Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
tuh, kan..


__ADS_3

Langkah Nabil terpetai-petai mengajak Cleo kemobil. Wanitanya berwajah keruh dan tidak enak untuk dipandang. Nabil juga demikian akibat Laras barusan.


"Aku antar kamu pulang" ujar Nabil kemudian setelah lama diam dan mobil mereka jauh dari restorant tadi. Rencanya malam ini mereka akan ke village untuk liburan dan pulang esok hari.


"Itu lebih baik" nada Cleo terdengar kecewa.


"Kamu tidak marah?"


"Ingin sekali, tapi tidak sekarang" ujar Cleo jujur.


"Aku akan jelaskan"


"Nanti saja, aku sedang emosi, kalau bicara sekarang yang ada kita malah berantem"


"Aku..."


"Stop! aku tidak ingin dengar apapun, aku lelah, aku ingin istirahat, oke!! ini hanya mimpi besok semuanya akan baik-baik saja kembali"


Nabil menghargai keputusan Cleo. Cleo sangat dewasa menghadapi permasalahan. Wanitanya sangat matang dalam perpikir disebuah hubungan. Saat memanas maka Cleo akan menjadi pendingin. Dan memilih menyelesaikan ketika keadaan sudah agak mendingan. Jarang ada wanita seperti Cleo yang kalau sudah marah akan menyelesaikan saat itu juga dan akhirnya menjadi penyebab retaknya sebuah hubungan.


Nabil dan Cleo jarang bertengkar tapi rasanya datar, tidak ada gregetannya sedikitpun.


Sebenarnya kasihan Cleo yang dijadikan tempat untuk bersandar dikala hatinya belum sepenuhnya utuh. Ia telah membohongi wanita seperti Cleo. Nabil tidak pernah mengasih kepastian kemana arah hubungan mereka. Ia hanya menjadikan Cleo sebagai teman dalam perjalanannya. Dan setelah lelah ia ingin berhenti dan singgah sedangkan Cleo ingin terus bersama sampai tiba ditujuan.


Cleo selalu ada untuknya kala dia meratapi dirinya sendiri di kota Vanuatu, kota yang konon katanya paling bahagia didunia. Tapi bukan bahagia untuk dirinya. Kisahnya kandas bersama Airin dan juga Laras. Penghianatan Airin tidak begitu membuat luka tapi kehilangan Laras yang membuat dirinya terpukul.


Kesadaran itu datang ketika orang yang dilihat sebelah mata pergi. Disanalah baru sadar arti cinta yang sebenarnya. Waktu dia ada disia-siakan dan ketika sudah pergi barulah terasa betapa berartinya dirinya.


Suasana dalam mobil hening sampai mobil yang dibawa Nabil sampai didepan sebuah apartement dan Ia membukakan pintu mobil untuk Cleo.


"Tidak usah diantar, kamu langsung pulang saja dan istirahat" Cleo memeluk Nabil dan mengecupnya singkat.


Setelah itu Cleo pergi kedalam tanpa menoleh kebelakang. Nabil yakin, Cleo menangis karena perempuan itu terlihat menghapus air matanya.


Nabil menghembuskan nafas berat, seberat beban isi kepalanya yang rumit.


Ia kembali kemobilnya dan mengikuti ucapan Cleo untuk segera pulang. Ia kembali ingat dengan Laras. Jika Laras punya suami siapa suaminya? kenapa ada Nata disana? setaunya Nata tidak pernah menikah dan dekat dengan perempuan manapun, kenapa ia kenal Laras?


Aneh saja Nata mendekati Laras seperti sudah akrab.


Laras itukan emang aneh, waktu itu saja ia mengaku hamil padahal masih perawan. Mobil Nabil berhenti mendadak karena ingat hal itu. Wajah Nabil yang kusut berubah menjadi cerah. Masih ada harapan, semoga saja Laras masih seperti dulu.


Mobil itu berputar lalu melaju dengan kencang. Tiba di pengkolan ia disambut oleh kemacetan dan ia melihat salah seorang pekerja rumahnya ikut antri dengan motor. Nabil menukar mobilnya dengan motor tersebut lalu mengebut dijalan raya.

__ADS_1


Ternyata bukan ia saja yang mengikuti Laras. Sebuah mobil juga menguntit perempuan itu dari belakang dan mobil itu adalah mobil Nata.


