
Hely mendarat di halaman belakang sebuah rumah mirip hotel. Nata mengajak Laras untuk keluar. Udara malam yang dingin menyambut kedatangan mereka. Laras mengeratkan jas dibahunya.
Kota yang tidak pernah tidur itu masih hiruk pikuk. Bahkan kedatangan Nata saja langsung disambut oleh para penjaga rumah itu.
Nata merangkul bahu Laras untuk berjalan bersamanya diikuti oleh para penjaga. Nata mengenalkan pada Laras kalau itu adalah rumahnya. Rumah itu terletak tidak jauh dari pusat kota, beberapa kilometer dari jarak rumahnya. Tiba-tiba Laras rindu rumahnya, kangen pada semua orang.
"Biasanya aku selalu berada di sini, rumah hutan itu hanyalah untuk peristirahatan saat berburu" jelas Nata.
"Rumah sebagus itu?"
"Biasa saja, itu tidak seberapa bagi aku"
"Sombong"
"Aku tidak sombong, memang uang segitu tidak sulit, kalau kamu mau aku akan buatkan seratus kali lipat yang lebih bagus untuk mu"
"Tidak mau, terima kasih"
"Kenapa?"
"Tidak mau saja" balas Laras. Memangnya dia siapanya Nata pakai minta-minta. Mereka hanyalah sebatas orang asing yang tidak sengaja bertemu.
Pintu rumah terbuka lebar dan Nata masuk kedalam mengamit Laras.
"Siapkan kamar untuk Laras" perintah Nata pada para perempuan pelayan.
Sebelum beranjak, para pelayan itu sempat melihat ke Laras sekilas. Mereka mengira itu adalah kekasih tuan mereka. Yang datang dalam keadaan bunting, sayangnya sang tuan tidak teliti memilih. masa memilih perempuan biasa saja padahal dia kaya. Segudang wanita cantik bisa didapatkankannya dengan mudah.
Nata mengantar Laras kekamar "kalau kamu membutuhkan sesuatu panggil aku, ada call room disana, aku keatas dulu
"Terima kasih" Laras mendorong daun pintu hendak menutupnya. Nata masih berdiri didepannya.
"Kamu bisa juga menyuruh pelayan"
"Hm" ujar Laras tidak berminat. Kelopak matanya sudah sayu ingin segera tertutup.
"Aku akan mandi..."
"Iya,..iya..kamu kapan perginya sih? sana!"
Ini yang punya rumah siapa sih? kok galakan tamu? Laras menutup pintu begitu saja dan menguap lebar-lebar.
"Tempat tidur baru,...mari kita saling kenalan" bola mata Laras sudah susah diajak kompromi. Ia merebahkan diri diatas kasur yang super empuk itu. Alangkah senangnya saat punggung bertemu dengan kasur. Seperti seseorang yang bertemu dengan orang yang disukainya. Apalagi ruangan itu sangat adem dan ber ac. Juga bernuansa putih biru, warna yang paling disenangi Laras. Aroma theraphy tercium dari lilin di sudut ruangan diatas meja khusus.
Pintu kamarnya diketuk dari luar. Laras mengira itu adalah pelayan. Ia pergi membukakan pintu.
"Untunglah kamu belum tidur, aku boleh minta tolong" Nata nyelonong masuk ditangannya ada botol kecil. Sepertinya ia baru selesai mandi dan berpakaian biasa.
__ADS_1
"Tolong apa? benerin genteng?"
"Kamu ahli bangunan ya?"
"Ahli lah, aku pernah membangun istana pasir"
Nata terkekeh, beda saja melihat pria yang biasa berwajah ditekuk itu tertawa.
"Aku minta tolong..." Nata membuka kaosnya. Laras terlonjak dan langsung menutup mulut tidak percaya. Nata minta tolong kenapa buka baju segala.
"Apaan sih lebay! pasti isi kepala kamu kotor ya? kan kamu udah pernah....."
Laras masih terpaku melihat tubuh Nata tanpa baju.
"Hey!!" Nata melambaikan tangan didepan wajah Laras. Apa perempuan itu terpesona dengan keseksiannya?
"Pernah apa?"
"Pernah itu,..kamu sudah berpengalaman"
"Pengan ditampol?"
