Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
pulang


__ADS_3

"Jangan begini nona, nona harus bangkit, nona bukan orang ketiga tapi adalah pemilik tuan Nabil seutuhnya, karena orang yang berada sebelum pernikahan itu adalah semua masa lalu, pertahankan pernikahan nona"


Laras melamun dipinggiran tempat tidur sebelum berangkat kuliah. Pilihannya maju mundur, semalaman Nabil dan Airin bersama dilantai atas pagi ini mereka masih belum turun.


"Menikah tanpa cinta itu adalah tidak benar mbak Yul, aku sadar diri"


"Tapi mempertahankan pernikahan adalah kewajiban nona, buang dan usir nyamuknyamuk pernikahan nona! nona punya hak" mbak Yul bicara menggebu mondar-mandir didepan Laras mengasih pencerahan pada sang nonanya.


"Jangan berdiam diri, ayo bangkit nona! semangat! nona harus bisa! pasti bisa!"


"Bisa apaan sih mbak? mbak gak liat mereka tidur sekamar dan sampai sekarang belum juga turun, ini tuh sakit mbak! bukan orang lain tapi kakak aku sendiri!"


"Tapi nona mencintai tuan kan?"


Laras tidak menjawab.


"Raut wajah nona menyiratkan kalau nona itu cinta sama tuan Nabil, kalau tidak nona tidak akan resah melihat tuan berduaan dengan perempuan lain, anggap saja Airin adalah orang lain karena dia tidak menghargai pernikahan nona"


"Plis mbak Yul jangan bikin aku maju mundur! aku ingin menyudahi saja semua ini dan kembali keseperti yang dulu"


"Tidak apa jika nona seperti dulu, tapi apakah nona masih seperti dulu? seperti sebelum nona menikah?"


Laras kembali terdiam.


"Maaf nona, mbak Yul mencampuri yang bukan kapasitas mbak Yul tapi setidaknya nona berusaha memperjuangkan pernikahan nona, berusaha dulu! jangan katakan tidak sanggup! karena nona bukan perempuan lemah, bersikaplah seperti Laras yang biasanya, nona Laras yang ceria, nona tidak perlu menjadi orang lain untuk disukai, dan juga bersikaplah seperti seorang istri"


Laras menghembuskan nafasnya keudara, ucapan mbak Yul ada benarnya. Pantang kalah sebelum berperang. Meskipun ia bukan pemenang setidaknya ia pernah berjuang, berjuang demi pernikahannya.


Laras, ayolah! ini bukan dirimu! kalau orang lain tidak menghargaimu maka dobraklah batas itu, ratakanlah! jangan kasih hati pada orang yang tidak punya hati.


Jika mereka kurang ajar, maka ajarilah mereka dengan caramu. Laras menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sebaiknya nona kelantai atas, bantu-bantu tuan, ia pasti kerepotan" mbak Yul membuyarkan lamunan Laras.


"Biasa aja kok mbak Yul dia gak pernah repot"


"Dirumah, tuan diurusi oleh banyak pelayan, berbeda kalau disini, coba saja tuan kembali kerumah, diakan putra pewaris"


"Masa?"


Mbak Yul mengangguk, benar juga sih, dirumah nabil banyak pelayan sedangkan disini? Laras jadi ingat dengan pelakuannya kemaren-kemaren pada Nabil. Sekarang pasti Airinlah yang membantunya dilantai atas.


Laras bangkit dari sana meninggalkan kamar. Mbak Yul terus mengasih semangat pada Laras. Laras melangkah penuh percaya diri namun tiba di depan pintu ia tertegun. Langkahnya kembali maju mundur.


"Morning!"


Ia membuka pintu namun kemudian ia langsung membuka mata.


"Sok suci! " cibir suara dari dalam sana.


Wajah laras merona merah, meskipun ia dan Nabil pernah tapi tetap saja ia malu melihat Nabil tanpa baju. Ia mengintip dari balik jari jemarinya. Nabil sudah memakai kemeja biru didepan cermin. Mbak Yul bilang, Nabil tidak pernah bisa mandiri dan diurus banyak pelayan tapi kenyataannya Nabil bisa sendiri.


