, aku tidak mau sendiri..."
"Apaan sih? pakai lirik lagu"
"Hargai dong, sudah usaha keras nih"
Sudut mata pelayan melirik sang tuan yang tiba-tiba saja jadi geje memutari Laras yang sedang berjalan. Pria pemarah yang berubuh jadi kucing manis dengan seorang perempuan dan itu adalah pemandangan langka.
"Kamu mau makan siang dimana? dihalaman? didalam atau direstorant?" tanya Nata serius pada Laras. Hatinya senang sekali ada Laras disini.
"Aku belum lapar"
"Kamu harus makan, kasihanilah tubuhmu yang kurus itu! dulu kamu mengejek aku kurus tapi sekarang kenapa kamu yang kurus?"
"Orang miskin kurus itu biasa, yang tidak biasa itu adalah orang kaya yang kurus seperti kamu"
"Tuhan! kasih aku otak yang banyak untuk berdebat dengan perempuan ini!!"
Nata minta pada pelayannya untuk mengantarkan makanan halaman belakang dan menyuruh pelayan itu untuk bertanya pada Alan, makanan apa yang ia suka.
"Disini saja, bertanya pada kamu tidak akan ada jawaban yang diinginkan" Nata menggeserkan kursi untuk Laras dan memaksa perempuan itu untuk duduk disana.
"Ibu!!"
"Kamu sudah tampan, jagoan! sini!"
Alan berlari kedekat Laras ketika lewat dekat Nata pria itu menangkapnya dan mendudukkan dekatnya "kamu duduk disini jagoan, dekat sesama pria" Alan melirik ke pakaian yang dipakai Nata yang hampir sama persis dengannya.
"Kenapa baju kita sama om?" tanya Alan heran.
"Karena kita keluarga, kamu adalah putra aku..kau ingat? aku menyayangi dari kamu sangat keciiil sekali, aku jatuh cinta padamu"
Alan menganalisa ucapan Nata dan Laras sudah capek menepis ucapan pria itu.
"Itu sudah yang keberapa kalinya kamu bilang sama saya om, saya paham tapi kenapa ibu bilang tidak"
"Itu karena ibu kamu belum menerima saja, kamu harus membantu aku untuk membujuk ibu kamu" bisik Nata.
"Kamu jangan meracuni pikiran bocah!" Laras menjauhkan putranya dari Nata.
"Ini urusan pria, wanita tidak boleh tau, bukannya begitu?" Nata menggerakkan alisnya pada Alan agar bocah itu tersenyum.
__ADS_1
Pelayan mengantarkan makanan kesana. Nata melihat ke meja. Ada steak, sayuran, ramen dan gulai. Nata bertanya pada Alan "mana makanan yang kamu suka?"
Bocah itu menggeleng "kata ibu tidak boleh memilih makanan"
Nata mengusap kepala Alan "ya sudah, ayo kita makan"
Pria itu mengambilkan apa yang dimau bocah itu persis seperti seorang ayah yang menyayangi anaknya. Nata tulus bukan karena ingin mengambil hati Laras.
Selesai makan Nata mengasih kejutan ke Alan. Ia mengajak bocah itu keruang tengah. Ia mengajak membuka kardus-kardus yang sudah teronggok disana.
"Wow!!
Mata bocah itu berbinar melihat tumpukan mainan didepannya.
"itu punyaku semuanya?"
"Tentu saja, ini punya kamu"
Anak itu sangat senang dan berteriak pada ibunya "ibuuu!! aku punya banyak mainan"
Betapa senangnya hati Alan mendapatkan itu semua. Sebaliknya hati Laras sangat sedih. Putranya mendapat perhatian dari pria yang bukan ayahnya.
Harusnya Alan begini dirumah yang sebenarnya tapi sayang. Keluarga Nabil tidak ada yang mau dengan anak itu. Waktu ia hamil saja datang kerumah mertuanya malah diusir.
***
Vina mondar-mandir didepan rumah Nabil menunggu anaknya itu pulang. Ponselnya ia pegang erat-erat tanpa disadari saking kesalnya pada putranya. Barusan ia mendapat kabar dari Cleo kalau perempuan itu dan putranya sudah berakhir dan saat itu juga Vina langsung kerumah Nabil.
Ia kecewa teramat sangat, ia sudah ingin menimbang cucu diusianya yang tidak lagi muda. Tapi anaknya tidak peka. Jangankan untuk menikah, untuk jatuh cinta saja ogah. Untuk apa Nabil tinggal rumah yang sebesar itu sendirian. Sebantar lagi rumah itu akan horor karena lengang penghuni.
Nabil ingin menjadi tua renta yang menyedihkan. Tapi yang paling menyedihkan sekarang adalah dirinya. Usia tuanya sangat terasa hampa.
Jika Nabil pulang, ia akan mendamprat habis-habisan. Lebih baik ia bergerak sekarang selagi masih bisa untuk memperbaiki sebelum terlambat.
Sekarang ia tidak sabar untuk menunggu anak itu muncul.
Kemarahan Vina sudah siap meledak hanya menunggu waktu.
Dan,..akhirnya mobil Nabil datang. Sopir membukakan pintu dibelakangnya. Yang pertama keluar dari sana adalah seorang bocah kecil dengan tangan dan kaki diperban dan diringi Nabil yang kemudian menggendong bocah itu.
Vina mengira dirinya halusinasi karena saking inginnya ia punya cucu. Ia mengusap matanya dan tidak berubah. Putranya jalan mendekat sambil bicara dengan anak yang ada didalam gendongannya.
__ADS_1
Di belakang mereka ada seorang perempuan yang tidak asing bagi Vina. Wanita masa lalu Nabil.
Airin.