Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
misi penyelamatan


__ADS_3

Nabil berhasil mengejar perempuan yang membawa lari Alan. Sebelumnya perempuan itu kaget melihat Nabil seperti melihat hantu. Wanita itu lari sepanjang ruangan rumah Danil lalu turun dari tangga. Nabil ngeri kalau-kalau anaknya terjatuh oleh perempuan itu.


"Berhenti!!"


Wanita itu tidak menghiraukan teriakan Nabil. Pria itu jadi tegang karena mencemaskan putranya.


"Kau yang berhenti! atau kau akan menyesal!!" ancam Nesa sambil mendekatkan moncong p*stol ke Alan.


"Sedikit saja kau melukainya, aku tidak akan memaafkan kamu!!"


Wanita gila itu tidak main-main jika dirinya terancam. Dari lantai bawah muncul anak buah Nabil mengepung tempat itu.


Wajah Alan terlihat pasi karena sedari tadi berada dalam kondisi yang menakutkan. Nabil kasihan melihat anaknya ingin cepat-cepat ia memeluk bocah itu untuk menenangkan didekapannya. Nabil mengasih isyarat agar anak buahnya mundur sampai perempuan itu turun. Setelah Nesa tiba dibawah Nabil meluncur dengan cepat lewat pegangan tangga. Bersamaan dengan itu para anak buahnya juga bergerak.


"Jangan bergerak!"


Nesa menyeringai sinis dari pada ia tertangkap lebih baik ia mengorbankan dirinya dengan meng*bisi bocah ini lalu dirinya. Hal itu sudah diprediksi Nabil. Sebelum wanita itu bertindak Nabil duluan melumpuhkan Nesa dengan cepat. Tidak sulit baginya menghadapi hal seperti ini karena sudah terlatih. Yang takutkan adalah putranya bisa saja celaka. Wanita itu terdorong kebelakang dan senjatanya terjatuh kelantai. Salah seorang anak buah Nabil mengambilnya.


Sirine polisi terdengar riuh di depan. Nesa makin panik dan mencoba lari.


Para anak buah Nabil mengejar Nesa yang berusaha diselamatkan oleh anak buah Nesa yang tersisa.


Nabil merebut Alan dan mendekatkan ke bahunya memeluk erat dengan penuh haru seperti baru pertama kali bertemu. Harusnya ia selalu seperti ini sejak putranya lahir kedunia ini. tapi semuanya sangat telat dan ia baru mengetahui hal ini.


"Kamu sudah aman nak, ada papa" Ia mencium pipi anaknya yang dingin.


Bocah itu masih diam meskipun Nabil membujuknya. Tidak biasanya Alan seperti ini. Ia bocah yang cepat akrab dengan siapapun. Nabil cemas melihat kondisi putranya takutnya anak ini trauma.


"Nabil! bagaimana keadaan Alan?" Hendra menyempatkan diri untuk melihat kondisi Alan padahal dia sedang membantu Danil yang sedang terluka.


"Dia sangat ketakutan pa"


Hendra mengusap kepala Alan. ia tidak punya banyak waktu yang bisa ia lakukan hanyalah menyarankan Nabil untuk segera membawa Alan dari tempat itu.


Nabil membuka jas nya dan menutupkan kekepala Alan agar anaknya tidak melihat semua kejadian yang ada disekitanya.


"Hey nak, kamu tidak apa-apa kan? bilang sama papa, ini papa sayang" ia mengusap kepala Alan dan mendekatkan ke pipinya menatap wajah anak itu untuk meyakinkan kalau semuanya baik-baik saja.


"Bilang sama papa apa yang kamu rasakan, katakan saja nak"


Jangankan untuk bicara untuk mengerjapkan mata saja Alan seolah sudah lupa. Hal itu membuat mata Nabil memerah.

__ADS_1


"Maafkan papa nak, maafkan papamu ini...papa berjanji akan menjagamu dengan baik, tidak akan papa biarkan seorangpun menyakiti mu, tidak akan lagi nak"


Alan masih diam, Nabil makin cemas ini akan membawa dampak pada psikologis anaknya. Alan bisa kena PTSD dan akan sulit untuk disembuhkan. Tidak terbayangkan oleh Nabil jika anaknya akan terganggu hari-harinya oleh rangkaian peristiwa ini.


Ponsel Nabil berbunyi, ia melirik siapa yang menelepon. Ternyata dari mamanya.


"Ya ma! ada apa?"


"Bagaimana keadaan cucu mama" suara mamanya terdengar cemas. Sang mama pasti sudah melihat video yang ia kirim.


"Dia baik -baik saja secara fisik tapi..." bibir Nabil berat "ia sepertinya trauma parah ma"


"Astaga Nabil...cepat bawa dia pulang"


"Iya ma, ini aku akan bawa dia ketemu Laras, dia pasti menunggu Alan"


"Laras ada dimana?"