Sekarang, ada atau tidak ada ia bukanlah siapa-siapa. sang pangeran tampan tidak pernah jatuh hati padanya meskipun dibawah atap yang sama.


Laras menjelajahi ruangan kamar Nabil yang terlihat bersih dan rapi. Ia mencari sosok Airin yang jelas-jelas semalam ikut naik kekamar ini. Lalu siapa yang mebersihkan ini semua?


"Kamu kenapa bengong? mau apa kesini?"


"Aku,..cuma mau bilang sarapan sudah siap"


"Aku selalu on time jadi tidak usah diingatkan"


"Aku kesini mau,...apa ada yang harus ada aku bantu?"

__ADS_1


"Gak ada, lagian ada mbak Yul, kamu tidak usah merepotkan diri..."


"Aku tidak repot kok membantu kakak"


"Aku yang tidak mau direpotkan, aku bisa sendiri,.....oh ya, kalau kamu pengen pulang bilang! biar aku antar"


Hati Laras berdenyut sakit, ia tahan sekuat-kuatnya. Bahkan untuk menanyakan dimana Airin saja ia sudah tidak sanggup lagi. Ia mematung dengan wajah menahan tangis.


"Apa kakak sunguh-sunguh?"


Nabil menoleh ke Laras "memangnya aku bicara terdengar bercanda?"


Ponsel Nabil berdering di sofa dan pria itu langsung mengangkatnya. Wajah Nabil terlihat cerah seketika.


"Ya, aku baru saja selesai berkemas, kamu?...ha masih tidur? dasar ratu tidur!..ya selamat bobok! mau dibelikan sesuatu?......baiklah!"


Sayup-sayup Laras mendengar suara perempuan dan itu adalah suara kakaknya. Suara itu tidak kalah bahagianya. bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Ia menghapus cepat agar Nabil tidak melihat ia menangis.


Nabil sangat manis pada Airin, berbeda pada dirinya. Sampai kapanpun ia bukanlah kapasitas Nabil dan dirinya hanyalah pecundang diantara mereka.


Ia baru saja maju namun langsung menyerah saat itu juga. Ketika Nabil memutuskan sambungan dengan Airin, Laras langsung berucap.


"Saat ini juga kakak antarkan aku pulang kerumah mama!!"


Laras langsung berlari meninggalkan tempat itu tanpa melihat ekspresi Nabil yang pastinya senang ia pergi. Ia beruraian air mata berlari kelantai bawah melewati mbak Yul yang sedang menyapu ruangan. Laras langsung kekamarnya dan mbak Yul menangis disana.


Tidak lama kemudian Nabil turun tergesa-gesa, mbak Yul mengira bakal menyusul Laras kekamar tapi ternyata tidak. Sang tuan langsung pergi.


Mbak Yul gregetan ingin teriak 'dasar tuan tidak punya hati!! semoga anda dapat karma!!!! biar tau rasa!!!!!


Perempuan itu menyusul Laras kekamar. Laras sudah mengemasi pakaiannya kedalam koper yang dulu pernah diantar gojek kesana. Dulu ia dipaksa untuk datang kerumah ini dan sekarang ia dipaksa untuk pergi. Dalam rentang waktu yang tidak begitu lama ia mulai menyesuaikan diri dan menerima takdirnya tapi rupanya semuanya hanya sekedar singgah.

__ADS_1


"Nona Laras jangan pergi! bertahan dikit lagi nona!" mbak Yul ikut sedih melihat nasib sang nona.


"Aku gak kuat mbak Yul, aku lebih baik menata hati aku kembali, melepaskan apa yang bukan milik aku, makasih ya mbak udah jadi teman aku selama aku berada disini" Laras memeluk mbak Yul sebelum pergi menarik kopernya dari sana. Mbak Yul hanya bisa menatap sang nona pergi dengan berurai air mata.


__ADS_2