****


Suara mixer riuh mendekati dini hari didapur. Nabil yang sedang tidur diteras rumah kecil itu terbangun dan mengusap matanya yang masih sangat mengantuk. Udara dingin menyapanya dari balik jas hitam yang ia kenakan. Suasana pagi sangat lengang dan sunyi tapi Laras sudah bangun untuk membuat kue.


Tidak ada warung yang buka dekat situ untuk beli kopi mengurangi dingin. Untuk pergi jauh dengan motor ia juga malas untuk beranjak. Ia harus tabah menghadapi nasib. Kenapa tidak pulang saja tadi. Ini karena Nata sialan itu yang berlama-lama di depan rumah Laras entah apa yang ia lakukan. Lalu dirinya yang penasaran dengan Laras kesana setelah Nata pergi. karena capek ia duduk sebentar diteras ternyata ia ketiduran disana.


Nabil melamun melipat tangan untuk mengurangi dingin dengan mata mengantuk. Hatinya mulai berkata-kata untuk mengetuk pintu atau tidak. Hingga akhirnya fajar menyingsing dari Timur.


"Hey! ssst! om ngapain disitu? pergi sana! om mau kepala om benjol karena wajan ibu saya?"


Nabil kaget karena anak itu. Wajah polosnya menyunggingkan senyuman lucu. Ia sepertinya baru bangun tidur. Kenapa wajah anak ini mirip dia waktu kecil. Dirinya tidak sedang tidur dan bermimpi kan?


"Kamu siapa?"


"Saya anaknya ibu saya?"


Anak ibu saya, berarti anak Laras dong.


"Laras?"


"Hm" bocah itu mengangguk"


"Ayah?" dahi anak itu berkerut, seolah nama itu asing baginya.


"Nama kamu?"


"Alan"


"Kamu disini bersama siapa?"


"Sama ibu saya, om banyak tanya, ngapain disini? bahaya kalau ibu saya tau lebih baik om cepat pergi"


"Memangnya ibu kamu galak?"


"Tidak! waktu itu ada pria yang melakukan hal yang sama, ibu saya melempar dengan cobek"


Laras ngeri juga.


"Alaaan!!!"


Terdengar suara Laras dari dapur memanggil putranya dan bocah itu berbisik "ibu saya sudah manggil, dalam lima menit saya tidak datang maka dunia tidak akan baik-baik saja"

__ADS_1


Alan menarik kepalanya dari jendela dan menyahut Laras "ya ibu, Alan datang!"


Nabil tersenyum melihat tingkah bocah itu. Sangat lucu. Pintu rumah terbuka lebar.


"Hey anda! ngapain disini?"


Nabil menelan ludah, Laras galaknya minta ampun.


"Mau disini saja" jawab Nabil kurang fokus karena sapu ditangan Laras. Bocah tadi sudah mengingatkannya kalau ibunya sangat berani.


"Dunia ini luas, mengapa harus disini? kamu tau kalau aku disini membayar, pergi sana" Laras mendorong Nabil untuk pergi. Bukannya beranjak Nabil malah balik dan meraih bahu Laras lalu memeluknya erat. Sejak kemaren hal ini ingin sekali dilakukannya tapi baru kesampaian pagi ini. Tidak sia-sia ia merana didepan rumah Laras.


TAK!!!


Ujung sapu itu menyentuh kepala Nabil dengan mesra.


Rasain! siapa suruh main keplok saja.


Nabil meringis rasanya tidak main-main. Ia mengusap kepalanya untung tidak geger otak.


"Om belum pergi? apa aku bilang? bandel sih!" bocah cerewet itu muncul dengan handuk ditubuhnya. Baru habis mandi. Hidungnya merah karena dingin.


"Alan masuk!"


"baik ibu, laksanakan!"


Lagi Nabil tertawa dengan tingkah bocah itu.


"Pergi sana, masih pagi sudah menganggu kehidupan orang lain"


"Kalau gak boleh pagi, siang boleh berarti ya?"


"Pagi, siang, malam dan sampai kapanpun itu tidak boleh"


"Kenapa?"


"Nanti suami aku cemburu"


"Siapa suami kamu? Nata?"


"Tidak baik tau urusan orang lain, memangnya aku ingin tau hidup situ?"


BRAK!!

__ADS_1


Laras menutup pintu dengan keras. Nabil terperanjat.


__ADS_2