Nata nyengir ia mengasihkan botol pada Laras dan duduk dikasur.
Baru kali ini Laras melihat kondisi tubuh seseorang yang begitu menggenaskan. Tubuhnya dihiasi bekas luka sana-sini. Terakhir luka karena serangan hewan dihutan yang belum sepenuhnya kering. Berarti Nata menggendongya tadi dalam kondisi seperti ini. Rasanya pasti ngilu. Luka dipunggung Nata lumayan dalam pantas saja waktu itu ia tidak bisa tidur telentang.
"Aku punya nyawa sembilan, susah matinya"
"Masih bercanda, memangnya kamu kenapa begini sih?" Laras mengoleskan salep ke luka Nata. Pria itu meringis karena kandungan anseptik dalam obat itu membuat luka perih.
"Itu tandanya aku pria, semakin banyak bekas luka semakin laki"
PLAK!
"AWH!"
Laras memukul punggung Nata. Pria itu meringis "sakit tau!"
"Mana ada orang seperti boneka chaky seperti ini"
"Wajah aku gak ada luka kok, masih tampan"
"Puji diri sendiri, gak ada bini pun"
"Akan,..kamu!"
"Cari yang masih gadis bukan orang bunting"
__ADS_1
"Dulu kamu juga gadis, coba saja tuduhan kakak kamu nyata dan kamu orangnya kamu pasti tidak akan digrepein Nabil kan? tapi tak apa, aku menyayangi semua yang ada pada diri kamu, dia adalah anak aku"
"Jangan ngaku-ngaku, pakai baju kamu kembali, sudah selesai"
Nata memakai kaosnya kembali. Sekarang Nata seperti orang biasa. Tidak ada aura jahat dan menyeramkan pada dirinya apalagi dia tertawa. Ia seperti tidak punya sisi lain dalam dirinya.
"Terima kasih, kamu pasti sudah lelah, istirahatlah! besok kita kerumah sakit, atau kamu ingin aku temani sampai tidur?"
"Tidak usah, sana!"
Nata mengambil botol obatnya dan mengucapkan selamat malam pada Laras sebelum menutup pintu.
Setelah Nata pergi, Laras merabahkan diri dan matanya langsung terkatup rapat. Ia tidak tau sudah berapa lama tertidur. Ketika bangun ia disambut oleh para pelayan. Sekilas mengingatkannya pada rumah Nabil dimana mereka salah sangka pada dirinya dan memaksa untuk minum susu hamil.
Sosok Nata muncul dengan pakaian rapi berkata padanya "akhirnya kamu bangun juga"
"Sudah jam berapa sekarang?"
"Hampir setengah sepuluh"
Sudah sangat siang, Laras mengusap wajahnya matanya masih mengantuk dan lemas. Ia menumpang mandi dan Nata langsung berwajah masam karena apapun keperluan Laras sudah disediakannya dan perempuan itu malah seperti orang asing.
Laras ingin pulang setelah ini. Mungkin dengan minta izin pada Nata pria itu akan membiarkan dirinya pergi begitu saja. Selesai dari kamar mandi Laras menghampiri Nata dimeja makan karena pria itu menunggunya disana.
"Ayo sarapan dulu, setelah itu kita pergi"
Laras duduk didepan Nata dan mencicipi susu didepannya.
"Kamu mau apa?"
"Roti saja"
Nata mengambilkan roti bakar untuk Laras "selainya?"
"Strawberry"
Nata mengoleskan selai yang Laras pinta ke roti dan meletakkan dipiring lalu mengasihkan pada Laras.
Laras menatap Nata dan mengutarakan keinginannya "Setelah ini aku mau pulang"
Raut wajah Nata langsung berubah tidak enak untuk dilihat. Gerahamnya merapat erat. Nata sama seperti waktu pertama kali Laras bertemu dengannya. Bahkan Laras melihat buku-buku jarinya memutih. Makanan didepannya sama sekali tidak ia sentuh.
"Aku sangat berterima kasih padamu, kamu memperlakukan aku dengan sangat baik, semoga suatu hari nanti kita bertemu lagi" Laras menghabiskan rotinya lalu permisi
Tapi baru saja beberapa langkah ia berjalan.
"Pengawal! jangan biarkan perempuan itu pergi!!"
__ADS_1