
Makin hari keadaan Nabil makin mencemaskan. Pria itu hanya pulang sebentar kerumah untuk ganti pakaian selebihnya ia habiskan harinya untuk mencari Airin. Tiap ia pulang selalu dengan para pria berbadan kekar itu. Kabarnya ia sudah mencari Airin kesegala penjuru namun tidak ditemukan.
Laras tidak tau sehebat apa pria yang bersama Airin karena bisa menyembunyikan kakaknya begitu rapat. Nabil yang hebat saja tidak berhasil menemukan mereka.
Orang tua Laras juga tidak berhenti memikirkan Airin. Kemana anaknya itu pergi. Mereka menghabiskan hari untuk mencari anaknya tersebut. Keadaan mama Laras tidak beda jauh dari Nabil. Perempuan setengah baya itu sering memeluk foto Airin sambil menangis dan kadang menatap piala Airin yang berjejer dilemari kaca khusus diruang tamu. Airin memang anak yang pintar dan cantik. Ia sering mendapatkan piala penghargaan dibidang modeling dan menyanyi. Berbeda dengan Laras yang biasa saja mulai dari wajah dan kadar kecerdasan.
Laras memberti tahu orang tuanya agar jangan lagi mencari Airin karena mungkin saja Airin pergi dengan seseorang. Tapi kedua orang tuanya tidak mempercayai ucapan Laras.
"Kakakmu tidak mungkin seperti itu Ras, dia tidak mungkin menghianati Nabil" ujar mamanya meyakinkan bahwa kakaknya sangat mencintai Nabil. Mamanya menambahkan bahwa Airin bukanlah perempuan nakal. Airin itu adalah perempuan yang baik dan setia. Siapapun pria yang bersamanya adalah pria yang beruntung. Tapi sayang Airin sekarang entah dimana.
"Tapi ma, Laras boleh kembali kerumahkan? kalau disana yang paling tidak betah saat malam ma, aku suka ingat rumah dan mama, boleh gak ma aku disini saja tinggalnya bareng mama papa"
"Kamu harus disana dulu sebelum Airin kembali, karena setau orang Nabil sudah menikah, kamu harus menggantikan kakakmu untuk sementara"
"Ini anak mama lho ma, masa mama korbankan begitu saja"
"Itu bukan pengorbanan untuk kamu saja tapi untuk keluarga kita, bisa bayangkan jika keluarga Nabil menuntut keluarga kita? kita bisa jadi gembel dan kakak kamu akan menjadi korban"
"Laras gak apa-apa tidur dikolong jembatan"
"Husss kamu ini!!" mamanya membekap mulut Laras agar tidak melanjutkan ucapannya.
"Gak enaklah ma, tinggal dirumah orang dengan suami boongan"
"Secara hukum dan agama kamu sah jadi istri Nabil"
"Nah itu tu yang gak adil, yang dicinta kak Airin yang dinikahi Laras"
Laras terus mendebat mamanya agar diizinkan pulang kembali. Maya tidak tega mendengar rengekan anaknya tapi juga tidak berani menghadapi kemarahan Vina. Keluarga Vina jauh lebih berkuasa dari pada keluarganya. Ia tidak tau kemana lagi mencari Airin untuk mengembalikan semua posisi yang seharusnya. Meskipun laras menikah dengan Nabil jika Airin kembali ia akan meminta Nabil menceraikannya secara sah pula dan menyuruh Airin menikah dengan Nabil kembali.
Maya juga kasihan pada Laras yang memikul tanggung jawab yang tidak disukai. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan Laras tapi mau bagaimana lagi.
***
Mbak Yul saban hari bersih-bersih dan kalau semua pekerjaannya sudah kelar maka perempuan itu akan menonton televisi, konser tunggal di ruang tengah dengan suara kering bikin kuping menjerit atau bereksperimen jadi penata rias wajah. Jika begitu maka wajah mbak Yul berubah menjadi seperti ondel-ondel. Ia tidak begitu peduli dengan masalah Laras karena mbak Yul tidak punya kapasitas untuk memasuki masalah antara Laras dan Nabil. Karena ia disana adalah maid bukan penasehat rumah tangga. Ia hanya boleh peduli seperlunya.
__ADS_1
Jika Nabil pulang maka mbak Yul bergegas menyediakan makanan atau menanyakan apa yang dimau tuan muda tersebut. Tapi pria itu sama sekali tidak mengubris.
Nabil benar-benar patah hati pasca ditinggal Airin begitu saja kadang ia melihat foto-foto yang ada dinding dengan waktu yang lama dengan mata luyunya.
Ia masih tidak percaya dengan analisa Amoy dan para sahabatnya kalau Airin sengaja pergi meninggalkannya karena mustahil gadis itu menghilang begitu saja.
Brewok Nabil juga sudah mulai memanjang. Pria itu tidak berminat sedikitpun untuk mengurus dirinya. Ia sibuk mencari Airin dan menangisinya. Laras kadang prihatin melihat pria itu yang sangat mencintai kakaknya begitu dalam.
