
Vina bergegas menyongsong Alan tapi bocah itu tidak mau diganggu oleh siapapun ia menyurukkan kepalanya dibahu Laras.
"Apa dia putra kamu Laras?" tanya Benz.
"Iya Benz ini anak aku"
"Sepertinya dia ketakutan Ras, baiknya kamu bawa dia ketempat yang nyaman dan kamu tenangkan disana" ujar Siti.
"Mana bisa begitu, aku belum memeluknya" bantah Vina tidak terima kalau Alan dibawa Laras.
"Sabar dulu nyonya, kalau dibiarkan takutnya akan menganggu psikologisnya, biarkan Laras yang menenangkannya dulu,..Ras kamu bawa saja ke ruangan paling ujung di sana ada sebuah kamar, kamu ajak dia istirahat disana dulu"
"Tidak bisa, kamu bawa Alan pulang saja Ras" ujar Nabil.
"Pulang kemana? aku kan gak punya rumah"
"Ras...hey!" Nabil melarang Laras untuk ikut dengan Benz kekamar yang dimaksudkan. Vina tidak bisa berbuat apa-apa karena masih malu pada Laras. Terakhir dialah yang mengusir Laras dari rumah Nabil. Pasti Laras masih terluka oleh perkataannya apalagi ia belum minta maaf.
"Kamu yang harusnya pulang Bil, keadaan kamu sangat memperihatinkan" ujar Airin. Pria itu terlihat kusut dan kurang tidur. Nabil tidak menghiraukan Airin ia berlari menyusul Laras.
Mata Siti menyipit melihat ke kakak Laras yang satu ini. Dari tadi semua orang mencemaskan Laras dan putranya hanya Airin yang terlihat biasa saja. Untuk apa fungsinya dia kerumah sakit? untuk menyongsong Nabil? Gelagat Airin sangat mencurigakan. Dia sepertinya tidak terima Nabil bersama Laras.
Ruangan yang dimaksid Benz adalah kamar pribadinya. Ia mengantarkan Laras kesana dan menyuruhnya istirahat.
"Kalau kamu butuh apa-apa panggil aku Ras, ada telepon disana" beritahu Benz. Laras mengangguk.
"Ada aku, kamu tidak usah cemaskan dia" sindir Nabil.
"Maaf anda siapanya Laras, sepertinya kita pernah bertemu tapi dimana ya?" Benz mencoba mengingat. Wajah Nabil sepertinya tidak asing.
Ingin rasanya Nabil menonjok dokter songong itu. Dulu kan anak ini yang sering membawa Laras keluyuran.
"Tidak sopan untuk kamu bertanya tentang hubungan seseorang, kamu seorang dokter! apa kamu begini pada pasien kamu yang datang kesini?' sindir Nabil.
__ADS_1
"Laras kesini bukan sebagai pasien tapi sebagai teman, apa anda tidak lihat kalau dia berada diruangan pribadi saya?" balas Benz tidak kalah sinisnya.
Nabil meradang, kenapa Laras gak menolak saja tawaran dokter songong ini. Rumahnya menyediakan apa saja yang dibutuhkan Laras. Ia melewati Benz dan pergi kedalam. Benz menyusul Nabil agar tidak menganggu Laras dan Alan
"Dok, ada pasien gawat darurat" beritahu susternya yang datang mencari.
Benz terpaksa putar langkah dan mengikuti langkah suster itu untuk kelantai bawah.
Laras menenangkan Alan di dekapannya. Bocah itu tidak mau melepaskan ibunya lagi karena saking takutnya.
Nabil memeriksa kamar Benz, dokter songong itu lumayan rapi dan bersih. Ia juga membuka kulkas disana banyak makanan dan sayuran. Dokter itu sepertinya suka memasak sendiri. Nabil meraih sebotol minuman mineral karena hanya itu yang ada disana tidak ada minuman bersoda.
"Sini aku gantikan Ras" Nabil meminta Alan dari gendongan Laras. Kasihan dia, bahunya baru saja diperban. Ngomong-ngomong bahu Nabil ingat kalau dia melihat tali dalam negri membalut bahu putih Laras.
"Siapa yang mengobati luka kamu Ras?" tanyanya.
"Benz"
Minuman dimulut Nabil menyembur keluar. Ia memperhatikan bahu Laras yang diperban. Laras masih memakai baju koyak.
