Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
antara Laras dan Airin


__ADS_3

Beberapa kali Nabil kerumah Airin untuk menjemput Laras dan sekarang ia kembali datang kesana untuk bersama Airin. Biasanya ia tidak tertarik dengan adik Airin yang jauh sekali dari yang namanya cantik. Dulu waktu ia pacaran dengan Airin ia sering berpapasan dengan Laras tapi tidak saling tegur. Nabil yang berjiwa congkak akan turun kasta jika menegur perempuan macam Laras meskipun itu adalah adik Airin. Laras dan Airin jauh berbeda, Laras tidak suka dandan dan berkulit agak gelap sedangkan Airin adalah perempuan manis dan jika bersolek kecantikannya makin memancar.


Dan Laras juga tidak menegur Nabil duluan karena gadis itu sadar, pria macam Nabil mempunyai pamor yang tinggi hanya kakaknyalah yang sanggup menggapai itu. Tapi sekarang semuanya berubah. Nabil termakan karma, ia pernah menikah dengan anak angsa buruk rupa itu.


Sekuat apapun ia menghindar tidak akan mengubah kenyataan bahwa mereka adalah suami istri, pernah bersama dan pernah,...


Pagi itu Nabil terpaksa singgah dirumah Airin karena rengekan perempuan itu yang minta dibawakan sarapan. Kalau tidak maka Airin akan ngambek seharian. Ini biasa dulunya mereka jalani waktu pacaran tapi sekarang sungguh sangat luar biasa. bertemu dengan istri dan pacar sekaligus.


"Pagi bangat, ngalahin matahari yang mau terbit" sambut seseorang dengan senyuman. Seorang perempuan memakai kemeja dan celana jeans. Wajahnya dipoles bedak tipis dan lipstik tipis. Waktu dirumah, diakan paling doyan dandan menor dan pakai pakaian seksi, baru setelah Nabil tidur dengannya dia berubah. Ternyata pengen dicolek.


"Kakak pagi-pagi udah datang, pasti sarapan untuk kak Airin ya?"


laras melirik tangan Nabil, pacarnya dibawakan sarapan sedangkan istrinya tidak diurus mau makan atau kagak.


Nabil mengangkat makanan itu dan tersenyum canggung 'kalau kamu mau aku akan pesankan"


"Tidak terima kasih, aku bisa memasak sendiri"


Nabil melirik kemeja makan penasaran apa yang dimasak Laras. Dari kemaren ia kurang makan entah karena apa.


"Kakak sudah sarapan?"


"Sudah"


Wajah Laras sangat ceria padahal baru kemaren perempuan itu menangis sedih. Apa cuma segitu rasa yang ia punya tapi kenapa hati Nabil rasanya kecewa.


"Maa! paa! ayo sarapan, Laras sudah siap nih"


"Papa kamu udah pergi dari pagi" beritahu Maya dari arah dapur. Laras mengangguk mengerti meskipun mamanya bilang papanya ada pekerjaan tapi ia bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi. Beberapahari ini mama dan papanya sedang tidak baik-baik saja. Sering bertengkar karena dirinya dan Airin. Yang satu membela Airin dan yang satunya lagi membela dirinya. Laras jadi kasihan pada orang tuanya karena dirinya dan Airin mereka diambang perpisahan. Mungkin dirinya harus membuang jauh-jauh sifat egois demi dirinya sendiri. Jika ia memaksa bersama Nabil maka orang tuanya mungkin akan berpisah dan nabil belum tentu juga berubah. Cinta Nabil hanya buat Airin bukan untuknya.


"Kak Nabil mau kopi?" tanya Laras pada pria yang duduk menunggu Airin bangun dari tidurnya. Maya melirik Laras, bisa-bisanya anaknya lembut pada pria yang telah menyakitinya. Kalau itu beada diposisinya pasti sudah ia buatkan kopi sianida.

__ADS_1


Nabil menggeleng.


Laras menyeduh kopi digelas, baunya menusuk hidung Nabil meskipun mbak Yul membuatkan ia kopi tapi kopi buatan tangan itu entah mengapa ia ingin. Untuk meminta ia tidak mau.


"Kamu sudah datang?" Airin baru keluar kamar dan baru cuci muka. Ia langsung kemeja makan dan minum kopi yang dibuatkan Laras. Nabil menyerahkan sarapan yang tadi diminta Airin.


