
"Ya tarik nafas,..hembuskan pelan lalu tarik lagi, ulangi lagii"
Laras semedi ditempat tidurnya, mengintruksi dari beberapa menit yang lalu ia begitu. Tapi sampai ia bengek sekalipun tarik nafas buang nafas tidak juga mengurangi kesedihannya.
Nabil sering datang kesana tapi bukan untuk dirinya melainkan hanya untuk Airin. Mereka sangat mesra dan dirinya terpinggirkan. Kalaupun ia dan Nabil bicara hanya seperti orang asing.
Kamar Laras tidak terlalu besar dan dipannya pun dipan lama terbuat dari besi biru, berkasur randu yang sudah tipis dan berlaskan seprai warna merah muda pudar karena sudah lama dipakai. Ia terus membuang nafas dan menarik nafas sambil ngoceh.
"Ayo dong Laras kamu pasti bisa, Nabil itu adalah bencana, bukan apa-apa!.... dia itu adalah pria bengek, sudah tua dan juga mulai pikun, dia tidak bisa membedakan mana yang istrinya mana yang bukan, kamu bisa mendapatkan pria yang mencintai kamu sepenuh hati yang bukan dilihat dari penampilan, kalau Nabil itu tidak punya mata, ia menilai perempuam dari baunya saja, asal pakai parfum dia suka......"
"Ehmm"
Laras membuka mata dari semedinya dan ia kaget karena ada seseorang berdiri didepannya. Ia mengucek mata memastikan ia tidak salah lihat.
"Kak Nabil! kakak ada disini? kok pintunya gak kedengaran dibuka"
"Tidak usah dibahas, aku ingin bicara"
"Oh bicaralah, tidak perlu pakai pembukaan dan salam, langsung saja pada intinya"
"Aku bicara serius"
Hati Laras tidak enak pasti Nabil ingin membahas perceraian, sudah pasti itu. Secara kekasihnya kan sudah kembali dan Laras harus bergeser ketempat semula.
"Kakak keluar saja dulu, aku melanjutkan bermeditasi, nanggung!" Laras mengulur waktu, ia bermain dengan kesakitannya sendiri. Sudah tau pernikahannya semu masih ingin dipertahankan.
"Beberapa menit aku tunggu"
"Dua jam, dua hari, dua..."
"Dua tahun?!!"
"Iya"
"Jangan bercanda"
Laras melihat ke Nabil seperti anak kucing minta dikasihani.
"Pasti membahas cerai kan?"
"Hm"
"Sekarang? sudah malam, kakak baru saja pulang kencan kan? pasti capek! aku saja capek kok" ...mikirin nasib aku sambung Laras dalam hati. Ia merebahkan diri dikasur.
"Ras!!"
Laras tidak mau mendengar ia menutup telinganya rapat-rapat.
"Laras!" Nabil menarik selimut Laras agar perempuan itu bangun "hey!"
__ADS_1
"Aku tidak dengar apa-apa, telinga aku penuh seharian aku mendengarkan dosen ngomel, kepala aku pusing"
Nabil tidak mau menyerah ia ingin urusannya kelar dan tidak membahas ini lagi besoknya. Tapi perempuan ini malah banyak alasan.
"Sebentar saja Ras"
"Gak mau"Laras menutup tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki sampai kekepala sepeti orang mati.
"Ini harus dibicarakan, kamu jangan gini" Nabil menarik selimut Laras tidak mau melepaskan.
"Bicara saja sendiri, aku capek" Laras menarik selimutnya kencang dan Nabil juga menarik dengan kuat hingga akhirnya kain itu robek dan mereka sama-sama melepaskan.
"Tuh kan, masuk kamar orang merusak saja" Laras sedih selimut kesayangannya sampai ajal. Begitu banyak kenangan dengan selimut itu sejak sepuluh tahun lalu.
"Ntar aku ganti, selimut lapuk kayak gitu"
"Kakak tidak tau selimut ini setia dalam panas dan dingin dan juga menamani dalam suka dan duka"
"Banyak drama"
"Ya iyalah banyak drama, banyak uang itu namanya kaya"
Brakk!!
Nabil dan Laras sama- sama kaget pintu kamar didobrak dari luar. Airin muncul tiba-tiba dengan nafas sesak.