"Karena kamu dan Alan juga ada disini"
Alan tertidur didalam gendongan Laras tapi tangannya masih memegangnya erat. Laras menidurkan Alan ditempat tidur Benz. Ia mengusap kepala anaknya dan mencium kening anaknya pelan "semoga kamu tidak apa-apa nak, semoga yang barusan kamu lalui seperti mimpi bagimu, ibu menyayangimu"
Nabil terharu melihat Laras. Dia adalah wanita terbaik, Ibu terbaik. Pantas saja Alan tumbuh dengan ceria tidak bersedih seperti anak-anak single parents lainnya.
"Aku ingin bicara denganmu kak"
"Membicarakan apa, katakan saja"
"Diluar sana, nanti Alan terbangun"
Laras berjalan keluar duluan diikuti Nabil.
__ADS_1
"Aku mengucapkan terima kasih telah menyelamatkan anakku, terima kasih banyak, jasa kakak ini tidak akan aku lupakan seumur hidup aku"
"Maksud kamu?" dahi Nabil berkerut.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolong aku"
"Apakah itu suatu pertolongan?" suara Nabil meninggi karena tidak terima ia sebagai penolong. itu adalah kewajibannya, ia wajib menyelamatkan anaknya bukan menolong.
Laras mengangguk "aku dan anakku tidak mau diganggu oleh karena budi baik seseorang"
Ucapan Laras sangat tajam bak belati. Wanita ini sudah banyak berubah dia sudah menjadi sangat kuat sekarang secara fisik maupun psikologis.
"Alan itu adalah putraku, kamu tidak akan bisa menyangkalnya! aku punya bukti"
"Kau hanya berkontribusi dengan cara kotor kak, kau memperk*s* aku, aku yang melahirkan dan membesarkannya, jadi jangan ngaku-ngaku! ingat ya! aku bisa jadi apa saja demi anakku termasuk jadi iblis sekalipun"
"Kalau begitu aku juga sama, aku juga akan melakukan apapun demi putraku, kamu yang salah, kenapa tidak bilang sama aku"
"Kau menyalahkan aku? ketika aku hamil aku datang kerumah kamu, tapi mama kamu mengusir aku! lagi pula apa kau mau mengerti? kau hanya sibuk dengan cintamu! sekarang kamu mau ngaku-ngaku? tidak! aku tidak akan pernah sudi kalau anakku kau ambil dari aku" Laras mengeratkan rahangnya karena marah. Sudah pasti Nabil akan merebut Alan darinya dengan segala kekuasaannya.
Sedangkan Nabil terhenyak , mamanya tidak pernah cerita soal ini. ia tidak pernah tau kalau Laras pernah datang mencarinya. Kalau ia tau soal itu sudah pasti dia tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Sudah pasti ia akan kembali dan menjalani kehidupan bersama Laras.
"Masih belum mengerti? kau itu adalah bencana dalam hidup aku! kalau bukan karena menikah denganmu aku tidak akan begini, kamu lihat! teman aku sudah jadi dokter sedangkan aku jadi gembel" nada Laras menyimpan penyesalan yang mendalam. Ia mencak-mencak. matanya memerah sedikit lagi mungkin akan tumpah.
"Jangan marah-marah, kamunya harus tenang dulu, okey! dengarkan aku"
"Aku tidak mau mendengar apapun dari kamu, semua ucapan kamu adalah sampah, pergi sana! atau aku memanggil satpam untuk mengusir kamu!"
Laras mengusir dengan histeris.
Nabil menghembuskan nafas mengambil oksigen lebih banyak agar kepalanya sedikit ringan dengan masalah seberat ini.
"Aku tau aku salah, aku minta maaf..sudah jangan nangis, kamu harus kuat ada Alan, dia pasti tidak ingin ibunya sedih apalagi dia dalam keadaan tidak baik-baik saja, kamu temani Alan, aku akan pergi"
__ADS_1
Setelah itu Nabil beranjak dari sana tidak lagi melihat kebelakang. Ia berjalan lurus dan menghilang dipintu lift. Mungkin pria itu juga tidak begitu tertarik dengan apapaun termasuk Alan. Atau ia tidak peduli sama sekali. Di luar, Laras terlihat senang karena hidupnya akan kembali datar tanpa apapun tapi didalam hati sedihnya sangat luar biasa.