Nabil baru sadar, selama ini kan memang begitu, Laras selalu cekatan membantu mamanya dimeja makan sedangkan Airin tidak pernah terlihat sama sekali. Perempuan cantiknya seakan takut kukunya patah dan tangannya tergores jika bersentuhan dengan alat memasak.


"Ma, Laras berangkat!"


"Kamu gak sarapan dulu?"


"Aku bawa bekal"


Laras mengemasi bekalnya kedalam tas agar cepat pergi dari sana. Ia lewat dekat Nabil dan Airin permisi pada mereka dengan wajah riang seolah tidak ada beban sama sekali seperti menghalangi hujan yang hendak turun yang pada akhinya menyerah dan tumpah juga hingga matanya mengabur oleh cairan bening.


"Pak Andi sebentar lagi menjemput kamu" Nabil tiba-tiba ada dibelakang Laras. Mengapa pria itu menyusulnya? apakah karena merasa bersalah.


"Tidak usah kak, aku dengan motor saja" Laras memutar kontak kunci motornya melihat ke Nabil lewat spion. Pria itu masih tegak berdiri dibelakang. Sebelah tangannya dimasukkan kesaku celananya.


"Hari ini saja, besok kamu bersama pak Andi kembali"


"Aku lebih nyaman dengan motor,


"Kapan kamu berhenti keras kepala?" Nabil mencabut kunci kontak dimotor Laras.


"Aku bukannya mau begini kak, aku hanya ingin terbiasa, ini terlalu sakit untuk aku, bahkan tidak ada seorangpun yang mengerti kalau aku terluka, rasanya aku tidak sanggup kak, aku ingin gila agar semua yang ada dipikiranku tidak aku ingat lagi, mulai dari awal bertemu kamu sampai detik ini!! kamu adalah penghancur hidup aku!"


"Aku tau, aku akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kamu, aku tau aku bersalah, sebagai balasannya aku akan mengabulkan apa yang kamu minta, apa saja,..apartement, bungalow,..."


"Aku ingin harga diri aku kembali, bisa? " potong Laras.

__ADS_1


"Mana bisa begitu, kamu juga merampas keperjakaan aku, memangnya kamu juga bisa mengembalikannya?"


"Mana bisaaaa?"


"Itu tau lalu kenapa minta yang tidak bisa dikembalikan"


"Yang merampas kan situ?..aku curiga jangan-jangan sengaja kan?" Laras yang tadinya sedih sekarang darah tinggi. Matanya yang tadi merah karena tangis sekarang menyala karena amarah. Sudah tau tidak bisa dipertanggung jawabkan kenapa dilakukan.


Wajah Nabil juga memerah tapi karena lain hal untungnya Laras tidak mempedulikan hal itu.


"Kalaupun memang disengaja kenapa bisa?"


"Sini kunci motor aku"


Laras merebut kunci ditangan Nabil dan memutar kontak motornya dan melaju dari sana. Pria itu masih berdiri bergeming. Pikirannya juga menjadi kalut. Tadi perempuan itu sedih kok sekarang marah- marah?? salahnya apa???


Sebuah tangan memegang bahunya, mengagetkan Nabil.


"Kamu kenapa disini? ayo masuk"


Nabil melepaskan pegangan tangan Airin 'tidak Airin, aku harus pergi sudah jam masuk kantor"


"Aku ikut ya"


"Jangan! aku ada meeting pagi ini, kamu dirumah saja nanti aku jemput"


"Sebenarnya aku ingin mencari pekerjaan, siapa tau aku dapat job"


"Kalau begitu ditemani sopir saja, aku akan kirim seseorang kesini" Nabil mengusap puncak kepala Airin lalu berlari kemobilnya yang ia kendarai sendiri pagi itu. Ia tidak sempat membalas lambaian tangan Airin yang melepaskannya dengan senyuman yang amat manis dan kecupan jarak jauh.


Mobil itu mengejar ketertinggalannya dari motor bebek yang barusan pergi dan ia mengiringinya dari belakang. Ia berfikir, apa yang harus ia tawarkan pada Laras agar dirinya dimaafkan dan apa yang ia mereka lakukan tidak diketahui Airin. Jika Airin tau mereka pernah tidur bersama, gadisnya pasti akan mengambek setiap waktu.

__ADS_1


__ADS_2