"Kamu dan Laras ingin itu, atau pernah?" Airin melihat ke Laras dan Nabil minta jawaban. Laras bagai orang yang sedang selingkuh terciduk satpol pp tidak menyangka Airin menunggu Nabil diluar sana.
"Jawab!" bentak Airin. Wajah Nabil sangat gugup ia melihat ke Laras.
"Melakukan apa kak?"
"Apa Nabil pernah menyentuh kamu??'
"Pernah........" Laras menggantung ucapannya ingin melihat reaksi keduanya.
"Ha!!!" suara Airin melengking tinggi. Bola mata Nabilpun terbelalak hebat. Airin memegang dadanya shock.
"..........Waktu aku dan kak Nabil dinikahkan, kak Nabil tidak sengaja menyentuh aku karena orang menyuruh aku salaman sama kak Nabil" sambung Laras.
Airin dan Nabil yang sedang dilanda kepanikan itu seperti orang phobia kegelapan dan tiba-tiba lampu hidup dan mulut mereka masih menganga.
Laras yang tadinya berada diketinggian sekarang terhempas oleh kenyataan, kenyataannya adalah Nabil terikat pada Airin.
Ia meraih sweaternya dan meninggalkan kedua orang itu dalam kamarnya.
"Siti, ngedate yuk" Laras menelepon Siti agar menemaninya diluar. Pikirannya benar-benar sangat kusut.
"Aku bukan lesbi, aku masih normal" balas Siti di seberang sana.
__ADS_1
"Banyak gaya, kamu jomblo dan aku bentar lagi akan jadi janda, keluar yuk! aku bosan"
"Memangnya kamu udah jadi janda, janda kembang dong"
"Siti!"
"Iya, iya sorry aku bercanda jangan sedih dong, kamu harus tetap optimis bahwa ada seseorang untuk kamu yang akan mencintai kamu, jangan sedih Ras"
"Aku gak sedih, aku happy makanya keluar ngajak kamu" suara Laras meninggi.
"Iya happy, tapi gak usah ngegas juga kaliii, kita banyak tugas kuliah , memangnya tugas kamu sudah kelar?"
"Belum,..ayolah Siti"
"Gak bisa, aku kapok diomeli mas dosen"
"Ih" Laras mematikan sambungan teleponnya. Dunia berkonspirasi sampai temanpun gak ada saat dibutuhkan.
Ia benar-benar berada di titik terbawah dan sedihnya minta ampun.
Sekarang terserah mau kemana motor maticnya melaju. Ia hanya mengendarai tanpa tau kemana. Ia tidak ingin meneteskan air mata, tidak. ia tahan agar air itu tidak mengalir dipipinya.
Tiap hari ia akan disuguhi pemandangan penuh haru antara Nabil dan Airin. Apakah ia akan kuat dengan hal itu. Nabil itu suaminya, istri mana yang tahan melihat suaminya memanjakan wanita lain dan itu adalah kakaknya sendiri.
Ia boleh mati saja gak? bunuh diri kayaknya enak. Tidak perlu sakit hati apalagi pakai acara sedih. Tidak perlu lagi ngabisin duit, membuat mata orang sakit atau menyemakkan bumi.
Syetan merayu Laras agar pikirannya yang sedang tidak waras melakukan hal bodoh. Padahal kalau matipun tidak akan ada juga yang menangisi kepergiannya. Semua orang bahagia, Laras si penganggu telah almarhum.
Sebuah mobil datang dari arah belakang Laras dan melaju sejajar dengannya. Kaca mobil itu terbuka.
"Ras!!!"
Laras menoleh "Apalagi sih?"
"Berhenti!!"
"Berhenti saja sendiri"
"Laras!!!"
Lama-lama Laras kesal juga ia menepi "ada apa kak? ini udah berhenti"
"Masuk!"
"Gak mau, kasihan motor aku ditinggal begitu saja, kakak kira ditinggal sendiri itu tidak sakit?"
"Banyak bicara" Nabil turun dari mobil dan menarik Laras untuk masuk. Perempuan itu terpaksa ikut duduk disebelah Nabil.
"Pasti mau bahas cerai lagi kan?"
__ADS_1