
Nabil gelisah dalam duduknya, ia tidak fokus pada layar didepannya dan kopinya juga sudah dihabiskan dalam sekali teguk.
Entah apa yang kurang pagi ini. Ia bertanya pada Amoy dengan keadaan sekitar dan ia juga bertanya kabar orang tuanya yang ia dapatkan adalah omelan panjang dari sang mama karena keputusannya nya.
Laras? tidak mungkin ada apa-apa dengan anak itu palingan dia belajar dikamarnya atau jalan sama temannya.
Mungkin ini hanyalah halusinasinya, karena ia telah meletakkan map coklat tadi dimeja dan mungkin saja Laras telah membacanya. Jadi ia deg-degan.
Ia meninggalkan mejanya dan berjalan ke dekat dinding yang dikelilingi kaca tebal. dari sana ia melihat keluar, tidak ada yang menarik dibawah sana selain jalan raya yang meliuk seperti ular kekenyangan dan dipenuhi oleh kendaraan serta deretan gedung pencakar langit yang hendak menjangkau awan.
Nabil mengusap wajahnya, akhir-akhir ini ia berubah lebih bodoh dan tidak percaya diri lagi. Pikirannya bercabang dan dia bukan Nabil yang beberapa bulan yang lalu. Senyum kesombongannya sirna berganti dengan senyuman penuh rasa bersalah.
Dirinya berubah sejak bersama Laras. Ia menemukan ketenangan dan dirinya sendiri. Egonya yang dulunya tinggi sekarang entah kemana.
Perempuan yang sering menggodanya dengan tingkahnya yang diluar batas. Anehnya ia ikut terbawa alur sampai sengaja melakukan hal itu padanya. Tapi sebagai seorang pria ia juga mencintai wanita lain. Nabil mengadu kepalanya dengan dinding, syarafnya seperti benang kusut yang sulit untuk diuraikan.
Semoga saja Laras tidak tersinggung dengan permintaan maafnya di dalam map itu.
"Tuan kenapa?"
Suara Amoy menyadarkan Nabil dengan cepat ia tarik kepalanya "ada apa?" tanyanya balik.
"Saya mengantarkan yang tuan minta"
Amoy meletakkan map diatas meja Nabil. Pria itu bergegas membukanya.
"Tidak butuh lama tuan" Amoy setengah membanggakan diri.
Pria itu tertegun ketika membuka keterangan dalam map itu. Disana ada foto Riyanto dengan seorang perempuan asing menggendong anak kecil.
"Nona Airin bukan anak panti asuhan, ia disana hanya diletakkan sementara sebelum Riyanto menjemputnya, perempuan itu adalah istri kedua tuan Riyanto, mereka menikah diam-diam" Amoy menambah keterangannya.
"Lalu mana perempuan itu sekarang?"
"Kabarnya dia meninggal bunuh diri"
Roma Nabil merinding ia menopang dagunya melihat semua jati diri Airin. Pantas saja Riyanto selalu membela Airin dam menuruti semua yang ia mau mungkin karena rasa bersalah atau karena hal lain. Berbeda dengan Maya yang sayang pada Airin dengan tulus karena tidak tau siapa Airin dirumah itu.
"Tuan tidak usah bingung, jika Airin dan Laras adalah saudara tiri maka tuan bisa menikahi keduanya" saran Amoy. Kontan saja Nabil mendelik ke Amoy.
"Saya hanya bercanda, tapi tuan! tuan lebih baik memilih yang membuat tuan nyaman"
"Kamu bicara apa Amoy, tolong simpan ini dan jangan sampai seorangpun yang tau tentang Airin"
"Nona Airin tau kalau dia adalah anak pungut dari panti asuhan, dia pasti akan menjadi jejak orang tuanya disana"
Apa yang dikatakan Amoy benar, Airin sudah tau kalau dia anak pungut. Ia memikirkan Airin pasti luka, jika Maya tau kalau Airin adalah anak dari istri suaminya dari wanita lain maka Airin akan dibenci.
"Apa yang tuan pikirkan? menikahi Airin?"
__ADS_1
"Tentu saja"
"Bagaimana dengan nona Laras?"
"Dia,...mungkin sudah menandatanganinya"
Amoy tau, karena dia yang menyusun semua isi dalam map itu. Disana ada surat rumah yang dihadiahkan Nabil untuknya dan juga ada lampiran surat cerai yang sudah disiapkan Nabil sejak beberapa bulan yang lalu.
***
Airin berhasil mendandatangai job untuk pemotretan dan ia bangga sekali memperlihatkan cek yang didapatnya pada Riyanto dan Maya. Dalam hatinya bercokol kesombongan yang luar biasa. Ia bisa tenar dan menghasilkan uang berbeda dengan Laras yang bisanya hanya menghabiskan uang.