Laras yang lugu kasihan pada pria itu. Ia kasihan hanya sebagai seorang kakak karena bagi Laras mungkin saja suatu hari nanti Airin menyadari kesalahannya dan kembali pada Nabil. Saat itulah Nabil akan menjadi kakak iparnya.
"Kak diminum susunya"
Laras membawakan pria itu segelas susu panas agar nabil sedikit rileks.
Jangankan menoleh, menyahutpun tidak. Nabil tetap duduk ditepi ranjang melihat kosong kedepan.
Takut-takut Laras mendekati pria itu dan mengulurkan susu ditangannya.
"Kak" panggil Laras.
PRANG!!
Dengan sabar Laras mengambil sapu untuk membersihkan lantai itu kembali. Ia mengerti, Nabil sedang frustasi. Ternyata wajah orang frustasi karena cinta itu begini adanya. Ia yang tidak pernah mengenal cinta menjadi ngeri jika hal itu terjadi padanya. Rasanya pasti sakit mencinta sepihak. Apalagi ditinggal dihari pernikahan. Sayangnya Nabil tidak tau apa yang diperbuat kakaknya. Kalau tau mungkin pria ini bunuh diri.
"Kakak tidak bisa begini terus kak, kakak harus bangkit! kak Airin pasti kembali pada kakak, kakak harus berjuang"
maksud Laras adalah berjuang merebut Airin dari tangan pria itu kembali jika Nabil masih percaya dengan cinta itu. ia pasti bisa membuat Airin kembali.
Kakak ingin makan apa? biar aku buatkan!'
Tidak ada sahutan sedikitpun. Pria itu merebahkan diri dan membelakangi Laras. Baru kali ini Nabil berada dikamar itu dan tidur disana. Biasanya pria itu masuk jika ada keperluan saja. Laras canggung sekamar dengan pria itu.
Mungkin lebih baik ia mengungsi kekamar mbak yul.
Baru saja Laras ingin pergi terdengar suara lenguhan ditempat tidur Nabil. Seperti sedang demam. Laras mendekati pria itu dan perlahan menjulurkan tangan memeriksa kening Nabil dengan takut- takut. Tangan Laras rasanya seperti terbakar.
__ADS_1
Laras menarik selimut dan menyelimuti Nabil.
setelah itu ia bergegas mengambil es batu dan kain untuk kompres kelantai bawah. Disana ada Mbak Yuk dan Amoy duduk disofa.
Melihat sang nyonya muda yang panik mbak Yul ikut cemas.
"Kenapa nyonya, kenapa nyonya panik?"
"Kak Nabil dia demam" beritahu Laras.
"Ha tuan demam?" tanya Amoy dan Mbak Yul bersamaan. Dua orang itu ikut panik membantu Laras.
Mereka bergegas ikut kelantai atas melihat kondisi Nabil. Dengan hati- hati Laras meletakkan kompres di dahi Nabil.
"Airin,....!" Nabil mengigau dan memegang tangan Laras yang sedang mengompres keningnya.
"Jangan pergi lagi,...aku tidak bisa tanpa kamu" ia meraih tangan Laras tanpa sadar. Laras menarik tangannya tapi Nabil memegang tangannya dengan erat.
"Tetap disini, jangan tinggalkan aku"
Laras terenyuh melihat Nabil seperti ini. Pria itu menganggap dirinya adalah Airin. ia membawa tangan Laras kepipinya dan menciumi dengan mata yang masih terkatup.
"Aku gak bakal ningalin kakak, kakak istirahatlah"
Ucapan itu seperti mantra, perlahan nafas Nabil mulai teratur dan ia tertidur nyenyak. Amoy dan mbak Yul permisi pada Laras. Mereka tidak mau mengganggu.
"Kalau ada apa- apa nyonnya panggil saja mbak Yul dan Amoy kebawah" ujar mbak Yul sebelum pergi. Laras mengangguk.
Setelah Amoy dan mbak Yul pergi Laras menarik tangannya kembali dan mencari nomor Airin dinponselnya. Berulangkali ia menghubungi nomor Airin yang tidak aktif sampai akhirnya ia bosan mendengar suara operator.
Ia memandangi wajah yang tertidur pulas dalam demam itu. Wajahnya seperti pahatan yang amat sangat sempurna. Alis matanya yang hitam lebat, hidungnya yang tinggi dan bibirnya yang tebal serta wajahnya yang putih bersih.
Wajah ini tidak asing ia seperti deja vu. Atau mungkin karena ia sudah beberapa kali bertemu Nabil sebelumnya.
Laras seperti melihat sang pangeran di dongeng- dongeng dimana fisik mereka amat sempurna. Andai ia dicinta sedemikian rupa mungkin ia menjadi wanita yang paling berbahagia di dunia.
__ADS_1
Nabil cinta Laras, Laras cinta Nabil. Rasanya tidak mungkin. Laras bukan Airin yang mudah membuat pria jatuh cinta. Ia hanyalah gadis biasa tidak sehebat Airin dan tidak secantik Airin.
Biasanya ia tidak pernah iri dengan kelebihan Airin, tapi kali ini bokehkah?