"dirumah sakit ma, dia kena temb*kan"


"Kena temb*kan?!!" suara mamanya meninggi "dirumah sakit mana? mama akan kesana sekarang" suara Vina makin cemas. Tadinya Nabil mau minta tolong pada mamanya untuk menemani Laras tapi ternyata tidak perlu.


"Cinta sehat"


Mamanya mematikan sambungan sepertinya buru-buru.


"Ibu...."


Suara Alan terdengar lemah memanggil ibunya.


"Kamu ingin jumpa ibu? baiklah nak, kita susul ibu kamu ya!" ia mencium Alan. Sementara itu dihalaman para polisi sudah lalu lalang membawa beberapa orang pelaku ke mobil.


Polisi membawa Nesa dan Gio. Kedua orang itu terluka di kaki karena mencoba melawan dan kabur. Papanya, Hendra juga terlihat sibuk mengirim Danil kerumah sakit dengan ambulan.


"Hey kalian! kalian!! telah membuat anak saya menderita! kau!!" Nesa menunjuk Nabil dengan marah "kau mencampakkan putriku demi ibu anak itu! anak yang mempunyai ayah seorang penjahat!"


"Jalani saja hukuman mu nyonya berkemungkinan besar kau akan dikirim kerumah sakit jiwa" balas Nabil. Perempuan itu pasti gila. Ia tidak pernah kenal dengan anak perempuan gila itu. Cepat-cepat ia membawa Alan kemobil untuk segera di bawa kerumah sakit sekalian ketempat Laras. Ia tidak melepaskan pelukannya pada anaknya.


"Om..mana ibu Alan?" tanya Alan lemah.


Nabil memejamkan mata, sedih dipanggil om oleh putranya sendiri.

__ADS_1


"Ibu Alan menunggu di..." anaknya akan semakin tertekan kalau ia bilang Laras berada dirumah sakit.


"Alan pengen ketemu ibu....Alan takut"


"Tenang, ada papa bersama Alan"


Permintaan nabil tidak semudah itu untuk terkabul. Alan tetap memanggilnya dengan sebutan om.


"Om tidak jahat pada Alankan?" tanya Alan dengan suara berbisik tidak bertenaga.


"Mana mungkin papa jahat sama anak papa sendiri, papa sayang sama Alan, sayaang bangat! Alan itu kesayangan papa"


Nabil mengusap punggung Alan dan kembali menciuminya dengan sepenuh hati dan perasaan "panggil papa nak, ini papa Alan" bisiknya.


"Alan takut om...Alan takut "


"Orang jahatnya sudah pergi dan tidak akan kembali, dia tidak akan berani lagi jahatin Alan,...Alan jangan takut"


Nabil meyakinkan Alan meskipun itu tidak mudah. Anaknya memanggil dan menanyakan ibunya. Tiba dirumah sakit ia disambut oleh pria yang disuruhnya untuk menjaga Laras sampai ia datang. Pria itu adalah salah seorang asistennya.


"Nyonya ada dilantai empat tuan" beritahu pria itu.


Nabil langsung menuju kesana menggendong Alan. Semoga Laras sudah ditangani oleh dokter dengan baik.


Asistennya itu menunjukkan tempat Laras di vvip. Asistennya ternyata cekatan karena mengurus Laras dengan baik. Tapi ternyata ia salah,


Ruangan Laras ramai ada mamanya disana bersama Vina, Airin dan dua orang dokter yang tidak asing baginya. Laras terlihat sedang berbincang dengan mereka, akrab.


"Ibu...!"


Mendengar suara Alan, Laras melihat kepintu.


"Alan!"


Laras langsung bangkit menyongsong Alan. Dua temannya juga melihat ke pintu. Wajah Laras sangat cemas ia langsung memeluk Alan.


"Kamu tidak apa-apa nak? Alan....sini sama ibu" Laras mengulurkan tangannya.


"Bahu kamu masih sakit Ras, biar sama aku saja" tolak Nabil. Ia mengamankan Alan dalam dekapannya tapi ternyata Alan tidak mau dengannya ia tetap ingin dengan Laras. Perempuan itu mengambil Alan dari dalam gendongan Nabil dengan sebelah tangan dan memeluknya.


Perempuan itu sangat kuat. Ia tidak menghiraukan lukanya demi sang anak. Atau mungkin ia sudah lupa kalau dirinya terluka. Nabil merasa makin tidak ada apa- apa di banding Laras. Semua dosa, penyesalan dan kebodohannya datang bersamaan

__ADS_1


"Apa dia putra kamu Ras?" tanya dokter temannya Laras. Pria yang dulu sering bersama Laras.


__ADS_2