Riyanto ikut bangga dengan Airin begitu juga dengan Maya karena ia tidak tau asal-usul Airin.
"Laras dari semalam belum pulang, kemana dia? ponselnya pun tidak bisa dihubungi" Maya mengasih tau Airin dan Riyanto.
"Palingan dikosan temannya yang anak kampung itu, biasanya dia juga gitu" ujar Airin.
"Tapi mama cemas dianya kenapa-napa"
"Laras itu sudah gede ma, tidak usah dicemaskan ntar dia juga pulang sendiri, dia begitu karena cemburu pada aku Nabil, anak itu memang payah dari awal sudah tau kalau dia hanya pengganti tapi malah ingin memiliki"
Ucapan Airin mungkin ada benarnya. Laras menghindar karena ingin tenang. Semoga saja Laras memang ada disana.
"Kamu punya nomor Siti?"
"Papa temani aku kesana ya" pinta Maya. Untungnya Riyanto menyanggupi. Setelah orang tuanya pergi dengan motor, terdengar deru mobil didepan. Airin membuka melihat dari balik tirai jendela. Senyumannya merekah melihat siapa yang datang.
Nabil datang dengan setangkai bunga mawar putih. Tapi kemudian wajah pria itu tampak ragu dan hendak memasukkan bunga itu kembali kedalam mobil.
"Nabil!!"
Airin menyongsong Nabil dengan pelukannya.
"Untuk akukan?" ia mengambil tangkai bunga ditangan Nabil dan menghirupnya dalam.
Nabil mengangguk, matanya liar melihat kedalam mencari keberadaan Laras. Tangkai bunga yang sengaja ia bawa untuk perempuan itu sebagai permintaan maaf tapi keburu dilihat Airin.
"Kamu sendirian dirumah?"
"Iya, ayo masuk"
Kalau Airin sendirian dirumah lalu mana Laras?
"Disini saja, aku hanya ingin mengasih tau kamu, setelah menikah kita menetap diluar negeri saja"
"Keputusan macam apa itu?" tanya Airin spontan.
Nabil mengusap wajahnya "lalu kamu maunya bagaimana?"
__ADS_1
"Aku?" wajah Airin yang tadinya tidak setuju berubah drastis seketika "kalau itu maunya kamu gak apa-apa aku mengikut"
"Terima kasih, kita menikah secepatnya dan pergi"
Nabil melepaskan pelukannya dan kembali kemobil.
"Kamu mau kemana?"
"Pulang"
"Kok cepat sih?"
Nabil tersenyum "aku capek, hanya mampir sebentar"
'Bukan karena menghindari Laraskan?"
Nabil angkat bahu "memangnya kemana dia?"
"Dia di kosan temannya, gak pulang, mama dan papa nyariin dia, taulah! diakan anak kandung"
"Tapi tetap saja kamu jadi ratunya kan?"
"Tentu saja karena aku pintar tidak sama dengan anak mereka yang bodohnya tidak ketulungan"
"Bersyukur dong"
"Mereka yang harusnya bersyukur karena ada aku"
"Tidak baik begitu"
"Kenapa kamu membela mereka? mereka adalah jenis orang yang punya pemikiran tertutup dan dibawah rata-rata, disini rasanya seperti neraka, aku bosan dengan kehidupan mereka" Airin berkata blak-blakan mengeluarkan apa yang ia rasakan selama ini. Hidup bersama keluarga seadanya dan ia harus banting tulang padahal ia juga pengen menjalani kehidupan happy.
Sudah lama Airin mengeluhkan hal ini pada Nabil tapi mengapa hari ini hati Nabil sangat dingin tidak ada rasa kagum dan kasihan lagi. Airin bukan lagi permata dalam lumpur. Ia menyadarkan Airin dengan lembut kalau mereka adalah keluarga yang peduli. Dalam kesederhanaan ada kebaikan yang tidak bisa diukur dengan uang.
Airin menurut, wajahnya yang tadinya jutek kembali berubah manis. Sangat mudah membuat Airin itu patuh dan menurut.
"Kamu hati-hati dirumah"
"Ikut! aku bosan dirumah sendirian kamunya juga tidak mau menemani"
Nabil membukakan pintu mobil untuknya dan ia masuk kedalam.
"Aku nginap ya? mengambil cicilan?"
Nabil tersenyum datar, karena cicilannya sudah distar duluan dengan Laras. Dalam hatinya menyusup rasa bersalah yang teramat sangat pada mereka berdua.
"Lupa dengan komitmen?"
Sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.
__ADS_1